Kelapa
| Kelapa | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monokotil |
| Klad: | Commelinidae |
| Ordo: | Arecales |
| Famili: | Arecaceae |
| Subfamili: | Arecoideae |
| Tribus: | Cocoseae |
| Genus: | Cocos L. |
| Spesies: | C. nucifera |
| Nama binomial | |
| Cocos nucifera L. | |
| Kemungkinan jangkauan sebaran asli sebelum domestikasi | |
| Sinonim[1] | |
| |
Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota dari famili palem-paleman (Arecaceae) dan satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus Cocos.[1][2] Berasal Indo-Pasifik Tengah, kelapa tersebar luas di daerah tropis pesisir.
Pohon kelapa menyediakan makanan, bahan bakar, kosmetik, obat tradisional, dan bahan bangunan. Daging bagian dalam dari buah yang matang menjadi bagian rutin dari menu makanan banyak orang di daerah tropis dan subtropis. Endosperma kelapa mengandung cairan dalam jumlah besar yang dikenal sebagai "air kelapa". Kelapa yang sudah matang dapat diolah untuk menghasilkan minyak dan santan dari dagingnya, arang dari tempurungnya yang keras, dan sabut dari kulit luarnya yang berserat. Daging kelapa yang dikeringkan disebut kopra, dan minyak serta santan yang dihasilkan darinya umumnya digunakan dalam memasak serta pembuatan sabun dan kosmetik. Nira kelapa yang manis dapat dijadikan minuman atau difermentasi menjadi tuak atau cuka kelapa. Tempurung yang keras, sabut yang berserat, dan daun menyirip yang panjang digunakan untuk membuat berbagai produk perabotan dan dekorasi.
Kelapa memiliki arti penting secara budaya dan agama bagi masyarakat Austronesia, yang muncul dalam mitologi, lagu, dan tradisi lisan mereka. Pohon ini juga memiliki signifikansi keagamaan dalam budaya Asia Selatan, di mana ia digunakan dalam berbagai ritual agama Hindu, termasuk pernikahan dan pemujaan.
Spesies ini berevolusi di Indo-Pasifik tengah. Tanaman ini didomestikasi oleh masyarakat Austronesia di Asia Tenggara Maritim dan menyebar selama zaman Neolitikum melalui migrasi jalur laut mereka hingga sejauh Kepulauan Pasifik di sebelah timur, dan sejauh Madagaskar di sebelah barat. Spesies ini memainkan peran penting dalam pelayaran laut jarak jauh mereka dengan menyediakan sumber makanan dan air yang mudah dibawa, serta bahan bangunan untuk perahu cadik. Jauh setelahnya, kelapa disebarkan di sepanjang pesisir Samudra Hindia dan Atlantik oleh pelaut Asia Selatan, Arab, dan semenjak abad ke-16 oleh pelaut Eropa. Berdasarkan perkenalan ini, spesies kelapa dapat dibagi menjadi tipe Pasifik dan Indo-Atlantik. Tipe Indo-Atlantik diperkenalkan ke Amerika selama era kolonial dalam Pertukaran Columbus, sementara para pelaut Austronesia tampaknya telah memperkenalkan kelapa Pasifik ke Panama pada masa pra-Columbus.
Pohon kelapa dapat tumbuh setinggi 30 meter (100 kaki) dan dapat menghasilkan hingga 75 buah per tahun, meskipun umumnya memproduksi kurang dari 30 buah. Pohon ini tidak tahan terhadap suhu dingin dan lebih menyukai curah hujan yang melimpah serta paparan sinar matahari penuh. Banyak hama serangga dan penyakit yang memengaruhi produksi komersialnya. Pada tahun 2023, produksi kelapa dunia mencapai 65 juta ton, dengan 73% dari total produksinya dihasilkan oleh Indonesia, India, dan Filipina.
