Saya menuliskan judul seperti di atas karena merasa masygul, prihatin, sedih, tak percaya, dan seabreg rasa senada yang membuat hati jadi bertanya-tanya. Mengapa majalah CAKRAM, yang diterbitkan oleh Matari Advertising, akhirnya harus “bangkrut”????!!! Sejak awal pekan ini, saya mendapat kabar dari sejumlah kolega, jika CAKRAM edisi Oktober 2008, adalah edisi paripurna majalah yang terbit sejak 1996 itu. Saking masih belum percaya, pagi ini saya menyempatkan mengontak Gunawan Alif, Pemimpin Perusahaan CAKRAM.
Ia pun mengamini jika CAKRAM telah tutup. Confirm…!!!!!!!! Dannnnnnn…. CAKRAM pun kini adalah sebuah sejarah. Adalah kebetulan saya merupakan salah satu orang yang pernah berada dalam lintasan sejarah majalah kesayangan alm Ken T Sudarto, pendiri Matari Advertising. Mungkin ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang memiliki perasaan seperti saya terhadap CAKRAM.
Salah satu pangkal soal yang disebut-sebut sejumlah kawan, antara lain kawan-kawan saya eks karyawan CAKRAM adalah adanya perubahan drastis positioning CAKRAM yang hendak dibawa menjadi majalah “life style”. Jelas itu merupakan kesalahan fatal..!!!!!!!! CAKRAM, dari sononya, adalah trade magazine, yang harus “rela dan ikhlas” melayani segmen pembaca dan pengiklannya di industri periklanan dan media.
Ketika saya pertama kali masuk ke CAKRAM pada 1 April 1997, hingga keluar dari sana pada akhir Oktober 2000, jalur CAKRAM sebagai majalah industri betul-betul dipegang teguh. Gunawan Alif adalah orang yang sangat strick mengendalikan arah itu, agar posisioning CAKRAM tidak keluar dari jalurnya.
Sebagai sebuah majalah industri, memang tak bisa berharap banyak akan mencapai oplah yang besar. Saat itu, oplah CAKRAM pun selalu berada di bawah angka 10 ribu eksemplar. Terbit bulanan dan bahkan mampu melintasi krisis ekonomi 1997 – 1998 yang dahsyat. Nasib saya memang beruntung, tak ikut di-PHK manajemen Matari Adv. Sosok Ken T Sudarto yang masih hidup kala itu, ikut memberi spirit agar CAKRAM terus tumbuh dan maju.
Sayang… seribu sayang…!!!!!!!!!!!! Di bawah kendali putra mahkota beliau, Michael Sudarto, rupanya CAKRAM menjadi sekarat dan akhirnya tewas…. Dan bahkan (mungkin) Matari pun terancam ambruk, kalo tidak segera diselamatkan. Konon, rumor kuat beredar, Matari kini tidak seperkasa dulu di zaman Ken T Sudarto. Boleh jadi, ini soal kepemimpinan baru di Matari Adv Grup. Saya sendiri tidak tahu bagaimana gaya Michael Sudarto dalam memimpin Matari dan juga CAKRAM. Tapi dengan menaruh “orang baru” sebagai Pemimpin Redaksi CAKRAM, menggeser Gunawan Alif, jelas bukan ide yang bijak.
Yang terjadi kemudian, konten CAKRAM kian tidak berbobot, tidak lagi mencerminkan sebagai majalah industri. Tapi, apa lacur.. Semuanya sudah jadi bubur… Tinggal kini, siapa yang akan “memperebutkan” brand CAKRAM??? Atau kata Gunawan Alif, “Terlalu banyak kenangan buruk. Lebih baik bikin brand baru..” Selamat berjuang boss…. Smoga mimpi menerbitkan kembali sebuah majalah industri periklanan dan media yang berbobot bisa terealisir. God bless U..!!!!!!!!!!!





