Sejarah
| Bagian dari sebuah seri tentang |
| Sejarah |
|---|
Sejarah adalah kajian sistematis mengenai masa lalu, dengan fokus utama pada masa lalu umat manusia. Sebagai sebuah disiplin akademik, sejarah menganalisis dan menafsirkan berbagai bukti untuk membangun naratif tentang apa yang telah terjadi serta menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Sejumlah pemikir menggolongkan sejarah sebagai ilmu sosial, sementara yang lain memandangnya sebagai bagian dari humaniora, atau bahkan sebagai disiplin hibrida yang memadukan keduanya. Perdebatan serupa juga muncul terkait tujuan sejarah, misalnya, apakah tujuan utamanya bersifat teoretis, yakni untuk menyingkap kebenaran, atau bersifat praktis, yakni untuk memetik pelajaran dari masa lampau. Dalam pengertian yang lebih umum, istilah sejarah tidak merujuk pada bidang akademik, melainkan pada masa lalu itu sendiri, pada kurun waktu tertentu di masa silam, atau pada teks-teks individual yang membahas masa lalu.
Penelitian sejarah bergantung pada sumber primer dan sumber sekunder untuk merekonstruksi peristiwa-peristiwa masa lampau serta memverifikasi tafsir yang dihasilkan. Kritik sumber digunakan untuk menilai sumber-sumber tersebut, mencermati keaslian, isi, dan tingkat keandalannya. Sejarawan berupaya mengintegrasikan berbagai perspektif dari sejumlah sumber guna menyusun narasi yang utuh dan koheren. Beragam aliran pemikiran, seperti positivisme, Aliran Annales, Marxisme, dan postmodernisme, masing-masing memiliki pendekatan metodologis yang khas.
Sejarah merupakan disiplin yang luas dengan banyak cabang kajian. Sebagian berfokus pada periode waktu tertentu, seperti sejarah kuno, sementara yang lain menitikberatkan pada kawasan geografis tertentu, misalnya sejarah Afrika. Klasifikasi tematik mencakup sejarah politik, sejarah militer, sejarah sosial, dan sejarah ekonomi. Cabang-cabang yang terkait dengan metode dan sumber penelitian tertentu antara lain sejarah kuantitatif, sejarah komparatif, dan sejarah lisan.
Sebagai bidang penyelidikan, sejarah muncul pada masa kuno untuk menggantikan narasi-narasi mitologis, dengan tradisi awal yang berpengaruh berasal dari Yunani, Tiongkok, dan kemudian dari Dunia Islam. Penulisan sejarah terus berevolusi sepanjang zaman dan menjadi semakin profesional, terutama pada abad ke-19, ketika metodologi yang ketat dan berbagai lembaga akademik mulai terbentuk. Sejarah berhubungan erat dengan banyak bidang lain, termasuk historiografi, filsafat, pendidikan, dan politik.
Definisi
[sunting | sunting sumber]Sebagai sebuah disiplin akademik, sejarah merupakan kajian tentang masa lampau, dengan fokus utama pada perjalanan masa lalu umat manusia.[1] Disiplin ini berupaya memaknai dan menggambarkan apa yang telah terjadi melalui pengumpulan serta analisis bukti untuk membangun sebuah naratif. Naratif-naratif tersebut tidak hanya menjelaskan bagaimana peristiwa berkembang dari waktu ke waktu, tetapi juga mengapa dan dalam konteks apa peristiwa itu terjadi, dengan memberikan penjelasan mengenai kondisi latar dan mekanisme kausal yang relevan. Sejarah juga menelaah makna dari peristiwa-peristiwa historis beserta dorongan manusiawi yang mendasarinya.[2]
Dalam pengertian yang sedikit berbeda, istilah sejarah juga dapat merujuk pada peristiwa masa lalu itu sendiri. Dalam pemahaman ini, sejarah berarti apa yang telah terjadi, bukan bidang ilmu yang mempelajarinya. Ketika digunakan sebagai kata benda yang dapat dihitung, sebuah sejarah berarti representasi tentang masa lampau dalam bentuk tulisan sejarah. Teks-teks sejarah merupakan produk budaya yang melibatkan penafsiran dan rekonstruksi yang aktif. Narasi yang disajikan di dalamnya dapat berubah seiring ditemukannya bukti baru atau ditafsirkannya kembali sumber-sumber yang telah dikenal. Sebaliknya, masa lalu itu sendiri bersifat statis dan tak dapat diubah.[3] Sebagian sejarawan menekankan aspek interpretatif dan penjelasan ini untuk membedakan sejarah dari kronik, dengan berargumen bahwa kronik hanya mencatat peristiwa secara berurutan, sedangkan sejarah berupaya memahami sebab, konteks, dan akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut secara menyeluruh.[4][a]
Secara tradisional, sejarah terutama berfokus pada dokumen tertulis. Bidang ini menitikberatkan pada sejarah tertulis sejak penemuan tulisan, sementara prasejarah[b] menjadi wilayah kajian disiplin lain seperti arkeologi.[7] Cakupan sejarah mulai meluas pada abad ke-20, ketika para sejarawan mulai menaruh minat pada masa lalu manusia sebelum adanya tulisan.[8][c]
Para sejarawan memperdebatkan apakah sejarah termasuk ilmu sosial atau bagian dari humaniora. Layaknya ilmuwan sosial, sejarawan merumuskan hipotesis, mengumpulkan bukti objektif, dan menyusun argumen berdasarkan bukti tersebut. Namun, sejarah juga sangat terkait dengan humaniora karena ketergantungannya pada aspek-aspek subjektif seperti penafsiran, penceritaan, pengalaman manusia, dan warisan budaya.[10] Sebagian sejarawan dengan tegas mendukung salah satu klasifikasi tersebut, sementara yang lain memandang sejarah sebagai disiplin hibrida yang tidak dapat sepenuhnya dimasukkan ke dalam salah satu kategori saja.[11] Sejarah juga berlawanan dengan sejarah semu, yakni istilah yang digunakan untuk menggambarkan praktik yang menyimpang dari standar historiografis dengan bergantung pada bukti yang diperdebatkan, secara selektif mengabaikan bukti sahih, atau menggunakan cara-cara lain untuk memutarbalikkan catatan sejarah. Sering kali didorong oleh agenda ideologis tertentu, praktik pseudo-sejarah meniru metodologi sejarah guna mempromosikan narasi yang bias dan menyesatkan, tanpa dukungan analisis yang ketat maupun konsensus ilmiah.[12]
Tujuan
[sunting | sunting sumber]Beragam pandangan telah diajukan mengenai tujuan atau nilai dari sejarah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa fungsi utamanya ialah untuk menemukan kebenaran tentang masa lampau secara murni. Pandangan ini menekankan bahwa pencarian kebenaran tanpa pamrih merupakan tujuan akhir, sementara tujuan-tujuan eksternal yang terkait dengan ideologi atau politik dapat mengancam ketepatan penelitian sejarah dengan mendistorsi fakta masa lalu. Dalam peran ini, sejarah juga berfungsi menantang mitos-mitos tradisional yang tidak memiliki dasar faktual.[13][d]
Pandangan lain berpendapat bahwa nilai utama sejarah terletak pada pelajaran yang dapat diambil darinya bagi masa kini. Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa pemahaman akan masa lalu dapat menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan, misalnya untuk menghindari pengulangan kesalahan yang sama di masa lampau.[15] Pandangan yang berdekatan menyoroti nilai sejarah dalam memberikan pemahaman yang luas mengenai kondisi manusia, dengan menyadarkan orang akan keberagaman perilaku manusia dalam berbagai konteks, serupa dengan wawasan yang diperoleh ketika mengunjungi negeri-negeri asing.[16] Sejarah juga dapat memperkuat kohesi sosial dengan memberi masyarakat sebuah identitas kolektif yang bersumber dari masa lalu bersama, membantu menjaga serta menumbuhkan warisan budaya dan nilai-nilai antar generasi.[17] Bagi sebagian cendekiawan, termasuk para Sejarawan Whig dan sejarawan Marxis E. H. Carr, sejarah merupakan kunci untuk memahami masa kini[18] dan, dalam pandangan Carr, juga untuk membentuk masa depan.[19]
Sejarah terkadang dimanfaatkan untuk tujuan politik atau ideologis, misalnya untuk membenarkan tatanan yang ada dengan menonjolkan kehormatan tradisi tertentu, atau untuk mendorong perubahan dengan menyoroti ketidakadilan masa lalu.[20] Dalam bentuk yang ekstrem, bukti dapat sengaja diabaikan atau disalahartikan guna membangun narasi yang menyesatkan, yang berujung pada pseudosains sejarah atau penyangkalan sejarah.[12][e] Contoh-contoh berpengaruh dari hal ini mencakup penyangkalan Holokaus, penyangkalan genosida Armenia, penyangkalan Pembantaian Nanjing, dan penyangkalan Holodomor.[22]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]
Kata sejarah dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bentuk Melayu sejarah[24] berakar dari bahasa Arab شَجَرَةٌ syajarah ("pohon") yang juga memiliki bentuk sekerabat dalam bahasa Persia shajareh / شجره ("silsilah keluarga, genealogi").[25][26] Kata "tarikh" yang diserap dari bahasa Arab تَارِيْخٌ (tārīkh) dalam bahasa Indonesia juga merujuk pada konsep waktu, penanggalan, kronologi dan sejarah/riwayat.[27]
Kata histori atau historis[28][29] dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris (history) yang berasal dari Yunani Kuno ἵστωρ (histōr), yang berarti 'orang yang berpengetahuan, bijak'. Dari istilah ini muncul kata Yunani ἱστορία (historiā), yang memiliki makna luas terkait dengan penyelidikan secara umum dan penyampaian kesaksian. Istilah tersebut kemudian diadopsi ke dalam Bahasa Latin Klasik sebagai historia. Pada masa Helenistik dan Kekaisaran Romawi, makna kata ini bergeser, menekankan aspek naratif dan seni penyajian, alih-alih semata-mata berfokus pada penyelidikan dan kesaksian.[30]
Kata ini masuk ke dalam Bahasa Inggris Pertengahan pada abad ke-14 melalui istilah Prancis Kuno histoire.[31] Pada masa itu, history bermakna 'kisah, cerita', mencakup baik narasi faktual maupun fiksi. Pada abad ke-15, maknanya meluas untuk mencakup cabang pengetahuan yang mempelajari masa lalu, selain kisah atau narasi tentang peristiwa lampau.[32]
Pada abad ke-18 dan ke-19, istilah history semakin erat dikaitkan dengan catatan faktual dan penyelidikan berbasis bukti, seiring dengan proses profesionalisasi bidang kajian sejarah, makna yang masih dominan hingga kini.[33] Makna ganda ini, yang merujuk sekaligus pada kisah dan pada catatan faktual tentang masa lalu, juga tampak dalam istilah untuk sejarah dalam berbagai bahasa Eropa lainnya. Misalnya, dalam bahasa Prancis histoire, bahasa Italia storia, dan bahasa Jerman Geschichte.[34]
Metode
[sunting | sunting sumber]Metode sejarah adalah seperangkat teknik yang digunakan oleh para sejarawan untuk meneliti dan menafsirkan masa lalu, mencakup proses pengumpulan, penilaian, serta penyintesisan bukti.[f] Metode ini bertujuan menjamin ketelitian ilmiah, ketepatan, dan keandalan dalam pemilihan, analisis, serta penafsiran bukti sejarah.[36]
Penelitian sejarah umumnya dimulai dengan sebuah pertanyaan penelitian untuk menentukan ruang lingkup kajian. Beberapa pertanyaan penelitian berfokus pada deskripsi sederhana mengenai apa yang terjadi, sementara yang lain berupaya menjelaskan mengapa suatu peristiwa tertentu berlangsung, menolak teori yang sudah ada, atau membuktikan hipotesis baru.[37]
Sumber dan kritik sumber
[sunting | sunting sumber]Untuk menjawab pertanyaan penelitian, sejarawan mengandalkan berbagai jenis bukti guna merekonstruksi masa lalu dan mendukung kesimpulan mereka. Bukti sejarah biasanya dibagi menjadi sumber primer dan sumber sekunder.[38]
Sumber primer adalah sumber yang berasal dari periode waktu yang sedang dikaji. Bentuknya beragam, seperti dokumen resmi, surat, catatan harian, kesaksian langsung, foto, serta rekaman audio atau video. Sumber primer juga mencakup peninggalan sejarah yang diteliti dalam bidang arkeologi, geologi, dan ilmu kedokteran, misalnya artefak dan fosil yang ditemukan melalui penggalian. Sumber primer memberikan bukti paling langsung mengenai suatu peristiwa sejarah.[39]

Sumber sekunder adalah sumber yang menganalisis atau menafsirkan informasi dari sumber lain.[41] Status suatu dokumen sebagai sumber primer atau sekunder tidak hanya bergantung pada sifat dokumennya, tetapi juga pada tujuan penggunaannya. Misalnya, jika seorang sejarawan menulis teks tentang perbudakan berdasarkan analisis terhadap dokumen-dokumen sejarah, maka teks tersebut merupakan sumber sekunder tentang perbudakan, tetapi juga sumber primer mengenai pandangan sang sejarawan.[42][g]
Konsistensi dengan sumber yang tersedia merupakan salah satu tolok ukur utama dalam karya sejarah. Penemuan sumber baru, misalnya, dapat membuat sejarawan meninjau kembali atau bahkan menolak narasi yang sebelumnya diterima.[44] Untuk menemukan dan mengakses sumber primer maupun sekunder, sejarawan memanfaatkan arsip, perpustakaan, dan museum. Arsip berperan penting dalam menjaga serta menyediakan ribuan sumber asli secara sistematis dan mudah diakses. Berkat kemajuan teknologi, para sejarawan kini semakin banyak bergantung pada sumber daring yang menawarkan beragam basis data digital dengan cara pencarian yang efisien.[45]
Kritik sumber adalah proses analisis dan penilaian terhadap informasi yang diberikan oleh suatu sumber.[h] Proses ini biasanya dimulai dengan kritik eksternal, yakni evaluasi terhadap keaslian sumber. Tahap ini menyoroti kapan dan di mana sumber tersebut dibuat, siapa penulisnya, apa motivasinya dalam menyusun sumber itu, serta apakah dokumen tersebut mengalami perubahan sejak pertama kali dibuat. Proses ini juga mencakup pembedaan antara karya asli, salinan, dan pemalsuan.[47]
Kritik internal menilai isi suatu sumber, dimulai dengan upaya memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tahap ini dapat melibatkan penafsiran ulang terhadap istilah yang mungkin disalahpahami, atau penerjemahan umum jika sumber ditulis dalam bahasa yang tidak dikenal.[i] Setelah isi sumber dipahami, kritik internal berfokus pada penentuan tingkat ketepatan informasi. Peneliti menanyakan apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau justru menyesatkan, dan apakah sumber tersebut lengkap atau mengabaikan rincian penting. Salah satu cara menilainya ialah dengan mempertimbangkan sejauh mana penulis mampu memberikan gambaran yang setia terhadap peristiwa yang diteliti. Pendekatan lain mencakup penilaian terhadap pengaruh niat, bias, serta pembandingan dengan sumber kredibel lainnya. Kesadaran akan keterbatasan suatu sumber membantu sejarawan menentukan sejauh mana sumber itu dapat dipercaya dan bagaimana menggunakannya dalam penyusunan narasi sejarah.[49]
