close
The Wayback Machine - https://web.archive.org/web/20201114071928/https://asmono28.wordpress.com/category/majalah/
Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Majalah’ Category

Cakram pun tutup…(???!!!)

Saya menuliskan judul seperti di atas karena merasa masygul, prihatin, sedih, tak percaya, dan seabreg rasa senada yang membuat hati jadi bertanya-tanya. Mengapa majalah CAKRAM, yang diterbitkan oleh Matari Advertising, akhirnya harus “bangkrut”????!!! Sejak awal pekan ini, saya mendapat kabar dari sejumlah kolega, jika CAKRAM edisi Oktober 2008, adalah edisi paripurna majalah yang terbit sejak 1996 itu. Saking masih belum percaya, pagi ini saya menyempatkan mengontak Gunawan Alif, Pemimpin Perusahaan CAKRAM.

Ia pun mengamini jika CAKRAM telah tutup. Confirm…!!!!!!!! Dannnnnnn…. CAKRAM pun kini adalah sebuah sejarah. Adalah kebetulan saya merupakan salah satu orang yang pernah berada dalam lintasan sejarah majalah kesayangan alm Ken T Sudarto, pendiri Matari Advertising. Mungkin ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang memiliki perasaan seperti saya terhadap CAKRAM.

Salah satu pangkal soal yang disebut-sebut sejumlah kawan, antara lain kawan-kawan saya eks karyawan CAKRAM adalah adanya perubahan drastis positioning CAKRAM yang hendak dibawa menjadi majalah “life style”. Jelas itu merupakan kesalahan fatal..!!!!!!!! CAKRAM, dari sononya, adalah trade magazine, yang harus “rela dan ikhlas” melayani segmen pembaca dan pengiklannya di industri periklanan dan media.

(more…)

Read Full Post »

Pencinta (majalah) wanita…

Siapa lelaki yang tak mencintai wanita??? Pasti jawabnya tak ada satu pun pria yang tak suka wanita, apalagi wanita cantik dan seksi. Tapi, bagaimana dengan pasar majalah dan tabloid wanita? Seberapa “cantik dan seksikah” mereka, sehingga masih dicintai pasarnya yang notabene kaum perempuan? Jawabnya pun pasti dan tegas: masih sangat seksi dan cantik. Tak ayal, pasar majalah dan tabloid wanita tetap jadi sasaran “pria-pria “investor baru.

Sungguh pun demikian, secara umum persaingan pasar majalah dan tabloid wanita di Jakarta (untuk menyebut Indonesia, karena hampir semua pemain majalah dan tabloid wanita ternama berdomisili di Jakarta), dipandang semakin mengeras saja. Pemain baru terus bermunculan. Sementara jumlah pembaca menurut riset Nielsen Media Research, terbilang menurun dan stagnan. Dibanding koran harian, pembaca dan tiras majalah dan tabloid lebih kecil.

Data kantor saya (SPS Pusat), per Juni 2008 menunjukkan, jumlah oplah beredar majalah sebanyak enam juta eksemplar, sementara tabloid empat juta eksemplar. Adapun oplah koran harian sebesar tujuh juta eksemplar. Nielsen juga menyebutkan, pertumbuhan pendapatan iklan majalah dan tabloid tahun 2007 tidak sebesar koran harian. Jika koran harian menikmati pertumbuhan iklan 31 persen, maka majalah dan tabloid “cuma” 10 persen.

(more…)

Read Full Post »

Majalah Pelajar

ImageBanyak orang menduga, bila pelajar atau anak-anak remaja merupakan pasar yang menjanjikan. Begitu pula bagi para penerbit media cetak. Benarkah anggapan demikian? Bukankah pelajar masih merupakan segmen yang sangat labil, karena tak memiliki daya beli yang mandiri, alias masih menadah tangan pada orang tuanya?

Ditilik dari eksistensi penerbitan segmen remaja, sebenarnya tak banyak yang masih eksiImages. Bisa dihitung dengan jari saja. Sebutlah misalnya Kawanku, Hai, Cosmogirl, dan Aneka Yess!. Sementara khusus bagi remaja muslim, misalnya, terdapat Annida. Pukul rata, populasi majalah bagi pelajar, khususnya SMP dan SMA, sangat-sangat minim kalau mau dibandingkan dengan populasi demografi pelajar di seluruh Indonesia.

Jika demikian, maka menerbitkan media cetak khusus untuk pelajar, adalah sebuah peluang yang menjanjikan potensi keuntungan besar pula? Ehhhhmmm…., menurut saya tidak seeksak begitu kalkulasinya. Acapkali orang menghitung potensi bisnis di sebuah segmen media cetak dengan sangat optimistik, namun setelah digeluti, justru rasa pahit yang ditelannya. Alias menanggung kerugian, lantaran salah menghitung business plan yang hendak dijalani.

Itulah sebabnya, bersiap dengan “stamina” alias dana yang memadai, selalu menjadi modal dasar bagi setiap upaya menerbitkan media cetak di negeri ini. Tak terkecuali pada segmen pelajar.