wah sayang harus berakhir dengan cara seperti itu…
Roda berputar Oom. Kadang di atas, kadang di bawah. CAKRAM tutup? Biasa sajalah. Tinggal masalahnya, ada penggantinya yang sejenis opo ora… Mugo-mugo Cah Wonosari koyo sampeyan iso nggawe sing koyo CAKRAM mbiyen… Tapi namanya jgn CAKRAM lagi, tapi PEDAL… he, he, he… nama yang lebih angkringan… lebih terasa MALIOBORO MAN gitu loh…
Sejak awal, saya sudah menduga sejak masuknya Michael . D. Sudarto, CAKRAM tak akan berumur panjang. Padahal, ketika beliau masuk, CAKRAM tengah bagus-bagusnya. Dari majalah bulanan menjadi dua mingguan. Suatu prestasi yang mungkin sulit diraih bagi majalah bergenre trade journal.
Tapi, entah dapat ilham dari mana tiba-tiba Michael mau mengganti the winning team CAKRAM. Parahnya, lagi the winning team ini mau pelan-pelan dicampakkan seakan dianggap tidak pernah ada dan bahkan seolah tidak menghargai kerja keras mereka. Michael lebih percaya kepada orang baru yang notebene tidak pernah teruji dan punya kontribusi yang signifikan kepada CAKRAM. Waktu itu, saya tidak habis mengerti dari buku apa Michael belajar leadership dan manajemen media. Dan, terbukti, setelah Michael masuk, posisi CAKRAM terus menurun. Dari sisi content, CAKRAM tak ubahnya majalah yang sering kita temukan di mal-mal. Tidak ada sisi informatif dan berita akurat plus aktual yang dicover cakram. Berharap berita-berita investigasi dan analisis yang mendalam muncul juga tinggal impian. Akibatnya, bisnis terus melorot hingga akhirnya CAKRAM bubar.
Mudah2an ini menjadi pelajaran buat Michael.
Salam,
AMIR
mantan redpel cakram.
Ganti pimpinan, ganti kebijakan. Repotnya kalau unsur “like/dislike” lebih kental mewarnai pergantian personil. Akibatnya orang yang punya potensi “guedeee buanget” digusur. Alhasil kalau tidak berhasil yaa jadi bubur. Saluut buat mr. Gunawan Alif.
Oh Cakram nasibmu kini. Untung ane belum langganan setahun penuh.
Yang pasti tentu ada hikmah di balik musibah. Tinggal kita mau menarik pelajarannya atau tidak.
hmm…kaget dan nyesek juga dengar kabar ttg CAKRAM..
walaupun saya jarang baca CAKRAM..tapi image CAKRAM telah ada di benak saya..sesekali baca saya menerima sesuatu yang mengesankan, apalagi kalau sering baca, betul ha??!!
Design all face majalah CAKRAM pernah menjadi inspirasi saya dalam mebuat tugas sewaktu kuliah, lebih tepatnya tugas design grafis..
Hm…semoga akan ada majalah yang serupa dengan ilmu2 yang brilliant..
Ayu
sayang sekali. padahal saya mendapatkan informasi tentang dunia keradioan di indonesia, ya di cakram ini. semoga bisa muncul lagi dengan nama baru. siapa tau
Pantes, di Gramedia saya tidak menemukan majalah cakram, semoga ada majalah penggantinya yang mengupas industri periklanan dan komunikasi
Maaf bila sy tlat urun rembuk. Sbg redaktur terakhir d cakram, pengelolaan redaksi d tangan pemred baru mmg tanpa arah yg jls. Orientasi tuan muda lbh pd profit shngga banting posisi justru membuat cakram jd banci. Blm lg konflik yg diciptakan amat murahan dan mudah ditebak shg kmi tim lama brempat hrs rela hengkang. Memang ada keinginan untuk majalah sejenis, tp syg blm ada invstr yg trtarik. Mas As mgk bs mmfasilitasi?
Kebetulan saya pernah kerjasama dengan Cakram dalam pembuatan trophy Cakram Award..
Ternyata itu Cakram Award pertama dan terakhir bagi kita..
yuk bikin lagi yuk …
salam, mantan anak CAKRAM
walah, mas asmono pakbr nih….sdh lama tak bersua dan tak garap project bareng…..kontak2 mas
regards
Rully
Mungkin saya yang paling ketinggalan mengenai sudah bangkrut dan di tutupnya majalah CAKRAM. Saya mendengar berita ini dari Ibu Dosen di mana saya kuliah sekarang ini. Secara tidak lansung beliau menceritakan pada kami semua mahasiswa Advertising tentang ambruknya majalah CAKRAM. Bahkan dosen saya ini juga bercerita beliau sampai meneteskan air mata ketika mendengar CAKRAM telah ditutup, walaupun sudah tidak lagi bekerja di sana.