Sintesis dan aliran pemikiran
[sunting | sunting sumber]Proses seleksi, analisis, dan kritik terhadap sumber menghasilkan pembenaran atas sekumpulan besar pernyataan yang umumnya terpisah-pisah mengenai masa lalu. Langkah berikutnya, yang kerap disebut sintesis historis, dilakukan ketika sejarawan menelaah bagaimana potongan-potongan bukti tersebut saling berkaitan sehingga membentuk bagian dari kisah yang lebih luas.[j] Membangun perspektif yang lebih menyeluruh ini penting untuk mencapai pemahaman yang utuh terhadap suatu topik. Tahapan ini merupakan aspek kreatif[k] dalam penulisan sejarah, karena melibatkan upaya merekonstruksi, menafsirkan, dan menjelaskan peristiwa dengan menunjukkan keterhubungan antara berbagai kejadian.[52] Dengan cara ini, sejarawan tidak hanya berupaya menjawab pertanyaan tentang peristiwa apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa dampaknya.[53] Meskipun tidak ada teknik yang diterima secara universal untuk melakukan sintesis ini, sejarawan memanfaatkan beragam alat dan pendekatan interpretatif dalam prosesnya.[54]

Salah satu alat metodologis yang membantu memberikan gambaran menyeluruh terhadap perkembangan yang kompleks adalah penggunaan periodisasi, yaitu pembagian rentang waktu ke dalam periode-periode tertentu, masing-masing berpusat pada tema atau perkembangan utama yang membentuk karakter masanya. Misalnya, sistem tiga zaman secara tradisional digunakan untuk membagi sejarah manusia awal menjadi Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi, berdasarkan bahan serta teknologi dominan pada setiap periode tersebut.[56]
Alat metodologis lainnya adalah penelaahan terhadap "keheningan", celah, atau penghilangan dalam catatan sejarah, yakni peristiwa yang terjadi tetapi tidak meninggalkan jejak bukti yang berarti. Keheningan bisa muncul karena orang-orang pada zaman itu menganggap informasi tertentu terlalu jelas untuk dicatat, tetapi juga dapat disebabkan oleh motif tertentu untuk menahan atau memusnahkan informasi.[57][l]
Sebaliknya, ketika tersedia kumpulan data dalam jumlah besar, pendekatan sejarah kuantitatif dapat digunakan. Misalnya, sejarawan ekonomi dan sosial kerap menerapkan analisis statistik untuk mengidentifikasi pola dan kecenderungan yang berkaitan dengan kelompok besar masyarakat.[60]
Beragam aliran pemikiran dalam historiografi juga membawa implikasi metodologis tersendiri dalam cara penulisan sejarah.[61] Kaum positivis menekankan sifat ilmiah dari penyelidikan sejarah, dengan fokus pada bukti empiris untuk menemukan kebenaran objektif.[62] Sebaliknya, para postmodernis menolak narasi agung yang mengklaim menawarkan satu kebenaran objektif. Mereka menyoroti sifat subjektif dari penafsiran sejarah, yang membuka jalan bagi keberagaman perspektif yang saling berbeda.[63] Kaum Marxis menafsirkan perkembangan sejarah sebagai manifestasi dari kekuatan ekonomi dan perjuangan kelas.[64] Sementara itu, Aliran Annales menekankan kecenderungan sosial dan ekonomi jangka panjang dengan mengandalkan metode kuantitatif serta pendekatan interdisipliner.[65] Para sejarawan feminis menelaah peran gender dalam sejarah, dengan perhatian khusus terhadap pengalaman perempuan untuk menantang perspektif patriarkal.[66]
Bidang kajian
[sunting | sunting sumber]Sejarah merupakan bidang kajian yang amat luas, mencakup banyak cabang dan pendekatan. Beberapa cabang berfokus pada rentang waktu tertentu, sementara yang lain menyoroti wilayah geografis atau tema khusus. Ragam spesialisasi ini umumnya dapat dipadukan; misalnya, suatu karya tentang sejarah ekonomi Mesir kuno menggabungkan perspektif temporal, regional, dan tematik sekaligus. Untuk topik yang berskala luas, jumlah sumber primer sering kali terlalu besar untuk ditelaah oleh satu orang sejarawan, sehingga mereka harus mempersempit ruang kajian atau mengandalkan sumber sekunder guna memperoleh gambaran menyeluruh.[67]
Berdasarkan periode
[sunting | sunting sumber]Pembagian kronologis merupakan cara umum untuk menata rentang sejarah yang amat luas menjadi segmen-segmen yang lebih mudah dikelola. Setiap periode biasanya ditentukan berdasarkan tema dominan yang mencirikan suatu kurun waktu, beserta peristiwa penting yang menandai awal atau akhir perkembangannya. Tergantung pada konteks dan tingkat rincian yang dipilih, suatu periode dapat berlangsung hanya satu dekade atau bahkan beberapa abad lamanya.[68]
Salah satu pembagian klasik yang berpengaruh membagi sejarah manusia ke dalam prasejarah, sejarah kuno, sejarah pascaklasik, sejarah modern awal, dan sejarah modern.[69][m] Rentang waktu yang dicakup tiap periode dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan tema yang dikaji, sehingga para sejarawan kerap menggunakan sistem periodisasi yang sama sekali berbeda.[71] Sebagai contoh, periodisasi tradisional sejarah Tiongkok mengikuti dinasti utama,[72] sedangkan pembagian menjadi periode pra-Kolumbus, kolonial, dan pascakolonial memainkan peran sentral dalam sejarah Benua Amerika.[73]

Kajian tentang prasejarah mencakup penelusuran evolusi spesies mirip manusia yang berlangsung jutaan tahun silam, hingga munculnya manusia modern secara anatomi sekitar 200.000 tahun lalu.[75] Setelah itu, manusia bermigrasi keluar dari Afrika dan menyebar ke hampir seluruh penjuru bumi. Menjelang akhir masa prasejarah, kemajuan teknologi berupa alat-alat baru dan lebih baik mendorong banyak kelompok meninggalkan gaya hidup nomaden berbasis berburu dan meramu, menuju kehidupan menetap yang ditopang oleh bentuk awal pertanian.[76] Ketiadaan dokumen tertulis dari periode ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi para peneliti, sehingga kajiannya bersifat interdisipliner dan bergantung pada bukti dari bidang seperti arkeologi, antropologi, paleontologi, dan geologi.[77]
Kajian sejarah kuno menyoroti kemunculan peradaban besar pertama di wilayah seperti Mesopotamia, Mesir, Lembah Indus, Tiongkok, dan Peru, yang mulai berkembang sekitar tahun 3500 SM di beberapa daerah. Kompleksitas sosial, ekonomi, dan politik yang baru menuntut penciptaan sistem tulisan. Kemajuan dalam bidang pertanian menghasilkan surplus pangan yang memungkinkan populasi lebih besar, mendorong urbanisasi, terbentuknya jaringan perdagangan, serta lahirnya kerajaan-kerajaan regional. Pada bagian akhir periode kuno, yang sering disebut sebagai periode klasik, masyarakat di Tiongkok, India, Persia, dan kawasan Mediterania mengalami ekspansi yang membawa pencapaian baru dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan politik. Pada masa ini pula lahir sistem keagamaan dan gagasan filsafat besar seperti Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Yudaisme, dan Filsafat Yunani.[78]
Kajian tentang sejarah pascaklasik atau abad pertengahan, yang dimulai sekitar tahun 500 M, menyoroti meningkatnya pengaruh agama-agama besar. Agama-agama misioner seperti Buddhisme, Kekristenan, dan Islam menyebar dengan cepat dan menetapkan diri sebagai agama dunia, menandai pergeseran budaya ketika mereka perlahan menggantikan sistem kepercayaan sebelumnya. Pada saat yang sama, jaringan perdagangan antarwilayah berkembang pesat, memungkinkan pertukaran teknologi dan budaya yang lebih luas. Dengan menaklukkan banyak wilayah di Asia dan Eropa, Kekaisaran Mongol menjadi kekuatan dominan pada abad ke-13 dan ke-14.[79]
Kajian mengenai sejarah awal modern, yang bermula sekitar tahun 1500 M, umumnya menyoroti bagaimana negara-negara Eropa bangkit menjadi kekuatan global. Sebagai kekaisaran mesiu, mereka menjelajah dan menjajah berbagai belahan dunia. Akibatnya, benua Amerika terintegrasi dalam jaringan global, memicu pertukaran biologis besar-besaran berupa tumbuhan, hewan, manusia, dan penyakit.[n] Revolusi Ilmiah melahirkan penemuan-penemuan besar yang mempercepat kemajuan teknologi, disertai dengan perkembangan intelektual lain seperti humanisme dan Zaman Pencerahan, yang mendorong proses sekularisasi.[81]

Dalam kajian sejarah modern, yang dimulai pada akhir abad ke-18, sejarawan menyoroti bagaimana Revolusi Industri mengubah perekonomian melalui penerapan sistem produksi yang lebih efisien. Kekuatan Barat mendirikan kekaisaran kolonial yang luas, memperoleh keunggulan melalui teknologi militer terindustrialisasi. Peningkatan pertukaran global atas barang, gagasan, dan manusia menandai awal globalisasi. Berbagai revolusi sosial menantang rezim otoriter dan kolonial, membuka jalan bagi munculnya demokrasi. Banyak perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, standar hidup, dan populasi manusia berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun dua perang dunia besar membawa kehancuran luas yang mengubah keseimbangan kekuasaan global dan melemahkan dominasi Eropa.[83]
Berdasarkan lokasi geografis
[sunting | sunting sumber]Bidang kajian sejarah juga dapat dikategorikan menurut wilayah geografis yang menjadi objek penelitiannya.[84] Geografi memainkan peran sentral dalam sejarah karena pengaruhnya terhadap produksi pangan, sumber daya alam, kegiatan ekonomi, batas politik, serta interaksi budaya.[85][o] Sebagian karya sejarah membatasi ruang kajiannya pada wilayah kecil, seperti sebuah desa atau pemukiman. Sementara itu, karya lain berfokus pada wilayah yang lebih luas hingga mencakup seluruh benua, seperti sejarah Afrika, Asia, Eropa, Amerika, dan Oseania.[87]

Sejarah Afrika bermula dari penelusuran terhadap evolusi manusia modern secara anatomis.[89] Sejarawan kuno mencatat bahwa penemuan tulisan dan lahirnya peradaban terjadi di Mesir Kuno pada milenium ke-4 SM.[90] Dalam milenium-milenium berikutnya, muncul kerajaan dan peradaban penting seperti di Nubia, Aksum, Kartago, Ghana, Mali, dan Songhai.[91] Islam mulai menyebar ke Afrika Utara pada abad ke-7 M dan menjadi agama dominan di banyak kekaisaran. Sementara itu, perdagangan melalui jalur trans-Sahara berkembang pesat.[92] Mulai abad ke-15, jutaan orang Afrika diperbudak dan dipaksa berpindah ke benua Amerika dalam perdagangan budak Atlantik.[93] Sebagian besar benua ini kemudian dijajah oleh kekuatan Eropa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[94] Dengan meningkatnya nasionalisme, negara-negara Afrika berangsur-angsur meraih kemerdekaan setelah Perang Dunia II, disertai kemajuan ekonomi, pertumbuhan penduduk yang pesat, dan perjuangan menuju stabilitas politik.[95]
Para sejarawan yang meneliti sejarah Asia mencatat kedatangan manusia modern secara anatomis sekitar 100.000 tahun yang lalu.[96] Asia dipandang sebagai salah satu tempat lahir peradaban, dengan munculnya peradaban-peradaban awal di Mesopotamia, Lembah Indus, dan Tiongkok pada milenium ke-4 dan ke-3 SM.[97] Dalam ribuan tahun berikutnya, peradaban Asia melahirkan agama-agama besar dunia dan berbagai tradisi filsafat berpengaruh, seperti Hindu, Buddha, Konfusianisme, Taoisme, Kristen, dan Islam.[98] Perkembangan lain termasuk pembentukan Jalur Sutra, yang memfasilitasi perdagangan dan pertukaran budaya di seluruh Eurasia, serta berdirinya kekaisaran besar seperti Kekaisaran Mongol.[99] Pengaruh Eropa meningkat pada abad-abad berikutnya dan mencapai puncaknya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika banyak wilayah Asia jatuh di bawah kekuasaan kolonial hingga berakhirnya Perang Dunia II.[100] Masa pascakemerdekaan ditandai oleh modernisasi, pertumbuhan ekonomi, dan lonjakan populasi yang tajam.[101]

Dalam kajian sejarah Eropa, para sejarawan menelusuri kedatangan manusia modern sekitar 45.000 tahun yang lalu.[103] Mereka menguraikan bagaimana pada milenium pertama SM, Yunani Kuno memberikan kontribusi penting terhadap budaya, filsafat, dan politik yang menjadi dasar dunia Barat,[102] serta bagaimana warisan budayanya memengaruhi Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium.[104] Periode abad pertengahan bermula dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 M dan ditandai oleh penyebaran Kristen.[105] Sejak abad ke-15, eksplorasi dan kolonisasi Eropa menghubungkan berbagai wilayah dunia, sementara perkembangan budaya, intelektual, dan ilmiah mengubah masyarakat Barat.[106] Dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20, dominasi global Eropa semakin menguat melalui Revolusi Industri dan pembentukan koloni besar di luar negeri.[107] Namun, kekuasaan tersebut berakhir akibat kehancuran yang ditimbulkan oleh dua perang dunia.[108] Dalam era Perang Dingin, benua ini terbelah menjadi blok Barat dan blok Timur. Setelahnya, mereka menempuh proses integrasi politik dan ekonomi.[109]
Para sejarawan yang menguji sejarah benua Amerika mendokumentasikan kedatangan manusia-manusia pertama pada sekitar 20.000 sampai 15.000 tahun lalu.[110] Benua Amerika menjadi tempat dari sejumlah peradaban terawal, seperti peradaban Norte Chico di Amerika Selatan dan peradaban Maya dan peradaban Olmec di Amerika Selatan.[111] Sepanjang milenium berikutnya, kekaisaran-kekaisaran besar berkembang di samping mereka, seperti Teotihuacan, Aztek, dan kekaisaran Inka.[112] Setelah kedatangan bangsa Eropa dari akhir abad ke-15, penyebaran penyakit yang baru datang secara drastis mengurangi populasi lokal. Bersamaan dengan kolonisasi, peristiwa tersebut berujung pada keruntuhan kekaisaran-kekaisaran besar kala lanskap demografi dan budaya dibentuk ulang.[113] Gerakan kemerdekaan pada abad ke-18 dan ke-19 berujung pada pembentukan bangsa-bangsa baru di belahan benua Amerika.[114] Pada abad ke-20, Amerika Serikat timbul sebagai kekuatan global dominan dan pemain penting dalam Perang Dingin.[115]
Dalam kajian sejarah Oseania, para sejarawan mencatat kedatangan manusia pada sekitar 60.000 sampai 50.000 tahun lalu.[116] Mereka melakukan pendirian budaya dan masyarakat regional beragam, mula-mula di Australia dan Papua Nugini dan kemudian juga di Kepulauan Pasifik lainnya.[117] Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-16 menghimpun transformasi signifikan. Pada akhir abad ke-19, sebagian besar wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Barat.[118] Oseania menjadi terlibat dalam berbagai konflik pada perang dunia dan mengalami dekolonisasi pada masa setelah perang.[119]
