Category Archives: Pendidikan

UTS TIK Jaringan

Standar

Berikut ini soal-soal tentang Jaringan untuk SMA Kelas XI

1.     (HSDPA) adalah singkatan dari …

a.     High-Speed Downlink Packet Access

b.     High-Speed Detect Packet Access

c.     High-Speed Download Packet Access

d.     Hyper-Speed Downlink Packet Access

e.     Hyper-Speed Download Packet Access

2.     Konfigurasi sambungan ke internet secara garis besar adalah …

a.     Internet – modem – komputer

b.     Modem – komputer – internet

c.     Router – modem – internet

d.     Komputer – modem – router

e.     Komputer – modem – internet

3.     Berikut ini adalah game yang dimainkan dengan memanfaatkan teknologi jaringan, kecuali …

a.       Sims City

b.       Pet society

c.        Point blank

d.       Ragnarok

e.        Farm Ville

4.       Semua file disimpan atau di copy ke dua, tiga, atau lebih komputer yang terkoneksi ke jaringan, sehingga bila salah satu mesin rusak, maka salinan di mesin yang lain bisa digunakan merupakan salah satu manfaat jaringan komputer yang disebut dngan …

a.       Resources sharing

b.       Menghemat kabel

c.        Realibilitas tinggi

d.       Save sharing

e.        Menghemat uang

5.       Pemakaian secara bersama-sama program aplikasi dan dat yang yang tersimapn pada server disebut …

a.       Koneksi

b.       Networking

c.        Resources sharing

d.       Network acess

e.        Information sharing

6.     Teknologi jaringan komputer mulai digunakan di universitas-universitas dan perusahaan pada tahun…

a.     Tahun 1948

b.     Tahun 1958

c.     Tahun 1968

d.     Tahun 1978

e.     Tahun 1988 Read the rest of this entry

Perbedaan perubahan tingkah laku dengan hasil belajar dan bukan hasil belajar.

Standar

Belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang secara relatif bersifat terus menerus sebagai akibat dari pengalaman (Davidoff, 1981: 130). Dalam batasan tersebut, makna belajar mengandung unsur:

(1)   Perubahan tingkah laku,

Perubahan tingkah laku suatu kegiatan disebut belajar, jika dengan kegiatan itu sang pelaku mengalami perubahan tingkah laku. Jika dia tidak mengalami perubahan tingkah laku, berarti dia belum (atau tidak) belajar. Misalnya Misalnya, seseorang yang bernama marzuki sedang kuliah, tetapi setiap harinya dia tidak pernah belajar. Setiap harinya ia hanya bermain, bahkan sering bolos kuliah. Teman-teman nya bahkan orangtua nya pun selalu menasehati marzuki bahwa itu tidak baik. Ketika ujian tiba, alhasil dia pun tidak bisa mengerjakan soal ujian, dan akhirnya dia tidak lulus dalam mata kuliah tersebut dan marzuki pun harus mengulang di tahun berikutnya. Semenjak kejadian itu, marzuki pun selalu belajar, dia sadar bahwa selama ini dia telah salah. Nah, marzuki baru saja mengalami proses belajar. Di dalam dirinya ada perubahan tingkah laku. Lain halnya dengan ucup. Dia mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami marzuki. Ucup juga sedang ujian akhir semester. Karena tidak pernah belajar, dia tidak lulus ujian dan harus mengulang di tahun berikutnya. Setelah tahun berikut itu datang, dasar Ucup, dia melakukan hal yang sama lagi, dia sering bolos kuliah dan tidak pernah belajar. Suatu hari dia Ujian akhir semester, dan … selamat tinggal Ucup, dia dikeluarkan dari universitas itu, karena telah melewati batas tahun yang seharusnya di tempuh. Nah, apa yang dialami si Ucup ini tidak bisa disebut belajar. Si Ucup tidak pernah belajar dari pengalaman gagal ujian yang dialaminya.

(2)   Relatif terus menerus

Relatif artinya tidak mesti, tidak selalu begitu. Relatif terus menerus berarti tidak benar-benar terus menerus. Ya kadang-kadang lupa, ingat lagi, lupa lagi, ingat lagi, berubah lagi, tidak berubah lagi. Namanya juga belajar, tidak langsung berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak sopan menjadi sopan, dari tidak sadar menjadi sadar. Semuanya butuh proses, ada proses yang pendek dan ada proses yang panjang. Makanya disebut relatif terus menerus gitu. Makanya kalau ada anak sedang belajar sopan santun jangan dimarahi ketika dia belum sopan, karena dia sedang mengalami perubahan yang secara relatif bersifat terus menerus.Tetapi yang lebih penting kita pahami bahwa makna terus menerus itu berarti jangka panjang. Perubahan itu bersifat panjang sekali. Jika hari ini berubah dibandingkan kemarin, terus besok kembali seperti kemarin, itu namanya bukan perubahan terus menerus. Itu bukan belajar. Itu namanya perubahan sesaat. Read the rest of this entry

Arti dan Ruang Lingkup Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Standar

2.1 Arti dan Ruang lingkup Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Salah satu aspek yang seyogyanya mendapat perhatian utama dari setiap administrator pendidikan adalah mengenai sarana dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan, seperti: gedung, ruang belajar/kelas, alat-alat/media pendidikan, meja, kursi dan sebagaianya. Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti : halaman, kebun/taman sekolah, jalan menuju ke sekolah.

Sarana dan prasarana pendidikan pada dasarnya dapat dikelompokan dalam empat kelompok, yaitu tanah, bangunan, perlengkapan, dan perabot sekolah (site, building, equipment, and furniture). Agar semua fasilitas tersebut memberikan kontribusi yang berarti pada jalannya proses pendidikan, hendaknya dikelola dengan dengan baik. Pengelolaan yang dimaksud meliputi: (1) perencanaan, (2) Pengadaan, (3) Inventarisasi, (4) Penyimpanan, (5) Penataan, (6) Penggunaan, (7) Pemeliharaan dan, (8) Penghapusan

2.2 Prinsip-prinsip Dasar Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sarana dan Prasarana pendidikan, khususnya lahan, bangunan dan perlengkapan sekolah seyogyanya menggambarkan program pendidikan atau kurikulum sekolah itu. Karena bangunan dan perlengkapan sekolah tersebut diadakan dengan berlandaskan pada kurikulum atau program pendidikan yang berlaku, sehingga dengan adanya kesesuaian itu memungkinkan fasilitas yang ada benar-benar menunjang jalannya proses pendidikan. Pengelolaan lahan bangunan, dan perlengkapan sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah. Untuk kepentingan itu, ia perlu memahami beberapa prinsip dasar dalam melakukan pengelolaan fasilitas tersebut. Menurut Hunt Pierce. Prinsip dasar dalam melakukan pengelolaan tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Lahan bangunan, dan perlengkapan perabot sekolah harus menggambarkan cita-cita dan citra masyarakat seperti halnya yang dinyatakan dalam filsafat dan tujuan pendidikan. Read the rest of this entry

Teori Behavioristisme, Kognitif dan Konstruktivisme serta Implikasi ketiga teori tersebut dalam pembelajaran

Standar

1. Teori Behavioristik

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984). Read the rest of this entry