HALAMAN-HALAMAN TERAKHIR SEBUAH DIARY
Aku pikir diary itu kosong saja, tapi ketika halaman-halaman terakhir terbuka justru disanalah cerita bermula… 17.23 (15 November’ 07) Kau hunjamkan senyum itu untukku. Pedih merayapi dada dan entah kenapa seperti patah hati kurasa. Kau suarkan tawa itu renyah itu lantas melenggang riang bersamanya. Fine, I’m fine…tapi air mata ini berderai, membadai hujan. Hei, kenapa begini? Buk ankah aku sudah menyiapkan untuk kejadian terburuk hari ini? Bukankan aku tahu cinta itu tak pernah untukku? Dunia memang tak runtuh saat kau pergi. Pohon-pohon masih juga berdiri di tempatnya. Tapi sepasang sayap pengharapan yang selalu kupasang telah patah di hempas kenyataan. Sejujurnya takkan mudah untuk memutihkan kembali kertas putih yang pernah memerah muda. Bagaimanapun usahanya tetap akan ada jejak tertinggal disana. 18.30 (23 November ‘07) Serpihan hati ini kupeluk erat Akan kubawa sampai ku mati Memendam rasa ini sendirian Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu

