Senin (28/7) pagi itu saya tak begitu berminat mengikuti acara pembukaan Kongres XXII PWI yang berlangsung di kantor Gubernuran Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Saya lebih memilih menunggu di hotel, dengan memanfaatkan waktu untuk berinternet ria di lobby. Hari itu, merupakan hari yang spesial bagi saya, karena saya genap memasuki usia 37 tahun. Lepas subuh, sebuah sms dari isteri saya masuk ke ponsel Sony Ericsson kesayangan saya: “Selamat ulang tahun ya sayang….” Sebenarnya, jujur, saya berharap di waktu tengah malam, saat pergantian tanggal 27 ke 28 Juli, sms dari isteri saya sudah masuk. Tapi, ya sudahlah… Tak penting datang kiriman sms terlambat.
Saat tengah asyik browsing di lobby, beberapa sms dan pesan via chat via YM dari kawan-kawan bermunculan, seperti dari Wawan Soewandono, Amien Trirahayu, dan FR Susanti. Jika Wawan tahu dari Tagged, maka Santi tahu dari Friendster. Wah… “Thanks so much, my friends.. God bless U…!!!”
Lepas waktu makan siang, rombongan peserta kongres kembali berdatangan dari kantor Gubernuran NAD. Siang itu, di hotel Hermes Palace, akan berlangsung dialog dengan Menneg BUMN Sofjan Djalil, Menteri Agama Maftuh Basyuni, dan Kabulog Mustafa Abubakar. Usai dialog sesi I tersebut, bung Bob Iskandar dan bung Djoko Saksono, mengambil waktu sebentar dari panitia, guna melelang buku Tarman Azzam bertajuk “Tarman Azzam: Bangkit Indonesiaku” yang saya tulis dan disunting oleh bung Djoko.
Meski tak sukses banget, hasil lelang cukup lumayan, dengan komitmen donasi dari Menneg BUMN sebesar Rp 15 juta, Kabulog Rp 10 juta, dan Ishadi SK (Dirut Trans TV) Rp 10 juta. Hasil lelang itu akan digunakan untuk menutupi kekurangan biaya produksi buku dan selebihnya disumbangkan bagi kepengurusan PWI pasca Kongres XXII ini.