Deskripsi
[sunting | sunting sumber]Cocos nucifera adalah palem berukuran besar, tumbuh setinggi 30 meter (100 kaki), dengan daun menyirip sepanjang 4–6 m (13–20 ft), dan anak daun sepanjang 60–90 sentimeter (2–3 ft); daun tua akan lepas dengan rapi, membuat batangnya tampak halus.[3] Di tanah yang subur, pohon kelapa yang tinggi menghasilkan sekitar 80 buah per tahun; varietas baru mungkin dapat menghasilkan hingga 150 buah per tahun.[4] Di India, rata-rata produksi mencapai lebih dari 8.000 butir per hektar per tahun.[5] Varietas tinggi menghasilkan buah pertamanya dalam 6 hingga 10 tahun, dan hidup selama 60 hingga 100 tahun; varietas genjah menjadi produktif lebih cepat, tetapi memiliki umur yang lebih pendek.[6]
Perbungaan
[sunting | sunting sumber]Kelapa bersifat berumah satu, yang berarti bunga jantan dan betina tumbuh pada pohon yang sama, yang dalam hal ini berada pada perbungaan yang sama.[7][8] Ada kemungkinan bahwa selain itu spesies ini sesekali memiliki bunga biseksual.[9] Bunga betina berukuran jauh lebih besar daripada bunga jantan.[8] Pohon dewasa tumbuh secara terus-menerus, menghasilkan daun, bunga, dan buah sepanjang tahun. Dibutuhkan sekitar 14 bulan bagi setiap primordium bunga untuk berkembang menjadi sebuah perbungaan, yang secara botani merupakan sebuah tongkol bunga di dalam seludang bunga. Pohon yang sehat dapat menghasilkan hingga 15 perbungaan per tahun, yang tumbuh berselang-seling sehingga selalu ada satu perbungaan yang matang bersama dengan perbungaan lainnya dalam tahap perkembangan yang berbeda.[10][11] Dibutuhkan waktu 11 bulan dari mekarnya bunga betina hingga masa panen.[12] Pohon kelapa sebagian besar mengalami penyerbukan silang, meskipun sebagian besar varietas genjah menyerbuk sendiri.[13]
- Habitus
- Daun
- Perbungaan yang mekar
dengan bunga jantan dan betina - Pohon dengan buah
- Biji yang berkecambah
di pasir, Hawaii
Buah
[sunting | sunting sumber]| Komponen | Massa/kg | ||
|---|---|---|---|
| Sabut | 2.033 | ||
| Biji | 1.125 | ||
| terdiri dari | Tempurung | 0.359 | |
| Air kelapa | 0.492 | ||
| Daging buah | 0.477 | ||
| Total | 3.158 | ||
Secara botani, buah kelapa adalah buah batu, bukan kacang sejati.[15] Seperti buah lainnya, kelapa memiliki tiga lapisan: eksokarp, mesokarp, dan endokarp. Eksokarp adalah kulit luar yang mengilap, biasanya berwarna kuning kehijauan hingga kuning kecokelatan. Mesokarp tersusun atas serat, yang disebut sabut, yang memiliki banyak kegunaan tradisional dan komersial. Eksokarp dan mesokarp membentuk "sabut" pelindung kelapa, sedangkan endokarp membentuk "tempurung" kelapa yang keras. Endokarp memiliki ketebalan sekitar 4 milimeter (1⁄8 inci) dan memiliki tiga pori perkecambahan (mikropil) yang khas pada ujung distalnya. Dua dari pori-pori tersebut tersumbat ("mata"), sementara satu pori berfungsi normal.[16][17]
Bagian dalam endokarp berongga dan dilapisi oleh kulit biji tipis berwarna cokelat, dengan ketebalan sekitar 02 mm (5⁄64 in). Pada awalnya, endokarp berisi cairan endosperma (air kelapa). Cairan ini mengandung banyak inti sel bebas (bersifat multinukleat) yang membelah secara mitosis, tanpa adanya batas sel. Seiring dengan perkembangannya, lapisan seluler endosperma mengendap di sepanjang dinding endokarp dengan ketebalan hingga 11 mm (3⁄8 in), dimulai dari bagian ujung terjauh. Lapisan ini pada akhirnya membentuk endosperma padat yang dapat dimakan ("daging kelapa") yang mengeras seiring berjalannya waktu. Embrio kecil berbentuk silinder tertanam di dalam endosperma padat tepat di bawah pori yang berfungsi. Selama perkecambahan, embrio mendesak keluar dari pori yang berfungsi dan membentuk haustorium di dalam rongga tengah.
