Evangelikalisme
| Bagian dari seri tentang |
| Kekristenan |
|---|
|
|
| Bagian dari seri |
| Protestanisme |
|---|
|
|
Gerakan Injili, juga dikenal sebagai Evangelikalisme, adalah sebuah gerakan interdenominasi dalam Kekristenan Protestan yang menekankan penginjilan, atau pemberitaan dan penyebaran Injil Kristen. Istilah evangelikal berasal dari kata Yunani Koine εὐαγγέλιον (euangelion), yang berarti 'kabar baik', yang merujuk pada berita keselamatan melalui Yesus Kristus. Gerakan injili umumnya menaruh penekanan yang kuat pada pertobatan pribadi, yang sering digambarkan sebagai "lahir baru", dan menganggap Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam hal iman dan praktik. Definisi dan cakupan dari gerakan injili menjadi subjek perdebatan di antara para teolog dan pakar. Beberapa kritikus berpendapat bahwa istilah tersebut mencakup berbagai keyakinan dan praktik yang luas dan beragam, yang menjadikannya sulit untuk didefinisikan sebagai sebuah gerakan yang koheren atau bersatu.
Akar-akar teologis gerakan injili dapat ditelusuri kepada Reformasi Protestan di Eropa pada abad ke-16, yang menekankan otoritas Kitab Suci dan pemberitaan Injil. Secara historis, istilah Injili merujuk gereja-gereja Lutheran Injili, yang menggunakan istilah ini untuk menekankan "kepatuhan pada doktrin-doktrin injili yang murni, dan pada Kitab Suci secara umum".[1][2] Gerakan injili yang modern umumnya diperkirakan dimulai pada tahun 1734, dipengaruhi oleh arus-arus teologi seperti Pietisme, Puritanisme, Quakerisme, dan Moravianisme—terutama melalui karya Nicolaus Zinzendorf dan komunitas Herrnhut. Gerakan injili memperoleh momentum selama Kebangunan Besar Pertama, dengan tokoh-tokoh seperti John Wesley dan para Metodis mula-mula yang memainkan peran sentral.
Gerakan ini telah lama ada di dunia berbahasa Inggris, khususnya di Britania Raya dan Amerika Serikat, sebelum meluas secara global pada abad ke-19, ke-20, dan awal abad ke-21. Gerakan tersebut tumbuh secara signifikan selama abad ke-18 dan ke-19, terutama melalui serangkaian kebangunan rohani yang dikenal sebagai Kebangunan Besar di Amerika Serikat serta berbagai gerakan kebangunan rohani dan upaya reformasi di Britania. Sekarang, kaum injili dapat ditemukan di berbagai denominasi Protestan dan konteks global, tanpa terbatas pada satu tradisi saja. Pemimpin-pemimpin injili yang terkemuka di antaranya meliputi: Nicolaus Zinzendorf, George Fox, John Wesley, George Whitefield, Jonathan Edwards, Billy Graham, Bill Bright, Harold Ockenga, Gudina Tumsa, John Stott, Francisco Olazábal, William J. Seymour, Luis Palau, Os Guinness, dan Martyn Lloyd-Jones.
Aliansi Injili Sedunia mengklaim bahwa terdapat 600 juta penganut pada tahun 2025,[3] yang mencakup sekitar satu dari empat umat Kristen. Di Amerika Serikat, kaum injili membentuk sekitar seperempat dari total jumlah penduduk dan menjadi kelompok keagamaan terbesar. Gerakan injili melintasi denominasi gereja dan ditemukan di berbagai denominasi Protestan, termasuk tradisi Reformed seperti Presbiterianisme dan Kongregasionalisme, Anglikanisme, Persaudaraan Plymouth, Baptis, Metodisme (khususnya dalam tradisi Wesleyan–Arminian), Lutheranisme, Moravia, Gereja Bebas, Menonit, Quaker, gerakan Pentakosta dan karismatik, serta berbagai gereja nondenominasional.