Berdasarkan tema
[sunting | sunting sumber]Sejarawan kerap membatasi kajian mereka pada tema tertentu.[120] Beberapa ahli mengusulkan pembagian umum menjadi tiga tema besar: sejarah politik, sejarah ekonomi, dan sejarah sosial. Namun, batas antara cabang-cabang ini kerap kabur, dan hubungan mereka dengan cabang tematik lain seperti sejarah intelektual tidak selalu mudah dijelaskan.[121]
Sejarah politik menelaah bagaimana kekuasaan tersusun dalam masyarakat, serta bagaimana struktur kekuasaan itu muncul, berkembang, dan saling berinteraksi. Sepanjang sebagian besar sejarah tertulis, negara atau struktur yang menyerupainya telah menjadi pusat perhatian bidang ini. Kajian ini menyoroti bagaimana sebuah negara terorganisasi secara internal, melalui faksi, partai, pemimpin, serta lembaga-lembaga politik lainnya. Ia juga mengulas kebijakan yang diterapkan serta bagaimana negara tersebut berinteraksi dengan negara lain.[122] Sejarah politik telah dipelajari sejak zaman kuno oleh sejarawan seperti Herodotos dan Thukydides, menjadikannya salah satu cabang sejarah tertua, sementara subbidang besar lainnya baru mapan dalam seratus tahun terakhir.[123]

Sejarah diplomatik dan sejarah militer sering dianggap sebagai cabang dari sejarah politik. Sejarah diplomatik mempelajari hubungan internasional antarnegara. Bidang ini mencakup topik kebijakan luar negeri seperti perundingan, pertimbangan strategis, perjanjian, dan konflik antarbangsa, serta peran organisasi internasional dalam proses tersebut.[125] Sejarah militer mengkaji dampak dan perkembangan konflik bersenjata dalam sejarah manusia. Ini mencakup analisis atas peristiwa tertentu, seperti kajian tentang satu pertempuran, serta telaah atas berbagai penyebab peperangan. Selain itu, ia menyoroti perkembangan umum dalam cara berperang, termasuk kemajuan teknologi militer, strategi, taktik, logistik, dan lembaga-lembaga militer.[126]
Sejarah ekonomi menelusuri bagaimana komoditas diproduksi, diperdagangkan, dan dikonsumsi. Ia mencakup aspek ekonomi seperti pemanfaatan lahan, tenaga kerja, dan modal, serta dinamika penawaran dan permintaan, biaya dan alat produksi, serta distribusi pendapatan dan kekayaan. Para sejarawan ekonomi biasanya memusatkan perhatian pada kecenderungan umum berupa kekuatan-kekuatan impersonal, seperti inflasi, daripada tindakan individu. Jika tersedia cukup data, mereka menggunakan metode kuantitatif seperti analisis statistik. Namun, untuk periode sebelum era modern, keterbatasan sumber data memaksa mereka mengandalkan bahan yang sedikit dan mengekstrapolasi informasi darinya.[127]
Sejarah sosial merupakan bidang luas yang menyelidiki gejala sosial, meskipun definisinya kerap diperdebatkan. Sebagian teoretikus memahaminya sebagai kajian atas kehidupan sehari-hari di luar ranah politik dan ekonomi, termasuk praktik kebudayaan, struktur keluarga, interaksi komunitas, dan pendidikan. Pendekatan lain yang berdekatan menitikberatkan pada pengalaman alih-alih aktivitas, dengan menelaah bagaimana anggota kelompok sosial tertentu, seperti kelas sosial, ras, gender, atau kelompok umur, mengalami dunia mereka. Definisi lainnya memandang sejarah sosial sebagai kajian atas persoalan sosial, seperti kemiskinan, penyakit, dan kejahatan; atau mengambil pandangan yang lebih luas dengan menelusuri bagaimana masyarakat berkembang secara keseluruhan.[128] Bidang-bidang yang berkaitan erat mencakup sejarah budaya, sejarah gender, dan sejarah agama.[129]
Sejarah intelektual merupakan sejarah gagasan, mengkaji bagaimana konsep, filsafat, dan ideologi berkembang dari waktu ke waktu. Bidang ini terutama berfokus pada ranah akademik, tetapi tidak terbatas di sana; ia juga meneliti keyakinan dan prasangka masyarakat umum. Selain mengkaji gerakan intelektual itu sendiri, bidang ini juga menelusuri konteks budaya dan sosial yang membentuknya serta pengaruhnya terhadap perkembangan sejarah lain.[130] Dalam kaitan yang erat, sejarah filsafat menelaah perkembangan pemikiran filosofis,[131] sementara sejarah sains mempelajari evolusi teori dan praktik ilmiah, seperti kontribusi ilmiah Charles Darwin dan Albert Einstein.[132] Sejarah seni, disiplin yang juga berdekatan, mengkaji karya seni dan perkembangan kegiatan artistik, gaya, serta gerakan seni. Bidang ini turut membahas konteks budaya, sosial, dan politik di balik produksi karya seni.[133]
Sejarah lingkungan hidup menelaah hubungan antara manusia dan alam sekitarnya. Ia berupaya memahami bagaimana manusia dan unsur alam lainnya saling memengaruhi sepanjang sejarah.[134] Cabang-cabang tematik lainnya meliputi sejarah konstitusi, sejarah hukum, sejarah perkotaan, sejarah bisnis, sejarah teknologi, sejarah kedokteran, sejarah pendidikan, dan sejarah rakyat.[135]
Lain-lain
[sunting | sunting sumber]Beberapa cabang sejarah dibedakan berdasarkan metode yang digunakannya, seperti sejarah kuantitatif dan sejarah digital, yang bertumpu pada penelitian kuantitatif serta media digital.[136] Sejarah komparatif membandingkan fenomena sejarah dari masa, wilayah, atau kebudayaan yang berbeda untuk menelaah kesamaan dan perbedaannya.[137] Berbeda dari sebagian besar cabang lain, sejarah lisan bergantung pada kesaksian tutur alih-alih dokumen tertulis, mencakup kesaksian langsung, desas-desus, serta legenda masyarakat. Cabang ini mencerminkan pengalaman pribadi, penafsiran, dan ingatan manusia biasa, menampilkan cara subjektif orang-orang mengenang masa lampau.[138] Sejarah kontrafaktual menggunakan pemikiran kontrafaktual untuk menelaah jalur alternatif sejarah, dengan mengeksplorasi apa yang mungkin terjadi jika keadaan berjalan berbeda.[139] Beberapa cabang sejarah dibedakan pula berdasarkan sudut pandang teoretisnya, seperti sejarah Marxis dan sejarah feminis.[140]

Beberapa klasifikasi dibedakan berdasarkan lingkup topik kajiannya. Sejarah besar merupakan cabang dengan cakupan paling luas, meliputi segala sesuatu sejak Dentuman Besar hingga masa kini, serta mengintegrasikan unsur kosmologi, geologi, biologi, dan antropologi.[9] Sejarah dunia merupakan cabang lain dengan ruang lingkup luas, yang menelaah keseluruhan sejarah umat manusia sejak kemunculan spesies mirip manusia.[141] Istilah makrosejarah, mesosejarah, dan mikrosejarah merujuk pada skala analisis yang berbeda-beda, mulai dari pola besar yang memengaruhi seluruh dunia hingga kajian rinci mengenai konteks lokal, komunitas kecil, garis keturunan, individu tertentu, atau peristiwa spesifik.[142] Dekat dengan mikrosejarah adalah genre biografi historis, yang menuturkan kehidupan seseorang dalam konteks sejarahnya serta warisan yang ditinggalkannya.[143]
Sejarah publik mencakup berbagai kegiatan yang memperkenalkan sejarah kepada masyarakat umum. Kegiatan ini umumnya dilakukan di luar lingkungan akademik tradisional, seperti di museum, situs sejarah, wisata warisan, dan media populer.[144]
Evolusi disiplin ilmu
[sunting | sunting sumber]Sebelum ditemukannya tulisan, pelestarian dan penyebaran pengetahuan sejarah terbatas pada tradisi lisan.[145] Bentuk awal penulisan sejarah kerap memadukan fakta dengan unsur mitologi, seperti Epos Gilgamesh dari Mesopotamia kuno dan Odyssey, teks Yunani kuno yang dikaitkan dengan Homer.[146] Diterbitkan pada abad ke-5 SM, Histories karya Herodotus[p] menjadi salah satu teks dasar tradisi sejarah Barat, karena menekankan penyelidikan rasional dan berbasis bukti lebih daripada kisah-kisah epik Homer dan para penyair lainnya.[148] Thucydides kemudian mengikuti dan menyempurnakan pendekatan Herodotus, dengan fokus yang lebih sempit pada peristiwa politik dan militer, berbeda dari jangkauan luas dan unsur etnografi dalam karya Herodotus.[149] Historiografi Romawi sangat dipengaruhi oleh tradisi Yunani. Ia sering memuat tidak hanya fakta-fakta sejarah, tetapi juga penilaian moral terhadap tokoh sejarah.[q] Para sejarawan Romawi awal menggunakan gaya annalistik, yaitu penyusunan peristiwa masa lalu berdasarkan tahun dengan sedikit komentar, sedangkan generasi berikutnya lebih menyukai pendekatan naratif dan analitis.[151]

Sebuah tradisi penulisan sejarah yang kompleks juga muncul di Tiongkok kuno, dengan cikal bakalnya dimulai pada akhir milenium ke-2 SM. Tradisi ini menempatkan penulisan kronik tahunan sebagai bentuk tertinggi sejarah, dengan penekanan kuat pada verifikasi melalui sumber. Ia erat kaitannya dengan filsafat Konfusianisme dan terhubung dengan struktur pemerintahan, di mana setiap dinasti yang berkuasa bertanggung jawab menulis sejarah resmi pendahulunya. Para sejarawan Tiongkok berhasil membangun metode pencatatan sejarah yang sistematis dan koheren lebih awal dibandingkan tradisi lainnya.[153] Karya Sima Qian memiliki pengaruh besar karena metode penelitiannya yang teliti dan keberaniannya memasukkan pandangan alternatif, yang kemudian membentuk standar historiografi berikutnya.[154] Di India kuno, narasi sejarah berhubungan erat dengan agama, sering kali memadukan catatan faktual dengan unsur adikodrati sebagaimana terlihat dalam karya seperti Mahabharata.[155]
Di Eropa pada masa Abad Pertengahan, sejarah terutama ditulis oleh kaum klerus dalam bentuk kronik. Para sejarawan Kristen memadukan tradisi Yunani-Romawi dan Yahudi, menafsirkan masa lalu dari sudut pandang religius sebagai narasi yang menyoroti rencana ilahi Tuhan.[156] Tokoh-tokoh penting yang membentuk tradisi ini antara lain Eusebius dari Kaisarea, Bede, dan teolog Agustinus dari Hippo.[157] Di dunia Islam, penulisan sejarah juga sangat dipengaruhi oleh agama, dengan penafsiran masa lalu dari perspektif Muslim. Tradisi ini menekankan pentingnya rantai periwayatan untuk menjaga otoritas dan keaslian catatan sejarah.[158] Al-Tabari menulis sejarah komprehensif yang mencakup kisah dari penciptaan dunia hingga zamannya sendiri, sedangkan Ibn Khaldun menelaah persoalan filosofis yang mendasari praktik kesejarahan, termasuk pola universal perubahan sosial dan batas-batas kebenaran sejarah.[159]
Dengan munculnya Dinasti Tang (618–907 M) di Tiongkok, penulisan sejarah menjadi semakin terlembagakan melalui pendirian biro penulisan sejarah pada tahun 629 M. Biro ini mengawasi penyusunan Catatan Asli Kaisar, sebuah kompilasi menyeluruh yang menjadi dasar bagi sejarah nasional resmi. Para sejarawan Dinasti Tang menekankan pembedaan antara peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau dan cara peristiwa itu direkam dalam teks sejarah.[160] Penulisan sejarah pada masa Dinasti Song (960–1279 M) berkembang dalam berbagai genre, termasuk ensiklopedia, biografi, dan novel sejarah, sementara sejarah menjadi mata pelajaran baku dalam sistem pendidikan kekaisaran.[161] Dipengaruhi oleh model Tiongkok, sebuah tradisi penulisan sejarah muncul di Jepang pada abad ke-8 M. Seperti di Tiongkok, penulisan sejarah di Jepang berkaitan erat dengan rumah tangga kekaisaran, meski para sejarawan Jepang memberikan penekanan yang lebih kecil terhadap evaluasi sumber yang kritis.[162]
Pada masa Renaisans dan periode modern awal (sekitar 1500–1800), berbagai tradisi sejarah mulai saling berinteraksi.[163] Dimulai pada abad ke-14 di Eropa, Renaisans menandai pergeseran dari pandangan religius abad pertengahan menuju minat baru pada tradisi klasik Yunani dan Romawi. Para humanis Renaisans menggunakan kritik teks yang canggih untuk menelaah karya sejarah religius terdahulu, yang berkontribusi pada sekularisasi penulisan sejarah. Dari abad ke-15 hingga ke-17, para sejarawan menekankan peran didaktik sejarah, menggunakannya untuk meneguhkan tatanan yang ada atau menyerukan kembalinya cita-cita masa lampau. Penemuan mesin cetak membuat dokumen tertulis semakin mudah diakses dan terjangkau, memperluas minat terhadap sejarah di luar kalangan klerus dan bangsawan. Pada saat yang sama, pemikiran empirisisme yang berkembang dalam Revolusi Ilmiah menantang gagasan tentang kebenaran sejarah yang universal.[164] Selama Zaman Pencerahan abad ke-18, penulisan sejarah dipengaruhi oleh rasionalisme dan skeptisisme. Dengan tujuan menantang otoritas dan dogma tradisional melalui nalar dan metode empiris, para sejarawan berusaha mengungkap pola dan makna terdalam dalam perjalanan masa lalu. Ruang lingkup sejarah juga meluas, mencakup topik sosial-ekonomi dan perbandingan antar budaya.[165]
Di Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368–1644), minat publik terhadap karya sejarah meningkat seiring dengan meluasnya ketersediaan teks. Selain kelanjutan Catatan Asli Kaisar oleh sejarawan resmi, karya nonresmi yang ditulis oleh sarjana independen berkembang pesat. Para sarjana ini sering menggunakan gaya yang lebih kreatif dan kadang menantang pandangan ortodoks.[166] Di dunia Islam, tradisi penulisan sejarah baru tumbuh dalam Kekaisaran Safawi, Kekaisaran Mughal, dan Kekaisaran Utsmaniyah.[167] Sementara itu, di benua Amerika, para penjelajah Eropa mencatat dan menafsirkan narasi pribumi yang diwariskan melalui tradisi lisan dan praktik piktografis, sering kali dengan pandangan yang menantang perspektif Eropa tradisional.[168]

Penulisan sejarah mengalami transformasi besar pada abad ke-19 ketika disiplin ini menjadi semakin profesional dan berorientasi pada sains. Mengikuti jejak pemikiran Leopold von Ranke, metode sistematis dalam kritik sumber diterima secara luas, sementara lembaga akademik yang berfokus pada studi sejarah mulai berdiri dalam bentuk departemen universitas, asosiasi profesional, dan jurnal ilmiah.[170] Sejalan dengan semangat ilmiah ini, Auguste Comte merumuskan aliran positivisme dan berupaya menemukan hukum-hukum umum sejarah, serupa dengan hukum alam yang dikaji oleh para fisikawan.[171] Mengembangkan filsafat Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Karl Marx mengajukan salah satu hukum umum tersebut melalui teorinya tentang materialisme historis, yang berpendapat bahwa kekuatan ekonomi dan perjuangan kelas merupakan pendorong utama perubahan sejarah.[172] Perkembangan penting lainnya adalah meluasnya pengaruh metode historiografi Eropa, yang kemudian menjadi pendekatan dominan dalam studi akademik tentang masa lampau di seluruh dunia.[173]