Haustorium ini menyerap endosperma padat untuk memberi nutrisi pada bibit tanaman.[16][18][19]
Buah kelapa memiliki dua bentuk yang khas. Kelapa liar niu kafa memiliki buah berbentuk segitiga memanjang dengan sabut yang lebih tebal dan jumlah endosperma yang lebih sedikit. Hal ini membuat buahnya lebih mudah mengapung, ideal untuk pemencaran melalui laut. Kelapa Pasifik niu vai yang telah didomestikasi berbentuk membulat dengan sabut yang lebih tipis, endosperma yang lebih banyak, dan kandungan air kelapa yang lebih banyak.[13][20][21]
Buah berukuran penuh memiliki berat sekitar 14 kilogram (30 pon 14 ons) tergantung varietasnya.[22][23] Varietas Bido abad ke-21 dari Indonesia memiliki berat rata-rata 3.158 kilogram (6.962 pon 3 ons) per buah.[14]

Kelapa diekspor tanpa sabut; kelapa tanpa sabut dari Pantai Gading memiliki berat rata-rata sekitar 575 gram, sedangkan kelapa tanpa sabut dari Republik Dominika rata-rata hampir 700 gram.[24] Kelapa yang dijual di dalam negeri di negara-negara penghasil kelapa biasanya tidak dikupas sabutnya. Kelapa muda (6 hingga 8 bulan setelah berbunga) dijual untuk diambil airnya serta daging kelapanya yang lebih lembut dan mirip jeli (dikenal sebagai "kelapa hijau", "kelapa muda", atau "kelapa air"), yang mana pewarnaan asli buahnya tampak lebih menarik.[22][23]
Namun, kelapa tua utuh (11 hingga 13 bulan setelah berbunga) yang dijual untuk ekspor biasanya dikupas sabutnya guna mengurangi berat dan volume untuk pengangkutan. Hal ini menyisakan "tempurung" kelapa telanjang dengan tiga pori, yang merupakan sisa dari tiga daun buah (karpel) bunganya, bentuk yang lebih lazim dijumpai di negara-negara yang tidak menanam kelapa secara lokal. Kelapa tanpa sabut lebih mudah dibuka oleh konsumen, tetapi memiliki masa simpan pascapanen yang lebih singkat, yaitu sekitar dua hingga tiga minggu pada suhu 12 hingga 15 °C (54 hingga 59 °F) atau hingga 2 bulan pada suhu 0 hingga 15 °C (32 hingga 59 °F). Sebagai perbandingan, kelapa tua yang masih bersabut dapat disimpan selama tiga hingga lima bulan pada suhu ruangan.[22][23]
Akar
[sunting | sunting sumber]Pohon palem tidak memiliki akar tunggang maupun rambut akar, melainkan memiliki sistem perakaran serabut.[7] Sistem ini terdiri dari banyak akar tipis yang tumbuh menyebar dari tanaman di dekat permukaan tanah. Hanya sedikit akar yang menembus jauh ke dalam tanah untuk menjaga kestabilan. Ini dikenal sebagai sistem akar serabut atau adventif, dan merupakan karakteristik dari spesies rumput-rumputan. Sebanyak 2.000–4.000 akar adventif dapat tumbuh, dengan masing-masing akar memiliki diameter sekitar 1 cm (1⁄2 in). Akar yang membusuk akan diganti secara berkala seiring dengan tumbuhnya akar baru pada pohon.[25]
Taksonomi
[sunting | sunting sumber]Sejarah taksonomi
