PAHLAWAN TAK KELIHATAN
Berperawakan kecil dengan rambut ikal beruban pria itu setia dengan pekerjaan yang dilakoninya sejak muda, membuka bengkel las di dekat pasar Genteng Wetan. Tempatnya tidaklah besar. Hanya sebuah tempat dari triplek berukuran 2x3 meter yang berdiri tepat diatas sungai. Sama sekali tidak kokoh, hingga bila diisi lebih dari tiga orang akan terdengar bunyi kemeretak dari lantainya yang terbuat dari papan bekas. Siang hari selepas ashar ia akan pergi mengurusi kambing-kambingnya yang ia kandangkan sekitar setengah kilo dari tempatnya tinggal. Di tempat itu kambingnya di kandangkan di seberang musholla yang ia dirikan. Musholla terbuka tempat anak-anak mendulang ilmu agama. Tak jauh dari musholla Baitul Munir II sebuah jembatan melintang di atas suangai. Melalui jembatan itulah beliau setiap hari mencari pakar ternaknya dengan menyabit rumput di sisi-sisi pematang. Sore hari, selepas maghrib ia akan bersiap mengajar ngaji di Baitul Munir I. Sementar

