close
The Wayback Machine - https://web.archive.org/web/20201114032641/https://asmono28.wordpress.com/2008/08/
Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2008

“KR” pasca Sumadi M Wonohito

Sebuah sms mengejutkan masuk ke ponsel saya, Jumat (29/8) sekitar pk. 21.00 WIB, ketika baru saja turun dari pesawat yang menerbangkan saya dari Batam. Intinya, mengabarkan berita wafatnya Sumadi M Wonohito, Direktur Utama BP SKH Kedaulatan Rakyat, Jogjakarta. Beliau wafat sekitar pukul 19.00 di Jogjakarta. Terus terang saya rada terkejut mendapati berita ini.

Ketika itu, saya langsung mengonfirmasi ikhwal berita duka tersebut kepada Octo Lampito, Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat (KR). Diseberang telpon, ia mengiyakan berita yang saya tanyakan itu. Beberapa pengurus kantor saya, antara lain Dahlan Iskan (Jawa Pos), Jakob Oetama (Kompas), M Ridlo ‘Eisy (Galamedia), Syafik Umar (Pikiran Rakyat), serta Kukrit (Suara Merdeka), saya kabari pula via sms.

Rasa terkejut saya sebenarnya masuk akal, meski saya tahu bahwa kondisi pak Madi –begitu almarhum biasa disapa– jelas sudah tidak 100 persen fit pasca operasi jantung beberapa bulan lalu di Singapura. Ikhwal kesehatan beliau ini, sempat saya tanyakan langsung kepada salah satu putrinya yang juga menjabat Direktur Pemasaran KR, Fajar Kusumawardani. Saya bertemu mbak Dani –sapaan karibnya– pada Selasa (26/8) siang, di hotel Quality Jogjakarta, saat makan siang, sebelum ia saya minta untuk membuka forum workshop tentang Etika dan Independensi Media dalam Pemberitaan Pemilu 2009, bagi redaktur koran harian se-Jawa di hotel itu. Kebetulan, mbak Dani juga salah salah pengurus harian SPS Pusat, menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha dan Pemasaran.

(more…)

Read Full Post »

Manjutkan serial workshop tentang Etika dan Independensi Media dalam Pemberitaan Pemilu 2009 di dua kota sebelumnya, yakni Palembang dan Balikpapan, selama tiga hari dari tanggal 26 – 28 Agustus lalu, kantor saya menggelar hal serupa di Jogja yang juga disponsori oleh Friedrich Ebert Stiftung (FES). Kali ini, diikuti oleh 30 redaktur koran harian se Pulau Jawa minus Jakarta.

Yang membedakan event di Jogja kali ini dengan event di dua kota sebelumnya, adalah hadirnya dua jurnalis asal Jerman. Mereka adalah Christina Schott dan Anett Keller. Yang pertama, Christina –akrab dipanggil Tina– sebenarnya adalah koresponden sebuah harian di Jerman yang sejak tahun 2002 telah menetap di Jogja. Sementara Anett, merupakan jurnalis di Jerman, yang kebetulan tengah cuti, mengikuti suaminya yang memperoleh pekerjaan riset di Jogja hingga awal Oktober mendatang.

Keduanya memberikan materi mengenai pengalaman liputan media di Jerman dalam Pemilu 2005 dan juga pemilu di sejumlah negara Eropa. Antara lain Macedonia, Perancis, dan Italia. Salah satu hal menarik dalam konteks pemilu di Jerman, misalnya, rupanya Dewan Pers Jerman menganggap Pemilu adalah sebuah hal biasa, sepertihalnya peristiwa-peristiwa lainnya yang diliput media. Yang penting –sama seperti dalam liputan apapun– media di Jerman harus tetap tunduk pada etika jurnalistik. Tak lebih dan tak kurang.

(more…)

Read Full Post »

Masyarakat di Jakarta, tentu mengenal dengan baik Odong-odong. Sebuah permainan anak-anak yang dibuat di atas becak yang dimodifikasi khusus, untuk didesain mainan kuda-kudaan atau mobil-mobilan di atasnya. Setiap anak biasanya dikenakan tarif Rp 1000 – 2000 sekali main yang berdurasi kira-kira tiga menit. Si abang pemilik OdongImage-odong, mengayuhkan kakinya untuk menciptakan gerakan naik turun dan maju mundur bagi mainan yang dinaiki anak-anak itu.

Entah kenapa kini diksi atau terminologi tentang “Odong-odong” ditujukan kepada perilaku sejumlah media yang dikenal melakukan tindak “pemerasan” kepada narasumber berita dan para pejabat (publik maupun privat). Begitu banyak keluhan mengenai sepak terjang mereka dari para profesional public relations (PR) selama ini. Beberapa diantaranya kembali muncul tatkala kantor saya menyelenggarakan workshop How to Handle Press Well, bagi para PR lembaga pemerintahan, di Garut, 21 – 23 Agustus lalu.

Selama tiga hari itu, saya dan sejumlah narasumber memberikan berbagai ilustrasi mengenai cara terbaik dalam mengelola hubungan dengan media, tanpa harus mengikuti kemauan wartawan dan media yang tidak jelas alias odong-odong tadi.

