Hathor
| Hathor | |||
|---|---|---|---|
Citra komposit dari ikonografi Hathor yang paling umum, sebagian didasarkan pada gambar-gambar dari makam Nefertari | |||
| Hieroglif | Mesir: ḥwt-ḥr
| ||
| Pemujaan | |||
| Pusat pemujaan | |||
| Keluarga | |||
| Orang tua | Ra | ||
| Pasangan | |||
| Keturunan | Ihy, Neferhotep dari Hu, Ra (Siklus Kelahiran Kembali), Horus (Dalam beberapa mitos) | ||
| Bagian dari seri |
| Agama Mesir Kuno |
|---|

Hathor (Mesir Kuno: ḥwt-ḥr, har. 'Rumah Horus', Yunani Kuno: Ἁθώρ Hathōr, Koptik: ϩⲁⲑⲱⲣ, Meroitik: 𐦠𐦴𐦫𐦢 Atari) adalah seorang dewi utama dalam agama Mesir kuno yang memainkan berbagai macam peran. Sebagai dewa langit, ia merupakan ibu atau permaisuri dari dewa langit Horus dan dewa matahari Ra, yang keduanya berkaitan erat dengan takhta kerajaan, sehingga ia menjadi ibu simbolis bagi perwakilan duniawi mereka, yakni para firaun. Ia adalah salah satu dari beberapa dewi yang bertindak sebagai Mata Ra, pendamping feminin dari Ra, dan dalam wujud ini, ia memiliki aspek pendendam yang melindungi sang dewa dari musuh-musuhnya. Sisi welas asihnya melambangkan kecantikan, musik, tarian, kebahagiaan, cinta, seksualitas, dan kasih sayang keibuan, dan ia bertindak sebagai permaisuri bagi beberapa dewa sekaligus ibu dari putra-putra mereka. Kedua aspek dewi ini mengejawantahkan konsepsi masyarakat Mesir mengenai femininitas. Hathor melintasi batas-batas antar dunia, membantu jiwa-jiwa yang telah tiada dalam masa peralihan menuju alam baka.
Hathor sering kali digambarkan sebagai seekor sapi, yang melambangkan aspek keibuan dan surgawinya, meskipun wujudnya yang paling umum adalah seorang wanita yang mengenakan hiasan kepala berupa tanduk sapi dan piringan matahari. Ia juga dapat diwujudkan sebagai seekor singa betina, kobra, atau pohon ara.
Dewi-dewi sapi yang menyerupai Hathor telah digambarkan dalam seni rupa Mesir pada milenium keempat SM, tetapi Hathor sendiri mungkin belum muncul hingga masa Kerajaan Lama (ca 2686–2181 SM). Dengan lindungan para penguasa Kerajaan Lama, ia menjelma menjadi salah satu dewa terpenting di Mesir. Lebih banyak kuil-kuil yang didedikasikan untuknya dibandingkan dengan dewi-dewi lainnya; kuilnya yang paling terkemuka adalah Dendera di Mesir Hulu. Ia juga dipuja di kuil-kuil milik para dewa yang menjadi pasangannya. Bangsa Mesir mengaitkannya dengan negeri-negeri asing, seperti Nubia dan Kanaan, beserta komoditas berharga mereka, seperti dupa dan batu permata, dan beberapa penduduk di wilayah tersebut turut mengadopsi pemujaannya. Di Mesir, ia adalah salah satu dewa yang lazim diseru dalam doa-doa pribadi dan persembahan nazar, khususnya oleh para wanita yang mendambakan keturunan.
Selama masa Kerajaan Baru (ca 1550–1070 SM), dewi-dewi seperti Mut dan Isis mulai menggeser kedudukan Hathor dalam ideologi kerajaan, namun ia tetap bertahan sebagai salah satu dewa yang paling banyak dipuja. Setelah berakhirnya era Kerajaan Baru, pamor Hathor semakin dibayangi oleh Isis, namun ia terus dipuja hingga kepunahan agama Mesir kuno pada abad-abad awal Masehi.
Asal-usul
[sunting | sunting sumber]
Gambar-gambar sapi sering kali muncul dalam karya seni dari masa Pradinasti Mesir (sebelum ca 3100 SM), begitu pula gambaran wanita dengan lengan melengkung yang terangkat ke atas, menyerupai bentuk tanduk sapi. Kedua jenis pencitraan ini mungkin melambangkan dewi-dewi yang berkaitan dengan sapi.[2] Sapi dipuja di berbagai kebudayaan, termasuk Mesir kuno, sebagai lambang sifat keibuan dan pemeliharaan, karena mereka merawat anak-anaknya dan menyediakan susu bagi manusia. Palet Gerzeh, sebuah palet batu dari periode prasejarah Naqada II (ca 3500–3200 SM), menampilkan siluet kepala sapi dengan tanduk yang melengkung ke dalam dan dikelilingi oleh bintang-bintang. Palet ini menyiratkan bahwa sapi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan langit, sebagaimana beberapa dewi dari masa-masa berikutnya yang diwujudkan dalam rupa ini: Hathor, Mehet-Weret, dan Nut.[3]
Terlepas dari preseden-preseden awal ini, Hathor tidak disebutkan atau digambarkan secara gamblang hingga masa Dinasti Keempat (ca 2613–2494 SM) di era Kerajaan Lama,[4] meskipun beberapa artefak yang merujuk kepadanya mungkin berasal dari Periode Dinasti Awal (ca 3100–2686 SM).[5] Ketika sosok Hathor mulai muncul dengan jelas, tanduknya melengkung ke luar, bukan ke dalam seperti yang terdapat pada seni Pradinasti.[6]
Sesosok dewa sapi dengan tanduk yang melengkung ke dalam muncul pada Palet Narmer dari masa menjelang awal sejarah Mesir, baik di bagian atas palet maupun pada sabuk atau celemek sang raja, Narmer. Ahli Mesir Kuno, Henry George Fischer, berpendapat bahwa dewa ini mungkin adalah Bat, seorang dewi yang di kemudian hari digambarkan dengan wajah wanita dan tanduk yang melengkung ke dalam, yang tampaknya mencerminkan lekukan tanduk sapi tersebut.[6] Namun, pakar Mesir Kuno lainnya, Lana Troy, mengidentifikasi sebuah bagian dalam Teks Piramida dari akhir era Kerajaan Lama yang menghubungkan Hathor dengan "celemek" sang raja, yang mengingatkan pada dewi di pakaian Narmer, dan ia mengemukakan bahwa dewi pada Palet Narmer adalah Hathor, alih-alih Bat.[4][7]
Pada masa Dinasti Keempat, pamor Hathor melesat dengan cepat.[8] Ia menggeser kedudukan dewa buaya purba yang dipuja di Dendera, Mesir Hulu, untuk menjadi dewa pelindung Dendera, dan ia secara bertahap menyerap kultus pemujaan Bat di wilayah tetangganya, Hu, sehingga pada masa Kerajaan Pertengahan (ca 2055–1650 SM), kedua dewa tersebut melebur menjadi satu.[9] Teologi di seputar firaun pada era Kerajaan Lama, tidak seperti masa-masa sebelumnya, sangat terpusat pada dewa matahari Ra sebagai raja para dewa serta ayah dan pelindung bagi raja duniawi. Hathor naik takhta bersama Ra dan menjadi istri mitologisnya, dan dengan demikian menjadi ibu ilahi bagi sang firaun.[8]
Peran
[sunting | sunting sumber]Hathor mengambil banyak wujud dan tampil dalam beragam peran yang luas.[10] Pakar Mesir Kuno, Robyn Gillam, berpendapat bahwa wujud-wujud yang beraneka ragam ini muncul ketika sang dewi kerajaan yang diagungkan oleh istana Kerajaan Lama menyerap banyak dewi-dewi lokal yang dipuja oleh rakyat jelata, yang kemudian dianggap sebagai manifestasi dari dirinya.[11] Teks-teks Mesir sering kali menyebutkan manifestasi sang dewi sebagai "Tujuh Hathor"[10] atau, yang lebih jarang, sebagai lebih banyak lagi Hathor—mencapai 362 sosok.[12] Atas dasar pemikiran ini, Gillam menyebutnya sebagai "suatu tipe dewa, alih-alih entitas tunggal".[11] Keragaman wujud Hathor mencerminkan spektrum sifat yang dikaitkan oleh bangsa Mesir dengan para dewi. Lebih dari dewa manapun, ia mengejawantahkan persepsi masyarakat Mesir mengenai femininitas.[13]
Dewi langit
[sunting | sunting sumber]Hathor dianugerahi julukan "nyonya langit" dan "nyonya bintang-bintang", dan dikisahkan bersemayam di langit bersama Ra dan dewa-dewa matahari lainnya. Bangsa Mesir membayangkan langit sebagai hamparan air tempat sang dewa matahari berlayar, dan mereka menghubungkannya dengan perairan purba yang menurut mitos penciptaan mereka, menjadi tempat munculnya matahari pada awal mula waktu. Dewi ibu kosmis ini sering kali diwujudkan sebagai seekor sapi. Hathor dan Mehet-Weret sama-sama diyakini sebagai sapi yang melahirkan sang dewa matahari dan menempatkannya di antara kedua tanduknya. Seperti halnya Nut, Hathor dikisahkan melahirkan dewa matahari pada setiap fajar menyingsing.[14]
Nama Hathor dalam bahasa Mesir adalah ḥwt-ḥrw[15] atau ḥwt-ḥr.[16] Nama ini umumnya diterjemahkan sebagai "rumah Horus" namun juga dapat dimaknai sebagai "rumahku adalah langit".[17] Dewa falkon Horus melambangkan, antara lain, matahari dan langit. "Rumah" yang dimaksud mungkin merujuk pada langit tempat Horus bertahta, atau rahim sang dewi tempat ia, sebagai dewa matahari, dilahirkan setiap hari.[18]
Dewi matahari
[sunting | sunting sumber]Hathor adalah seorang dewa matahari, padanan feminin bagi dewa-dewa matahari seperti Horus dan Ra, serta merupakan anggota rombongan ilahi yang menyertai Ra saat ia berlayar melintasi langit dengan perahu sucinya.[18] Ia lazim dijuluki "Yang Keemasan", merujuk pada pancaran sinar matahari, dan teks-teks dari kuilnya di Dendera menyebutkan bahwa "sinarnya menerangi seluruh bumi."[19] Terkadang, ia dilebur dengan dewi lain, Nebethetepet, yang namanya dapat bermakna "Nyonya Persembahan", "Nyonya Kepuasan",[20] atau "Nyonya Vulva".[21] Di pusat pemujaan Ra di Heliopolis, Hathor-Nebethetepet dipuja sebagai pasangannya,[22] dan pakar Mesir Kuno Rudolf Anthes berpendapat bahwa nama Hathor merujuk pada "rumah Horus" mitologis di Heliopolis yang berkaitan dengan ideologi takhta kerajaan.[23]
Ia adalah satu dari sekian banyak dewi yang mengambil peran sebagai Mata Ra, perwujudan feminin dari piringan matahari sekaligus perpanjangan dari kekuatan Ra itu sendiri. Ra terkadang digambarkan di dalam piringan tersebut, yang ditafsirkan oleh Troy sebagai penanda bahwa dewi mata dianggap sebagai sebuah rahim, tempat sang dewa matahari dilahirkan. Peran Hathor yang seolah kontradiktif sebagai ibu, istri, sekaligus putri Ra mencerminkan siklus harian matahari. Saat matahari terbenam, sang dewa memasuki tubuh dewi langit, menghamilinya dan menjadi ayah bagi dewa-dewi yang terlahir dari rahimnya saat fajar menyingsing: dirinya sendiri dan sang dewi mata, yang kelak akan melahirkannya kembali. Ra memunculkan putrinya, sang dewi mata, yang pada gilirannya memunculkan Ra, putranya, dalam sebuah siklus regenerasi yang abadi.[24]