Saya saja yang hanya mendengar ceritanya cukup kaget, kecewa dan sedih tentunya. Sebuah karya yang sangat fenomenal dan hanya berakhir begitu saja di tangan pemimpin yang salah.
Semoga bagi pejuang-pejuang CAKRAM dapat terus berkarya dan kembali menjunjung nama CAKRAM atau lainnya.
Bukan matari juga dah biliknya penuh keluarga ken sudarto lagi?miliknya istrinya BT denger2…?? bener ngak?
weZZz,,ternyata ada tuLisan ginian 😉
ada para senior redaksi puLa… hehehe
iyah tuh,,sejak MDS berkuasa… matari jadi beranjak ‘SORE’ yah… 😉
Pantesan… aku kemarin nyari-nyari di agen majalah…agennya malah bingung…turut prihatin deh
saya termasuk salah seorang yang merasa kehilangan karena ketiadaan cakram. bagaimanapun majalah cakram banyak memberi saya inspirasi dalam pembuatan skripsi yang mengangkat tema analisis iklan. saya harap akan ada generasi baru dalam bidang ini,
kecewa cakram..ga ada lagi..!! smoga sgera ada penggantinya..
saya banyak terbantu sama cakram dalam kerjaan ..untuk menambah wawasan ttg dunia iklan dan media, cakram is really i love
sayang ………….. CAKRAM harus bubar. Padahl Cakram jadi salah satu bahan referensi sy dlm menyelesaikan skripsi & tugas 2 kuliah dulu …… Waktu itu sy berpikir Cakram adalah oase di tengah keringny informasi berbobot ttg dunia periklanan.
mosok seh wis tutup???
yah sedih udah tutup…memulai lebih mudah karena ada impian..kalu impian itu pergi kita tidak lagi bermimpi tapi mati
saya sangat kecewa dengan ditutupnya CAKRAM. Majalah ini sangat menginspirasi saya sebagai pekerja radio (saat itu) th. 1992-an. Di radio tempat saya bekerja secara rutin kami menerima majalah cakram dengan format dan tampilan yang sangat sederhana-gratis lagi.. tapi substansi di dalamnya sangat layak distandarkan dengan majalah paling populer di taanh air. Sangat berkualitas dari isi-informasi-. Tidak hanya saya.. teman-teman komunikasi yang lagi nyususn skripsi kala itu pun banyak terinspirasi dari tulisan yang ada di CAKRAM. Bisa gak.. majalah dihidupkan lagi.. smoga…
smoga akan lahir majalah sekualitas CAKRAM-Amin …
Komen saya agaknya sudah telat banget. Tapi benar-benar baru tau kalo Cakram sudah tutup usia. Wassalam deh.. kalo.. beg..beg…begito…Ada info gak ya semacam majalah cakram versi lainnya… Mo tau juga.. Kira-kira blog ini masih aktiv gak ya… Masalahnya postingan terakhirnya sih taon 2008 gak ada yang 2010-an… Trims..
Saya baru tau klo Majalah kebanggaan kaum Industri Promosi sudah tutup usia mengikuti pendirinya. Saya sangat prihatin sekali, ternyata managementnya tak sekuat namanya yang begitu melambung. Majalah yang selalu memberikan VISI & MOTIVASI bagi pembaca setianya, hanya berkhir dengan cukup menyedihkan. Semoga dengan kejadian yang seperti ini akan tumbuh lagi CAKRAM-CAKRAM yang lain. Thanks
ada yg minat majalah cakram, kios saya masih ada edisi2 lama. cp 081578830445
Wah, saya baru tahu nich..
: Saya masih berharap ada pengganti majalah advertising sekaliber CAKRAM.
hehe.. klo aku sih wis mprediksikan buyare CAKRAM sejak biyen, lha wong sing duwe CAKRAM (Matari adv) ae gak ngroso “bangga” kok.. justru praktisi periklanan dan komunikasi diluarnya yg merasa memiliki..
fr: sgo —- salam kangen to: gunawan alif, diah hasto palupi, ari dharmawan, moh. ridwan, widyastuti, nani, asmono wikan, linda primadewi… 🙂