Workshop kali ini, merupakan serial dari workshop serupa yang juga dilangsungkan kantor saya di Kuningan, Jawa Barat, 13 – 15 Juni lalu. Hanya saja, konsentrasi pada dua kegiatan itu yang dibedakan. Jika di Kuningan para peserta memperoleh konsentrasi cara membuat Press Release dan menyelenggarakan Press Conference, maka di Garut tekanannya adalah pada Public Speaking dan Hak Jawab.

(more…)

Read Full Post »

Ada sebuah diksi yang sebenarnya tak asing namun belakangan ini kerap dipergunakan oleh –terutama– Dewan Pers dalam berwacana tentang media, yakni media “dewasa”. Itu adalah sebuah terminologi khusus untuk menyebut media-media cetak yang mengeksplorasi “sensualisme dan pornografi” dalam lembar-lembar halaman produk mereka. Di tengah sebagian masyarakat, memang muncul semacam kegusaran luar biasa terhadap maraknya media-media cetak yang dinilai mengandung muatan pornografi.

Pada awal 2006, bahkan muncul sebuah kontroversi berkepanjangan terhadap ikhwal ini saat DPR RI hendak merumuskan RUU tentang Antipornografi dan Antipornoaksi. Kedua pihak yang saling berlawanan pandangan, sempat menggelar berbagai aksi yang dipusatkan di kawasan bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Beberapa minggu sebelum tanggal 9 Februari 2006, aparat penegak hukum juga melakukan sweeping terhadap media-media yang dinilai beranasir pornografi itu.

Namun sayang seribu sayang…. Definisi pornografi dan pornoaksi di dalam media, hingga kini tak pernah tuntas. Pendapat Dewan Pers, misalnya, juga masih kabur, yang hanya bersandarkan pada dualisme hardcore pornography dan softcore pornography. Dalam konteks softcore pornography, Dewan Pers berpendapat ada hak sementara orang untuk mengonsumsinya, meskipun harus diatur peredaran atau distribusinya agar anak-anak dan konsumen yang belum berhak menikmatinya bisa dilindungi. Intinya, majalah-majalah yang bermuatan sofcore pornography oleh Dewan Pers dipandang boleh diedarkan secara terbatas, agar anak-anak di bawah umur tak bisa mengaksesnya.

Tapi, bagaimana dengan akses pornografi di internet? Ini memang soal tersendiri.

(more…)

Read Full Post »

Tren positif bisnis koran

Di tengah bermacam pesimisme terhadap bisnis koran di seluruh dunia, sebuah kabar apik meluncur dari Gothenberg, Swedia, lewat arena World Association of Newspapers Congres awal Juni lalu. Sejumlah fakta positif terpapar pada forum tahunan para penerbit koran dari seluruh dunia itu, yang diungkapkan oleh Tribuana Said (Komisaris Utama Harian Waspada) dan Titus Titot (Litbang Harian Kompas), pada seminar Oleh-oleh dari Kongres WAN dan Proyeksi Iklan Media Cetak Semester II 2008, yang digelar kantor saya, Selasa (12/8) di Jakarta Media Center. Sirkulasi koran di seluruh dunia dilaporakan tumbuh 2,57 persen satu tahun ke belakang. Bahkan dalam kurun lima tahun terakhir, sirkulasi koran mondial merangsek ke angka 9,39 persen. Pendapatan iklan juga merangkak ke angka 0,86 persen, untuk menggenapi pertumbuhan lima tahun terakhir yang sebesar 12,84 persen.

Yang tak kalah mengkilap, koran-koran gratis sirkulasinya merangkak tumbuh 3,65 persen satu tahun ini, sementara selama lima tahun belakangan, bergerak 14,3 persen. Lebih menggiurkan lagi, pertumbuhan koran-koran online yang mencapai 20 persen setahun ini, atau tumbuh 100 persen kurun lima tahun belakangan.

Kongres WAN kali ini, mematok tema “Newspaper as a multimedia is a growth business”, sebuah tema yang menjanjikan optimisme para penerbit koran di seantero bumi ini tentang masa depan bisnis industri media cetak. Masa depan bisnis koran (baca: media cetak), pada akhirnya menuju fase multimedia business. Ada konvergensi dan sinergi antara versi cetak dengan versi mobile, penyiaran, dan online.

(more…)

Read Full Post »

Petisi Borneo

Melanjutkan serial workshop tentang Etika dan Independensi Pers dalam Pemberitaan Pemilu 2009 bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES), kantor saya kembali menggelar program se

Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini, tengah menyampaikan presentasinya.

Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini, tengah menyampaikan presentasinya.

rupa di Balikpapan, 5 – 7 Agustus lalu. Tiga puluh perwakilan redaktur dari penerbit media cetak se-wilayah Kalimantan minus Kalimantan Barat, saya undang pada acara tersebut. Dua pembicara dari Jakarta saya hadirkan –Nur Hidayat Sardini (Ketua Badan Pengawas Pemilu) dan Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO). Plus dua pembicara lokal –M Ramly (Anggota KPU Balikpapan) dan Ghufron (Dosen Komunikasi Universitas Mulawarman).

Awalnya, program di Balikpapan ini saya rancang hanya untuk kawan-kawan penerbit suratkabar harian saja. Namun karena kuota 30 penerbit koran harian tidak memenuhi, maka penerbit non harian (tabloid dan suratkabar mingguan) pun saya undang. Sebagian kecil dari mereka, saya pernah bersua di Banjarmasin bulan April silam, tatkala kantor saya menghelat lokakarya manajemen pers bagi penerbit lokal se-Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

(more…)

Read Full Post »