Pada abad ke-20, berbagai asumsi dan praktik sejarah tradisional mulai dipertanyakan, sementara cakupan penelitian sejarah semakin meluas.[174] Aliran Annales memanfaatkan wawasan dari sosiologi, psikologi, dan ekonomi untuk menelaah perkembangan jangka panjang dalam sejarah.[175] Rezim-rezim otoritarian, seperti Jerman Nazi, Uni Soviet, dan Tiongkok, memanipulasi narasi sejarah demi kepentingan ideologi mereka.[176] Banyak sejarawan kemudian mulai menyoroti perspektif-perspektif yang selama ini terpinggirkan, dengan memusatkan perhatian pada pengalaman kelompok yang terpinggirkan melalui pendekatan seperti sejarah dari bawah, mikrosejarah, sejarah lisan, dan sejarah feminis.[177] Gerakan postkolonialisme berupaya menantang dominasi pendekatan Barat, sementara postmodernisme menolak klaim bahwa sejarah dapat menawarkan satu kebenaran universal.[178] Para sejarawan intelektual menelaah perkembangan historis dari gagasan-gagasan besar manusia sepanjang waktu.[179] Pada paruh kedua abad ini, muncul kembali upaya untuk menulis sejarah dunia secara menyeluruh, sementara kemajuan teknologi mendorong berkembangnya bidang sejarah kuantitatif dan sejarah digital.[180]
Bidang Terkait
[sunting | sunting sumber]Historiografi
[sunting | sunting sumber]
Historiografi adalah kajian mengenai metode serta perkembangan penelitian sejarah. Para ahli historiografi menelaah apa yang dilakukan oleh sejarawan, sehingga menghasilkan sebuah metateori berupa "sejarah tentang sejarah". Beberapa teoretikus menggunakan istilah historiografi dalam makna yang berbeda, yakni untuk merujuk pada catatan tertulis mengenai masa lampau.[182]
Salah satu pokok bahasan utama dalam historiografi sebagai metateori adalah standar bukti dan penalaran dalam penelitian sejarah. Para ahli historiografi menelaah serta merumuskan bagaimana sejarawan memanfaatkan sumber-sumber untuk membangun narasi tentang masa lalu, termasuk menganalisis asumsi-asumsi interpretatif yang melandasi pendekatan mereka. Isu-isu yang berkaitan erat mencakup gaya penulisan serta penyajian retorika dalam karya sejarah.[183]
Dengan membandingkan karya para sejarawan dari berbagai masa, ahli historiografi mengidentifikasi aliran-aliran pemikiran berdasarkan kesamaan metode penelitian, asumsi, dan gaya penulisan.[184] Sebagai contoh, mereka menelaah ciri khas Aliran Annales, seperti penggunaan data kuantitatif dari berbagai disiplin ilmu serta minatnya terhadap perkembangan ekonomi dan sosial yang berlangsung dalam rentang waktu panjang.[185]
Perbandingan tersebut juga mencakup keseluruhan era, dari zaman kuno hingga masa modern. Dengan cara ini, historiografi menelusuri perkembangan sejarah sebagai disiplin akademik, menyoroti bagaimana metode, tema, serta tujuan penelitian yang dominan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.[186]
Filsafat sejarah
[sunting | sunting sumber]Filsafat sejarah[r] menelaah dasar-dasar teoretis dari sejarah. Bidang ini tidak hanya tertarik pada masa lampau sebagai rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tetapi juga pada disiplin akademik yang mempelajari proses tersebut. Pandangan dan pendekatan dari berbagai cabang filsafat, seperti metafisika, epistemologi, hermeneutika, dan etika, turut berperan penting dalam upaya ini.[188]
Dalam memandang sejarah sebagai suatu proses, para filsuf menelusuri entitas-entitas dasar yang membentuk gejala historis. Sebagian pendekatan menitikberatkan pada keyakinan dan tindakan individu manusia, sedangkan yang lain memperluas kajian hingga pada entitas kolektif dan umum seperti peradaban, institusi, ideologi, serta kekuatan sosial.[189] Salah satu topik terkait adalah hakikat mekanisme kausal yang menghubungkan peristiwa sejarah dengan sebab serta akibatnya.[190] Sebagian pandangan berpendapat bahwa terdapat hukum-hukum umum dalam sejarah yang menentukan jalannya peristiwa, serupa dengan hukum-hukum alam yang dikaji dalam ilmu alam. Namun, pandangan lain menilai bahwa hubungan kausal dalam sejarah bersifat unik, dibentuk oleh faktor-faktor kebetulan dan kontingensi.[191] Secara historis, beberapa filsuf mengemukakan bahwa arah umum perjalanan sejarah mengikuti pola besar. Salah satu gagasan menyatakan bahwa sejarah bersifat siklis, artinya dalam skala yang cukup luas, peristiwa atau kecenderungan tertentu akan berulang. Teori lain beranggapan bahwa sejarah bersifat linear dan teleologis, bergerak menuju suatu tujuan yang telah ditetapkan.[192][s]
Topik filsafat sejarah dan historiografi saling bersinggungan karena keduanya menaruh perhatian pada standar penalaran historis. Para ahli historiografi umumnya berfokus pada deskripsi metode dan perkembangan yang dihadapi dalam studi sejarah, sedangkan para filsuf sejarah lebih cenderung menelaah pola-pola umum, termasuk pertanyaan evaluatif mengenai metode dan asumsi mana yang dapat dianggap sahih.[194] Penalaran historis kadang digunakan dalam filsafat maupun disiplin lain sebagai metode untuk menjelaskan suatu fenomena. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai historisisme, beranggapan bahwa untuk memahami sesuatu, kita perlu mengetahui sejarahnya yang unik atau proses evolusinya. Misalnya, historisisme tentang kebenaran menyatakan bahwa kebenaran bergantung pada konteks sejarah, sehingga tidak ada kebenaran yang bersifat transhistoris. Historisisme bertolak belakang dengan pendekatan yang mencari pemahaman yang abadi dan universal terhadap suatu objek kajian.[195]
Objektivitas sejarah
[sunting | sunting sumber]Perdebatan yang beragam dalam filsafat sejarah berkisar pada kemungkinan adanya uraian sejarah yang objektif. Banyak teoretikus berpendapat bahwa cita-cita tersebut mustahil dicapai, dengan menyoroti sifat subjektif dari interpretasi, aspek naratif sejarah, serta pengaruh nilai dan bias pribadi terhadap pandangan dan tindakan baik para pelaku sejarah maupun sejarawan itu sendiri. Salah satu pandangan menyatakan bahwa beberapa fakta tertentu bersifat objektif, misalnya, kapan suatu kekeringan terjadi atau pasukan mana yang kalah dalam pertempuran. Namun, hal ini tidak menjamin objektivitas secara umum, karena sejarawan tetap harus menafsirkan dan mensintesiskan fakta untuk membangun narasi yang menjelaskan tren dan perkembangan besar.[196] Akibatnya, beberapa sejarawan seperti G. M. Trevelyan dan Keith Jenkins berpendapat bahwa seluruh sejarah bersifat bias, karena narasi sejarah tidak pernah lepas dari prasangka dan penilaian nilai subjektif.[197]
Sebaliknya, sejumlah pandangan yang berakar pada realisme, empirisme, dan rekonstruksionisme,[198] memandang sejarah sebagai upaya pencarian kebenaran atau pengetahuan yang dapat diperoleh melalui evaluasi ketat dan penafsiran hati-hati terhadap bukti-bukti.[199][t] Namun, pandangan ini dikritik oleh sejumlah sarjana yang menekankan sifat subjektif dan parsial dari pengetahuan sejarah.[u] Kaum perspektivis berpendapat bahwa pandangan sejarah selalu bersifat subjektif, karena menuntut pemilihan sumber dan fokus tertentu serta penentuan informasi apa yang dapat dianggap sebagai fakta historis. Mereka berargumen bahwa pernyataan hanya dapat bersifat objektif dalam, atau relatif terhadap salah satu dari berbagai perspektif sejarah yang saling bersaing.[204] Pandangan yang lebih skeptis atau relativistis bahkan menyatakan bahwa tidak ada pengetahuan sejarah yang benar-benar dapat dibuktikan objektif.[205][v] Penekanan pada subjektivitas ini kemudian diperluas oleh teori postmodernis yang beranggapan bahwa mustahil mengetahui masa lalu secara objektif, karena makna dibentuk melalui teks-teks buatan manusia, di mana bahasa "menciptakan dunia sebagaimana kita memahaminya".[207][w] Sementara itu, kaum neo-realis menanggapi kecenderungan ini dengan menegaskan kembali pentingnya metodologi empiris dalam analisis sejarah. Mereka mengakui adanya pengaruh penilaian subjektif, tetapi tetap berpendapat bahwa kebenaran sejarah tetap dapat dicapai.[209][x]
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]
Sejarah merupakan bagian dari kurikulum sekolah di hampir semua negara.[210] Pendidikan sejarah pada tahap awal bertujuan menumbuhkan minat siswa terhadap masa lalu serta memperkenalkan mereka pada konsep-konsep dasar pemikiran historis. Dengan membangun kesadaran sejarah yang mendasar, pendidikan ini berupaya menanamkan rasa identitas dengan membantu peserta didik memahami akar budaya mereka.[211] Penyajiannya sering kali berbentuk naratif dengan menghadirkan kisah-kisah sederhana bagi anak-anak, misalnya tentang tokoh-tokoh sejarah atau asal-usul hari raya, festival, dan makanan tradisional.[212] Pada jenjang sekolah menengah, pendidikan sejarah mencakup spektrum topik yang lebih luas, dari sejarah kuno hingga modern, baik pada tingkat lokal maupun global. Selain memperkaya pengetahuan siswa, tahap ini juga memperkenalkan mereka pada metodologi penelitian sejarah, termasuk kemampuan menafsirkan dan menilai secara kritis berbagai klaim historis.[213]
Guru sejarah menggunakan beragam metode pengajaran untuk menghidupkan materi. Di antaranya adalah penyampaian naratif mengenai perkembangan sejarah, pemberian pertanyaan untuk melibatkan siswa dan memicu berpikir kritis, serta diskusi tentang topik-topik sejarah. Siswa juga diajak bekerja langsung dengan sumber-sumber sejarah untuk belajar menganalisis dan menafsirkan bukti, baik secara individu maupun kelompok. Kegiatan menulis sejarah membantu mereka mengembangkan kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas dan meyakinkan. Penilaian melalui tes lisan atau tulisan dilakukan untuk memastikan tujuan pembelajaran tercapai.[214] Metodologi tradisional dalam pendidikan sejarah sering menekankan hafalan fakta, seperti tanggal peristiwa penting dan nama tokoh sejarah. Sebaliknya, pendekatan modern berupaya menumbuhkan keterlibatan aktif dan pemahaman lintas-disiplin yang lebih mendalam, menitikberatkan bukan hanya pada apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa maknanya bagi sejarah yang lebih luas.[215]
Pendidikan sejarah di sekolah negeri memiliki berbagai tujuan. Salah satu keterampilan utama yang ingin dikembangkan adalah literasi historis, kemampuan memahami, menganalisis secara kritis, dan menanggapi klaim sejarah. Dengan mempelajari peristiwa penting di masa lalu, siswa diperkenalkan pada berbagai konteks kehidupan manusia sehingga dapat memahami masa kini dan keragaman budayanya. Pada saat yang sama, pendidikan sejarah juga berperan dalam menumbuhkan identitas budaya dengan menghubungkan siswa pada warisan, tradisi, dan praktik nenek moyang mereka, misalnya melalui pengenalan terhadap unsur-unsur ikonik seperti monumen nasional, tokoh sejarah, dan perayaan tradisional.[216] Pengetahuan akan masa lalu dan warisan budaya yang sama dapat memperkuat pembentukan identitas nasional dan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang aktif. Namun, dimensi politik dalam pendidikan sejarah ini kerap memunculkan perdebatan tentang topik apa yang seharusnya dimasukkan dalam buku teks sekolah. Di beberapa wilayah, hal tersebut menimbulkan apa yang disebut sebagai "perang sejarah" terkait kurikulum.[217] Dalam beberapa kasus, hal ini dapat berujung pada penyajian yang bias terhadap topik-topik kontroversial guna menampilkan warisan nasional secara lebih positif.[218][y]

Selain pendidikan formal di sekolah-sekolah negeri, sejarah juga diajarkan melalui pendidikan informal di luar kelas. Sejarah publik berlangsung di tempat-tempat seperti museum dan situs peringatan, di mana artefak terpilih digunakan untuk mengisahkan cerita-cerita tertentu.[220] Bidang ini juga mencakup sejarah populer, yang berupaya membuat masa lalu dapat diakses dan menarik bagi khalayak luas melalui berbagai media, seperti buku, acara televisi, maupun konten daring.[221] Pendidikan sejarah informal juga terjadi melalui tradisi lisan, di mana kisah-kisah tentang masa lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[222]
Bidang Lain
[sunting | sunting sumber]Ilmu sejarah memanfaatkan metodologi yang bersifat interdisipliner, dengan memadukan temuan dari bidang-bidang seperti arkeologi, geologi, genetika, antropologi, dan linguistik.[223][z] Para arkeolog mempelajari artefak buatan manusia serta berbagai bentuk budaya material lainnya. Temuan-temuan mereka memberikan wawasan penting tentang aktivitas manusia dan perkembangan budaya pada masa lampau.[225] Penafsiran terhadap bukti arkeologis menghadirkan tantangan yang berbeda dari penelitian sejarah konvensional yang bertumpu pada dokumen tertulis. Namun, pendekatan ini juga membuka kemungkinan baru dengan menyediakan informasi yang tidak pernah tercatat, memungkinkan sejarawan menelusuri masa lalu masyarakat tanpa tradisi tulis maupun kelompok marginal dalam masyarakat literat melalui peninggalan budaya material mereka. Sebelum munculnya arkeologi modern pada abad ke-19, antikuarianisme telah meletakkan dasar bagi disiplin ini dan berperan penting dalam pelestarian artefak sejarah.[226]
Geologi dan ilmu kebumian lainnya membantu sejarawan memahami konteks lingkungan serta proses fisik yang memengaruhi masyarakat masa lampau, termasuk kondisi iklim, bentang alam, dan peristiwa alam.[227] Sementara itu, genetika memberikan informasi penting mengenai asal-usul evolusi manusia sebagai spesies, pola migrasi manusia, asal-usul keturunan, serta perubahan demografi.[228] Para antropolog meneliti budaya manusia dan perilaku sosial, seperti struktur sosial, sistem kepercayaan, serta praktik ritual. Pemahaman ini memberikan konteks yang kaya bagi penafsiran peristiwa-peristiwa sejarah.[229] Sementara itu, linguistik historis meneliti perkembangan bahasa sepanjang waktu, yang sering kali menjadi kunci dalam penafsiran dokumen kuno. Bidang ini juga dapat mengungkap pola migrasi dan pertukaran budaya antar masyarakat.[230] Sejarawan pun memanfaatkan bukti dari berbagai disiplin lain yang termasuk dalam ranah ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu sosial, maupun humaniora.[231]