Mata Ra melindungi dewa matahari dari musuh-musuhnya dan sering diwujudkan sebagai uraeus, atau kobra yang mengembang, ataupun sebagai singa betina.[25] Salah satu wujud Mata Ra yang dikenal sebagai "Hathor Berwajah Empat", diwakili oleh sekumpulan empat ular kobra, dikisahkan menghadap ke setiap arah mata angin untuk mengawasi ancaman terhadap sang dewa matahari.[26] Serangkaian mitos, yang dikenal sejak masa Kerajaan Baru (sekitar 1550–1070 SM) dan seterusnya, melukiskan apa yang terjadi ketika sang dewi mata mengamuk tanpa kendali. Dalam teks pemakaman yang dikenal sebagai Kitab Sapi Surgawi, Ra mengutus Hathor sebagai Mata Ra untuk menghukum umat manusia yang merencanakan pemberontakan terhadap kekuasaannya. Ia menjelma menjadi dewi singa betina Sekhmet dan membantai manusia-manusia pemberontak tersebut, namun Ra kemudian memutuskan untuk mencegahnya memusnahkan seluruh umat manusia. Ia memerintahkan agar bir diwarnai merah dan ditumpahkan ke atas tanah. Sang dewi mata meminum bir tersebut, mengiranya sebagai darah, dan dalam keadaan mabuk ia kembali ke wujudnya sebagai Hathor yang welas asih dan jelita.[27] Berkaitan dengan kisah ini adalah mitos tentang Dewi yang Jauh, dari periode Akhir dan Ptolemaik. Sang dewi mata, terkadang dalam wujud Hathor, memberontak terhadap kendali Ra dan mengamuk dengan leluasa di negeri asing: Libya di sebelah barat Mesir atau Nubia di sebelah selatan. Melemah akibat kehilangan Matanya, Ra mengutus dewa lain, seperti Thoth, untuk membawanya kembali.[28] Setelah ditenangkan, sang dewi pun kembali untuk menjadi pasangan dewa matahari atau dewa yang membawanya pulang.[29] Kedua aspek dewi mata ini—ganas dan berbahaya di satu sisi, versus rupawan dan penuh sukacita di sisi lain—mencerminkan keyakinan bangsa Mesir bahwa perempuan, sebagaimana diungkapkan oleh pakar Mesir Kuno Carolyn Graves-Brown, "merangkum kedua gairah ekstrem akan amarah dan cinta".[27]
Musik, tarian, dan sukacita
[sunting | sunting sumber]
Agama Mesir merayakan kenikmatan indrawi kehidupan, yang diyakini sebagai salah satu karunia para dewa kepada umat manusia. Bangsa Mesir makan, minum, menari, dan bermain musik di berbagai festival keagamaan mereka. Mereka mengharumkan udara dengan bunga dan dupa. Banyak julukan Hathor yang mengaitkannya dengan perayaan; ia dijuluki nyonya musik, tarian, karangan bunga, mur, dan kemabukan. Dalam gita puja dan relief kuil, para pemusik memainkan rebana, harpa, lira, dan sistra untuk menghormati Hathor.[31] Sistrum, sebuah alat musik semacam kerincingan, memegang peranan yang teramat penting dalam pemujaan Hathor. Sistra memiliki konotasi erotis dan, lebih jauh lagi, merujuk pada penciptaan kehidupan baru.[32]
Aspek-aspek Hathor ini terkait erat dengan mitos Mata Ra. Sang Mata ditenangkan oleh bir dalam kisah Kehancuran Umat Manusia. Dalam beberapa versi mitos Dewi yang Jauh, keliaran sang Mata yang mengembara mereda ketika ia ditenangkan dengan produk-produk peradaban seperti musik, tarian, dan anggur. Air dari banjir tahunan Sungai Nil, yang diwarnai merah oleh endapan sedimen, diumpamakan sebagai anggur, serta bir yang diwarnai merah dalam kisah Kehancuran Umat Manusia. Oleh karena itu, festival-festival pada masa banjir senantiasa memadukan minuman, musik, dan tarian sebagai upaya untuk menenangkan sang dewi yang kembali.[33] Sebuah teks dari Kuil Edfu menyebutkan tentang Hathor, "para dewa memainkan sistrum untuknya, dewi-dewi menari untuknya guna mengusir kemurkaannya."[34] Sebuah gita puja bagi dewi Raet-Tawy sebagai perwujudan Hathor di kuil Medamud menggambarkan Festival Kemabukan (Festival Tekh) sebagai bagian dari kepulangan mitologisnya ke Mesir.[35] Para wanita membawa karangan bunga, orang-orang mabuk yang berpesta memainkan gendang, serta manusia dan hewan dari negeri asing menari untuknya saat ia memasuki anjungan festival kuil. Hiruk pikuk perayaan ini mengusir kekuatan-kekuatan jahat dan memastikan sang dewi akan tetap dalam wujud sukacitanya seraya menanti dewa laki-laki dari kuil tersebut, pasangan mitologisnya Montu, yang putranya akan ia lahirkan.[36]
Seksualitas, kecantikan, dan cinta
[sunting | sunting sumber]Sisi Hathor yang penuh sukacita dan ekstatis menandakan daya cipta femininnya. Dalam beberapa mitos penciptaan, ia turut serta mewujudkan dunia itu sendiri.[37] Atum, dewa pencipta yang merangkum segala sesuatu di dalam dirinya, dikisahkan telah menghasilkan anak-anaknya, Shu dan Tefnut, dan dengan demikian memulai proses penciptaan, melalui masturbasi. Tangan yang digunakannya untuk tindakan ini, Tangan Atum, melambangkan aspek feminin dari dirinya dan dapat diwujudkan oleh Hathor, Nebethetepet, atau dewi lainnya, Iusaaset.[38] Dalam mitos penciptaan yang lebih muda dari Periode Ptolemaik (332–30 SM), dewa Khonsu ditempatkan pada peran sentral, dan Hathor adalah dewi yang dikawini Khonsu untuk mewujudkan penciptaan.[39]
Hathor dapat menjadi pasangan bagi banyak dewa laki-laki, yang mana Ra hanyalah sosok yang paling terkemuka. Mut lazimnya adalah pasangan dari Amun, dewa paling utama selama masa Kerajaan Baru yang sering dikaitkan dengan Ra. Namun Mut jarang digambarkan bersanding dengan Amun dalam konteks yang berkaitan dengan seksualitas atau kesuburan, dan dalam situasi semacam itu, Hathor atau Isis lah yang justru berdiri di sisinya.[40] Pada periode akhir sejarah Mesir, wujud Hathor dari Dendera dan wujud Horus dari Edfu dianggap sebagai suami istri[41] dan dalam versi-versi yang berbeda dari mitos Dewi yang Jauh, Hathor-Raettawy adalah pasangan Montu[42] dan Hathor-Tefnut merupakan pasangan Shu.[43]
Sisi seksual Hathor tampak dalam beberapa cerita pendek. Dalam sebuah fragmen samar dari cerita Kerajaan Pertengahan, yang dikenal sebagai "Kisah Sang Penggembala", seorang gembala berjumpa dengan sesosok dewi berbulu lebat yang menyerupai binatang di sebuah rawa dan bereaksi dengan penuh kengerian. Pada hari yang lain, ia kembali menemuinya sebagai seorang wanita telanjang yang menggoda. Sebagian besar pakar Mesir Kuno yang meneliti kisah ini berpendapat bahwa wanita tersebut adalah Hathor atau dewi yang serupa dengannya, sosok yang bisa tampil buas dan berbahaya maupun ramah dan erotis. Thomas Schneider menafsirkan teks tersebut menyiratkan bahwa di antara kedua perjumpaannya dengan sang dewi, sang penggembala telah melakukan sesuatu untuk menenangkannya.[44] Dalam "Perseteruan Horus dan Set", sebuah cerita pendek Kerajaan Baru mengenai perselisihan di antara kedua dewa tersebut, Ra merasa kesal setelah dihina oleh dewa lain, Babi, dan berbaring telentang menyendiri. Beberapa saat kemudian, Hathor menyingkapkan alat kelaminnya kepada Ra, yang membuatnya tertawa dan bangkit kembali untuk menjalankan tugasnya sebagai penguasa para dewa. Kehidupan dan keteraturan diyakini bergantung pada aktivitas Ra, dan kisah ini menyiratkan bahwa Hathor telah mencegah malapetaka yang dapat timbul dari kemalasan sang dewa. Tindakannya mungkin telah membangkitkan semangat Ra sebagian karena hal itu merangsangnya secara seksual, meskipun alasan mengapa ia tertawa tidak sepenuhnya dipahami.[45]
Hathor dipuja karena rambutnya yang indah. Sastra Mesir memuat kiasan-kiasan mengenai sebuah mitos yang tidak digambarkan secara gamblang dalam teks-teks yang masih ada, di mana Hathor kehilangan sejumput rambut yang melambangkan daya pikat seksualnya. Sebuah teks membandingkan peristiwa ini dengan hilangnya Mata ilahi Horus dan hilangnya buah zakar Set selama pertarungan di antara kedua dewa tersebut, menyiratkan bahwa hilangnya jalinan rambut Hathor membawa dampak yang sama nahasnya bagi dirinya sebagaimana kecacatan yang menimpa Horus dan Set.[46]
Hathor dijuluki "nyonya cinta", sebagai perluasan dari aspek seksualnya. Dalam serangkaian puisi cinta dari Papirus Chester Beatty I, yang berasal dari masa Dinasti Kedua Puluh (sekitar 1189–1077 SM), para pria dan wanita memohon kepada Hathor untuk membawakan kekasih mereka: "Aku berdoa kepadanya [Hathor] dan ia mendengar doaku. Ia mentakdirkan pujaan hatiku untukku. Dan ia datang atas kemauannya sendiri untuk menemuiku."[47]
Keibuan dan kedudukan ratu
[sunting | sunting sumber]Hathor dianggap sebagai ibu dari berbagai dewa anak. Sebagaimana tersirat dari namanya, ia sering kali diyakini sebagai ibu sekaligus pasangan Horus.[48] Sebagai istri raja dan ibu dari pewaris takhtanya, Hathor merupakan padanan ilahi bagi para ratu duniawi.[15]
Isis dan Osiris telah dianggap sebagai orang tua Horus dalam mitos Osiris sejak akhir masa Kerajaan Lama, namun hubungan antara Horus dan Hathor mungkin jauh lebih tua. Jika demikian, Horus baru dikaitkan dengan Isis dan Osiris ketika mitos Osiris mulai mengemuka pada era Kerajaan Lama.[49] Bahkan setelah Isis secara kukuh diakui sebagai ibu Horus, Hathor tetap tampil dalam peran ini, khususnya saat menyusui sang firaun. Penggambaran sapi-Hathor bersama seorang anak balita di tengah semak papirus melambangkan asuhannya secara mitologis di sebuah rawa yang terpencil. Susu para dewi adalah lambang keilahian dan status kerajaan. Oleh karena itu, gambaran di mana Hathor menyusui firaun melambangkan hak penguasa tersebut untuk bertakhta.[50] Hubungan Hathor dengan Horus memberikan aspek penyembuhan pada karakternya, karena ia dikisahkan telah memulihkan mata Horus yang hilang setelah Set menyerangnya.[18] Dalam versi episode ini pada kisah "Perseteruan Horus dan Set", Hathor menemukan Horus dengan mata yang telah dicungkil dan menyembuhkan luka-lukanya dengan susu gazel.[51]
