Sebuah sms mengejutkan masuk ke ponsel saya, Jumat (29/8) sekitar pk. 21.00 WIB, ketika baru saja turun dari pesawat yang menerbangkan saya dari Batam. Intinya, mengabarkan berita wafatnya Sumadi M Wonohito, Direktur Utama BP SKH Kedaulatan Rakyat, Jogjakarta. Beliau wafat sekitar pukul 19.00 di Jogjakarta. Terus terang saya rada terkejut mendapati berita ini.
Ketika itu, saya langsung mengonfirmasi ikhwal berita duka tersebut kepada Octo Lampito, Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat (KR). Diseberang telpon, ia mengiyakan berita yang saya tanyakan itu. Beberapa pengurus kantor saya, antara lain Dahlan Iskan (Jawa Pos), Jakob Oetama (Kompas), M Ridlo ‘Eisy (Galamedia), Syafik Umar (Pikiran Rakyat), serta Kukrit (Suara Merdeka), saya kabari pula via sms.
Rasa terkejut saya sebenarnya masuk akal, meski saya tahu bahwa kondisi pak Madi –begitu almarhum biasa disapa– jelas sudah tidak 100 persen fit pasca operasi jantung beberapa bulan lalu di Singapura. Ikhwal kesehatan beliau ini, sempat saya tanyakan langsung kepada salah satu putrinya yang juga menjabat Direktur Pemasaran KR, Fajar Kusumawardani. Saya bertemu mbak Dani –sapaan karibnya– pada Selasa (26/8) siang, di hotel Quality Jogjakarta, saat makan siang, sebelum ia saya minta untuk membuka forum workshop tentang Etika dan Independensi Media dalam Pemberitaan Pemilu 2009, bagi redaktur koran harian se-Jawa di hotel itu. Kebetulan, mbak Dani juga salah salah pengurus harian SPS Pusat, menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha dan Pemasaran.