Terminologi
[sunting | sunting sumber]
Istilah injili merupakan bentuk adjektiva dari injil. Sementara itu, Istilah evangelikal memiliki akar etimologis dari kata Yunani untuk injil has its etymological roots in the Greek word for 'injil' atau 'kabar baik': εὐαγγέλιον euangelion, dari eu 'baik', angel- kata dasar dari, antara lain, angelos 'utusan, malaikat', dan akhiran netral -ion.[4] Pada Abad Pertengahan di Inggris, istilah tersebut telah meluas secara semantik untuk tidak hanya mencakup beritanya, tetapi juga Perjanjian Baru yang berisi berita tersebut dan khususnya kitab-kitab Injil, yang menggambarkan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.[5] Penggunaan kata injili pertama yang diterbitkan dalam bahasa Inggris adalah pada tahun 1531, ketika William Tyndale menulis, "Ia mendesak mereka untuk terus maju secara konsisten dalam kebenaran injili." Setahun kemudian, Thomas More menulis penggunaan pertama yang tercatat dalam kaitannya dengan perbedaan teologis ketika ia berbicara tentang "Tyndale [dan] saudara injilinya, Barns."[6]
Selama masa Reformasi, [ara teolog Protestan menerima istilah tersebut untuk merujuk pada "kebenaran injil." Martin Luther menggunakan istilah evangelische Kirche ("gereja injili") untuk membedakan Protestan dari Gereja Katolik Roma.[7][8] Memasuki abad ke-21, istilah injili masih tetap digunakan sebagai sinonim untuk kata Protestan dalam denominasi-denominasi Lutheran, dengan Katekismus Lutheran Injili mencatat bahwa gereja tersebut menggunakan istilah "Injili" untuk menunjukkan "kepatuhannya pada doktrin-doktrin injili yang murni, dan pada Kitab Suci secara umum".[9] Penggunaan ini dicerminkan dalam nama-nama sebagian besar denominasi Lutheran, seperti Gereja Lutheran Injili Finlandia, Gereja Lutheran Injili di Lithuania, Gereja Lutheran Injili Ingria, Sinode Lutheran Injili Wisconsin, Gereja Lutheran Injili di Amerika, Gereja Lutheran Injili di Kanada, dan Gereja Lutheran Injili Inggris.[5] Istilah Jerman evangelisch lebih akurat dipadankan dengan istilah Protestan yang memiliki arti lebih luas[10] dan tidak boleh dibingungkan dengan istilah Jerman evangelikal yang memiliki arti lebih sempit, atau istilah pietistisch (sebuah istilah yang secara etimologis terkait dengan gerakan Pietisme dan Pietisme Radikal), yang digunakan untuk menggambarkan gerakan injili seperti yang dijelaskan dalam artikel ini. Denominasi Protestan dengan latar belakang Lutheran tidak injili dalam artian evangelikal tetapi Protestan dalam artian evangelisch. Mereka menerjemahkan istilah Jerman evangelisch (atau Protestan) ke dalam istilah Indonesia Injili, meskipun kedua istilah Jerman tersebut memiliki arti yang berbeda.[10] Di bagian dunia yang lain, khususnya dalam dunia berbahasa Inggris, istilah injili (bahasa Jerman: evangelikal atau pietistisch) umumnya digunakan untuk menggambarkan gerakan percaya dan Lahir-Baru yang interdenominasional.[11][12][13][14][15]
Kepercayaan
[sunting | sunting sumber]Empat aspek penting dalam ajaran evangelikal adalah perlunya untuk dilahirkan kembali dan perlunya pertobatan dari dosa, penggunaan Alkitab sebagai satu-satunya penuntun dalam kehidupan Kristen dan Alkitab tidak akan pernah salah, pentingnya kematian dan kebangkitan Kristus, serta perlunya peran orang percaya untuk melakukan penginjilan maupun aksi-aksi sosial lainnya dalam rangka memberitakan Injil.[16][17] Kaum Evangelikal percaya dengan paham gereja orang kudus, di mana jemaat yang bisa menjadi anggota ialah jemaat yang sudah percaya akan Kristus dan sudah menunjukkan iman mereka.[18] Beberapa gereja percaya bahwa baptisan hanya untuk orang percaya.[19] Beberapa gereja Evangelikal juga memperbolehkan perempuan untuk melayani di gereja.[20]
Kebaktian Minggu bagi kaum Evangelikal diselenggarakan di gereja.[21][22][23] Desain dari gereja biasanya sederhana.[24][25] Ornamen biasanya hanya merupakan salib Latin.[26][27] Banyak kebaktian gereja dilakukan dengan menyewa gedung maupun bioskop pada hari Minggu.[28] Tidak ada ornamen agama seperti patung maupun lukisan.[29] Di banyak tempat di mana gereja ditekan, gereja Evangelikal terpaksa beribadah dengan sembunyi-sembunyi di rumah-rumah.[30][31]
Penganut Evangelikal menekankan untuk melarang berhubungan seksual sebelum menikah.[32] Sebagian besar dari gereja Evangelikal menolak aborsi dan membantu badan-badan sosial yang memberi bantuan kepada ibu.[33] Evangelikal menganggap bahwa masturbasi adalah suatu dosa.[34] Banyak gereja Evangelikal hanya fokus kepada melarang aktivitas seksual sebelum menikah, dan kurang memberi tuntunan kepada aktivitas seksual dalam pernikahan,[35][36] meskipun banyak gereja Evangelikal di Amerika Serikat dan Swiss yang terang-terang menyatakan bahwa hubungan seksual yang memuaskan dengan pasangan dalam pernikahan yang kudus adalah pemberian dari Tuhan dan merupakan komponen yang penting dalam pernikahan Kristiani.[37][38][39]
Masuk ke Indonesia
[sunting | sunting sumber]Gerakan Injili masuk ke Indonesia pada tahun 1950-an, baik secara langsung dari Amerika Serikat maupun dari Eropa, dengan didirikannya sekolah-sekolah teologi pada masa itu, antara lain: Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT, berdiri tahun 1952) dan Institut Injili Indonesia (I-3, berdiri tahun 1959). Gerakan Injili di Indonesia juga disuburkan oleh kaum Injili di Jerman yang memberikan dukungan terhadap Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil di Indonesia (YPPII), dan oleh kaum Injili di Inggris melalui Overseas Missionary Fellowship (OMF) yang mengirimkan para misonari mereka untuk melayani di beberapa gereja dan lembaga Kristen di Indonesia. Sedangkan penyebaran di kalangan mahasiswa dilakukan melalui Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia yang merupakan kepanjangan tangan dari Campus Crusades for Christ.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Pemercaya Alkitab
- Apologetika Kristen - pembelaan terhadap agama Kristen
- Kristen kiri
- Kristen kanan
- Kristen Konservatif
- Penginjilan
- Jesus Camp - film dokumenter 2006 tentang anak-anak evangelikal di AS
- Misi
- Ortodoksi
- Protestantisme
- Summary of Christian eschatological differences
- Stephen H. Webb
- Daftar gereja injili terbesar
Referensi
[sunting | sunting sumber]Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Schmucker, S. (9 April 2023). Evangelical Lutheran Catechism (dalam bahasa Inggris). Anatiposi Verlag. hlm. 16. ISBN 978-3-382-17364-7.
- ↑ Grande, Lance (13 February 2024). The Evolution of Religions: A History of Related Traditions (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. ISBN 978-0-231-55931-7.
Some of the groups today which self-identify as evangelistic include Evangelical Lutheranism (sometimes known simply as Evangelicalism)
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "wea" - ↑ Danker, Frederick William, ed. (1957). A Greek-English Lexicon of the New Testament and other Early Christian Literature (Edisi 3rd). The University of Chicago Press.