Mulai dari masa Periode Akhir (664–323 SM), kuil-kuil memusatkan pemujaan pada sebuah keluarga ilahi: sesosok dewa pria dewasa, istrinya, dan putra mereka yang masih kecil. Bangunan-bangunan satelit, yang dikenal sebagai mammisi, didirikan untuk merayakan kelahiran dewa anak setempat. Dewa anak tersebut melambangkan pembaruan kosmos yang siklis dan pola dasar pewaris takhta kerajaan.[52] Hathor bertindak sebagai ibu dalam banyak triad ilahi lokal ini. Di Dendera, Horus dari Edfu yang telah dewasa adalah sang ayah dan Hathor sang ibu, sementara anak mereka adalah Ihy, sesosok dewa yang namanya berarti "pemain sistrum" dan menjadi perwujudan dari sorak-sorai yang berkaitan dengan alat musik tersebut.[53] Di Kom Ombo, wujud lokal Hathor, Tasenetnofret, adalah ibu bagi putra Horus, Panebtawy.[54] Anak-anak Hathor lainnya meliputi dewa kecil dari kota Hu, yang bernama Neferhotep,[53] serta beberapa wujud masa kecil Horus.[55]
Getah menyerupai susu dari pohon ara, yang dianggap oleh bangsa Mesir sebagai lambang kehidupan, menjadi salah satu simbolnya.[56] Susu ini disamakan dengan air luapan Sungai Nil dan oleh karenanya melambangkan kesuburan.[57] Pada akhir masa Ptolemaik dan Periode Romawi, banyak kuil menyimpan mitos penciptaan yang mengadaptasi gagasan-gagasan lama mengenai penciptaan itu sendiri.[58] Versi dari kuil Hathor di Dendera menekankan bahwa ia, sebagai dewa matahari feminin, merupakan makhluk pertama yang muncul dari perairan primordial yang mendahului penciptaan, dan cahaya serta susunya yang menghidupkan telah memelihara segala makhluk bernyawa.[59]
Aspek-aspek keibuan Hathor dapat disandingkan dengan aspek keibuan Isis dan Mut, namun terdapat banyak perbedaan mencolok di antara mereka. Kesetiaan Isis kepada suaminya serta kasih sayangnya terhadap anak mereka melambangkan wujud cinta yang lebih dapat diterima secara sosial ketimbang seksualitas Hathor yang tak terkendali,[60] dan karakter Mut lebih bersifat otoritatif daripada seksual.[61] Teks dari Papirus Insinger yang berasal dari abad ke-1 M mengumpamakan seorang istri yang setia, sang nyonya rumah tangga, dengan Mut, sementara Hathor disamakan dengan seorang wanita asing yang menggoda pria beristri.[61]
Takdir
[sunting | sunting sumber]Seperti halnya Meskhenet, dewi lain yang berkuasa atas kelahiran, Hathor dikaitkan dengan shai, konsep takdir dalam masyarakat Mesir, khususnya ketika ia mengambil wujud Tujuh Hathor. Dalam dua karya fiksi dari masa Kerajaan Baru, "Kisah Dua Bersaudara" dan "Kisah Pangeran yang Terkutuk", para Hathor menampakkan diri pada kelahiran tokoh-tokoh utamanya dan meramalkan bagaimana mereka akan menjemput maut. Bangsa Mesir cenderung menganggap takdir sebagai suatu hal yang tak terelakkan. Namun dalam "Kisah Pangeran yang Terkutuk", sang pangeran yang menjadi tokoh protagonisnya berhasil lolos dari salah satu kemungkinan kematian tragis yang telah diramalkan oleh Ketujuh Hathor untuknya, dan meskipun akhir kisah ini hilang, bagian-bagian yang tersisa menyiratkan bahwa sang pangeran dapat menghindari takdirnya dengan bantuan para dewa.[62]
Negeri asing dan komoditas
[sunting | sunting sumber]
Hathor memiliki keterkaitan dengan perniagaan dan negeri-negeri asing, kemungkinan karena perannya sebagai dewi langit menghubungkannya dengan bintang-bintang dan juga navigasi,[63] serta karena ia diyakini melindungi kapal-kapal di Sungai Nil maupun di lautan lepas melampaui Mesir, sebagaimana ia melindungi perahu suci Ra di angkasa.[64] Pengembaraan mitologis dari sang dewi Mata di Nubia atau Libya juga memberinya pertalian dengan wilayah-wilayah tersebut.[65]
Mesir menjalin hubungan dagang dengan kota-kota pesisir di Suriah dan Kanaan, khususnya Byblos, yang membuat agama Mesir bersinggungan dengan agama-agama di kawasan tersebut.[66] Pada titik tertentu, mungkin sejak masa Kerajaan Lama, bangsa Mesir mulai menyebut dewi pelindung Byblos, Baalat Gebal, sebagai wujud lokal dari Hathor.[67] Keterikatan Hathor dengan Byblos begitu kuat hingga teks-teks dari Dendera menyebutkan bahwa ia bersemayam di sana.[68] Bangsa Mesir terkadang menyamakan Anat, seorang dewi Kanaan yang agresif dan mulai dipuja di Mesir selama masa Kerajaan Baru, dengan Hathor.[69] Beberapa karya seni Kanaan melukiskan sesosok dewi telanjang dengan rambut palsu ikal yang diadaptasi dari ikonografi Hathor.[70] Dewi mana yang dilambangkan oleh gambar-gambar ini tidaklah diketahui secara pasti, namun bangsa Mesir mengadopsi ikonografinya dan mulai menganggapnya sebagai dewa yang mandiri, Qetesh,[71] yang juga mereka tautkan dengan Hathor.[72]
Hathor sangat erat kaitannya dengan Semenanjung Sinai,[73] yang tidak dianggap sebagai bagian dari Mesir itu sendiri melainkan merupakan lokasi tambang tembaga, pirus, dan malasit milik Mesir selama era Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru.[74] Salah satu julukan Hathor, "Nyonya Mefkat", mungkin merujuk secara khusus pada pirus atau pada semua mineral berwarna biru kehijauan. Ia juga dijuluki "Nyonya Fayens", sejenis keramik biru kehijauan yang disamakan dengan pirus oleh bangsa Mesir.[75][76] Hathor juga dipuja di berbagai area penggalian batu dan situs pertambangan di Gurun Timur Mesir, seperti di tambang kecubung Wadi el-Hudi, di mana ia terkadang dijuluki "Nyonya Kecubung".[77]
Di sebelah selatan Mesir, pengaruh Hathor diyakini telah membentang hingga ke Negeri Punt, yang terletak di sepanjang pesisir Laut Merah dan merupakan sumber utama bagi dupa yang sering disangkutpautkan dengan Hathor, serta ke wilayah Nubia yang berada di sebelah barat laut Punt.[64] Autobiografi Harkhuf, seorang pejabat pada masa Dinasti Keenam (sekitar 2345–2181 SM), melukiskan ekspedisinya ke sebuah negeri di dalam atau di dekat Nubia, di mana ia membawa pulang sejumlah besar kayu eboni, kulit macan kumbang, dan dupa untuk sang raja. Teks tersebut mendeskripsikan barang-barang eksotis ini sebagai persembahan dari Hathor untuk sang firaun.[73] Ekspedisi Mesir untuk menambang emas di Nubia turut memperkenalkan kultus pemujaannya ke wilayah tersebut selama masa Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru,[78] dan para firaun Kerajaan Baru membangun sejumlah kuil untuknya di bagian-bagian wilayah Nubia yang mereka kuasai.[79]
Alam baka
[sunting | sunting sumber]
Meskipun Teks Piramida, teks pemakaman Mesir kuno yang paling awal, jarang menyebutkannya,[80] Hathor diseru dalam prasasti-prasasti makam pribadi dari era yang sama, dan dalam Teks Peti Mati Kerajaan Pertengahan serta sumber-sumber yang lebih muda, ia sering kali dikaitkan dengan alam baka.[81]
Sebagaimana ia melintasi batas antara Mesir dan negeri-negeri asing, Hathor juga menembus batas antara dunia orang hidup dan Duat, alam orang mati.[82] Ia membantu roh manusia yang telah wafat untuk memasuki Duat dan terkait erat dengan situs-situs pemakaman, tempat peralihan tersebut bermula.[83] Nekropolis, atau gugusan makam, di tepi barat Sungai Nil dipersonifikasikan sebagai Imentet, sang dewi barat, yang sering kali dianggap sebagai manifestasi dari Hathor.[84] Nekropolis Thebes, misalnya, sering dilukiskan sebagai gunung yang digayakan dengan sapi Hathor menyembul darinya.[85] Perannya sebagai dewi langit juga ditautkan dengan alam baka. Karena dewi langit—baik Nut maupun Hathor—membantu Ra dalam kelahiran kembalinya setiap hari, ia memegang peranan penting dalam kepercayaan alam baka Mesir kuno, yang meyakini bahwa manusia yang telah mati akan dilahirkan kembali layaknya sang dewa matahari.[86] Peti mati, makam, dan dunia bawah itu sendiri ditafsirkan sebagai rahim sang dewi, tempat jiwa yang telah tiada akan dilahirkan kembali.[87][88]
Nut, Hathor, dan Imentet, dalam berbagai teks yang berbeda, masing-masing dapat menuntun sang mendiang ke suatu tempat di mana mereka akan menerima makanan dan minuman sebagai bekal keabadian. Dengan demikian, Hathor, sebagai Imentet, sering kali muncul di makam-makam, menyambut orang yang telah wafat selayaknya anaknya sendiri menuju alam baka yang penuh kebahagiaan.[89] Dalam karya seni dan teks pemakaman Kerajaan Baru, alam baka sering diilustrasikan sebagai taman yang rimbun dan menyenangkan, yang terkadang dikuasai oleh Hathor.[90] Sang dewi penyambut di alam baka sering diwujudkan sebagai dewi dalam rupa pohon, yang memberikan air kepada mendiang. Nut adalah sosok yang paling lazim mengisi peran ini, namun dewi pohon tersebut terkadang juga disebut sebagai Hathor.[91]
Alam baka juga memiliki aspek seksual. Dalam mitos Osiris, dewa Osiris yang terbunuh dibangkitkan kembali ketika ia bersetubuh dengan Isis dan mengandung Horus. Dalam ideologi matahari, persatuan Ra dengan dewi langit memungkinkannya untuk lahir kembali. Oleh karena itu, hubungan seksual memicu kelahiran kembali sang mendiang, dan dewi-dewi seperti Isis serta Hathor bertugas untuk membangkitkan mendiang menuju kehidupan yang baru. Namun, mereka semata-mata merangsang daya regenerasi para dewa laki-laki, alih-alih memainkan peran utama.[92]
Bangsa Mesir kuno membubuhkan nama Osiris di depan nama-nama orang yang telah wafat untuk menghubungkan mereka dengan kebangkitan sang dewa. Sebagai contoh, seorang wanita bernama Henutmehyt akan dijuluki "Osiris-Henutmehyt". Seiring berjalannya waktu, mereka semakin mengaitkan mendiang dengan kekuatan ilahi laki-laki maupun perempuan.[93] Sejak akhir masa Kerajaan Lama, para wanita terkadang dikisahkan bergabung dengan para pemuja Hathor di alam baka, sebagaimana para pria bergabung dengan pengikut Osiris. Pada Periode Menengah Ketiga Mesir (sekitar 1070–664 SM), bangsa Mesir mulai menyematkan nama Hathor pada wanita yang telah wafat untuk menggantikan nama Osiris. Dalam beberapa kasus, para wanita dijuluki "Osiris-Hathor", yang menandakan bahwa mereka menerima pancaran berkah dari daya kebangkitan kedua dewa tersebut. Pada periode-periode akhir ini, Hathor sesekali dikisahkan menguasai alam baka layaknya Osiris.[94]
