close
The Wayback Machine - https://web.archive.org/web/20201121033855/https://asmono28.wordpress.com/2008/03/
Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2008

Elle Indonesia…

Para pecinta fashion di Indonesia kini akan memperoleh sumber Suasana launching majalah Elle Indonesia (28/3/08) di Jakartainspirasi bagi penampilan mereka yang makin serba chic, wangi, dan glamour. Sumber itu adalah majalah Elle Indonesia. Memang bagi mereka yang sudah lama mengakrabi dunia fashion –sebagai produsen maupun konsumen– tentu tak asing dengan majalah Elle. Majalah ini memang dibangun sebagai majalah fashion bagi para pembacanya.

Elle –berarti “perempuan” dalam bahasa Perancis– boleh dibilang merupakan salah satu majalah wanita papan atas di dunia. Melihat tren sebagian masyarakat Indonesia yang juga mulai terpapar gaya hidup global dengan sentuhan yang sangat fashion, salah satu penerbit majalah di sini, Kartini Grup, lalu menghadirkan Elle versi Indonesia, sejak April 2008 mendatang.

Elle Indonesia, jelas menambah daftar penghuni majalah lisensi –khususnya segmen wanita– yang sudah ada di pasar. Dibanding segmen pasar yang lain, tampaknya segmen wanita jauh lebih menggiurkan untuk disentuh dengan pendekatan produk lisensing. Buktinya, Elle menjadi pemain yang kesekian puluh setelah pada 1997, Cosmopolitan Indonesia –ketika itu masih bernama Higina Kosmopolitan– hadir sebagai majalah lisensi pertama yang dikenal dalam arti luas di republik ini.

(more…)

Read Full Post »

Suasana perundingan dengan Aspex tanggal 26 Maret 2008 di Taman Ria SenayanHari-hari ini, nampaknya akan menjadi awal kepusingan baru bagi para penerbit media cetak di seluruh tanah air. Pemicunya adalah rencana PT Aspex Kumbong yang mulai 1 April 2008 hendak menaikkan harga rata-rata kertas koran (ukuran standar) menjadi sebesar USD 800/metrik ton (MT), dari harga sebelumnya (kuartal I 2008) yang USD 705/MT. Itu berarti dalam kurun tiga bulan terakhir, Aspex telah dua kali menaikkan harga kertas koran di pasaran.

Kenaikan pertama pada kuartal I tahun ini, dilakukan Aspex pada awal Januari lalu, dari harga sebelumnya yang sejak Juli 2006 bertahan pada posisi USD 675/MT, setelah sebelumnya dilakukan perundingan dengan para penerbit media cetak konsumen Aspex di Jakarta, 14 Januari 2008. Saya yang ikut hadir pada pertemuan bulan Januari dan tanggal 26 Maret 2008, sungguh dibuat kaget dengan kenyataan ini. Ketika dimulai perundingan pada tanggal 26 Maret itu, saya dan para penerbit media cetak memang sudah mencium gelagat harga kertas koran di tanah air bakalan naik. Mungkin dalam kisaran USD 10 – 30. Tidak ada bayangan sedikit pun jika kertas koran akan naik mendekati USD 100. Sungguh fantastik kenaikan kali ini. Woooooooo…!!!!

Beberapa fakta terbaru yang menjadi faktor penyebab kenaikan harga kertas koran di dalam negeri, coba diumbar Aspex. Mulai dari kenaikan serupa yang terjadi di Jepang dan Eropa. Sebagai perbandingan, harga kertas koran di Malaysia saat ini mencapai USD 810/MT dan di Eropa USD 850/MT, makin langkanya bahan baku kertas koran, hingga fluktuasi harga minyak dunia yang masih berputar-putar di posisi USD 100-an.

(more…)

Read Full Post »

Akhir pekan lalu, saya diwawancarai oleh Kantor Berita Radio (KBR) 68H. Di ujung telepon seorang reporternya meminta saya berkomentar seputar perang tarif pada industri seluler yang akhir-akhir ini semakin seru bermunculan dalam iklan-iklan mereka di media massa. “Apakah perang tarif itu tidak merugikan konsumen?” selidik kawan tersebut.

Secara umum, saya berpendapat, bahwa sepanjang apa yang disampaikan dalam iklan-iklan tersebut terbukti (approved) dengan promise yang diumbar, ya…. ndak ada soal. Seperti sebuah operator yang mengatakan bahwa tarif bicara menjadi Rp 0,000000…..1/detik setelah 90 detik ke semua operator, misalnya. Kalau itu bisa dibuktikan benar adanya, tentu saya tidak bisa mengatakan mereka (operator seluler) telah melakukan kebohongan kepada publik.

Lain soal jika kemudian secara nyata mudah dibuktikan semua janji mereka hanya semata-mata gimmick iklan. Ini jelas tak bisa ditolerir. Dan masyarakat konsumen bisa melakukan class action, sebuah mekanisme komplain lewat jalur hukum kepada sebuah perusahaan (swasta maupun publik) yang telah melanggar promise yang disampaikan secara terbuka kepada publik.

(more…)

Read Full Post »

Sujiwo Tedjo, seperti biasanya, selalu tampil eksentrik. Mantan wartawan Kompas –mengaku bekerja di Kompas selama delapan tahun– itu, tadi malam (18/3), tampil dalam acara peluncuran kampanye Jurnalis Tolak Amplop, Upah Jurnalis Rp 4,1 juta/bulan, yang digelar Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta. Cak Jiwo, demikian ia akrab disapa, kini memang lebih banyak menekuni dunia kesenian, setelah meninggalkan “baju” kewartawanannya.