[sunting | sunting sumber]Ahli botani dan taksonomi asal Swedia, Carl Linnaeus, secara formal mendeskripsikan spesies Cocos nucifera dalam bukunya yang berjudul Species Plantarum pada tahun 1753.[26] Nama ini diterima oleh para ahli botani.[1] Pada tahun 1768, dalam bukunya The Gardeners Dictionary, ahli botani Inggris Philip Miller mendeskripsikan ulang tanaman tersebut sebagai Palma cocos, sebuah nama yang diperlakukan sebagai sinonim.[1][27] Pada tahun 1891, ahli botani Jerman Otto Kuntze memberinya nama Calappa nucifera dalam karyanya Revisio Generum Plantarum, yang juga diperlakukan sebagai sinonim.[1][28]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Dalam bahasa Indonesia, kata "kelapa" sering dikaitkan dengan istilah dari bahasa Sanskerta kalpa (dari kalpavriksha atau kalpataru), yang bermakna "pohon kehidupan" atau "pohon yang menyediakan segala kebutuhan", merujuk pada tumbuhan yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia.[29] Sementara itu, sinonimnya yaitu "nyiur", berakar dari bahasa Proto-Austronesia *niuR. Kata ini telah digunakan sejak zaman kuno, dan secara tertulis tercatat sebagai ñīyur dalam bahasa Melayu Kuno pada Prasasti Talang Tuo yang berangka tahun 684 M.[30]
Nama generik Cocos, beserta nama umumnya dalam bahasa Inggris (coconut), berasal dari kata bahasa Portugis abad ke-16 coco, yang berarti 'kepala' atau 'tengkorak' merujuk pada tiga lekukan pada tempurung kelapa yang memberikan kesan seperti wajah.[31][32][33][34]
Hal ini tampaknya berawal dari pertemuan pada tahun 1521 oleh penjelajah Portugis dan Spanyol dengan Penduduk Kepulauan Pasifik, ketika tempurung kelapa mengingatkan mereka pada hantu dalam cerita rakyat Portugis yang disebut coco atau côca.[34][35] Di Dunia Barat, buah ini pada awalnya disebut nux indica, sebuah nama yang digunakan oleh Marco Polo pada tahun 1280 ketika ia berada di Sumatra. Istilah yang digunakannya merupakan terjemahan dari bahasa Arab pada masa itu, di mana kelapa disebut جوز هندي jawz hindī, "kacang India".[6] Thenga, namanya dalam Tamil/Malayalam, digunakan dalam deskripsi terperinci mengenai kelapa yang ditemukan dalam karya Itinerario oleh Ludovico di Varthema yang diterbitkan pada tahun 1510 dan dalam karya selanjutnya Hortus Indicus Malabaricus.[36]
Nama spesifik nucifera berarti "pembawa kacang", yang berasal dari kata Latin nux (kacang) dan fera (membawa/menghasilkan).[37]
Asal-usul
[sunting | sunting sumber]Sejarah fosil
[sunting | sunting sumber]
Sebagian besar fosil yang menyerupai Cocos hanya ditemukan di dua wilayah di dunia: Selandia Baru dan bagian tengah-barat India. Namun, fosil-fosil yang menyerupai Cocos ini masih bersifat dugaan (putatif), karena sulit untuk diidentifikasi.[38] Fosil menyerupai Cocos paling awal yang ditemukan adalah C. zeylandica, sebuah spesies fosil dengan buah berukuran kecil, sekitar 35 cm (13+3⁄4 in) × 13 hingga 25 cm (5+1⁄8 hingga 9+7⁄8 in), dari zaman Miosen (~23 hingga 5,3 juta tahun yang lalu) di Selandia Baru. Sejak saat itu, banyak fosil buah serupa lainnya dengan kekerabatan yang belum pasti telah ditemukan di Selandia Baru dari zaman Eosen, Oligosen, dan mungkin Holosen.