Ikonografi
[sunting | sunting sumber]Hathor sering digambarkan sebagai seekor sapi yang menyunggi piringan matahari di antara kedua tanduknya, terutama saat ditampilkan sedang menyusui sang raja. Ia juga dapat mewujud sebagai seorang wanita berkepala sapi. Namun, wujudnya yang paling umum adalah seorang wanita yang mengenakan hiasan kepala berupa tanduk dan piringan matahari, sering kali dibalut dengan gaun selubung berwarna merah atau pirus, maupun gaun yang memadukan kedua warna tersebut. Terkadang tanduk tersebut bertengger di atas modius yang rendah atau hiasan kepala hering yang sering dikenakan oleh para ratu Mesir pada masa Kerajaan Baru. Karena Isis mengadopsi hiasan kepala yang sama selama masa Kerajaan Baru, kedua dewi ini hanya dapat dibedakan jika disertai dengan keterangan tertulis. Ketika mengambil peran sebagai Imentet, Hathor mengenakan lambang barat di atas kepalanya sebagai pengganti hiasan kepala bertanduk.[95] Tujuh Hathor terkadang dilukiskan sebagai sekawanan tujuh ekor sapi, yang didampingi oleh dewa minor langit dan alam baka yang disebut Banteng Barat.[96]
Beberapa hewan selain sapi dapat melambangkan Hathor. Uraeus adalah motif yang lazim dalam seni rupa Mesir dan dapat mewakili berbagai dewi yang diidentikkan dengan Mata Ra.[97] Ketika Hathor digambarkan sebagai uraeus, hal itu melambangkan aspek buas dan protektif dari karakternya. Ia juga menampakkan diri sebagai seekor singa betina, dan wujud ini memiliki makna yang serupa.[98] Sebaliknya, kucing domestik, yang terkadang dikaitkan dengan Hathor, sering kali mewakili wujud sang dewi Mata yang telah ditenangkan.[99] Ketika dilukiskan sebagai pohon ara, Hathor biasanya ditampilkan dengan tubuh bagian atas dari wujud manusianya yang menyembul dari batang pohon tersebut.[100]
Seperti dewi-dewi lainnya, Hathor dapat membawa sebatang papirus sebagai tongkat, meskipun ia juga bisa memegang was, sebuah lambang kekuasaan yang biasanya hanya diperuntukkan bagi para dewa laki-laki.[76] Satu-satunya dewi yang menggunakan was adalah mereka yang, seperti halnya Hathor, memiliki pertalian dengan Mata Ra.[101] Ia juga lazim membawa sebuah sistrum atau kalung menat. Sistrum hadir dalam dua ragam: bentuk lingkaran sederhana atau sistrum naos yang lebih rumit, yang dibentuk menyerupai tempat suci naos dan diapit oleh voluta yang menyerupai antena pada lambang Bat.[102] Cermin merupakan salah satu simbolnya yang lain, karena di Mesir cermin sering kali terbuat dari emas atau perunggu dan dengan demikian melambangkan piringan matahari, serta karena cermin dikaitkan dengan kecantikan dan femininitas. Beberapa gagang cermin dibuat menyerupai bentuk wajah Hathor.[103] Kalung menat, yang tersusun dari banyak untaian manik-manik, digoyangkan dalam upacara-upacara untuk menghormati Hathor, serupa dengan penggunaan sistrum.[73] Gambar-gambar kalung ini terkadang dipandang sebagai personifikasi dari Hathor itu sendiri.[104]
Hathor sesekali diwujudkan sebagai wajah manusia dengan telinga sapi, dilihat dari depan alih-alih dalam perspektif berbasis profil yang menjadi ciri khas seni rupa Mesir. Ketika ia muncul dalam wujud ini, jalinan rambut di kedua sisi wajahnya sering kali melengkung menjadi lingkaran. Wajah yang menyerupai topeng ini ditempatkan pada kapital pilar mulai akhir masa Kerajaan Lama. Pilar-pilar dengan gaya semacam ini digunakan di banyak kuil yang didedikasikan untuk Hathor dan dewi-dewi lainnya.[105] Pilar-pilar ini memiliki dua atau empat wajah, yang mungkin melambangkan dualitas antara berbagai aspek dewi yang berbeda atau kewaspadaan dari Hathor Berwajah Empat. Desain pilar-pilar Hathorik memiliki hubungan yang kompleks dengan desain sistra. Kedua gaya sistrum dapat menyematkan topeng Hathor pada gagangnya, dan pilar Hathorik sering kali memadukan bentuk sistrum naos di atas kepala sang dewi.[102]
- Patung Hathor, abad ke-14 SM
- Sistrum naos dengan wajah Hathor, 305–282 SM
- Cermin dengan wajah Hathor pada gagangnya, abad ke-15 SM
- Kepala Hathor dengan kucing-kucing di hiasan kepalanya, dari sebuah alat musik tepuk, akhir milenium kedua hingga awal milenium pertama SM
- Kalung Malqata Menat, abad ke-14 SM
- Kapital Hathorik dari Kuil Kamar Mayat Hatshepsut, abad ke-15 SM
Pemujaan
[sunting | sunting sumber]
Hubungan dengan keluarga kerajaan
[sunting | sunting sumber]Selama Periode Dinasti Awal, Neith adalah dewi yang paling terkemuka di istana kerajaan,[106] sementara pada masa Dinasti Keempat, Hathor menjelma menjadi dewi yang paling erat kaitannya dengan sang raja.[66] Sneferu, pendiri Dinasti Keempat, diyakini telah membangun sebuah kuil untuknya, dan Neferhetepes, putri dari Djedefra, merupakan pendeta wanita Hathor pertama yang tercatat dalam sejarah.[107] Para penguasa Kerajaan Lama mendonasikan sumber daya hanya kepada kuil-kuil yang didedikasikan untuk raja-raja tertentu atau dewa-dewi yang memiliki pertalian erat dengan takhta kerajaan. Hathor adalah satu dari segelintir dewa yang menerima penganugerahan semacam itu.[108] Para penguasa pada akhir masa Kerajaan Lama secara khusus menggalakkan kultus pemujaan Hathor di daerah-daerah provinsi, sebagai upaya untuk mengikat wilayah-wilayah tersebut dengan istana kerajaan. Ia kemungkinan telah menyerap sifat-sifat dewi provinsi pada masa itu.[109]
Banyak anggota keluarga kerajaan wanita, meskipun bukan ratu yang memerintah, memegang jabatan dalam kultus pemujaan ini selama era Kerajaan Lama.[110] Mentuhotep II, yang menjadi firaun pertama Kerajaan Pertengahan meskipun tidak memiliki pertalian darah dengan para penguasa Kerajaan Lama, berusaha melegitimasi kekuasaannya dengan menggambarkan dirinya sebagai putra Hathor. Gambar-gambar pertama yang menampilkan sapi-Hathor tengah menyusui sang raja berasal dari masa pemerintahannya, dan beberapa pendeta wanita Hathor digambarkan seolah-olah mereka adalah istri-istrinya, kendati ia mungkin tidak benar-benar menikahi mereka.[111][112] Sepanjang masa Kerajaan Pertengahan, para ratu kian dipandang sebagai perwujudan langsung dari sang dewi, sebagaimana sang raja merupakan pengejawantahan Ra.[113] Penekanan pada sosok ratu sebagai Hathor terus berlanjut hingga masa Kerajaan Baru. Para ratu mulai digambarkan dengan hiasan kepala Hathor pada akhir Dinasti Kedelapan Belas. Sebuah citra dari festival sed Amenhotep III, yang bertujuan untuk merayakan dan memperbarui masa pemerintahannya, memperlihatkan sang raja bersama Hathor dan ratunya, Tiye, yang dapat diartikan bahwa sang raja secara simbolis menikahi sang dewi di tengah perayaan festival tersebut.[114]
Hatshepsut, seorang wanita yang memerintah sebagai firaun pada awal masa Kerajaan Baru, menonjolkan hubungannya dengan Hathor melalui cara yang berbeda.[115] Ia menggunakan nama dan gelar yang menautkannya dengan berbagai dewi, termasuk Hathor, demi melegitimasi kekuasaannya pada kedudukan yang lazimnya dipegang oleh kaum pria.[116] Ia membangun sejumlah kuil untuk Hathor dan mendirikan kuil kamar mayatnya sendiri, yang memadukan sebuah kapel yang didedikasikan untuk sang dewi, di Deir el-Bahari, yang telah menjadi situs pemujaan kultus Hathor sejak era Kerajaan Pertengahan.[115]
Pamor Amun yang begitu termasyhur selama masa Kerajaan Baru memberikan sorotan yang lebih besar kepada pasangannya, Mut, dan sepanjang periode tersebut, Isis mulai tampil dalam peran-peran yang secara turun-temurun hanya menjadi milik Hathor semata, semisal peran dewi di perahu suci matahari. Di balik pamor dewa-dewi ini yang kian menanjak, Hathor tetap memegang peranan penting, khususnya dalam hal kesuburan, seksualitas, dan kedudukan ratu, di sepanjang era Kerajaan Baru.[117]
Setelah berakhirnya Kerajaan Baru, pamor Isis kian membayangi Hathor dan dewi-dewi lainnya seiring ia mengambil alih karakteristik mereka.[118] Pada periode Ptolemaik (305–30 SM), tatkala bangsa Yunani memerintah Mesir dan agama mereka mengembangkan hubungan yang pelik dengan agama Mesir, dinasti Ptolemaik mengadopsi serta memodifikasi ideologi kekuasaan Mesir. Bermula dari Arsinoe II, istri dari Ptolemy II, wangsa Ptolemaik menautkan para ratu mereka secara erat dengan Isis dan beberapa dewi Yunani, khususnya dewi cinta dan seksualitas mereka sendiri, Aphrodite.[119] Kendati demikian, ketika bangsa Yunani merujuk dewa-dewi Mesir dengan nama-nama dewa mereka sendiri (sebuah praktik yang disebut interpretatio graeca), mereka sesekali menyebut Hathor sebagai Aphrodite.[120] Karakteristik Isis, Hathor, dan Aphrodite semuanya dipadukan untuk menjustifikasi perlakuan terhadap para ratu Ptolemaik layaknya seorang dewi. Dengan demikian, penyair Callimachus menyinggung mitos tentang hilangnya jalinan rambut Hathor dalam karya Aetia saat memuji Berenice II karena telah mengorbankan rambutnya sendiri untuk Aphrodite,[46] dan ciri-ciri ikonografi yang dimiliki bersama oleh Isis dan Hathor, seperti tanduk sapi dan hiasan kepala hering, muncul pada rupa-rupa gambar yang melukiskan ratu-ratu Ptolemaik sebagai Aphrodite.[121]
Kuil di Mesir
[sunting | sunting sumber]
