Seorang kawan dari majalah TRUST, sebuah majalah berita ekonomi yang berada di bawah kelompok usaha MNC, Selasa pagi (27/3) lalu menelepon ke kantor. Setelah say hello sebentar, dia lalu cerita panjang lebar soal pemasaran dan promosi bersama majalah-majalah di Jakarta.
Kawan saya ini, Hery, namanya. Ia adalah orang sirkulasi majalah TRUST. Menurutnya, kantor saya, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, perlu mengakomodasi beberapa penerbit untuk membuat semacam mini expo bareng-bareng. Lokasinya? “Di loby gedung-gedung perkantoran saja,” ujarnya menjelaskan.
Gagasan Hery sebenarnya sangat sederhana, tapi brilian, menurut saya. Dalam bayangannya, SPS mengajak sejumlah penerbit majalah berpameran bersama di loby gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Jumlah penerbit majalah yang ikut berpameran ini, sangat bervariasi. Bergantung dari luas loby yang dimiliki gedung tersebut. Bisa 7 penerbit, atau maksimal 12 penerbit majalah (termasuk tabloid).
Selama program mini expo ini, masing-masing penerbit disediakan satu booth atau stand untuk memajang produk dan memberikan info service mereka bagi calon pelanggan yang hendak dijaring dari gedung perkantoran itu. Seberapa efektif cara promosi seperti ini? “Lumayan efektif!” tegas kawan saya ini. Pengalamannya membuktikan, selama 1 pekan berpameran seperti itu, bisa dijaring 200 pelanggan baru.
Bahkan, menurutnya, setiap penerbit bisa saling berkolaborasi dengan penerbit lain untuk menawarkan paket berlangganan yang menarik. Ya, semacam gimmick marketing. Begitulah kira-kira.
Keuntungan bagi penerbit majalah sudah pasti sangat jelas. Biaya pameran atau promosi bisa digotong rame-rame, sehingga menjadi lebih murah. Kedua, gebyar promosi –untuk menarik perhatian calon pelanggan– bisa lebih meriah. Karena tak cuma diikuti satu penerbit atau satu segmen penerbit saja. Ketiga, pelaksanaan program relatif mudah. Bisa diadakan sendiri oleh SPS –kantor saya– bersama penerbit. Atau mengikutsertakan juga manajemen dari gedung yang dipergunakan.
Memang pada awalnya agak kerepotan, karena harus mendesain lebih dahulu konsep dan metode pameran. “Tapi jika sudah jadi, pameran bisa diadakan hampir tiap minggu dengan berpindah lokasi, mas,” yakin kawan saya tadi dengan entuasiame penuh.
Hhmmmm… Boleh juga ya, pikir saya. Apapun, sebagai organisasinya para penerbit media cetak, kantor saya memang sudah semestinya merespon keinginan dan harapan anggotanya.
Saat ini, kebetulan saya dan staf di kantor tengah mempersiapkan sebuah forum gathering kuartalan antara pengiklan dengan penerbit media cetak, saya sebut forum ini dengan tajuk “Advertisers Meet the Publishers”. Nah, kalo ide Hery tadi bisa direalisir, barangkali tajuknya bisa saya sebut sebagai “Publishers Meet the Consumers”, atau “Publishers Meet the Readers”….
Read Full Post »