Karena kedekatannya dengan ideologi dan identitas nasional, sejarah memiliki hubungan yang erat dengan politik, dan teori-teori sejarah sering kali berpengaruh langsung terhadap keputusan politik. Sebagai contoh, upaya irredentis oleh suatu negara untuk menganeksasi wilayah negara lain kerap didasarkan pada teori-teori sejarah yang menyatakan bahwa wilayah sengketa tersebut dahulu merupakan bagian dari negara pertama.[232] Sejarah juga memainkan peran sentral dalam apa yang disebut sebagai agama historis, yakni agama-agama yang mendasarkan sebagian doktrin pokoknya pada peristiwa sejarah. Kekristenan, misalnya, sering digolongkan sebagai agama historis karena berpusat pada peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan kehidupan Yesus Kristus.[233] Lebih jauh lagi, sejarah memiliki relevansi dengan banyak bidang ilmu melalui kajian terhadap masa lalunya, termasuk sejarah ilmu pengetahuan, matematika, filsafat, dan seni.[234]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Beberapa penulis membatasi istilah sejarah hanya pada rangkaian fakta masa lalu dan menggunakan istilah historiografi untuk studi atas peristiwa-peristiwa tersebut. Sementara yang lain menggunakan sejarah untuk studi dan representasi tentang masa lampau, dan menempatkan historiografi sebagai metateori yang mengkaji metode serta perkembangan historis dari disiplin akademik ini.[5]
- ↑ Sebagian teoretikus mengidentifikasi protosejarah sebagai masa tersendiri setelah pra-sejarah, yang mencakup rentang waktu antara penemuan tulisan hingga upaya pertama mencatat sejarah.[6]
- ↑ Sejarah Besar, yang dirumuskan oleh sejarawan David Christian pada akhir 1980-an, memperluas cakupan sejarah hingga ke peristiwa Dentuman Besar, mencakup perkembangan kosmologis alam semesta serta evolusi biologis kehidupan, di samping sejarah manusia itu sendiri.[9]
- ↑ Para sejarawan awal, seperti Herodotos dan Thukydides, telah mengkritik kisah-kisah karya Homer dan para penyair lain karena dianggap fantastis dan tidak akurat.[14]
- ↑ Revisionisme sejarah, sebagai pandangan yang berhubungan, berupaya menentang sudut pandang sejarah yang mapan. Upaya ini dapat berwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari pengenalan bukti dan metode baru yang menentang pandangan arus utama, hingga kritik terhadap nilai atau signifikansi peristiwa maupun tokoh sejarah. Beberapa teoretikus menggunakan istilah revisionisme dalam arti netral untuk setiap penolakan atau penafsiran ulang terhadap pandangan umum. Namun, ada pula yang mengaitkannya dengan praktik yang mengabaikan bukti sahih dan menggabungkan skeptisisme serta pandangan relativis yang ekstrem untuk membenarkan sudut pandang pseudosains sejarah, dengan tujuan mendiskreditkan pengetahuan yang telah mapan melalui kritik epistemologis.[21]
- ↑ Dalam pengertian yang lebih sempit, metode sejarah kadang dibatasi hanya pada proses evaluasi atau kritik terhadap sumber.[35]
- ↑ Definisi yang tepat mengenai sumber primer dan sumber sekunder masih diperdebatkan, dan tidak selalu terdapat kesepakatan tentang bagaimana suatu sumber harus dikategorikan. Misalnya, jika seseorang tidak hadir di lokasi kerusuhan tetapi melaporkannya segera setelah kejadian, sebagian sejarawan menganggap laporan itu sebagai sumber primer, sementara yang lain menggolongkannya sebagai sumber sekunder.[43]
- ↑ Penekanan Leopold von Ranke terhadap evaluasi sumber memberikan pengaruh besar terhadap praktik penelitian sejarah.[46]
- ↑ Sejarawan mempertimbangkan konteks dan waktu penyusunan dokumen untuk memahami makna istilah yang digunakan. Misalnya, jika sebuah dokumen memakai kata awful, mereka harus menentukan apakah maknanya adalah 'mengerikan' seperti pemahaman modern, atau 'mengagumkan' sebagaimana makna historisnya.[48]
- ↑ Langkah ini menjadi sangat menantang ketika berbagai sumber memberikan informasi yang tampak saling bertentangan.[50]
- ↑ Unsur kreativitas dan imajinasi yang dibutuhkan dalam tahap ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pemikir menganggap sejarah sebagai suatu seni alih-alih ilmu.[51]
- ↑ Sebagai contoh, Martha Washington membakar semua surat pribadi antara dirinya dan suaminya, George Washington, sehingga meninggalkan puluhan tahun kekosongan informasi mengenai hubungan mereka.[58] Penyebab lain dari keheningan adalah adanya tabu, seperti tabu terhadap homoseksualitas, yang menyebabkan sangat sedikit informasi tentang topik tersebut terdokumentasikan.[57] Praktik menghapus nama orang yang telah meninggal dan dianggap musuh dari catatan publik dikenal dengan sebutan damnatio memoriae.[59]
- ↑ Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan tepatnya setiap periode dimulai dan berakhir. Pembagian alternatif dapat memiliki rentang waktu yang tumpang tindih atau bahkan sangat berbeda.[70]
- ↑ Penyakit baru, agresi militer, dan eksploitasi oleh bangsa Eropa menimbulkan dampak berat berupa hilangnya banyak nyawa dan terganggunya tatanan budaya masyarakat pribumi di Amerika.[80]
- ↑ Menekankan hubungan mendasar antara geografi dan sejarah, Jules Michelet menulis dalam kata pengantar karyanya Histoire de France tahun 1869: "tanpa landasan geografis, rakyat, pembuat sejarah, seakan berjalan di udara."[86]
- ↑ Herodotus secara tradisional dianggap sebagai "bapak sejarah", tetapi ia juga dijuluki "bapak kebohongan" karena tidak semua catatannya dapat diandalkan.[147]
- ↑ Unsur ini juga ditemukan dalam karya sejarawan Yunani seperti Herodotus dan Polybius.[150]
- ↑ Istilah teori sejarah sering digunakan dalam arti yang berdekatan atau bahkan sinonim.[187]
- ↑ Beberapa filsuf mengikuti gagasan Francis Fukuyama yang berpendapat bahwa "akhir sejarah" telah tiba, berdasarkan pandangan bahwa evolusi ideologis umat manusia telah mencapai titik akhirnya.[193]
- ↑ Sejarawan Jerman Leopold von Ranke merupakan salah satu pendukung utama pendekatan ilmiah ini pada abad ke-19.[200] Tokoh-tokoh modern yang menganut pandangan serupa meliputi Sir Geoffrey Elton, Arthur Marwick, dan E. P. Thompson.[199]
- ↑ Kritik ini berlandaskan pada beberapa argumen, di antaranya: mustahil untuk memulihkan keseluruhan masa lalu; karena peristiwa telah berlalu, uraian tidak dapat diverifikasi terhadap peristiwa itu sendiri melainkan terhadap uraian lain; penulisan sejarah dimediasi dan dibentuk oleh sejarawan melalui proses konstruksi naratif yang melibatkan interpretasi dan seleksi;[201] serta bahwa bukti pada dirinya bersifat subjektif karena ia dimediasi oleh pembuatnya dan bertahan melalui proses seleksi.[202] Dari sudut pandang ini, refleksi retrospektif dan teori modern memungkinkan sejarawan menyusun kembali bukti serta menawarkan tafsir yang baru tampak setelah peristiwa terjadi, dan dari perspektif yang tak terhindar dari bias, sehingga sejarah sebagai masa lalu yang diketahui merupakan hasil ciptaan manusia.[203]
- ↑ Salah satu tokoh yang mewakili pandangan relativis ini adalah E. H. Carr, yang dalam karyanya What Is History? (1961) menelaah bagaimana konteks sejarah dan sosial memengaruhi cara sejarawan memilih serta menganalisis fakta.[206]
- ↑ Beberapa sarjana berpendapat bahwa kesadaran akan sifat subjektif sumber-sumber sejarah justru membuka wilayah penelitian baru serta cara-cara baru dalam memahami subjek sejarah; hal ini juga memperkenalkan pendekatan baru dalam menganalisis sumber, mengkritik narasi dominan, dan memperluas keterlibatan sejarawan dengan beragam konsep.[208]
- ↑ Salah satu pendukung utama pandangan ini ialah Richard J. Evans.[209]
- ↑ Sebagai contoh, buku teks sejarah sekolah menengah di Jepang kerap dikritik karena dianggap mengecilkan peran kolonialisme dan aktivitas perang Jepang.[219]
- ↑ Bidang-bidang tersebut kadang dikelompokkan di bawah istilah ilmu bantu sejarah.[224]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑
- Kragh 1987, hlm. 41
- Little 2020, § 1. History and its representation
- Collingwood 1967, § 4. History and the Philosophy of History
- Ritter 1986, hlm. 193–194
- Collingwood 1993, hlm. 9
- ↑
- Little 2020, § 1. History and its representation
- Tosh 2002, hlm. 140–143
- Munslow 2001
- Evans 2001
- ↑
- Tucker 2011, hlm. xii, 2
- Arnold 2000, hlm. 5
- Evans 2002, hlm. 1–2
- Ritter 1986, hlm. 193–194
- Tosh 2002, hlm. 140–143
- ↑
- Evans 2002, hlm. 1–2
- Ritter 1986, hlm. 196
- ↑
- Tucker 2011, hlm. xii, 2
- Arnold 2000, hlm. 5
- ↑ Kipfer 2000, hlm. 457–458
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 300
- Renfrew 2008, hlm. 172
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 299–300
- Ackermann et al. 2008, hlm. xvii
- Stearns 2010, hlm. 17–18
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. v, 1
- 1 2 Hesketh 2023, hlm. 1–4, 41
- ↑
- Arnold 2000, hlm. 114–115
- Parrott & Hake 1983, hlm. 121–122
- Tosh 2002, hlm. 50–52
- Ritter 1986, hlm. 196–197
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 50–52
- Ritter 1986, hlm. 196–197, 415–416
- 1 2
- Allchin 2004, hlm. 179–180
- Välimäki & Aali 2020, hlm. 57
- ↑
- Southgate 2005, hlm. xi–xii, 1, 57
- Tosh 2002, hlm. 50–52
- ↑
- Lefkowitz 2008, hlm. 353–354
- Woolf 2019, hlm. 21–24
- Shankman & Durrant 2003, hlm. 96
- ↑
- Arnold 2000, hlm. 120–121
- Southgate 2005, hlm. 11–12, 57–58
- Tosh 2002, hlm. 26, 50–52
- ↑
- Arnold 2000, hlm. 121–122
- Tosh 2002, hlm. 50–52
- ↑
- Arnold 2000, hlm. 121
- Southgate 2005, hlm. 38–39, 175–176
- Tosh 2002, hlm. 50–51
- ↑
- Jenkins 1995, hlm. 53
- Haviland 1997, hlm. 6
- ↑ Evans 2002, hlm. 2
- ↑ Southgate 2005, hlm. xi–xii 49–51, 175–176
- ↑
- Tucker 2008, hlm. 1–10
- Evans 1999, hlm. 238–243
- Buchanan 2010
- Fronza 2018, hlm. 4
- ↑ Brown & Sinclair 2024, hlm. 417–418
- ↑ Woolf 2019, hlm. 22
- ↑ "sejarah – Kamus Dewan, DBP". PRPM DBP. Dewan Bahasa dan Pustaka. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑ Jones, Russell (2008). Loan-words in Indonesian and Malay (Edisi 1). Yayasan Obor Indonesia / KITLV-Jakarta. hlm. 278. ISBN 978-979-461-701-4.
- ↑ "شجره – Dehkhoda Dictionary". Vajehyab (dalam bahasa Persia). Dehkhoda Dictionary Institute / Tehran University Press. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑ "tarikh – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)". KBBI. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑ "histori – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)". KBBI. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑ "historis – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)". KBBI. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑
- Ritter 1986, hlm. 193–195
- Stevenson 2010, hlm. 831
- HarperCollins 2022
- Joseph & Janda 2008, hlm. 163
- HarperCollins 2003, hlm. 99
- OED Staff 2024
- ↑
- ↑
- Joseph & Janda 2008, hlm. 163
- Hoad 1993, hlm. 217
- Cresswell 2021, § History
- OED Staff 2024
- ↑
- Ritter 1986, hlm. 195–196
- HarperCollins 2022
- ↑
- Berkhofer 2022, hlm. 10–11
- Tosh 2002, hlm. 141
- ↑ Ritter 1986
- ↑
- Fazal 2023, hlm. 140
- Howell & Prevenier 2001, hlm. 1–2
- Ahlskog 2020, hlm. 1–2
- Kamp et al. 2020, hlm. 9–10
- Ritter 1986, hlm. 268
- ↑
- Kamp et al. 2020, hlm. 19–20
- Bhat 2019, hlm. 203
- ↑
- ↑
- ↑ Arnold 2000
- ↑
- ↑
- ↑ Tosh 2002
- ↑ Tosh 2002
- ↑
- ↑ Tosh 2002
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑ Tosh 2002
- ↑
- ↑
- Tosh 2002
- Little 2020, § 1. History and its representation
- ↑ Tosh 2002
- ↑ Wright 2006
- ↑
- 1 2 Kamp et al. 2020
- ↑ Oberg 2019
- ↑ Hedrick 2000
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- Van Nieuwenhuyse 2020
- Christian 2008
- Stearns 2001, Table of Contents
- Christian 2015
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑ Northrup 2015
- ↑ Tuniz & Vipraio 2016
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑ Pozdnyakova et al. 2018
- ↑
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 108–109
- Jordanova 2000, hlm. 34, 46–47
- ↑
- Diamond 1999, hlm. 22, 25–32
- Darby 2002, hlm. 14
- Baker 2003, hlm. 23
- Jordanova 2000, hlm. 34, 46–47
- ↑
- Darby 2002, hlm. 14
- Michelet 1871, hlm. v
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 108–109
- Jordanova 2000, hlm. 46–47
- ↑ Ackermann et al. 2008, hlm. 373–374
- ↑
- Fisher 2014, hlm. 127
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 12
- Stearns 2010, hlm. 17–20
- ↑
- Iliffe 2007, hlm. 5
- Stearns 2010, hlm. 24–25
- ↑ Asante 2024, hlm. 92
- ↑
- Shillington 2018, hlm. 93–94
- Iliffe 2007, hlm. 2, 42–45
- ↑
- Shillington 2018, hlm. 103
- Iliffe 2007, hlm. 131–132
- ↑ Iliffe 2007, hlm. 193–195
- ↑
- Shillington 2018, hlm. 417
- Iliffe 2007, hlm. 242, 253, 260, 267–268
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 15
- Headrick 2009, hlm. 6
- Wragg-Sykes 2016, hlm. 199
- ↑
- Mason 2005, hlm. 17–18
- Murphey & Stapleton 2019, hlm. 10–13
- Cotterell 2011, hlm. xiii, 3–4
- AASA 2011, hlm. 3–4
- Stearns 2010, hlm. 24–25
- ↑
- Cotterell 2011, hlm. xiii–xiv
- AASA 2011, hlm. 3–4
- ↑
- Cotterell 2011, hlm. 256–257
- Mason 2005, hlm. 77–78
- ↑
- Mason 2005, hlm. 111–112, 167–168
- Murphey & Stapleton 2019, hlm. 282–283
- Cotterell 2011, hlm. xvii–xviii
- Rana 2012, hlm. 13–14
- ↑
- Murphey & Stapleton 2019, hlm. 445
- Mason 2005, hlm. 1
- Rana 2012, hlm. 13–14
- 1 2 Roberts 1997, § The Importance of the Classical Past, § The Greeks, § An Attempt to Summarize
- ↑ Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 12
- ↑
- Roberts 1997, § The Importance of the Classical Past, § The Rise of Roman Power, § Empire
- Black 2021, § What is Europe?
- ↑
- Roberts 1997, § Decline and Fall in the West, § Christiandom
- Black 2021, § What is Europe?