Lebih banyak kuil yang didedikasikan untuk Hathor dibandingkan dengan dewi Mesir lainnya.[82] Selama era Kerajaan Lama, pusat pemujaannya yang paling utama berada di wilayah Memphis, tempat "Hathor dari Pohon Ara" dipuja di berbagai situs di seantero Nekropolis Memphis. Pada masa Kerajaan Baru, kuil Hathor dari Pohon Ara Selatan menjadi kuil utamanya di Memphis.[122] Di situs tersebut, ia digambarkan sebagai putri dari dewa utama kota itu, Ptah.[86] Pemujaan Ra dan Atum di Heliopolis, sebelah timur laut Memphis, mencakup pula sebuah kuil untuk Hathor-Nebethetepet yang kemungkinan besar dibangun pada masa Kerajaan Pertengahan. Sebatang pohon dedalu dan pohon ara menjulang di dekat tempat suci tersebut dan mungkin turut dipuja sebagai manifestasi sang dewi.[22] Beberapa kota yang terletak lebih jauh ke utara di Delta Nil, seperti Yamu dan Terenuthis, juga memiliki kuil-kuil yang didedikasikan untuknya.[123]
Dendera, kuil Hathor tertua di Mesir Hulu, berasal setidaknya dari masa Dinasti Keempat.[124] Setelah berakhirnya Kerajaan Lama, pamornya melampaui kedudukan kuil-kuilnya di Memphis.[125] Banyak raja yang menambahkan bangunan pada kompleks kuil ini di sepanjang sejarah Mesir. Versi terakhir dari kuil ini dibangun pada Periode Ptolemaik dan Romawi, dan kini menjadi salah satu kuil Mesir dari masa itu yang paling terawat.[126]
Seiring upaya para penguasa Kerajaan Lama untuk mengembangkan kota-kota di Mesir Hulu dan Mesir Tengah, beberapa pusat pemujaan Hathor didirikan di seluruh penjuru wilayah tersebut, di situs-situs seperti Cusae, Akhmim, dan Naga ed-Der.[127] Pada Periode Menengah Pertama (sekitar 2181–2055 SM), patung pemujaannya dari Dendera secara berkala diarak menuju nekropolis Thebes. Pada awal masa Kerajaan Pertengahan, Mentuhotep II mendirikan pusat pemujaan permanen untuknya di nekropolis Deir el-Bahari.[128] Desa Deir el-Medina di dekatnya, yang menjadi rumah bagi para pekerja makam nekropolis selama masa Kerajaan Baru, juga menyimpan kuil-kuil Hathor. Salah satunya terus difungsikan dan secara berkala dibangun kembali hingga Periode Ptolemaik, berabad-abad setelah desa tersebut ditinggalkan.[129]
Di era Kerajaan Lama, sebagian besar pendeta Hathor, termasuk pada tingkatan tertinggi, adalah kaum wanita. Banyak dari wanita ini merupakan anggota keluarga kerajaan.[130] Sepanjang masa Kerajaan Pertengahan, keterlibatan wanita kian tersingkir dari posisi kependetaan tertinggi, bersamaan dengan para ratu yang semakin terikat erat pada kultus Hathor. Dengan demikian, para wanita yang bukan berasal dari kalangan bangsawan menghilang dari jajaran tinggi kependetaan Hathor,[131] meskipun kaum wanita tetap mengabdi sebagai pemusik dan penyanyi dalam pemujaan kuil di seluruh Mesir.[132]
Ritus kuil yang paling sering dilakukan bagi dewa mana pun adalah ritual persembahan harian, di mana citra atau patung pemujaan dari seorang dewa akan diberi pakaian dan disuguhi makanan.[133] Ritual harian ini pada dasarnya sama di setiap kuil Mesir,[133] meskipun barang-barang yang dipersembahkan dapat bervariasi bergantung pada dewa yang menerimanya.[134] Anggur dan bir merupakan persembahan yang lazim di semua kuil, tetapi secara khusus ditonjolkan dalam ritual penghormatan bagi Hathor,[135] dan ia beserta dewi-dewi yang memiliki pertalian dengannya sering kali menerima sistrum dan kalung menat. [134] Pada masa Akhir dan Ptolemaik, mereka juga dipersembahkan sepasang cermin, yang melambangkan matahari dan bulan.[136]
Festival
[sunting | sunting sumber]Banyak festival tahunan Hathor dirayakan dengan pesta minum dan tarian yang mengemban tujuan ritualistik. Para peserta pesta di festival-festival ini mungkin bertujuan untuk mencapai kondisi ekstasi keagamaan, suatu hal yang terbilang langka atau bahkan tidak ada dalam praktik agama Mesir kuno lainnya. Graves-Brown mengemukakan bahwa para peraya dalam festival Hathor bertujuan untuk mencapai perubahan kesadaran agar mereka dapat berinteraksi dengan alam ilahi.[137] Salah satu contohnya adalah Festival Kemabukan, yang memperingati kembalinya Mata Ra, yang dirayakan pada hari kedua puluh bulan Thout di kuil-kuil yang didedikasikan untuk Hathor dan dewi-dewi Mata lainnya. Perayaan ini telah dilangsungkan sejak era Kerajaan Pertengahan, namun paling tersohor pada masa Ptolemaik dan Romawi.[137] Tarian, makan, dan minum yang berlangsung selama Festival Kemabukan melambangkan kebalikan dari kesedihan, kelaparan, dan kehausan yang selalu ditautkan oleh bangsa Mesir dengan kematian. Berbeda dengan amukan Mata Ra yang mendatangkan maut bagi umat manusia, Festival Kemabukan merayakan kehidupan, kelimpahan, dan sukacita.[138]
Dalam sebuah festival lokal di Thebes yang dikenal sebagai Festival Lembah yang Indah, yang mulai dirayakan pada masa Kerajaan Pertengahan, citra pemujaan Amun dari Kuil Karnak diarak mengunjungi kuil-kuil di Nekropolis Thebes sementara warga masyarakat mendatangi makam kerabat mereka yang telah tiada untuk minum, makan, dan berpesta. [139] Hathor tidak dilibatkan dalam festival ini hingga awal masa Kerajaan Baru,[140] setelah itu, persinggahan semalam Amun di kuil-kuil di Deir el-Bahari mulai dipandang sebagai penyatuan seksualnya dengan sang dewi.[141]
Sejumlah kuil pada era Ptolemaik, termasuk kuil di Dendera, merayakan tahun baru Mesir dengan serangkaian upacara di mana citra dewa kuil diyakini mendapatkan vitalitas baru melalui kontak dengan dewa matahari. Pada hari-hari menjelang tahun baru, patung Hathor di Dendera dibawa ke wabet, sebuah ruangan khusus di dalam kuil, dan ditempatkan di bawah langit-langit yang dihiasi lukisan langit dan matahari. Pada hari pertama tahun baru, hari pertama bulan Thoth, citra Hathor dibawa ke atap kuil untuk dimandikan dalam siraman cahaya matahari sungguhan.[142]
Festival yang paling terdokumentasi dengan baik yang berpusat pada Hathor adalah perayaan Ptolemaik lainnya, yakni Festival Penyatuan yang Indah. Festival ini dilangsungkan selama empat belas hari pada bulan Epiphi.[143][144] Citra pemujaan Hathor dari Dendera diarak menggunakan perahu menuju beberapa situs kuil untuk mengunjungi dewa-dewa di kuil tersebut. Titik akhir dari perjalanan tersebut adalah Kuil Horus di Edfu, di mana patung Hathor dari Dendera bersua dengan patung Horus dari Edfu dan keduanya disandingkan bersama.[145] Pada suatu hari dalam festival tersebut, citra-citra ini dibawa keluar menuju sebuah tempat suci yang konon menjadi tempat pemakaman para dewa purba seperti dewa matahari dan para Ennead. Teks-teks tersebut mengisahkan bahwa pasangan ilahi ini melakukan ritus persembahan bagi para dewa yang disemayamkan itu.[146] Banyak pakar Mesir Kuno menganggap festival ini sebagai pernikahan ritualistik antara Horus dan Hathor, kendati Martin Stadler menentang pandangan ini, dengan berpendapat bahwa perayaan itu justru melambangkan peremajaan dari para dewa pencipta yang telah dikuburkan.[147] C. J. Bleeker memandang Penyatuan yang Indah sebagai perayaan lain atas kembalinya sang Dewi yang Jauh, mengutip kiasan-kiasan dalam teks festival kuil yang merujuk pada mitos mata dewa matahari.[148] Barbara Richter berargumen bahwa festival ini melambangkan ketiga hal tersebut sekaligus. Ia menyoroti fakta bahwa kelahiran putra Horus dan Hathor, Ihy, dirayakan di Dendera sembilan bulan setelah Festival Penyatuan yang Indah, yang mengisyaratkan bahwa kunjungan Hathor kepada Horus melambangkan momen pembuahan Ihy.[149]
Bulan ketiga dalam kalender Mesir, Hathor atau Athyr, dinamai untuk menghormati sang dewi. Rangkaian perayaan untuk menghormatinya dilangsungkan di sepanjang bulan tersebut, meskipun hal ini tidak tercatat dalam teks-teks dari Dendera.[150]
Pemujaan di luar Mesir
[sunting | sunting sumber]Sejak masa Kerajaan Lama, raja-raja Mesir mendonasikan berbagai persembahan ke kuil Baalat Gebal di Byblos, memanfaatkan sinkretisme Baalat dengan Hathor untuk memperkukuh kedekatan hubungan dagang mereka dengan Byblos.[151] Sebuah kuil untuk Hathor sebagai Nyonya Byblos dibangun pada masa pemerintahan Thutmose III, meskipun bangunan tersebut mungkin sekadar tempat suci di dalam kuil Baalat.[152] Setelah runtuhnya Kerajaan Baru, pamor Hathor di Byblos meredup seiring dengan terputusnya ikatan perniagaan Mesir dengan kota tersebut. Beberapa artefak dari awal milenium pertama SM menyiratkan bahwa bangsa Mesir mulai menyamakan Baalat dengan Isis pada masa itu.[153] Sebuah mitos mengenai kehadiran Isis di Byblos, yang dituturkan oleh penulis Yunani Plutarch dalam karyanya Tentang Isis dan Osiris pada abad ke-2 M, menyiratkan bahwa pada masanya Isis telah sepenuhnya menggeser kedudukan Hathor di kota tersebut.[154]
Sebuah liontin yang ditemukan di makam Mykenai di Pylos, yang berasal dari abad ke-16 SM, menampilkan wajah Hathor. Keberadaannya di makam tersebut menyiratkan bahwa peradaban Mykenai mungkin telah mengetahui keterkaitan Hathor dengan alam baka menurut keyakinan Mesir. [155]
Bangsa Mesir di Semenanjung Sinai membangun segelintir kuil di kawasan tersebut. Yang terbesar adalah sebuah kompleks yang didedikasikan terutama untuk Hathor sebagai pelindung pertambangan di Serabit el-Khadim, di sisi barat semenanjung itu. [156] Situs ini ditempati sejak pertengahan Kerajaan Pertengahan hingga menjelang akhir Kerajaan Baru.[157] Lembah Timna, yang terletak di tapal batas kekaisaran Mesir di sisi timur semenanjung, merupakan lokasi ekspedisi pertambangan musiman selama Kerajaan Baru. Tempat ini mencakup sebuah tempat suci bagi Hathor yang mungkin ditelantarkan di luar musim pertambangan. Penduduk Midian setempat, yang dikerahkan oleh bangsa Mesir sebagai bagian dari tenaga kerja tambang, mungkin turut memberikan persembahan kepada Hathor sebagaimana yang dilakukan oleh para pengawas mereka. Namun, setelah bangsa Mesir meninggalkan situs tersebut pada masa Dinasti Kedua Puluh, orang-orang Midian merombak tempat suci tersebut menjadi sebuah kemah suci yang didedikasikan untuk dewa-dewi mereka sendiri.[158]