[38][39] Di Perangkap Dekkan (Deccan Traps) di bagian tengah-barat India, banyak fosil buah, daun, dan batang yang menyerupai Cocos telah ditemukan. Fosil-fosil tersebut mencakup morfotaksa seperti Palmoxylon sundaran, Palmoxylon insignae, dan Palmocarpon cocoides. Fosil buah yang menyerupai Cocos meliputi Cocos intertrappeansis, Cocos pantii, dan Cocos sahnii. Beberapa di antaranya untuk sementara waktu diidentifikasi sebagai C. nucifera modern. Ini mencakup dua spesimen yang dinamai C. palaeonucifera dan C. binoriensis, yang keduanya oleh para penemunya diperkirakan berasal dari zaman Maastrichtium–Danium pada periode Tersier awal (70 hingga 62 juta tahun yang lalu). C. binoriensis telah diklaim sebagai fosil paling awal yang diketahui dari C. nucifera.[38][40][41]
Hanya dua wilayah lain yang telah melaporkan keberadaan fosil menyerupai Cocos, yaitu Australia dan Kolombia. Di Australia, sebuah fosil buah yang menyerupai Cocos, berukuran 10 cm × 95 cm (3+7⁄8 in × 37+3⁄8 in), ditemukan di Formasi Pasir Chinchilla yang diperkirakan berasal dari akhir zaman Pliosen atau awal Pleistosen. Rigby (1995) mengelompokkannya ke dalam Cocos nucifera modern berdasarkan ukurannya.[38][40] Di Kolombia, satu buah fosil yang menyerupai Cocos ditemukan di Formasi Cerrejón pada Paleosen pertengahan hingga akhir. Namun, buah tersebut terkompresi selama proses fosilisasi sehingga tidak memungkinkan untuk menentukan apakah buah tersebut memiliki ciri khas tiga pori yang mengkarakterisasi anggota tribus Cocoseae. Meskipun demikian, sebuah penelitian mengklasifikasikannya ke dalam Cocos berdasarkan ukuran dan bentuk buahnya yang bergelombang.[42]
Filogeni
[sunting | sunting sumber]Sebuah analisis filogenomik molekuler terhadap palem-paleman pada tahun 2016 menempatkan genus Cocos ke dalam tribus Cocoseae:[43]
| Cocoseae |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Persebaran oleh manusia
[sunting | sunting sumber]
Studi genetik mengidentifikasi pusat asal-usul kelapa berada di Indo-Pasifik Tengah, di mana tanaman ini memiliki keanekaragaman genetik tertingginya.[25][47][48][49] Budi daya dan persebarannya sangat erat kaitannya dengan migrasi masyarakat Austronesia yang membawa kelapa ke pulau-pulau yang mereka tempati.[48][49][50][51] Bukti linguistik, arkeologi, dan genetik semuanya menunjuk pada domestikasi kelapa Pasifik oleh bangsa Austronesia di Asia Tenggara selama masa ekspansi Austronesia (sekitar 3000 hingga 1500 SM).[48][49][52][53] Model pergerakan yang didasarkan pada angin dan arus laut menunjukkan bahwa kelapa tidak mungkin hanyut melintasi Pasifik tanpa bantuan, yang menyiratkan bahwa persebarannya dibantu oleh manusia.[54][55]
Kelapa dibagi menjadi dua subpopulasi, yaitu kelompok Pasifik dari Asia Tenggara Maritim dan kelompok Indo-Atlantik dari bagian selatan Anak benua India. Kelompok Pasifik jelas merupakan hasil domestikasi, dengan perawakan genjah (kerdil), penyerbukan sendiri, dan buah tipe niu vai yang memiliki rasio endosperma terhadap sabut yang besar. Distribusi kelapa Pasifik selaras dengan wilayah-wilayah yang didiami oleh pelaut Austronesia, khususnya Madagaskar. Kelapa di pulau tersebut menunjukkan adanya percampuran genetik antara kedua subpopulasi, yang mengindikasikan bahwa kelapa Pasifik kawin silang dengan kelapa Indo-Atlantik di sana.[49][50] Meskipun sisa-sisa arkeologis dari tahun 1000 hingga 500 SM menunjukkan bahwa kelapa Indo-Atlantik di kemudian hari dibudidayakan secara independen oleh Bangsa Dravida, hanya kelapa Pasifik yang menunjukkan ciri-ciri domestikasi yang jelas seperti perawakan genjah, penyerbukan sendiri, dan buah yang membulat. Sebaliknya, kelapa Indo-Atlantik memiliki sifat-sifat leluhurnya, yaitu perawakan yang tinggi dan buah berbentuk segitiga memanjang.[48][49][52][53]
