BELAJAR NULIS NONFIKSI? YUK DIMARI!
Sedari kecil saya hanya suka membaca.
Saya menikmati prosesnya, memilih buku di perpustakaan, meminjam (karena saya
dulu tak punya uang untuk beli), membawanya pulang, membaca di balik selimut
sampai kantuk datang, lalu esok harinya tersenyum senang karena sudah
menamatkan kisah yang menyenangkan. Ketika akhirnya saya berhasil menelurkan
beberapa antologi, tiga buah novel remaja bersama dua orang teman, saya
menyadari itu lompatan yang besar. Andaikata saya tidak membaca mungkin hal itu
takkan terjadi pada saya.
Saya tidak tahu seperti apa kelak karya saya dikenang orang. Yang saya tahu ketika menulis “suara saya takkan padam”, walaupun sudah meninggal. Persis seperti apa yang Pramoedya Ananta Toer katakan.
Belakangan dari menulis fiksi saya mulai belajar menulis non fiksi. Satu atau dua dimuat di majalah. Lainnya
Saya tidak tahu seperti apa kelak karya saya dikenang orang. Yang saya tahu ketika menulis “suara saya takkan padam”, walaupun sudah meninggal. Persis seperti apa yang Pramoedya Ananta Toer katakan.
Belakangan dari menulis fiksi saya mulai belajar menulis non fiksi. Satu atau dua dimuat di majalah. Lainnya