(more…)

Read Full Post »

Elle Indonesia…

Para pecinta fashion di Indonesia kini akan memperoleh sumber Suasana launching majalah Elle Indonesia (28/3/08) di Jakartainspirasi bagi penampilan mereka yang makin serba chic, wangi, dan glamour. Sumber itu adalah majalah Elle Indonesia. Memang bagi mereka yang sudah lama mengakrabi dunia fashion –sebagai produsen maupun konsumen– tentu tak asing dengan majalah Elle. Majalah ini memang dibangun sebagai majalah fashion bagi para pembacanya.

Elle –berarti “perempuan” dalam bahasa Perancis– boleh dibilang merupakan salah satu majalah wanita papan atas di dunia. Melihat tren sebagian masyarakat Indonesia yang juga mulai terpapar gaya hidup global dengan sentuhan yang sangat fashion, salah satu penerbit majalah di sini, Kartini Grup, lalu menghadirkan Elle versi Indonesia, sejak April 2008 mendatang.

Elle Indonesia, jelas menambah daftar penghuni majalah lisensi –khususnya segmen wanita– yang sudah ada di pasar. Dibanding segmen pasar yang lain, tampaknya segmen wanita jauh lebih menggiurkan untuk disentuh dengan pendekatan produk lisensing. Buktinya, Elle menjadi pemain yang kesekian puluh setelah pada 1997, Cosmopolitan Indonesia –ketika itu masih bernama Higina Kosmopolitan– hadir sebagai majalah lisensi pertama yang dikenal dalam arti luas di republik ini.

(more…)

Read Full Post »

TRUST

Seorang kawan dari majalah TRUST, sebuah majalah berita ekonomi yang berada di bawah kelompok usaha MNC, Selasa pagi (27/3) lalu menelepon ke kantor. Setelah say hello sebentar, dia lalu cerita panjang lebar soal pemasaran dan promosi bersama majalah-majalah di Jakarta.

Kawan saya ini, Hery, namanya. Ia adalah orang sirkulasi majalah TRUST. Menurutnya, kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, perlu mengakomodasi beberapa penerbit untuk membuat semacam mini expo bareng-bareng. Lokasinya? “Di loby gedung-gedung perkantoran saja,” ujarnya menjelaskan.

Gagasan Hery sebenarnya sangat sederhana, tapi brilian, menurut saya. Dalam bayangannya, SPS mengajak sejumlah penerbit majalah berpameran bersama di loby gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Jumlah penerbit majalah yang ikut berpameran ini, sangat bervariasi. Bergantung dari luas loby yang dimiliki gedung tersebut. Bisa 7 penerbit, atau maksimal 12 penerbit majalah (termasuk tabloid).

Selama program mini expo ini, masing-masing penerbit disediakan satu booth atau stand untuk memajang produk dan memberikan info service mereka bagi calon pelanggan yang hendak dijaring dari gedung perkantoran itu. Seberapa efektif cara promosi seperti ini? “Lumayan efektif!” tegas kawan saya ini. Pengalamannya membuktikan, selama 1 pekan berpameran seperti itu, bisa dijaring 200 pelanggan baru.

Bahkan, menurutnya, setiap penerbit bisa saling berkolaborasi dengan penerbit lain untuk menawarkan paket berlangganan yang menarik. Ya, semacam gimmick marketing. Begitulah kira-kira.

Keuntungan bagi penerbit majalah sudah pasti sangat jelas. Biaya pameran atau promosi bisa digotong rame-rame, sehingga menjadi lebih murah. Kedua, gebyar promosi –untuk menarik perhatian calon pelanggan– bisa lebih meriah. Karena tak cuma diikuti satu penerbit atau satu segmen penerbit saja. Ketiga, pelaksanaan program relatif mudah. Bisa diadakan sendiri oleh SPS –kantor saya– bersama penerbit. Atau mengikutsertakan juga manajemen dari gedung yang dipergunakan.

Memang pada awalnya agak kerepotan, karena harus mendesain lebih dahulu konsep dan metode pameran. “Tapi jika sudah jadi, pameran bisa diadakan hampir tiap minggu dengan berpindah lokasi, mas,” yakin kawan saya tadi dengan entuasiame penuh.

Hhmmmm… Boleh juga ya, pikir saya. Apapun, sebagai organisasinya para penerbit media cetak, kantor saya memang sudah semestinya merespon keinginan dan harapan anggotanya.

Saat ini, kebetulan saya dan staf di kantor tengah mempersiapkan sebuah forum gathering kuartalan antara pengiklan dengan penerbit media cetak, saya sebut forum ini dengan tajuk “Advertisers Meet the Publishers”. Nah, kalo ide Hery tadi bisa direalisir, barangkali tajuknya bisa saya sebut sebagai “Publishers Meet the Consumers”, atau “Publishers Meet the Readers”….

Read Full Post »