Studi genetik telah mengonfirmasi populasi kelapa pada masa pra-Columbus di Panama. Namun, kelapa tersebut bukanlah tanaman asli setempat dan menunjukkan leher botol genetik (bottleneck) yang diakibatkan oleh efek pendiri. Kelapa di Benua Amerika memiliki kekerabatan paling dekat dengan kelapa yang ada di Filipina, yang menandakan bahwa kelapa tersebut tidak masuk secara alami, seperti melalui arus laut, melainkan dibawa oleh pelaut Austronesia awal ke Benua Amerika setidaknya sejak 4250 SM.[48][51][54] Selama era kolonial, kelapa Pasifik selanjutnya diperkenalkan ke Meksiko dari Hindia Timur Spanyol melalui Galiung Manila, yang dimulai pada abad ke-16. Sebaliknya, kelapa Indo-Atlantik disebarkan oleh pedagang Arab dan Persia ke pesisir Afrika Timur. Kelapa Indo-Atlantik kemudian diperkenalkan ke Samudra Atlantik oleh kapal-kapal Portugis dari koloni mereka di India dan Sri Lanka, yang juga dimulai pada abad ke-16: pertama-tama ke pesisir Afrika Barat, dan kemudian ke Karibia dan Brasil.[49]
Domestikasi
[sunting | sunting sumber]Kelapa secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe buah – bentuk leluhurnya yaitu niu kafa dengan buah bersudut dan bersabut tebal, dan bentuk niu vai dengan buah bulat, bersabut tipis, dan memiliki proporsi endosperma yang lebih tinggi. Istilah-istilah ini berasal dari bahasa Samoa.[20][49][56]
Bentuk niu kafa adalah tipe leluhur liar, dengan sabut tebal untuk melindungi biji, dan bentuk yang sangat bergelombang dan bersudut untuk membantunya mengapung selama pemencaran di laut. Tipe ini adalah bentuk yang dominan pada kelapa Indo-Atlantik.[20][49] Namun, tanaman ini mungkin telah mengalami seleksi pada tingkat tertentu untuk menghasilkan sabut yang lebih tebal untuk produksi sabut, yang penting dalam budaya material Austronesia sebagai sumber tali-temali untuk membangun rumah dan perahu.[52]
- Dua tipe buah utama
- Bentuk niu kafa dari kelapa liar dan Indo-Atlantik, kemungkinan diseleksi untuk mendapatkan lebih banyak sabut guna pembuatan rumah dan perahu
Bentuk niu vai adalah bentuk terdomestikasi yang dominan pada kelapa Pasifik. Kelapa ini diseleksi secara buatan oleh bangsa Austronesia untuk mendapatkan rasio endosperma terhadap sabut yang lebih besar dan kandungan air kelapa yang lebih tinggi, sehingga lebih berguna sebagai cadangan makanan dan air untuk pelayaran laut. Daya apung yang berkurang dan meningkatnya kerapuhan buah bulat bersabut tipis ini tidak menjadi masalah bagi spesies yang telah mulai disebarkan oleh manusia dan ditanam di perkebunan.[20][21] Fragmen endokarp Niu vai telah ditemukan di situs-situs arkeologi di Kepulauan St. Matthias di Kepulauan Bismarck. Fragmen-fragmen tersebut diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1000 SM, yang menunjukkan bahwa budi daya dan seleksi buatan kelapa telah dipraktikkan oleh masyarakat Lapita Austronesia.[52]