- 1 2 Noll 2004, hlm. 16.
- ↑ Johnson, Phil (March 16, 2009). "The History of Evangelicalism". Pulpit Magazine. Diarsipkan dari asli tanggal June 16, 2010.
- ↑ Livingstone, Elizabeth A (2005). The Oxford Dictionary of the Christian Church (Edisi 3rd ed. rev). Oxford: Oxford University Press. hlm. 583. ISBN 0-19-280290-9.
- ↑ Gerstner, John H. (1975). "The Theological Boundaries of Evangelical Faith". Dalam Woodbridge, John D.; Wells, David F. (ed.). The Evangelicals. Nashville: Abingdon Press. hlm. 21–36. ISBN 0-687-12181-7.
Despite the dominant usage of euangellismos in the New Testament, its derivative, evangelical, was not widely or controversially employed until the Reformation period. Then it came into prominence with Martin Luther precisely because he reasserted Paul's teaching on the euangellismos as the indispensable message of salvation. Its light, he argued, was hidden under a bushel of ecclesiastical authority, tradition, and liturgy. The essence of the saving message for Luther was justification by faith alone, the article by which not only the church stands or falls but each individual as well. Erasmus, Thomas More, and Johannes Eck denigrated those who accepted this view and referred to them as 'evangelicals.'
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "Schmucker20232" - 1 2 Peter Terrell, Harper Collins German Unabridged Dictionary, 4th ed., (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1999), 273 sub loco.
- ↑ Marsden 1991, hlm. 2.
- ↑ Kisker, Scott (2015-01-01). Pietist Connections with English Anglicans and Evangelicals (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-28386-2.
- ↑ Erich Geldbach: Evangelikale Bewegung. In: Evangelisches Kirchenlexikon. Vandenhoeck & Ruprecht, Göttingen 1986, Bd. 1, Sp. 1186.
- ↑ "Bekehrung, Bibelfrömmigkeit und Gebet: Evangelikale in Deutschland" (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 2020-09-25.
- ↑ Erich Geldbach: Evangelikale Bewegung. In: Evangelisches Kirchenlexikon, Bd. 2. Vandenhoeck und Ruprecht, Göttingen 1989, Sp. 1186–1191, hier Sp. 1190.
- ↑ Kidd, Thomas S. (24 September 2019). Who Is an Evangelical? (dalam bahasa English). Yale University Press. hlm. 4. ISBN 978-0-300-24141-9.
What does it mean to be evangelical? The simple answer is that evangelical Christianity is the religion of the born again.
Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) - ↑ Yates, Arthur S. (2015). The Doctrine of Assurance: With Special Reference to John Wesley. Wipf and Stock Publishers. ISBN 9781498205047.
Writing to Arthur Bedford on 4th August 1738, Wesley says: 'That assurance of which alone I speak, I should not choose to call an assurance of salvation, but rather (with the Scriptures) the assurance of faith. . . . I think the Scriptural words are ...