Sebaliknya, bangsa Nubia di wilayah selatan sepenuhnya memadukan Hathor ke dalam agama mereka. Selama Kerajaan Baru, ketika sebagian besar wilayah Nubia berada di bawah kendali Mesir, para firaun mendarmabaktikan beberapa kuil di Nubia untuk Hathor, semisal di Faras dan Mirgissa.[79] Amenhotep III dan Ramesses II sama-sama membangun kuil di Nubia yang mengagungkan ratu mereka masing-masing sebagai manifestasi dari dewi-dewi, tak terkecuali Hathor: istri Amenhotep, Tiye, di Sedeinga[159] dan istri Ramses, Nefertari, di Kuil Kecil Abu Simbel. [160] Kerajaan Kush yang merdeka, yang bangkit di Nubia setelah keruntuhan Kerajaan Baru, menyandarkan keyakinannya mengenai raja-raja Kush pada ideologi kerajaan Mesir. Oleh karenanya, Hathor, Isis, Mut, dan Nut semuanya dipandang sebagai ibu mitologis bagi setiap raja Kush dan disamakan dengan kerabat wanita mereka, seperti kandake, sang ratu Kush atau ibu suri, yang mengemban peran terkemuka dalam agama Kushite.[161] Di Jebel Barkal, sebuah situs yang disucikan bagi Amun, raja Kush Taharqa mendirikan sepasang kuil, satu didedikasikan untuk Hathor dan satu lagi untuk Mut sebagai pasangan Amun, menggantikan kuil-kuil Mesir peninggalan Kerajaan Baru yang mungkin pernah didedikasikan untuk dewi-dewi yang sama.[162] Akan tetapi, Isis adalah dewi Mesir yang paling terkemuka yang dipuja di Nubia, dan kedudukannya di sana kian menanjak seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, pada periode Meroitik dalam sejarah Nubia (sekitar 300 SM – 400 M), Hathor lebih sering tampil di kuil-kuil sebagai pendamping Isis.[163]
Pemujaan populer
[sunting | sunting sumber]
Di samping ritual-ritual resmi dan terbuka di kuil-kuil, bangsa Mesir juga memuja dewa-dewi secara pribadi untuk berbagai tujuan personal, termasuk di rumah mereka sendiri. Proses persalinan penuh akan marabahaya bagi ibu maupun anak di Mesir kuno, padahal kehadiran anak sangatlah didambakan. Oleh karena itu, kesuburan dan keselamatan melahirkan menjadi beberapa kekhawatiran yang paling utama dalam agama populer, dan dewa-dewi kesuburan seperti Hathor dan Taweret lazim dipuja di berbagai altar rumah tangga. Wanita Mesir berjongkok di atas batu bata saat melahirkan, dan satu-satunya bata persalinan dari Mesir kuno yang diketahui masih bertahan dihiasi dengan lukisan seorang wanita yang menggendong bayinya serta diapit oleh wujud-wujud Hathor. [164] Pada zaman Romawi, patung-patung terakota, yang terkadang ditemukan dalam konteks permukiman, melukiskan seorang wanita dengan hiasan kepala rumit yang menyingkapkan alat kelaminnya, sebagaimana yang dilakukan Hathor untuk menghibur Ra. [165] Makna di balik patung-patung ini belum diketahui secara pasti,[166] namun sering kali diyakini mewakili Hathor atau Isis yang dipadukan dengan Aphrodite yang tengah melakukan gestur sebagai lambang kesuburan atau perlindungan terhadap bala.[165]
Hathor merupakan satu dari segelintir dewa, bersama Amun, Ptah, dan Thoth, yang secara lumrah dimintai pertolongannya untuk mengatasi pelbagai permasalahan pribadi.[167] Banyak orang Mesir meninggalkan sesajen di kuil atau tempat suci kecil yang didedikasikan untuk dewa yang mereka seru. Sebagian besar persembahan untuk Hathor ditujukan demi nilai simbolisnya, bukan untuk nilai intrinsiknya. Kain-kain yang dilukis dengan citra Hathor sering kali dipersembahkan, begitu pula plakat serta patung-patung kecil yang menggambarkan wujud binatangnya. Berbagai jenis persembahan mungkin melambangkan tujuan yang berbeda dari sang pemberi, namun maknanya lazimnya tak diketahui. Citra-citra Hathor mengisyaratkan peran-peran mitologisnya, seperti penggambaran sapi maternal di tengah rawa.[168] Persembahan berupa sistra mungkin diniatkan untuk menenteramkan aspek-aspek buas dari sang dewi dan memunculkan sifat positifnya,[169] sementara persembahan wujud lingga melambangkan permohonan akan kesuburan, sebagaimana yang tertera pada sebuah prasasti yang ditemukan pada salah satu contohnya.[170]
Sejumlah warga Mesir juga meninggalkan doa-doa tertulis kepada Hathor, yang dipahatkan pada stela atau digoreskan sebagai grafiti.[167] Doa kepada dewa-dewa tertentu, seperti Amun, menunjukkan bahwa mereka diyakini akan menghukum para pendosa dan menyembuhkan orang-orang yang bertobat dari keburukan mereka. Sebaliknya, doa-doa yang dipanjatkan kepada Hathor semata-mata menyebutkan berkah yang dapat ia anugerahkan, seperti kelimpahan pangan semasa hidup dan perbekalan pemakaman yang layak setelah kematian.[171]
Praktik pemakaman
[sunting | sunting sumber]
Sebagai dewi alam baka, Hathor kerap menampakkan diri dalam teks dan seni pemakaman. Pada awal masa Kerajaan Baru, misalnya, ia merupakan satu dari tiga dewa yang paling lazim dijumpai dalam hiasan makam kerajaan, bersama dengan Osiris dan Anubis.[172] Pada periode tersebut, ia sering kali tampil sebagai dewi yang menyambut orang-orang yang telah wafat menuju alam baka.[173] Sejumlah gambaran lain merujuk kepadanya secara lebih tersirat. Relief-relief di makam Kerajaan Lama memperlihatkan pria dan wanita tengah melangsungkan sebuah ritual yang disebut "menggoyangkan papirus". Makna di balik ritus ini belum diketahui secara pasti, namun berbagai prasasti sesekali menyebutkan bahwa ritual tersebut dilangsungkan "untuk Hathor", dan menggoyangkan batang-batang papirus menghasilkan suara gemerisik yang mungkin diumpamakan dengan bunyi gemerincing dari sebuah sistrum.[174] Pencitraan Hathorik lainnya di dalam makam meliputi sapi yang menyembul dari gunung nekropolis[85] dan sosok sang dewi yang duduk menguasai sebuah taman di alam baka.[90] Citra Nut sering kali dilukis atau diukir di bagian dalam peti mati, yang menandakan bahwa peti tersebut adalah rahimnya, tempat sang penghuni akan dilahirkan kembali di alam baka. Pada Periode Menengah Ketiga, rupa Hathor mulai ditempatkan di dasar peti mati, sementara Nut berada di bagian dalam penutupnya.[88]
Seni makam dari Dinasti Kedelapan Belas sering melukiskan orang-orang yang tengah minum, menari, dan bermain musik, sembari memegang kalung menat dan sistra—yang seluruhnya merupakan pencitraan yang merujuk pada Hathor. Gambar-gambar ini mungkin melambangkan perjamuan pribadi yang dirayakan di depan makam untuk mengenang orang-orang yang disemayamkan di sana, atau mungkin pula memperlihatkan perkumpulan pada festival-festival kuil semisal Festival Lembah yang Indah.[175] Festival-festival diyakini dapat membuka ruang kontak antara alam manusia dan alam ilahi, dan lebih jauh lagi, antara dunia orang hidup dan orang mati. Dengan demikian, teks-teks dari makam sering kali menyiratkan harapan agar sang mendiang dapat turut serta dalam berbagai festival, utamanya yang didedikasikan untuk Osiris.[176] Akan tetapi, pencitraan festival di makam-makam tersebut mungkin juga merujuk pada perayaan yang melibatkan Hathor, seperti Festival Kemabukan, ataupun perjamuan-perjamuan pribadi, yang juga berkaitan erat dengannya. Pesta minum dan tarian pada perjamuan-perjamuan ini mungkin diniatkan untuk memabukkan para pesertanya, sebagaimana pada Festival Kemabukan, sehingga memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dengan roh-roh para mendiang.[175]
Hathor dikisahkan menyediakan persembahan bagi orang-orang yang telah wafat sejak masa Kerajaan Lama, dan mantra-mantra untuk memungkinkan pria maupun wanita bergabung dengan rombongannya di alam baka telah muncul sejak Teks Peti Mati.[94] Beberapa barang bawaan pemakaman yang menggambarkan mendiang wanita sebagai dewi-dewi mungkin melukiskan para wanita tersebut sebagai pengikut Hathor, meskipun belum dapat dipastikan apakah pencitraan itu merujuk pada Hathor atau Isis. Pertalian antara Hathor dan para mendiang wanita ini terus dipertahankan hingga Periode Romawi, babak terakhir dari agama Mesir kuno sebelum mengalami kepunahan.[177]
Referensi
[sunting | sunting sumber]Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Hart 2005, hlm. 61.
- ↑ Hassan 1992, hlm. 15.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 15–17.
- 1 2 Wilkinson 1999, hlm. 244–245.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 214.
- 1 2 Fischer 1962, hlm. 11–13.
- ↑ Troy 1986, hlm. 54.
- 1 2 Lesko 1999, hlm. 81–83.
- ↑ Fischer 1962, hlm. 7, 14–15.
- 1 2 Wilkinson 2003, hlm. 77, 145.
- 1 2 Gillam 1995, hlm. 217–218.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 71–72.
- ↑ Troy 1986, hlm. 53–54.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 31–34, 46–47.
- 1 2 Graves-Brown 2010, hlm. 130.
- ↑ Billing 2004, hlm. 39.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 25, 48.
- 1 2 3 Wilkinson 2003, hlm. 140.
- ↑ Richter 2016, hlm. 128, 184–185.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 156.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 155.
- 1 2 Quirke 2001, hlm. 102–105.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 218.
- ↑ Troy 1986, hlm. 21–23, 25–27.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 129–130.
- ↑ Ritner 1990, hlm. 39.
- 1 2 Graves-Brown 2010, hlm. 169–170.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 71–74.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 130.
- ↑ Harrington 2016, hlm. 132–134.
- ↑ Finnestad 1999, hlm. 113–115.
- ↑ Manniche 2010, hlm. 13–14, 16–17.
- ↑ Poo 2009, hlm. 153–157.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 57.
- ↑ Darnell 1995, hlm. 48.