Kelapa secara umum dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan perawakannya: varietas "Dalam" (var. typica) dan varietas "Genjah" (var. nana).[57] Kedua kelompok ini secara genetik berbeda, di mana varietas genjah menunjukkan tingkat seleksi buatan yang lebih besar untuk sifat-sifat hias serta untuk perkecambahan dan pembuahan awal.[56][58] Varietas dalam melakukan persilangan luar sedangkan palem genjah melakukan penyerbukan sendiri, yang telah menyebabkan tingkat keanekaragaman genetik yang jauh lebih besar di dalam kelompok kelapa dalam.[59]
Kultivar kelapa genjah sepenuhnya terdomestikasi, tidak seperti kultivar kelapa dalam yang lebih beragam.[59][60] Kelapa genjah berbagi tiga penanda genetik dari tiga belas penanda yang ada (hal yang langka pada kultivar dalam), sehingga kemungkinan besar mereka berasal dari satu populasi terdomestikasi tunggal. Kelapa genjah Filipina dan Malaya berpisah sejak awal menjadi dua tipe yang berbeda. Mereka biasanya tetap terisolasi secara genetik ketika diperkenalkan ke daerah-daerah baru. Banyak kultivar genjah lainnya berkembang setelah perkenalan tersebut, dengan berhibridisasi bersama kultivar dalam. Asal-usul varietas genjah adalah Asia Tenggara, yang memiliki kultivar kelapa dalam yang secara genetik paling dekat dengan kelapa genjah.[49][59][60][61]
Pengurutan genom dari varietas dalam dan genjah mengungkapkan bahwa keduanya berpisah 2 hingga 8 juta tahun yang lalu dan bahwa varietas genjah muncul melalui perubahan pada gen metabolisme hormon tumbuhan giberelin.[62]
Varietas leluhur lainnya adalah niu leka dari Polinesia ("Genjah Kompak"). Meskipun menyerupai kelapa genjah (termasuk pertumbuhannya yang lambat), kelapa ini secara genetik berbeda dan didomestikasi secara independen, kemungkinan di Tonga. Kultivar lain dari niu leka mungkin ada di pulau-pulau Pasifik lainnya, dan beberapa di antaranya mungkin merupakan keturunan dari persilangan tingkat lanjut antara tipe Genjah Kompak dan tipe Genjah Asia Tenggara.[60][61]
Persebaran dan habitat
[sunting | sunting sumber]Kelapa memiliki persebaran yang hampir kosmopolitan berkat budi daya dan pemencaran oleh manusia. Namun, sebaran aslinya berada di Indo-Pasifik Tengah, di wilayah Asia Tenggara Maritim dan Melanesia.[47]
Pohon kelapa tumbuh subur di tanah berpasir dan sangat toleran terhadap salinitas (kadar garam). Pohon ini menyukai daerah dengan sinar matahari yang melimpah dan curah hujan teratur antara 1.500 mm hingga 2.500 mm per tahun. Kelapa juga lebih menyukai kelembapan di atas 60%. Jika curah hujannya kurang dari jumlah tersebut, pohon ini masih dapat bertahan hidup asalkan akarnya dapat mencapai muka air tanah, tetapi ia tidak dapat menoleransi genangan air. Di daerah tropis, kelapa tumbuh dari permukaan laut hingga ketinggian 600 meter (2.000 ft). Pohon ini mampu bertahan menghadapi musim kemarau selama satu bulan di tanah berpasir pedalaman, dan hingga tiga bulan di tanah yang lebih padat (berat), asalkan tanah tersebut memiliki drainase yang baik. Kelapa tumbuh di tanah dengan pH 4,5 hingga 8 (yang terakhir ini banyak ditemukan di atol karang), tetapi lebih menyukai kisaran 5,5 hingga 7. Pertumbuhannya akan sangat terhambat jika berada di tempat teduh. Pohon kelapa dapat menahan angin sekuat badai asalkan telah mengembangkan sistem perakaran yang baik.[63]