- ↑
- Roberts 1997, § Launching Modern History 1500–1800
- Stearns 2010, hlm. 36–39
- Bulliet et al. 2015, hlm. 401–402
- ↑
- Roberts 1997, § The European Age
- Stearns 2010, hlm. 39–42
- Bulliet et al. 2015, hlm. 677–678
- ↑
- Roberts 1997, § Europe's Twentieth Century: The Era of European Civil War
- Stearns 2010, hlm. 44
- Bulliet et al. 2015, hlm. 677–678
- ↑
- Roberts 1997, § Europe in the Cold War and After, § European Integration
- Alcock 2002, hlm. 266–268
- Stearns 2010, hlm. 39–46
- Bulliet et al. 2015, hlm. 677–678, 817–818
- Andrén 2022, hlm. 298, 304
- ↑
- Fisher 2014, hlm. 127
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 12
- ↑
- Ackermann et al. 2008, hlm. xvii–xix
- Fernández-Armesto 2003, § Between Colonizations: The Americas' First 'Normalcy'
- Dorling Kindersley 2018, hlm. 94–95
- ↑
- Fernández-Armesto 2003, § Between Colonizations: The Americas' First 'Normalcy'
- Dorling Kindersley 2018, hlm. 94–95
- ↑
- Fernández-Armesto 2003, § Colonial Americas: Divergence and its Limits, § The Independence Era
- Stearns 2010, hlm. 36–38
- Dorling Kindersley 2018, hlm. 95
- ↑
- Fernández-Armesto 2003, § The Independence Era
- Raab & Rinke 2019, hlm. 20
- ↑
- Fernández-Armesto 2003, § The American Century
- Bulliet et al. 2015, hlm. 817–818
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 12
- Lawson 2024, hlm. 57
- d'Arcy 2012, § Indigenous Exploration and Colonization of the Region
- ↑
- Lawson 2024, hlm. 32, 57
- d'Arcy 2012, § Indigenous Exploration and Colonization of the Region
- ↑
- Lawson 2024, hlm. 59–60, 85–86
- d'Arcy 2012, § The Intersection of European and Indigenous Worlds, § The Impact of Pre-Colonial European Influences, § European Settler Societies and Plantation Colonies
- ↑
- d'Arcy 2012, § Times of Anxiety: World Wars, Pandemic, and Economic Depression, § Post-War Themes: The Nuclear Pacific, Decolonization, and the Search for Identity
- Lawson 2024, hlm. xii, 2, 96
- ↑
- Jordanova 2000, hlm. 34–35
- Yurdusev 2003, hlm. 24
- Tosh 2002, hlm. 109
- Gardiner 1988, hlm. 1–3
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 109, 122
- Jordanova 2000, hlm. 34–35
- Gardiner 1988, hlm. 1–3
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 109–110
- Jordanova 2000, hlm. 35–36
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 110
- Arnold 2000, hlm. 16–17, 33–34, 41
- Woolf 2019, hlm. 21–25
- ↑ Devries 2004
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 112–113
- Watt et al. 1988, hlm. 131–133
- ↑
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 122–124
- Coleman et al. 1988, hlm. 31–32
- ↑
- Samuel et al. 1988, hlm. 48–51
- Tosh 2002, hlm. 125–127
- Stearns 2021
- ↑
- Collinson et al. 1988, hlm. 58–59
- Tosh 2002, hlm. 101, 236–237, 286
- Burke 2019, § Introduction
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 272–273
- Collini et al. 1988, hlm. 105–106, 109–110
- ↑
- Santinello & Piaia 2010, hlm. 487–488
- Verene 2008, hlm. 6–8
- ↑
- Porter et al. 1988, hlm. 78–79
- Williams 2024, § Lead section
- ↑ Potts et al. 1988, hlm. 96–104
- ↑ Hughes 2016, hlm. 1
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 101, 112–113, 124–125, 127, 129
- Yapp et al. 1988, hlm. 155, 158
- Antonellos & Rantall 2017, hlm. 115
- Buchanan 2024, Lead section
- Ramsay 2008, hlm. 283
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 244–245
- Howell & Prevenier 2001, hlm. 81, 92–93
- Zaagsma 2023, § Introduction
- Jordanova 2000, hlm. 49–50
- ↑ Wong 2005, hlm. 416–417
- ↑
- ↑
- Zhao 2023, hlm. 9–10
- Birke, Butter & Köppe 2011, hlm. 7
- ↑
- Howell & Prevenier 2001, hlm. 13–14, 113–114
- Tosh 2002, hlm. 27, 224–225, 238
- Veysey 1979, hlm. 1
- 1 2
- Christian 2015, hlm. 3
- Stearns 2010, hlm. 11–13, 17–20
- ↑
- Bod 2013, hlm. 260
- O'Hara 2019, hlm. 176
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 113–115
- De Armond 2023, hlm. 75
- ↑
- Glassberg 1996, hlm. 7–8
- Tosh 2002, hlm. xiv–xv
- Stanton 2017, hlm. 224
- ↑
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 20–21
- Wright 2006
- Lefkowitz 2008, hlm. 353–354
- ↑ Woolf 2019, hlm. 22–23
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 21–23
- Wright 2006
- Jensen, § 1. Ancient through Medieval
- Lefkowitz 2008, hlm. 354–355
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 23–24
- Jensen, § 1. Ancient through Medieval
- Lefkowitz 2008, hlm. 356
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 26
- Comber 2006, hlm. 38–39
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 28–30, 34
- Comber 2006, hlm. 38–40, 42–43
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 40–41
- Lo 1998
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 35–39, 41–42
- Morgan 2006, hlm. 14–15
- ↑
- Wright 2006
- Woolf 2019, hlm. 39–43
- ↑
- Vašíček 2008, hlm. 33–34
- Bayly 2006, hlm. 664–665
- Singh 2008, hlm. 18–19
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 49–50
- Wright 2006
- Breisach 2005, § Christian Traditional Historiography
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 49–52, 55
- Wright 2006
- Breisach 2005, § Christian Traditional Historiography
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 56–57
- Wright 2006
- Breisach 2005, § Islamic Traditional Historiography
- Morgan 2006, hlm. 9–10
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 57, 60
- Wright 2006
- Breisach 2005, § Islamic Traditional Historiography
- Morgan 2006, hlm. 11, 14
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 64–65
- Breisach 2005, § Chinese Traditional Historiography
- ↑ Woolf 2019, hlm. 68–69, 84
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 67–68
- Breisach 2005, § Japanese Traditional Historiography
- ↑ Woolf 2019, hlm. 84
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 78, 89, 124
- Breisach 2005, § The Age of Anthropocentric Historiography
- Jensen, § 2. Humanism through Renaissance
- Arnold 2000, hlm. 26–27
- ↑
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 99–100
- Mittag 2012, hlm. 27–28
- Ng 2012, hlm. 60–62
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 101–106
- Quinn 2020, hlm. 1–4, 8–10
- ↑ Woolf 2019, hlm. 5, 106–114
- ↑
- Wright 2006
- Woolf 2019, hlm. 176–177
- ↑
- Wright 2006
- Woolf 2019, hlm. 174–177
- Jensen, § 5. 19th Century Scientific Historiography
- Moloughney & Zarrow 2012, hlm. 2
- ↑
- Wright 2006
- Jensen, § 5. 19th Century Scientific Historiography
- Woolf 2019, hlm. 184–185
- ↑
- Wright 2006
- Woolf 2019, hlm. 187–189
- Jensen, § 4. 19th Century Teleological Systems
- ↑ Woolf 2019, hlm. 5–6, 196–197, 215–216
- ↑
- ↑
- Wright 2006
- Woolf 2019, hlm. 229–230
- ↑ Woolf 2019, hlm. 239–240, 242–245
- ↑
- ↑ Woolf 2019, hlm. 262–264, 268–269
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 251–252
- Collini et al. 1988, hlm. 105–107
- ↑
- Moore 2006, hlm. 918–919
- Woolf 2019, hlm. 6, 297–300
- Wright 2006
- ↑ Woolf 2019, hlm. 60
- ↑
- Woolf 2019, hlm. 3
- Tucker 2011, hlm. xii, 2
- Ritter 1986, hlm. 188–189
- Little 2020, § 4. Historiography and the Philosophy of History
- ↑
- Little 2020, § 4. Historiography and the Philosophy of History
- Lloyd 2011, hlm. 371, 374
- ↑
- Little 2020, § 4. Historiography and the Philosophy of History
- Cheng 2012, hlm. 1–2
- ↑
- Howell & Prevenier 2001, hlm. 110–111
- Tosh 2002, hlm. 121, 133
- Little 2020, § 4. Historiography and the Philosophy of History
- ↑
- Little 2020, § 4. Historiography and the Philosophy of History
- Bentley 2006, hlm. xi, xv
- Cheng 2012, hlm. 1–2
- ↑ Paul 2015, hlm. xv, 2–3, 12–13
- ↑
- Carr 2006, Lead section
- Jensen, Lead section
- Little 2020, Lead section, § 1. History and its representation
- Paul 2015, hlm. 10
- ↑
- Little 2020, Lead section, § 1. History and its representation
- Paul 2015, hlm. 10
- ↑
- Stanford 1998, hlm. 85–87
- Little 2020, § 3.3 Causation in history
- ↑
- Carr 2006, § 2. "Critical" Philosophy of History: Philosophical Reflection on Historical Knowledge
- Little 2020, § 3.1 General laws in history?, § 3.3 Causation in history
- ↑
- Little 2020, § 2.2 Does history possess directionality?
- Stanford 1998, hlm. 74–75
- Paul 2015, hlm. 10
- Kleingeld 2006, hlm. xxi
- ↑
- Lemon 2003, hlm. 390–391
- Jackson & Xidias 2017, hlm. 21
- ↑
- Little 2020, § 4. Historiography and the philosophy of history
- Heller 2016, § 14. The Specificity of Philosophy of History
- ↑
- Lemon 2003, hlm. 125
- Stanford 1998, hlm. 155
- Carr 2006, § 4. Historicity, Historicism and the Historicization of Philosophy
- Vision 2023, § VI Truth Epistemologized: 6. Historicism
- ↑
- Little 2020, § 3.2 Historical objectivity
- Carr 2006, § 2. "Critical" Philosophy of History: Philosophical Reflection on Historical Knowledge
- Stanford 1998, hlm. 50–53
- Paul 2015, hlm. 10
- Carr 1990, hlm. 7–8, 21–22
- Evans 1999, hlm. 1–4
- ↑
- Dray 2021, hlm. 58
- Wineburg 2018, hlm. 56
- Fasolt 2013, hlm. xix
- Trevelyan 1947, hlm. 1–2
- Groot 2016, hlm. 173
- Jenkins 2003, hlm. xi–xii, 44–45
- ↑ Donnelly & Norton 2012, hlm. 35–39
- 1 2 Jenkins 2003, hlm. 16–18
- ↑ Donnelly & Norton 2012, hlm. 35–36
- ↑ Jenkins 2003, hlm. 12–15
- ↑
- Carr 1990, hlm. 16–19
- Donnelly & Norton 2012, hlm. 112–113
- ↑ Jenkins 2003, hlm. 15
- ↑ Kragh 1987, hlm. 56–57
- ↑
- Kragh 1987, hlm. 58–60
- Tucker 2008, hlm. 3–4
- ↑ Davies 1990, hlm. 160
- ↑ Donnelly & Norton 2012, hlm. 100
- ↑ Summerfield 2019, § Introduction
- 1 2 Donnelly & Norton 2012, hlm. 104–106
- 1 2 Metzger & Harris 2018, hlm. 2
- ↑
- Hughes, Cox & Godard 2013, hlm. 4–5, 10–11
- Metzger & Harris 2018, hlm. 3
- Levstik & Thornton 2018, hlm. 476–477
- Cooper 1995, hlm. 3–4
- ↑
- Levstik & Thornton 2018, hlm. 477
- Cooper 1995, hlm. 110–112
- ↑
- Sharp et al. 2021, hlm. 66–67, 71
- Hunt 2006, hlm. 49
- Phillips 2008, hlm. 34, 48–50
- ↑
- van Hover & Hicks 2018, hlm. 407–408
- Metzger & Harris 2018, hlm. 6–7
- Hunt 2006, hlm. 36
- Grant 2018, hlm. 422–428
- ↑
- Metzger & Harris 2018, hlm. 6
- Cooper 1995, hlm. 2
- Liu et al. 2024, hlm. 623
- ↑
- Metzger & Harris 2018, hlm. 3, 6–7
- Sharp et al. 2021, hlm. 49
- Hunt 2006, hlm. 6–7
- Miguel-Revilla et al. 2024, hlm. 1–2
- ↑
- Sharp et al. 2021, hlm. 49
- Zajda 2015, hlm. 5–6
- ↑
- Girard & Harris 2018, hlm. 258
- Schneider 2008, hlm. 107–108
- ↑ Schneider 2008, hlm. 107–108
- 1 2
- Stoddard 2018, hlm. 631–632
- Clark & Grever 2018, hlm. 181
- ↑
- Clark & Grever 2018, hlm. 181, 184
- Korte & Paletschek 2014, hlm. 7–8
- ↑
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. v
- Kamp et al. 2020, hlm. 36
- Manning 2020, hlm. 1–2
- Norberg & Deutsch 2023, hlm. 15
- Aldenderfer 2011, hlm. 1
- ↑ Renier 2016, hlm. 111–112
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. v, 1, 15
- Tosh 2002, hlm. 11, 55
- ↑ Gaskell & Carter 2020, hlm. 1–5
- ↑ Manning 2020, hlm. 2–3
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. 4, 10, 13–16
- Relethford 2012, hlm. 237
- ↑
- Tuniz & Vipraio 2016, hlm. v, 1, 11, 19
- Tosh 2002, hlm. 34, 205
- ↑
- Tosh 2002, hlm. 90, 186–187
- Lewis 2012, § The Disciplines of Space and Time
- ↑ Manning 2020, hlm. 3
- ↑
- Southgate 2005, hlm. xi, 21
- Arnold 2000, hlm. 121
- White & Millett 2019, hlm. 419–421
- ↑
- Wiles 1978, hlm. 4–6
- Johnson 2024, § 10. Historiography and History
- Law 2012, hlm. 1
- ↑
- Porter et al. 1988, hlm. 78–79
- Verene 2008, hlm. 6–8
- Potts et al. 1988, hlm. 96–104
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Abrams, Lynn (2016). Oral History Theory (dalam bahasa Inggris) (Edisi 2nd). Routledge. ISBN 978-1-317-27798-9.
- Ackermann, Marsha E.; Schroeder, Michael J.; Terry, Janice J.; Upshur, Jiu-Hwa Lo; Whitters, Mark F., ed. (2008). Encyclopedia of World History 1: The Ancient World, Prehistoric Eras to 600 CE. Facts on File. ISBN 978-0-8160-6386-4.
- Ahlskog, Jonas (2020). The Primacy of Method in Historical Research: Philosophy of History and the Perspective of Meaning (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-000-28524-6.
- Alcock, A. (2002). A Short History of Europe: From the Greeks and Romans to the Present Day (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan. doi:10.1057/9780230597426. ISBN 978-0-230-59742-6.
- Aldenderfer, Mark (2011). "Era 1: Beginnings of Human Society to 4000 BCE". World History Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Vol. 2. Greenwood Publishing Group. hlm. 1–327. ISBN 978-1-85109-930-6.
- Allchin, Douglas (2004). "Pseudohistory and Pseudoscience". Science & Education. 13 (3): 179–195. Bibcode:2004Sc&Ed..13..179A. doi:10.1023/B:SCED.0000025563.35883.e9.
- Andrén, Mats (2022). Thinking Europe: A History of the European Idea since 1800 (dalam bahasa Inggris). Vol. 46. Berghahn Books. ISBN 978-1-80073-570-5. JSTOR j.ctv36cj83p.
- Antonellos, Steven; Rantall, Jayne (2017). "Indigenous History: A Conversation". Australasian Journal of American Studies. 36 (2): 115–128. JSTOR 26532936.
- Arcodia, Giorgio Francesco; Basciano, Bianca (2021). "Periodization of Chinese History". Chinese Linguistics: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. xv. doi:10.1093/oso/9780198847830.001.0001. ISBN 978-0-19-884783-0.
- Arnold, John (2000). History: A Very Short Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. doi:10.1093/actrade/9780192853523.001.0001. ISBN 978-0-19-285352-3.
- Asante, Molefi Kete (2024). The History of Africa: The Quest for Eternal Harmony (dalam bahasa Inggris) (Edisi 4). Routledge. doi:10.4324/9781003351306. ISBN 978-1-003-81615-7.
- Association of Academies of Sciences in Asia (AASA) (2011). Towards a Sustainable Asia: The Cultural Perspectives. China Science Publishing & Media and Springer Science+Business Media. doi:10.1007/978-3-642-16669-3. ISBN 978-7-03-029011-3.
- Baker, Alan R. H. (2003). Geography and History: Bridging the Divide (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-28885-9.
- Bayly, C. A. (2006). "Modern Indian Historiography". Dalam Bentley, Michael (ed.). Companion to Historiography (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 663–677. doi:10.4324/9780203991459. ISBN 978-1-134-97023-0.
- Bentley, Michael (2006). "General Introduction: The Project of Historiography". Dalam Bentley, Michael (ed.). Companion to Historiography (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. xi–xvi. doi:10.4324/9780203991459. ISBN 978-1-134-97023-0.
- Berkhofer, R. (2008). Fashioning History: Current Practices and Principles (dalam bahasa Inggris). Springer. doi:10.1057/9780230617209. ISBN 978-0-230-61720-9.
- Berkhofer, Robert F. (2022). Forgeries and Historical Writing in England, France, and Flanders, 900–1200 (dalam bahasa Inggris). Boydell Press. doi:10.2307/j.ctv24tr8rg. ISBN 978-1-78327-691-2. JSTOR j.ctv24tr8rg.
- Bhat, P. Ishwara (2019). "Historical Legal Research". Idea and Methods of Legal Research (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press India. hlm. 198–229. doi:10.1093/oso/9780199493098.003.0007. ISBN 978-0-19-909830-9.
- Birke, Dorothee; Butter, Michael; Köppe, Tilmann (2011). "Introduction". Counterfactual Thinking - Counterfactual Writing (dalam bahasa Inggris). de Gruyter. hlm. 1–11. doi:10.1515/9783110268669. ISBN 978-3-11-026866-9.
- Black, Jeremy (2021). A History of Europe: From Pre-History to the 21st Century (dalam bahasa Inggris). Arcturus Publishing. ISBN 978-1-3988-0986-4.
- Bod, Rens (2013). A New History of the Humanities: The Search for Principles and Patterns from Antiquity to the Present (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-966521-1.
- Breisach, Ernst (2005). "Historiography: An Overview". Dalam Jones, Lindsay (ed.). Encyclopedia of Religion (Edisi 2nd). Macmillan Reference. hlm. 4024–4035. ISBN 978-0-02-865981-7.
- Brown, Alexander; Sinclair, Adriana (2024). Hate Speech Frontiers: Exploring the Limits of the Ordinary and Legal Concepts (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-35714-2.
- Buchanan, Ian (2010). "Revisionism". A Dictionary of Critical Theory (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-953291-9.
- Buchanan, Robert Angus (2024). "History of Technology". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 25 November 2024.
- Bulliet, Richard; Crossley, Pamela; Headrick, Daniel; Hirsch, Steven; Johnson, Lyman; Northrup, David (2015). The Earth and Its Peoples: A Global History. Vol. 1 (Edisi 6th). Cengage Learning. ISBN 978-1-285-44567-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2024. Diakses tanggal 25 August 2022.
- Burke, Peter (2019). What Is Cultural History? (dalam bahasa Inggris) (Edisi 3). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-5095-2224-8.
- Carr, Edward Hallett (1990) [1961]. What Is History? (Edisi 2). Penguin. ISBN 978-0-14-013584-8.
- Carr, David (2006). "Philosophy of History". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. 7: Oakeshott - Presupposition (Edisi 2). Thomson Gale, Macmillan Reference. hlm. 386–399. ISBN 978-0-02-865787-5.
- Cheng, Eileen Ka-May (2012). Historiography: An Introductory Guide (dalam bahasa Inggris). Continuum. ISBN 978-1-4411-7767-4.
- Christian, David (2008). This Fleeting World: A Short History of Humanity (dalam bahasa Inggris). Berkshire Publishing. ISBN 978-1-933782-04-1.
- Christian, David (2015). "Introduction and Overview". Dalam Christian, David (ed.). The Cambridge World History. Vol. 1. Cambridge University Press. hlm. 1–38. doi:10.1017/CBO9781139194662. ISBN 978-0-521-76333-2.
- Clark, Anna; Grever, Maria (2018). "Historical Consciousness". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 177–201. doi:10.1002/9781119100812.ch7. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Coleman, D. C.; Floud, Roderick; Barker, T. C.; Daunton, M. J.; Crafts, N. F. R. (1988). "What Is Economic History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 31–41. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_4. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Collingwood, R. G. (1967). "The Nature and Aims of a Philosophy of History". Essays in the Philosophy of History (dalam bahasa Inggris). University of Texas Press. hlm. 34–56. OCLC 17517213.
- Collingwood, R. G. (1993). The Idea of History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-285306-6.
- Collini, Stefan; Skinner, Quentin; Hollinger, David A.; Pocock, J. G. A.; Hunter, Michael (1988). "What Is Intellectual History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 105–119. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_10. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Collins Latin Concise Dictionary (dalam bahasa Inggris). HarperCollins. 2003. ISBN 978-0-06-053690-9.
- Collinson, Patrick; Brooke, Christopher; Norman, Edward; Lake, Peter; Hempton, David (1988). "What Is Religious History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 58–68. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_6. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Comber, Michael (2006). "Re-reading the Roman Historians". Dalam Bentley, Michael (ed.). Companion to Historiography (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 38–52. ISBN 978-1-134-97023-0.
- Cooper, Hilary (1995). History in the Early Years (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-10100-4.
- Cotterell, Arthur (2011). Asia: A Concise History (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-82959-2.
- Cresswell, Julia (2021). Oxford Dictionary of Word Origins (Edisi 3rd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-886875-0.
- d'Arcy, Paul (2012). "Oceania and Australasia". Dalam Bentley, Jerry H. (ed.). Oxford Handbook of World History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 546–563. doi:10.1093/oxfordhb/9780199235810.013.0031. ISBN 978-0-19-923581-0.
- Darby, Henry Clifford (2002). The Relations of History and Geography: Studies in England, France and the United States (dalam bahasa Inggris). University of Exeter Press. ISBN 978-0-85989-699-3.
- Davies, R. W. (1990) [1961]. ""From E. H. Carr's Files: Notes towards a Second Edition of What Is History?". Dalam Carr, Edward Hallett; Davies, R. W. (ed.). What Is History? (Edisi 2). Penguin. hlm. 157–184. ISBN 978-0-14-013584-8.
- De Armond, Thea (2023). "Toward a Prosopography of Archaeology form the Margins". Dalam Moshenska, Gabriel; Lewis, Clare (ed.). Life-writing in the History of Archaeology: Critical Perspectives (dalam bahasa Inggris). UCL Press. hlm. 73–90. ISBN 978-1-80008-450-6.
- Devries, Kelly (2004). "Catapult". Dalam Bradford, James C. (ed.). International Encyclopedia of Military History (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-95033-0.
- Diamond, Jared (1999). Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies (dalam bahasa Inggris). W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-06922-8.
- Donnelly, Mark; Norton, Claire (2012). Doing History. Routledge. ISBN 978-1-136-65694-1.
- Dorling Kindersley (2018). Timelines of Everything: From Woolly Mammoths to World Wars (dalam bahasa Inggris). Dorling Kindersley. ISBN 978-0-241-42807-8.
- Dray, William (2021). On History and Philosophers of History (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-45157-5.
- Evans, Richard J. (1999). In Defence of History. W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-04687-8.
- Evans, Richard J. (2001). "The Two Faces of E. H. Carr". History in Focus (2). University of London - Institute of Historical Research.
- Evans, Richard J. (2002). "Prologue: What Is History? – Now". Dalam Cannadine, D. (ed.). What Is History Now? (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–18. doi:10.1057/9780230204522_1. ISBN 978-0-230-20452-2.
- Fagan, Brian M.; Durrani, Nadia (2019). World Prehistory: A Brief Introduction (dalam bahasa Inggris) (Edisi 10th). Routledge. ISBN 978-0-429-77280-1.
- Fasolt, Constantin (2013). The Limits of History (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-11564-1.
- Fazal, Tanweer (2023). "'Documents of Power': Historical Method and the Study of Politics". Studies in Indian Politics. 11 (1): 140–149. doi:10.1177/23210230231166179.
- Fernández-Armesto, Felipe (2003). The Americas: A Hemispheric History. Random House. ISBN 978-1-58836-302-2.
- Fisher, Michael H. (2014). Migration: A World History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-976434-1.
- Fronza, Emanuela (2018). Memory and Punishment: Historical Denialism, Free Speech and the Limits of Criminal Law (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-94-6265-234-7.
- Gardiner, Juliet (1988). "Introduction". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 1–3. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_1. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Gaskell, Ivan; Carter, Sarah Anne (2020). "Introduction: Why History and Material Culture?". Dalam Gaskell, Ivan; Carter, Sarah Anne (ed.). The Oxford Handbook of History and Material Culture. Oxford University Press. hlm. 1–13. doi:10.1093/oxfordhb/9780199341764.002.0008 (tidak aktif 1 July 2025). ISBN 978-0-19-934176-4. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- Gil, Jeffrey; Marsen, Sky (2022). Exploring Language in Global Contexts (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-59387-7.
- Girard, Brian; Harris, Lauren McArthur (2018). "Global and World History Education". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 253–279. doi:10.1002/9781119100812.ch10. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Glassberg, David (1996). "Public History and the Study of Memory". The Public Historian. 18 (2): 7–23. doi:10.2307/3377910. JSTOR 3377910.
- Grant, S. G. (2018). "Teaching Practices in History Education". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 419–448. doi:10.1002/9781119100812.ch16. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Groot, Jerome de (2016). Consuming History: Historians and Heritage in Contemporary Popular Culture (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-27796-5.
- Haviland, Beverly (1997). Henry James' Last Romance: Making Sense of the Past and the American Scene (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-56338-3.
- Headrick, Daniel R. (2009). Technology: A World History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-971366-0.
- Hedrick, Charles W. (2000). History and Silence: Purge and Rehabilitation of Memory in Late Antiquity (dalam bahasa Inggris). University of Texas Press. ISBN 0-292-73121-3.
- Heller, Agnes (2016). A Theory of History (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-26882-6.
- Hesketh, Ian (2023). A History of Big History (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-04156-0.
- "History". American Heritage Dictionary. HarperCollins. 2022. Diakses tanggal 8 December 2024.
- Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283098-2.
- Howard, Michael; Bond, Brian; Stagg, J. C. A.; Chandler, David; Best, Geoffrey; Terrine, John (1988). "What Is Military History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 4–17. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_2. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Howell, Martha C.; Prevenier, Walter (2001). From Reliable Sources: An Introduction to Historical Methods (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-8560-2.
- Hsu, Cho-yun (1993). "Chinese Periodization". Dalam Stearns, Peter N. (ed.). Encyclopedia of Social History (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 161–163. ISBN 978-1-135-58347-7.
- Hughes, J. Donald (2016). What Is Environmental History? (dalam bahasa Inggris). Polity. ISBN 978-0-7456-8844-2.
- Hughes, Pat; Cox, Kath; Godard, Gillian (2013). Primary History Curriculum Guide (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-12742-9.
- Hunt, Martin (2006). "Why Learn History?". Dalam Hunt, Martin (ed.). A Practical Guide to Teaching History in the Secondary School (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 3–14. doi:10.4324/9780203029831. ISBN 978-1-134-19967-9.
- Iliffe, John (2007). Africans: The History of a Continent (Edisi 2). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-86438-1.
- Jackson, Ian; Xidias, Jason (2017). An Analysis of Francis Fukuyama's The End of History and the Last Man (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-35127-0.
- Jenkins, Keith (1995). On 'What Is History?': From Carr and Elton to Rorty and White (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-09725-3.
- Jenkins, Keith (2003). Rethinking History (dalam bahasa Inggris) (Edisi 3). Routledge. ISBN 978-1-134-40827-6.
- Jensen, Anthony K. "History, Philosophy of". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses tanggal 30 November 2024.
- Johnson, Peter (2024). R. G. Collingwood and Christianity: Faith, Philosophy and Politics (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-46543-5.
- Jordanova, Ludmilla (2000). History in Practice (dalam bahasa Inggris). Arnold Publishers. ISBN 978-0-340-66331-8.
- Joseph, Brian; Janda, Richard (2008). "On Language, Change, and Language Change - Or, Of History, Linguistics, and Historical Linguistics". Dalam Joseph, Brian; Janda, Richard (ed.). The Handbook of Historical Linguistics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 3–180. doi:10.1002/9780470756393.ch. ISBN 978-0-470-75633-1.
- Kamp, Jeannette; Legêne, Susan; Rossum, Matthias van; Rümke, Sebas (2020). Writing History!: A Companion for Historians (dalam bahasa Inggris). Amsterdam University Press. ISBN 978-90-485-3762-4.
- Kipfer, Barbara Ann (2000). Encyclopedic Dictionary of Archaeology (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-0-306-46158-3.
- Kleingeld, Pauline (2006). "Editor's Introduction". Toward Perpetual Peace and Other Writings on Politics, Peace, and History (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. hlm. xv–xxiv. ISBN 978-0-300-11794-3.
- Korte, Barbara; Paletschek, Sylvia (2014). "Introduction". Dalam Korte, Barbara; Paletschek, Sylvia (ed.). Popular History Now and Then: International Perspectives (dalam bahasa Inggris). transcript Verlag. hlm. 7–12. ISBN 978-3-8394-2007-2.
- Kragh, Helge (1987). An Introduction to the Historiography of Science (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38921-1.
- Law, David R. (2012). The Historical-Critical Method: A Guide for the Perplexed (dalam bahasa Inggris). Continuum. ISBN 978-0-567-40012-3.
- Lawson, Stephanie (2024). Regional Politics in Oceania: From Colonialism and Cold War to the Pacific Century (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-009-42758-6.
- Leavy, Patricia (2011). Oral History: Understanding Qualitative Research. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-539509-9.
- Lefkowitz, Mary (2008). "Historiography and Myth". Dalam Tucker, Aviezer (ed.). A Companion to the Philosophy of History and Historiography (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 353–361. doi:10.1002/9781444304916.ch31. ISBN 978-1-4443-0491-6.
- Lemon, Michael C. (1995). The Discipline of History and the History of Thought. Routledge. ISBN 978-0-415-12346-4.
- Lemon, M. C. (2003). Philosophy of History: A Guide for Students (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-71746-0.
- Levstik, Linda S.; Thornton, Stephen J. (2018). "Reconceptualizing History for Early Childhood Through Early Adolescence". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 473–501. doi:10.1002/9781119100812.ch18. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Lewis, Martin W. (2012). Bentley, Jerry H. (ed.). Geographies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-923581-0.
- Little, Daniel (2020). "Philosophy of History". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 7 November 2024.
- Liu, Fangfang; Wang, Yiyun; Zhang, Zeyu; Zhu, Linkai; Li, Guang (2024). "Interdisciplinary Curriculum Design and Quasi-Experimental AI-Study of Junior High School History from the Perspective of Core Competencies". Dalam Feng, Yongjun; Bhattacharjya, Aniruddha; Diao, Junfeng; Ghlamallah, Nahed Rajaa (ed.). Proceedings of the 4th International Conference on Internet, Education and Information Technology (IEIT 2024). Springer. hlm. 622–628. doi:10.2991/978-94-6463-574-4_71. ISBN 978-94-6463-574-4.
- Lloyd, Christopher (2011). "Historiographic Schools". Dalam Tucker, Aviezer (ed.). A Companion to the Philosophy of History and Historiography (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 371–380. doi:10.1002/9781444304916.ch33. ISBN 978-1-4443-5152-1.
- Lo, Yuet Keung (1998). "Sima Qian [Ssu-ma Ch'ien] (145–85 BC)". Dalam Woolf, D.R. (ed.). A Global Encyclopedia of Historical Writing: K-Z (dalam bahasa Inggris). Vol. 2. Garland Publishing. hlm. 835. ISBN 978-0-8153-1514-8.
- Lucas, Gavin (2004). The Archaeology of Time (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-38427-3.
- Manning, Patrick (2020). Methods for Human History: Studying Social, Cultural, and Biological Evolution (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-030-53882-8.
- Mason, Colin (2005). A Short History of Asia (Edisi 2). Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-4039-3611-0.
- Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (2018). "Introduction". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–10. doi:10.1002/9781119100812.ch0. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Michelet, Jules (1871). "Préface de 1869". Histoire de France (dalam bahasa Prancis). Vol. 1. Librairie Internationale. hlm. i–xxxviii.
