NGIDAM
“Bukan!” Yumi mengerutkan mulutnya tak senang. Aku melongo menatap perempuan yang perutnya membuncit berisi bayi kami tersayang. “Tapi tadi kau memintanya,” kataku tak karuan. Berusaha sabar meski sebenarnya ingin sekali mengumpat kencang. “Bukan yang ini, Bang!” “Yang bagaimana lagi? Ini sudah sesuai pesanan, bukan?” Aku menggaruk rambut tak sabar. Mata Yumi mulai berkaca-kaca, suaranya bergetar saat berkata ,”Bukan, bukan ini...” Ia membuang buah sembarangan, menaikkan kemarahanku ketingkat sembilan. Hmmmh! Aku mengepalkan tangan. Kupejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berkata penuh bujukan ,”Yumi...kesayangan Abang, ayolah. Abang susah lho nyarinya. Dimakan gih?” “Tapi bukan yang begini, Abang!” Yumi bersedakap, mempertontonkan kekeraskepalaannya. “Yang bagaimana, Sayang?” Aku menghela napas panjang. “Yang segar, Bang, dipetik langsung dari pohonnya.” “Ha?” Mendadak aku jadi pusing mendengarnya. Dimana ada pohon manggis di tengah kota Jakarta? Oh