- ↑ Religioscope, Sébastien Fath, À propos de l’évangélisme et des Églises évangéliques en France – Entretien avec Sébastien Fath, religion.info, France, March 3, 2002
- ↑ Donald F. Durnbaugh, The Believers' Church: The History and Character of Radical Protestantism, Wipf and Stock Publishers, USA, 2003, p. 65, 73
- ↑ Brian Stiller, Evangelicals Around the World: A Global Handbook for the 21st Century, Thomas Nelson, USA, 2015, p. 117
- ↑ D. A. Carson, Worship: Adoration and Action: Adoration and Action, Wipf and Stock Publishers, USA, 2002, p. 161
- ↑ Jeanne Halgren Kilde, Sacred Power, Sacred Space: An Introduction to Christian Architecture and Worship, Oxford University Press, USA, 2008, p. 193
- ↑ Harold W. Turner, From Temple to Meeting House: The Phenomenology and Theology of Places of Worship, Walter de Gruyter, Germany, 1979, p. 258
- ↑ Peter W. Williams, Houses of God: Region, Religion, and Architecture in the United States, University of Illinois Press, USA, 2000, p. 125
- ↑ Murray Dempster, Byron D. Klaus, Douglas Petersen, The Globalization of Pentecostalism: A Religion Made to Travel, Wipf and Stock Publishers, USA, 2011, p. 210
- ↑ Mark A. Lamport, Encyclopedia of Christianity in the Global South, Volume 2, Rowman & Littlefield, USA, 2018, p. 32
- ↑ Anne C. Loveland, Otis B. Wheeler, From Meetinghouse to Megachurch: A Material and Cultural History, University of Missouri Press, USA, 2003, p. 149
- ↑ Helmuth Berking, Silke Steets, Jochen Schwenk, Religious Pluralism and the City: Inquiries into Postsecular Urbanism, Bloomsbury Publishing, UK, 2018, p. 78
- ↑ Cameron J. Anderson, The Faithful Artist: A Vision for Evangelicalism and the Arts, InterVarsity Press, USA, 2016, p. 124
- ↑ Allan Heaton Anderson, An Introduction to Pentecostalism: Global Charismatic Christianity, Cambridge University Press, UK, 2013, p. 104
- ↑ Mark A. Lamport, Encyclopedia of Christianity in the Global South, Volume 2, Rowman & Littlefield, USA, 2018, p. 364
- ↑ John DeLamater, Rebecca F. Plante, Handbook of the Sociology of Sexualities, Springer, USA, 2015, p. 351
- ↑ Robert Woods, Evangelical Christians and Popular Culture: Pop Goes the Gospel, Volume 1, ABC-CLIO, USA, 2013, p. 44
- ↑ David K. Clark, Robert V. Rakestraw, Readings in Christian Ethics: Issues and Applications, Baker Academic, USA, 1994, p. 162
- ↑ "Virginity pledges for men can lead to sexual confusion — even after the wedding day". UW News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-20.
- ↑ "Many churches don't talk about sex beyond virginity, virginity, virginity | Joy Bennett". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2013-02-11. Diakses tanggal 2022-07-20.
- ↑ Timothy J. Demy PhD, Paul R. Shockley PhD, Evangelical America: An Encyclopedia of Contemporary American Religious Culture, ABC-CLIO, USA, 2017, p. 371
- ↑ Green, Emma (2014-11-09). "The Warrior Wives of Evangelical Christianity". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-07-20.
- ↑ "400 jeunes pour une conférence sur le sexe". Christianisme Aujourd'hui (dalam bahasa Prancis). 2016-08-22. Diakses tanggal 2022-07-20.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Bebbington, David (1989). Evangelicalism in Modern Britain: A History from the 1730s to the 1980s. Unwin Hyman. ISBN 0415104645.
- Freston, Paul (2004). Evangelicals and Politics in Asia, Africa and Latin America. Cambridge University Press. ISBN 052160429X.
- Green, John (1992). "Akron Survey of Religion and Politics in America" (PDF). Bliss Institute University of Akron. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-03-04. Diakses tanggal 02/15/2007. ; ; As quoted in Noll, Mark (1994). Scandal of the Evangelical Mind. Eerdmans. ISBN 0802837158.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber].
Apologetika/Teologi Evangelikal
[sunting | sunting sumber]Penelitian tentang kelompok Evangelikal
[sunting | sunting sumber]- Barna Research Group
- 2004 American Religious Landscape Report PDF di The Pew Forum on Religion in American Life Diarsipkan 2009-03-04 di Wayback Machine.
- Institute for the Study of American Evangelicalism - Wheaton College Diarsipkan 2002-08-06 di Wayback Machine.
- Evangelicals in Methodism: Mainstream, Marginal or Misunderstood? Diarsipkan 2006-10-03 di Wayback Machine. (Perspektif Britania)