Saya sendiri tidak terkejut dengan gaya penampilan Jiwo. Yang mengejutkan justru beberapa pernyataan (monolog) yang ia lontarkan di depan sekitar 50-an hadirin yang hampir semuanya jurnalis di malam itu. “Demokrasi itu adalah mitos,” ujar Jiwo memulai monolognya selama hampir 20 menit, diselingi dengan nyanyian dua buah lagu karyanya dengan iringan petikan gitar. Jangan-jangan, lanjut Jiwo, demokrasi itu adalah “agenda besar” yang sengaja dibuat AS untuk dipasarkan ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia, untuk membuat situasi (politik) di sini tidak bisa “aman” (baca: selalu muncul gonjang-ganjing politik).

Bahkan, masih katanya, “Ketimbang keris (senjata tradisional kraton-kraton di Jawa), saya masih menganggap mitosnya lebih tinggi demokrasi.” Orang boleh saja tidak percaya atau membantah pernyataan Jiwo ini. Hanya, bagi saya, lepas benar atau salah pendapatnya, tetaplah kata-kata Jiwo itu cukup mengejutkan.

(more…)

Read Full Post »

Suara Karya dan Supersemar

Suara Karya dan PolitikaSetiap mendengar tentang Supersemar, selalu ingatan orang akan tertuju pada peristiwa 11 Maret 1966, tatkala Soeharto memperoleh sebuah “mandat” dari Soekarno untuk “mengamankan” republik dari potensi chaos pasca pemberontakan PKI tanggal 30 September 1965.

Malam kemarin (11/3), di Hotel Borobudur, Jakarta, saya kembali mendengarkan peristiwa Supersemar itu diceritakan kembali oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). JK hadir malam itu dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Golkar, untuk mengikuti launching wajah baru harian Suara Karya. Sebuah koran yang dinisbatkan sebagai suaranya partai Golkar sejak berdiri 37 tahun lalu, tepat tanggal 11 Maret juga. Menurut JK, Supersemar lahir sebagai semacam solusi dari potensi perpecahan yang lebih dahsyat ketika itu. “Di mana-mana tentara sudah bersiap, di berbagai sudut Jakarta,” ucap JK, seperti menggambarkan suasana menjelang peperangan.

(more…)

Read Full Post »

Sejumlah loper media cetak yang tengah menjajakan dagangannya hari Kamis (28/2) ditangkap aparat dalam operasi razia kriminalitas di kawasan Jakarta Timur, yang antara lain dipusatkan di kawasan Pulogadung. Para loper itu, jelas bukanlah penjahat atau preman yang suka membuat gerah masyarakat. Tapi, mereka adalah “pahlawan informasi” yang tak punya tanda jasa, karena menyampaikan informasi (media cetak) ke tangan pembaca (konsumen).

Lalu, mengapa harus ikut ditangkap, dan kemudian diadili dengan metode tindak pidana ringan (Tipiring) di tempat? Malah beberapa diantara mereka harus membayar denda sejumlah uang yang harusnya mereka dapat untuk makan hari itu, berkisar Rp 20.000 – 35.000. Memprihatinkan, memang.

Semua ini tampaknya bermuara dari ketidakjelasan penafsiran atas Perda No. 8/2007 tentang Ketertiban Umum. Dalam Perda yang disahkan akhir November 2007 lalu itu, ada larangan bagi para pengasong (jalanan), selain para pengemis, pedagang K-5 untuk berjualan di kawasan publik seperti perempatan jalan raya, dsb. Loper, mungkin saja, masuk dalam tafsir sebagai pengasong, sehingga karenanya perlu ditertibkan.

(more…)

Read Full Post »

Takut ketahuan …

Apa yang paling diinginkan oleh para pengiklan terhadap penerbit media cetak saat ini jika mereka harus memasang iklan di media tersebut? Data media yang akurat dan kreativitas placement cukup menarik. Sekurangnya itulah pesan yang disampaikan Erik Meijer dan kawan-kawan di Bakrie Telecom, saat saya bertemu mereka pagi tadi (5/3) di kantornya, Wisma Bakrie lt. 3, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Data media yang akurat, khususnya mengenai oplah dan pembaca, sudah lama jadi concern para pengiklan. Pun demikian dengan Erik Meijer. Ketika kantor saya mengundangnya untuk berbicara dalam seminar Media Industry Outlook 2008 tanggal 30 Januari silam, ia juga menegaskan ulang hal tersebut. Ia, secara berseloroh, saya kira, berujar jika pernah menjumpai sebuah media cetak yang mengklaim suatu jumlah oplah tertentu, dan setelah diselidiki aktualnya hanya 30% saja dari klaim yang disampaikan.

(more…)

Read Full Post »

Harian Indonesia

Harian INDONESIA, adalah satu dari segelintir koran harian berbahasa Mandarin di republik ini. Di Jakarta saja, hanya ada tiga koran yang eksis. Selain Harian Indonesia, adalah Harian Indonesia Shang Bao, yang kini dikelola oleh kelompok Bisnis Indonesia. Satu lagi, saya agak lupa. Minimnya jumlah penerbit koran berbahasa Mandarin setali tiga uang dengan penerbitan koran berbahasa Inggris. Relatif, hanya The Jakarta Post saja yang benar-benar kuat di pasar saat ini.

Momentum kehadiran koran-koran berbahasa Mandarin muncul seiring dengan arus perubahan dan reformasi politik sejak 1998 lalu. Sebelumnya, nyaris tak ada koran berbahasa Mandarin yang cukup menonjol di negeri ini. Selama kurun waktu itu pula, Harian Indonesia boleh jadi adalah satu-satunya koran Mandarin tertua -lahir pada 12 September 1966– yang masih bertahan hingga kini.

(more…)

Read Full Post »