- ↑ Darnell 1995, hlm. 54, 62, 91–94.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 138.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 99, 141, 156.
- ↑ Cruz-Uribe 1994, hlm. 185, 187–188.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 155.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 127.
- ↑ Darnell 1995, hlm. 47, 69.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 197.
- ↑ Schneider 2007, hlm. 315–317.
- ↑ Morris 2007, hlm. 198–199, 201, 207.
- 1 2 Selden 1998, hlm. 346–348.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 40–41.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 82–83.
- ↑ Hart 2005, hlm. 62.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 175–176.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 131–132.
- ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 183–184.
- 1 2 Wilkinson 2003, hlm. 132–133.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 123, 168.
- ↑ Hart 2005, hlm. 71.
- ↑ Roberts 2000, hlm. 26–27.
- ↑ Richter 2016, hlm. 179–182.
- ↑ McClain 2011, hlm. 3–6.
- ↑ Richter 2016, hlm. 169–172, 185.
- ↑ Griffiths 2001, hlm. 189.
- 1 2 te Velde 2001, hlm. 455.
- ↑ Hoffmeier 2001, hlm. 507–508.
- ↑ Hollis 2020, hlm. 53.
- 1 2 Bleeker 1973, hlm. 72–74.
- ↑ Darnell 1995, hlm. 93–94.
- 1 2 Hollis 2009, hlm. 2.
- ↑ Espinel 2002, hlm. 117–119.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 139.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 137.
- ↑ Cornelius 2004, hlm. 45.
- ↑ Cornelius 2004, hlm. 96–97.
- ↑ Hart 2005, hlm. 132.
- 1 2 3 Hart 2005, hlm. 65.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 52.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 49–50.
- 1 2 Wilkinson 2003, hlm. 143.
- ↑ Espinel 2005, hlm. 61, 65–66.
- ↑ Yellin 2012, hlm. 125–128.
- 1 2 Wilkinson 2000, hlm. 227–230.
- ↑ Hollis 2020, hlm. 48.
- ↑ Smith 2017, hlm. 251–252.
- 1 2 Graves-Brown 2010, hlm. 166.
- ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 88, 164.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 145–146.
- 1 2 Pinch 1993, hlm. 179–180.
- 1 2 Vischak 2001, hlm. 82.
- ↑ Assmann 2005, hlm. 170–173.
- 1 2 Lesko 1999, hlm. 39–40, 110.
- ↑ Assmann 2005, hlm. 152–154, 170–173.
- 1 2 Billing 2004, hlm. 42–43.
- ↑ Billing 2004, hlm. 37–38.
- ↑ Cooney 2010, hlm. 227–229.
- ↑ Cooney 2010, hlm. 227–229, 235–236.
- 1 2 Smith 2017, hlm. 251–254.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 143–144, 148.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 77, 175.
- ↑ Pinch 2002, hlm. 198–199.
- ↑ Roberts 1997, hlm. 8–10.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 190–197.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 168–169.
- ↑ Graham 2001, hlm. 166.
- 1 2 Pinch 1993, hlm. 153–159.
- ↑ Wilkinson 1993, hlm. 32, 83.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 278.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 135–139.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 48–49.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 215.
- ↑ Goedicke 1978, hlm. 118–123.
- ↑ Morris 2011, hlm. 75–76.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 222–226, 231.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 231.
- ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 135–136.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 234.
- ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 132–133.
- 1 2 Lesko 1999, hlm. 105–107.
- ↑ Robins 1999, hlm. 107–112.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 119–120, 178–179.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 129.
- ↑ Selden 1998, hlm. 312, 339.
- ↑ Wilkinson 2003, hlm. 141.
- ↑ Cheshire 2007, hlm. 157–163.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 219–221.
- ↑ Wilkinson 2000, hlm. 108, 111.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 227.
- ↑ Vischak 2001, hlm. 83.
- ↑ Wilkinson 2000, hlm. 149–151.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 226, 229.
- ↑ Goedicke 1991, hlm. 245, 252.
- ↑ Wilkinson 2000, hlm. 189–190.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 240–241.
- ↑ Gillam 1995, hlm. 233–234.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 243–244.
- 1 2 Thompson 2001, hlm. 328.
- 1 2 Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 126–128.
- ↑ Poo 2010, hlm. 2–3.
- ↑ Derriks 2001, hlm. 421–422.
- 1 2 Graves-Brown 2010, hlm. 166–169.
- ↑ Frandsen 1999, hlm. 131, 142–143.
- ↑ Teeter 2011, hlm. 67–68.
- ↑ Sadek 1988, hlm. 49.
- ↑ Teeter 2011, hlm. 70.
- ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 193–198.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 93.
- ↑ Richter 2016, hlm. 4.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 94.
- ↑ Verner 2013, hlm. 437–439.
- ↑ Stadler 2008, hlm. 4–6.
- ↑ Bleeker 1973, hlm. 98–101.
- ↑ Richter 2016, hlm. 4, 202–205.
- ↑ Verner 2013, hlm. 43.
- ↑ Espinel 2002, hlm. 116–118.
- ↑ Traunecker 2001, hlm. 110.
- ↑ Zernecke 2013, hlm. 227–230.
- ↑ Hollis 2009, hlm. 4–5.
- ↑ Lobell 2020.
- ↑ Wilkinson 2000, hlm. 238–239.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 55–57.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 59–69.
- ↑ Morkot 2012, hlm. 325–326.
- ↑ Fisher 2012, hlm. 357–358.
- ↑ Kendall 2010b.
- ↑ Kendall 2010a, hlm. 1, 12.
- ↑ Yellin 2012, hlm. 128, 133.
- ↑ Ritner 2008, hlm. 173–175, 181.
- 1 2 Morris 2007, hlm. 218–219.
- ↑ Sandri 2012, hlm. 637–638.
- 1 2 Pinch 1993, hlm. 349–351.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 119, 347, 354–355.
- ↑ Pinch 1993, hlm. 157–158.
- ↑ Lesko 2008, hlm. 203–204.
- ↑ Sadek 1988, hlm. 89, 114–115.
- ↑ Lesko 1999, hlm. 110.
- ↑ Assmann 2005, hlm. 171.
- ↑ Woods 2011, hlm. 314–316.
- 1 2 Harrington 2016, hlm. 132–136, 144–147.
- ↑ Assmann 2005, hlm. 225.
- ↑ Smith 2017, hlm. 384–389.
Karya yang dikutip
[sunting | sunting sumber]- Assmann, Jan (2005) [German edition 2001]. Death and Salvation in Ancient Egypt. Translated by David Lorton. Cornell University Press. ISBN 978-0801442414.
- Billing, Nils (2004). "Writing an Image: The Formulation of the Tree Goddess Motif in the Book of the Dead, Ch. 59". Studien zur Altägyptischen Kultur. 32: 35–50. JSTOR 25152905.
- Bleeker, C. J. (1973). Hathor and Thoth: Two Key Figures of the Ancient Egyptian Religion. Brill. ISBN 978-9004037342.
- Cheshire, Wendy A. (2007). "Aphrodite Cleopatra". Journal of the American Research Center in Egypt. 43: 151–191. JSTOR 27801612.
- Cooney, Kathlyn M. (December 2010). "Gender Transformation in Death: A Case Study of Coffins from Ramesside Period Egypt" (PDF). Near Eastern Archaeology. 73 (4): 224–237. doi:10.1086/NEA41103940. JSTOR 41103940. S2CID 166450284. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-04-02.
- Cornelius, Izak (2004). The Many Faces of the Goddess: The Iconography of the Syro-Palestinian Goddesses Anat, Astarte, Qedeshet, and Asherah c. 1500–1000 BCE. Academic Press Fribourg / Vandenhoeck & Ruprecht Göttingen. ISBN 978-3727814853
- Cruz-Uribe, Eugene (1994). "The Khonsu Cosmogony". Journal of the American Research Center in Egypt. 31: 169–189. doi:10.2307/40000676. JSTOR 40000676.
- Darnell, John Coleman (1995). "Hathor Returns to Medamûd". Studien zur Altägyptischen Kultur. 22: 47–94. JSTOR 25152711.
- Derriks, Claire (2001). "Mirrors". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 419–422. ISBN 978-0195102345.
- Espinel, Andrés Diego (2002). "The Role of the Temple of Ba'alat Gebal as Intermediary between Egypt and Byblos during the Old Kingdom". Studien zur Altägyptischen Kultur. 30: 103–119. JSTOR 25152861.
- Espinel, Andrés Diego (2005). "A Newly Identified Stela from Wadi el-Hudi (Cairo JE 86119)". The Journal of Egyptian Archaeology. 91: 55–70. doi:10.1177/030751330509100104. JSTOR 3822393. S2CID 190217800.
- Finnestad, Ragnhild (1999). "Enjoying the Pleasures of Sensation: Reflections on A Significant Feature of Egyptian Religion" (PDF). Dalam Teeter, Emily; Larson, John A. (ed.). Gold of Praise: Studies on Ancient Egypt in Honor of Edward F. Wente. The Oriental Institute of the University of Chicago. hlm. 111–119. ISBN 978-1885923097. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2015-04-20.
- Fischer, Henry George (1962). "The Cult and Nome of the Goddess Bat". Journal of the American Research Center in Egypt. 1: 7–18. doi:10.2307/40000855. JSTOR 40000855.
- Fisher, Marjorie M. (2012). "Abu Simbel". Dalam Fisher, Marjorie M.; Lacovara, Peter; Ikram, Salima; D'Auria, Sue (ed.). Ancient Nubia: African Kingdoms on the Nile. The American University in Cairo Press. hlm. 356–360. ISBN 978-9774164781.
- Frandsen, Paul John (1999). "On Fear of Death and the Three bwts Connected with Hathor" (PDF). Dalam Teeter, Emily; Larson, John A. (ed.). Gold of Praise: Studies on Ancient Egypt in Honor of Edward F. Wente. The Oriental Institute of the University of Chicago. hlm. 131–148. ISBN 978-1885923097. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2015-04-20.
- Gillam, Robyn A. (1995). "Priestesses of Hathor: Their Function, Decline and Disappearance". Journal of the American Research Center in Egypt. 32: 211–237. doi:10.2307/40000840. JSTOR 40000840.
- Goedicke, Hans (1978). "Cult-Temple and 'State' During the Old Kingdom in Egypt". Dalam Lipiński, Edward (ed.). State and Temple Economy in the Ancient Near East. Departement Oriëntalistiek. hlm. 113–130. ISBN 978-9070192037.
- Goedicke, Hans (October 1991). "The Prayers of Wakh-ʿankh-antef-ʿAa". Journal of Near Eastern Studies. 50 (4): 235–253. doi:10.1086/373513. JSTOR 545487. S2CID 162271458. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-08. Diakses tanggal 2020-04-02.
- Graham, Geoffrey (2001). "Insignias". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 163–167. ISBN 978-0195102345.
- Graves-Brown, Carolyn (2010). Dancing for Hathor: Women in Ancient Egypt. Continuum. ISBN 978-1847250544.
- Griffiths, J. Gwyn (2001). "Isis". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 188–191. ISBN 978-0195102345.
- Harrington, Nicola (2016). "The Eighteenth Dynasty Egyptian Banquet: Ideals and Realities". Dalam Draycott, Catherine M.; Stamatopolou, Maria (ed.). Dining and Death: Interdisciplinary Perspectives on the 'Funerary Banquet' in Ancient Art, Burial and Belief. Peeters. hlm. 129–172. ISBN 978-9042932517.