- Miguel-Revilla, Diego; López-Torres, Esther; Ortuño-Molina, Jorge; Molina-Puche, Sebastián (2024). "Cultural Heritage and Iconic Elements for History Education: A Study with Primary Education Prospective Teachers in Spain". Humanities and Social Sciences Communications. 11 (1) 1590. doi:10.1057/s41599-024-04123-w.
- Miller, Bruce Granville (2024). Oral History on Trial: Recognizing Aboriginal Narratives in the Courts (dalam bahasa Inggris). UBC Press. ISBN 978-0-7748-2073-8.
- Mittag, Achim (2012). "Chinese Official Historical Writing under the Ming and Qing". Dalam Rabasa, José; Sato, Masayuki; Tortarolo, Edoardo; Woolf, Daniel (ed.). The Oxford History of Historical Writing: Volume 3: 1400-1800 (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 24–42. doi:10.1093/acprof:osobl/9780199219179.003.0002. ISBN 978-0-19-162944-0.
- Moloughney, Brian; Zarrow, Peter (2012). "Making History Modern: The Transformation of Chinese Historiography, 1895–1937". Dalam Moloughney, Brian; Zarrow, Peter (ed.). Transforming History: The Making of a Modern Academic Discipline in Twentieth-Century China (dalam bahasa Inggris). The Chinese University of Hong Kong Press. ISBN 978-962-996-479-5.
- Moore, R. I. (2006). "World History". Dalam Bentley, Michael (ed.). Companion to Historiography (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 918–936. ISBN 978-1-134-97023-0.
- Morgan, David (2006). "The Evolution of Two Asian Historiographical Traditions". Dalam Bentley, Michael (ed.). Companion to Historiography (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 9–19. ISBN 978-1-134-97023-0.
- Morillo, Stephen (2017). What Is Military History? (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-5095-1764-0.
- Munslow, Alun (2001). "What History Is". History in Focus (2). University of London - Institute of Historical Research.
- Murphey, Rhoads; Stapleton, Kristin (2019). A History of Asia (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-23189-3.
- Ng, On-cho (2012). "Private Historiography in Late Imperial China". Dalam Rabasa, José; Sato, Masayuki; Tortarolo, Edoardo; Woolf, Daniel (ed.). The Oxford History of Historical Writing: Volume 3: 1400-1800 (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 60–79. doi:10.1093/acprof:osobl/9780199219179.003.0004. ISBN 978-0-19-162944-0.
- Norberg, Matilda Baraibar; Deutsch, Lisa (2023). The Soybean Through World History: Lessons for Sustainable Agrofood Systems (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-90347-8.
- Northrup, David R. (2015). "From Divergence to Convergence: Centrifugal and Centripetal Forces in History". Dalam Christian, David (ed.). The Cambridge World History. Cambridge University Press. hlm. 110–131. doi:10.1017/CBO9781139194662. ISBN 978-0-521-76333-2.
- O'Hara, Phillip Anthony (2019). "History of Institutional Economics". Dalam Sinha, Ajit; Thomas, Alex M. (ed.). Pluralistic Economics and Its History (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 171–190. doi:10.4324/9780429278860-12. ISBN 978-1-000-00183-9.
- Oberg, Barbara B. (2019). Women in the American Revolution: Gender, Politics, and the Domestic World (dalam bahasa Inggris). University of Virginia Press. ISBN 978-0-8139-4260-5.
- OED Staff (2024). "History, n." Oxford English Dictionary Online. Oxford University Press. doi:10.1093/OED/9602520444.
- Parrott, Linda J.; Hake, Don F. (1983). "Toward a Science of History". The Behavior Analyst. 6 (2): 121–132. doi:10.1007/BF03392391. PMC 2741978. PMID 22478582.
- Paul, Herman (2015). Key Issues in Historical Theory. Routledge. ISBN 978-1-138-80272-8.
- Phillips, Ian (2008). Teaching History: Developing as a Reflective Secondary Teacher (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN 978-1-4462-4538-5.
- Porter, Roy; Shapin, Steven; Schaffer, Simon; Young, Robert M.; Cooter, Roger; Crosland, Maurice (1988). "What Is the History of Science ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 69–81. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_7. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Potts, Alex; House, John; Hope, Charles; Gretton, Tom (1988). "What Is the History of Art ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 96–104. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_9. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Pozdnyakova, Ulyana A.; Golikov, Vyacheslav V.; Peters, Irina A.; Morozova, Irina A. (2018). "Genesis of the Revolutionary Transition to Industry 4.0 in the 21st Century and Overview of Previous Industrial Revolutions". Dalam Popkova, Elena G.; Ragulina, Yulia V.; Bogoviz, Aleksei V. (ed.). Industry 4.0: Industrial Revolution of the 21st Century (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 11–20. ISBN 978-3-319-94310-7.
- Quinn, Sholeh A. (2020). Persian Historiography across Empires: The Ottomans, Safavids, and Mughals (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-90170-3.
- Raab, Josef; Rinke, Stefan (2019). "Introduction: history and society in the Americas from the 16th to the 19th century. The bigger picture". Dalam Kaltmeier, Olaf; Raab, Josef; Foley, Mike; Nash, Alice; Rinke, Stefan; Rufer, Mario (ed.). The Routledge Handbook to the History and Society of the Americas (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 15–33. ISBN 978-1-351-13869-7.
- Ramsay, John G. (2008). "Education, History of". Dalam Provenzo, Eugene F. (ed.). Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education (dalam bahasa Inggris). Sage. hlm. 283–288. ISBN 978-1-4522-6597-1. Diakses tanggal 3 May 2023.
- Rana, Pradumna B. (2012). "Regional Economic Integration in Asia: Historical and Contemporary Perspectives". Dalam Rana, Pradumna B. (ed.). Renaissance Of Asia: Evolving Economic Relations Between South Asia And East Asia (dalam bahasa Inggris). World Scientific. hlm. 13–50. doi:10.1142/9789814366519_0002. ISBN 978-981-4458-19-1.
- Relethford, John H. (2012). Human Population Genetics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-46467-0.
- Renfrew, Colin (2008). Prehistory: The Making of the Human Mind (dalam bahasa Inggris). Random House. ISBN 978-1-58836-808-9.
- Renier, G. J. (2016). History: Its Purpose and Method (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-24117-1.
- Ritter, Harry (1986). Dictionary of Concepts in History. Greenwood Press. ISBN 978-0-313-22700-4.
- Roberts, J. (1997). The Penguin History of Europe (dalam bahasa Inggris). Penguin. ISBN 978-0-14-192509-7.
- Samuel, Raphael; Breuilly, John; Clark, J. C. D.; Hopkins, Keith; Cannadine, David (1988). "What Is Social History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 42–57. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_5. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Santinello, Giovanni; Piaia, Gregorio (1 December 2010). Models of the History of Philosophy: Volume II: From Cartesian Age to Brucker (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-90-481-9507-7. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Schneider, Claudia (2008). "The Japanese History Textbook Controversy in East Asian Perspective". The Annals of the American Academy of Political and Social Science. 617 (1): 107–122. doi:10.1177/0002716208314359.
- Shankman, Steven; Durrant, Stephen (2003). The Siren and the Sage: Knowledge and Wisdom in Ancient Greece and China (dalam bahasa Inggris). Wipf and Stock Publishers. ISBN 978-1-7252-0845-2.
- Sharp, Heather; Dallimore, Jonathon; Bedford, Alison; Kerby, Martin; Goulding, James; Güttner, Darius von; Heath, Treesa Clare; Zarmati, Louise (2021). Teaching Secondary History (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-96998-7.
- Shillington, Kevin (2018). History of Africa (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-137-52481-2.
- Singh, Upinder (2008). A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century (dalam bahasa Inggris). Pearson Education India. ISBN 978-81-317-1677-9.
- Sitton, Thad; Mehaffy, George L.; Davis, O. L. (2011). Oral History: A Guide for Teachers (and Others) (dalam bahasa Inggris). University of Texas Press. ISBN 978-0-292-78582-3.
- Southgate, Beverley C. (2005). What Is History For? (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-0-415-35098-3.
- Stanford, Michael (1998). An Introduction to the Philosophy of History (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-631-19941-0.
- Stanton, Cathy (2017). "Between Pastness and Presentism: Public History and Local Food Activism". Dalam Gardner, James B.; Hamilton, Paula (ed.). The Oxford Handbook of Public History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 217–238. doi:10.1093/oxfordhb/9780199766024.013.12. ISBN 978-0-19-067378-9.
- Stearns, Peter N. (2001). The Encyclopedia of World History: Ancient, Medieval, and Modern, Chronologically Arranged (dalam bahasa Inggris). Houghton Mifflin. ISBN 978-0-395-65237-4.
- Stearns, Peter N. (2010). World History: The Basics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-136-88817-5.
- Stearns, Peter N. (2021). "Social History". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). doi:10.1093/obo/9780199756384-0131. ISBN 978-0-19-975638-4. Diakses tanggal 24 November 2024.
- Stevenson, Angus (2010). Oxford Dictionary of English (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-957112-3.
- Stoddard, Jeremy D. (2018). "Learning History Beyond School". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 631–656. doi:10.1002/9781119100812.ch24. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Storey, William Kelleher (2013). Writing History: A Guide for Students (Edisi 4). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-983004-6.
- Summerfield, Penny (2019). Histories of the Self: Personal Narratives and Historical Practice. Routledge. ISBN 978-0-429-94529-8.
- Thomson, Alistair (2012). "Memory and Remembering in Oral History". Dalam Ritchie, Donald A. (ed.). The Oxford Handbook of Oral History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 77–95. doi:10.1093/oxfordhb/9780195339550.001.0001. ISBN 978-0-19-999636-0.
- Topolski, Y. (2012). Methodology of History (dalam bahasa Inggris). D. Reidel Publishing Company. ISBN 978-94-010-1123-5.
- Tosh, John (2002). The Pursuit of History: Aims, Methods and New Directions in the Study of Modern History (dalam bahasa Inggris). Pearson Education. ISBN 978-0-582-77254-0.
- Trevelyan, G. M. (1947). "Bias in History". History. 32 (115): 1–15. doi:10.1111/j.1468-229X.1947.tb00181.x.
- Tucker, Aviezer (2008). "Historiographic Revision and Revisionism". Dalam Kopeček, Michal (ed.). Past in the Making: Historical Revisionism in Central Europe After 1989. Central European University Press. hlm. 1–16. doi:10.1515/9786155211423. ISBN 978-6-155-21142-3.
- Tucker, Aviezer (2011). "Introduction". Dalam Tucker, Aviezer (ed.). A Companion to the Philosophy of History and Historiography (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 1–6. doi:10.1002/9781444304916.ch1. ISBN 978-1-4443-5152-1.
- Tuniz, Claudio; Vipraio, Patrizia Tiberi (2016). Humans: An Unauthorized Biography (dalam bahasa Inggris). Springer. doi:10.1007/978-3-319-31021-3. ISBN 978-3-319-31021-3.
- Välimäki, Reima; Aali, Heta (2020). "The Ancient Finnish Kings and their Swedish Archenemy: Nationalism, Conspiracy Theories, and Alt-Right Memes in Finnish Online Medievalism". Dalam Fugelso, Karl (ed.). Politics and Medievalism (dalam bahasa Inggris). Vol. 3. Boydell & Brewer. hlm. 55–78. ISBN 978-1-84384-625-3. JSTOR j.ctv24cns6q.
- van Hover, Stephanie; Hicks, David (2018). "History Teacher Preparation and Professional Development". Dalam Metzger, Scott Alan; Harris, Lauren McArthur (ed.). The Wiley International Handbook of History Teaching and Learning (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 389–418. doi:10.1002/9781119100812.ch15. ISBN 978-1-119-10081-2.
- Van Nieuwenhuyse, Karel (2020). "From Knowing the National Past to Doing History". Dalam Berg, Christopher W.; Christou, Theodore M. (ed.). The Palgrave Handbook of History and Social Studies Education (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 355–386. doi:10.1007/978-3-030-37210-1_14. ISBN 978-3-030-37210-1.
- Vašíček, Zdeněk (2008). "Philosophy of History". Dalam Tucker, Aviezer (ed.). A Companion to the Philosophy of History and Historiography (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 26–43. doi:10.1002/9781444304916.ch3. ISBN 978-1-4443-0491-6.
- Verene, Donald Phillip (20 June 2008). The History of Philosophy: A Reader's Guide (dalam bahasa Inggris). Northwestern University Press. ISBN 978-0-8101-5197-0. Diakses tanggal 25 May 2023.
- Veysey, Laurence (1979). "The 'New' Social History in the Context of American Historical Writing". Reviews in American History. 7 (1): 1–12. doi:10.2307/2700953. JSTOR 2700953.
- Vision, Gerald A. (2023). Modern Anti-Realism and Manufactured Truth (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-003-80838-1.
- Watt, D. C.; Adams, Simon; Bullen, Roger; Brauer, Kinley; Iriye, Akira (1988). "What Is Diplomatic History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 131–142. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_12. ISBN 978-1-349-19161-1.
- White, W. George; Millett, Bruce (2019). Kobayashi, Audrey (ed.). International Encyclopedia of Human Geography (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 419–426. ISBN 978-0-08-102296-2.
- Wiles, Maurice (1978). "In What Sense is Christianity a 'Historical' Religion?". Theology. 81 (679): 4–14. doi:10.1177/0040571X7808100102.
- Williams, L. Pearce (2024). "History of Science". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 November 2024.
- Wineburg, Sam (2018). Why Learn History (When It's Already on Your Phone) (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-35735-5.
- Wong, R. Bin (2005). "Comparative History". Berkshire Encyclopedia of World History. Berkshire Publishing. hlm. 630–635. ISBN 978-0-9743091-0-1. JSTOR jj.9941129.
- Woolf, Daniel (2019). A Concise History of History: Global Historiography from Antiquity to the Present (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-42619-0.
- Wragg-Sykes, Rebecca (2016). "Threshold 6". Big History: Our Incredible Journey, from Big Bang to Now (dalam bahasa English). Dorling Kindersley. hlm. 180–223. ISBN 978-0-241-22590-5. Diakses tanggal 4 May 2024. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Wright, Edmund, ed. (2006). "Historiography". A Dictionary of World History. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-280700-7.
- Yapp, M. E.; Bayly, C. A.; Clarence-Smith, Gervase; Abel, Christopher; Johnson, Gordon; Fyfe, Christopher (1988). "What Is Third World History ... ?". Dalam Gardiner, Juliet (ed.). What Is History Today ... ? (dalam bahasa Inggris). Macmillan Education UK. hlm. 155–167. doi:10.1007/978-1-349-19161-1_14. ISBN 978-1-349-19161-1.
- Yurdusev, A. (2003). International Relations and the Philosophy of History: A Civilizational Approach (dalam bahasa Inggris). Springer. doi:10.1057/9781403938404. ISBN 978-1-4039-3840-4.
- Zaagsma, Gerben (2023). "Digital History and the Politics of Digitization". Digital Scholarship in the Humanities. 38 (2): 830–851. doi:10.1093/llc/fqac050.
- Zajda, Joseph (2015). "Globalisation and the Politics of Education Reforms: History Education". Nation-Building and History Education in a Global Culture (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 1–14. doi:10.1007/978-94-017-9729-0_1. ISBN 978-94-017-9729-0.
- Zhao, Helen (2023). "Counterfactual History: Three Worries and Replies". Journal of the Philosophy of History. 17 (1): 9–30. doi:10.1163/18722636-12341487.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Internet History Sourcebooks Project See also Internet History Sourcebooks Project (Collections of public domain and copy-permitted historical texts for educational use)
- Articles containing Yunani Kuno-language text
- Articles containing Latin-language text
- Articles containing Old French (842-ca. 1400)-language text
- Articles containing Prancis-language text
- Articles containing Italia-language text
- Articles containing Jerman-language text
- Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025
- Sejarah
- Humaniora
- Artikel topik utama
- Cabang ilmu