- Hart, George (2005). The Routledge Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses, Second Edition. Routledge. hlm. 61–65. ISBN 978-0203023624.
- Hassan, Fekri A. (1992). "Primeval Goddess to Divine King: The Mythogenesis of Power in the Early Egyptian State". Dalam Friedman, Renee; Adams, Barbara (ed.). The Followers of Horus: Studies Dedicated to Michael Allen Hoffman. Oxbow Books. hlm. 307–319. ISBN 978-0946897445.
- Hoffmeier, James K. (2001). "Fate". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 507–508. ISBN 978-0195102345.
- Hollis, Susan Tower (2009). "Hathor and Isis in Byblos in the Second and First Millennia BCE". Journal of Ancient Egyptian Interconnections. 1 (2). doi:10.2458/azu_jaei_v01i2_tower_hollis. ISSN 1944-2815.
- Hollis, Susan Tower (2020). Five Egyptian Goddesses: Their Possible Beginnings, Actions, and Relationships in the Third Millennium BCE. Bloomsbury Academic. ISBN 978-1-7809-3595-9.
- Kendall, Timothy (2010a). "B 200 and B 300: Temples of the Goddesses Hathor and Mut" (PDF). Jebel Barkal History and Archaeology. National Corporation of Antiquities and Museums (NCAM), Sudan. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- Kendall, Timothy (2010b). "The Napatan Period". Jebel Barkal History and Archaeology. National Corporation of Antiquities and Museums (NCAM), Sudan. Diarsipkan dari asli tanggal 16 November 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- Lesko, Barbara S. (1999). The Great Goddesses of Egypt. University of Oklahoma Press. ISBN 978-0806132020.
- Lesko, Barbara S. (2008). "Household and Domestic Religion in Egypt". Dalam Bodel, John; Olyan, Saul M. (ed.). Household and Family Religion in Antiquity. Blackwell. hlm. 197–209. ISBN 978-1405175791.
- Lobell, Jarrett A. (March–April 2020). "Field of Tombs". Archaeology. 73 (2).
- Manniche, Lise (2010). "The Cultic Significance of the Sistrum in the Amarna Period". Dalam Woods, Alexandra; McFarlane, Ann; Binder, Susanne (ed.). Egyptian Culture and Society: Studies in Honour of Naguib Kanawati. Conseil Suprême des Antiquités de l'Égypte. hlm. 13–26. ISBN 978-9774798450.
- McClain, Brett (2011). Wendrich, Willeke (ed.). "Cosmogony (Late to Ptolemaic and Roman Periods)". UCLA Encyclopedia of Egyptology. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 10 September 2018.
- Meeks, Dimitri; Favard-Meeks, Christine (1996) [French edition 1993]. Daily Life of the Egyptian Gods. Translated by G. M. Goshgarian. Cornell University Press. ISBN 978-0801431159.
- Morris, Ellen F. (2007). "Sacred and Obscene Laughter in 'The Contendings of Horus and Seth', in Egyptian Inversions of Everyday Life, and in the Context of Cultic Competition". Dalam Schneider, Thomas; Szpakowska, Kasia (ed.). Egyptian Stories: A British Egyptological Tribute to Alan B. Lloyd on the Occasion of His Retirement. Ugarit-Verlag. hlm. 197–224. ISBN 978-3934628946.
- Morris, Ellen F. (2011). "Paddle Dolls and Performance". Journal of the American Research Center in Egypt. 47: 71–103. doi:10.7916/D8PK1ZM4. JSTOR 24555386.
- Morkot, Robert G. (2012). "Sedeinga". Dalam Fisher, Marjorie M.; Lacovara, Peter; Ikram, Salima; D'Auria, Sue (ed.). Ancient Nubia: African Kingdoms on the Nile. The American University in Cairo Press. hlm. 325–328. ISBN 978-9774164781.
- Pinch, Geraldine (1993). Votive Offerings to Hathor. Griffith Institute. ISBN 978-0900416545.
- Pinch, Geraldine (2002). Egyptian Mythology: A Guide to the Gods, Goddesses, and Traditions of Ancient Egypt. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-517024-5.
- Poo, Mu-Chou (2009) [First edition 1995]. Wine and Wine Offering in the Religion of Ancient Egypt. Routledge. ISBN 978-0710305015.
- Poo, Mu-Chou (2010). Wendrich, Willeke (ed.). "Liquids in Temple Ritual". UCLA Encyclopedia of Egyptology. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 10 September 2018.
- Quirke, Stephen (2001). The Cult of Ra: Sun Worship in Ancient Egypt. Thames and Hudson. ISBN 978-0500051078.
- Richter, Barbara A. (2016). The Theology of Hathor of Dendera: Aural and Visual Scribal Techniques in the Per-Wer Sanctuary. Lockwood Press. ISBN 978-1937040512.
- Ritner, Robert K. (1990). "O. Gardiner 363: A Spell Against Night Terrors". Journal of the American Research Center in Egypt. 27: 25–41. doi:10.2307/40000071. JSTOR 40000071.
- Ritner, Robert K. (2008). "Household Religion in Ancient Egypt". Dalam Bodel, John; Olyan, Saul M. (ed.). Household and Family Religion in Antiquity. Blackwell. hlm. 171–196. ISBN 978-1405175791.
- Roberts, Alison (1997) [First edition 1995]. Hathor Rising: The Power of the Goddess in Ancient Egypt. Inner Traditions International. ISBN 978-0892816217.
- Roberts, Alison (2000). My Heart My Mother: Death and Rebirth in Ancient Egypt. NorthGate Publishers. ISBN 978-0952423317.
- Robins, Gay (1999). "The Names of Hatshepsut as King". The Journal of Egyptian Archaeology. 85: 103–112. doi:10.1177/030751339908500107. JSTOR 3822429. S2CID 162426276.
- Sadek, Ashraf I. (1988). Popular Religion in Egypt during the New Kingdom. Gerstenber. ISBN 978-3806781076.
- Sandri, Sandra (2012). "Terracottas". Dalam Riggs, Christina (ed.). The Oxford Handbook of Roman Egypt. Oxford University Press. hlm. 630–647. ISBN 978-0199571451.
- Schneider, Thomas (2007). "Contextualising the Tale of the Herdsman". Dalam Schneider, Thomas; Szpakowska, Kasia (ed.). Egyptian Stories: A British Egyptological Tribute to Alan B. Lloyd on the Occasion of His Retirement. Ugarit-Verlag. hlm. 309–318. ISBN 978-3934628946.
- Selden, Daniel L. (October 1998). "Alibis" (PDF). Classical Antiquity. 17 (2): 289–412. doi:10.2307/25011086. JSTOR 25011086. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-07-21.
- Smith, Mark (2017). Following Osiris: Perspectives on the Osirian Afterlife from Four Millennia. Oxford University Press. ISBN 978-0199582228.
- Stadler, Martin (2008). Wendrich, Willeke (ed.). "Procession". UCLA Encyclopedia of Egyptology. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 10 September 2018.
- Teeter, Emily (2011). Religion and Ritual in Ancient Egypt. Cambridge University Press. ISBN 978-0521613002.
- te Velde, Herman (2001). "Mut" (PDF). Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 454–455. ISBN 978-0195102345. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2016-03-24.
- Thompson, Stephen E. (2001). "Cults: An Overview". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 326–332. ISBN 978-0195102345.
- Traunecker, Claude (2001) [French edition 1992]. The Gods of Egypt. Translated by David Lorton. Cornell University Press. ISBN 978-0801438349.
- Troy, Lana (1986). Patterns of Queenship in Ancient Egyptian Myth and History. Acta Universitatis Upsaliensis. ISBN 978-9155419196.
- Verner, Miroslav (2013) [Czech edition 2010]. Temple of the World: Sanctuaries, Cults, and Mysteries of Ancient Egypt. Translated by Anna Bryson-Gustová. The American University in Cairo Press. ISBN 978-9774165634.
- Vischak, Deborah (2001). "Hathor". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 82–85. ISBN 978-0195102345.
- Wilkinson, Richard H. (1993). Symbol and Magic in Egyptian Art. Thames & Hudson. ISBN 978-0500236635.
- Wilkinson, Richard H. (2000). The Complete Temples of Ancient Egypt. Thames and Hudson. ISBN 978-0500051009.
- Wilkinson, Richard H. (2003). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt. Thames & Hudson. ISBN 978-0500051207.
- Wilkinson, Toby (1999). Early Dynastic Egypt. Routledge. ISBN 978-0203024386. Text Version
- Woods, Alexandra (2011). "Zšš wꜣḏ Scenes of the Old Kingdom Revisited" (PDF). Dalam Strudwick, Nigel; Strudwick, Helen (ed.). Old Kingdom: New Perspectives. Egyptian Art and Archaeology 2750–2150 BC. Proceedings of a Conference at the Fitzwilliam Museum Cambridge, May 2009. Oxbow Books. hlm. 314–319. ISBN 978-1842174302. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2019-04-03.
- Yellin, Janice W. (2012). "Nubian Religion". Dalam Fisher, Marjorie M.; Lacovara, Peter; Ikram, Salima; D'Auria, Sue (ed.). Ancient Nubia: African Kingdoms on the Nile. The American University in Cairo Press. hlm. 125–144. ISBN 978-9774164781.
- Zernecke, Anna Elise (2013). "The Lady of the Titles: The Lady of Byblos and the Search for Her 'True Name'". Die Welt des Orients. 43 (2): 226–242. doi:10.13109/wdor.2013.43.2.226. JSTOR 23608857.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Allam, Schafik (1963). Beiträge zum Hathorkult (bis zum Ende des mittleren Reiches) (dalam bahasa Jerman). Verlag Bruno Hessling. OCLC 557461557.
- Derchain, Philippe (1972). Hathor Quadrifrons (dalam bahasa Prancis). Nederlands Historisch-Archaeologisch Instituut in het Nabije Oosten. OCLC 917056815.
- Hornung, Erik (1997). Der ägyptische Mythos von der Himmelskuh, 2nd ed (PDF) (dalam bahasa Jerman). Vandehoeck & Ruprecht. ISBN 978-3525537374. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2018-06-13.
- Posener, Georges (1986). "La légende de la tresse d'Hathor". Dalam Lesko, Leonard H. (ed.). Egyptological Studies in Honour of Richard A. Parker (dalam bahasa Prancis). Brown. hlm. 111–117. ISBN 978-0874513219.
- Vandier, Jacques (1964–1966). "Iousâas et (Hathor)-Nébet-Hétépet". Revue d'Égyptologie (dalam bahasa Prancis). 16–18.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media terkait Hathor di Wikimedia Commons- Hymns to Hathor : English translation at attalus.org
- Artikel mengandung teks Mesir Kuno
- Artikel mengandung teks Yunani Kuno
- Artikel mengandung teks Koptik
- Templat portal-inline dengan lebih dari satu parameter portal
- Dewi hewan
- Dewi kesenian
- Dewi kecantikan
- Dewa-dewi sapi
- Dewi Mesir
- Hathor
- Dewi bertanduk
- Dewa-dewi liminal
- Dewi liminal
- Dewi cinta dan nafsu
- Dewa-dewi anggur dan bir
- Dewi ibu
- Dewi musik dan nyanyian
- Dewi Nubia
- Dewi langit dan cuaca
- Dewi matahari
- Psikopomp
- Dewi pohon
- Sekhmet
- Dewi singa
- Dewi ular