Kelapa liar terbatas pada daerah pesisir dengan tanah berpasir dan bersalinitas tinggi. Buahnya beradaptasi untuk pemencaran melalui laut. Kelapa tidak akan dapat mencapai lokasi pedalaman tanpa campur tangan manusia yang membawa biji kelapa dan menanam bibitnya.[64]
Budi daya
[sunting | sunting sumber]
Pohon kelapa pada umumnya dibudidayakan di iklim tropis yang panas dan basah. Pohon ini membutuhkan kehangatan dan kelembapan sepanjang tahun untuk dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Pohon kelapa sulit dikembangkan di iklim kering, dan tidak dapat tumbuh di sana tanpa pengairan yang sering. Dalam kondisi kekeringan, daun-daun baru tidak dapat mekar dengan baik, daun-daun yang lebih tua dapat mengering, dan buahnya mungkin akan gugur.[63]
Meluasnya budi daya kelapa di daerah tropis mengancam sejumlah habitat, seperti hutan bakau; salah satu contoh kerusakan pada ekoregion semacam itu terjadi di hutan bakau Petenes di wilayah Yucatán.[65] Cukup unik jika dibandingkan dengan pohon lainnya, pohon kelapa dapat diairi dengan air laut.[66]
Hama dan penyakit
[sunting | sunting sumber]
Kelapa rentan terhadap penyakit fitoplasma, yakni penyakit kuning mematikan. Penyakit menguning ini berdampak pada perkebunan di Afrika, India, Meksiko, Karibia, dan Wilayah Pasifik.[67]
Pohon kelapa dirusak oleh larva dari banyak spesies Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat) yang memakannya, termasuk ulat grayak afrika (Spodoptera exempta) dan Batrachedra spp.: B. arenosella, B. atriloqua (memakan C. nucifera secara eksklusif), B. mathesoni (memakan C. nucifera secara eksklusif), dan B. nuciferae.[68]
Kumbang daun kelapa Brontispa longissima memakan daun muda, dan merusak baik bibit maupun pohon kelapa yang sudah dewasa. Pada tahun 2007, Filipina memberlakukan karantina di Metro Manila dan 26 provinsi untuk menghentikan penyebaran hama tersebut dan melindungi industri kelapa Filipina yang dikelola oleh sekitar 3,5 juta petani.[69]
Buahnya dapat dirusak oleh tungau kelapa eriofid (Aceria guerreronis). Tungau ini menyerang perkebunan kelapa, dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 60% dari produksi kelapa.[70] Biji yang belum matang diserang dan dirusak oleh larva.[71] Pengendalian secara kimiawi memang memungkinkan, tetapi karena harus diulang secara berkala, cara ini tidak praktis mengingat besarnya biaya, bahaya terhadap lingkungan, serta adanya residu pestisida pada daging dan air kelapa.[72]
Kultivar
[sunting | sunting sumber]
Kelapa memiliki banyak kultivar komersial dan tradisional. Kultivar-kultivar tersebut secara umum dapat dikelompokkan menjadi kultivar dalam (tinggi), genjah (pendek), dan hibrida (persilangan antara kelapa dalam dan genjah).[73] Varietasnya sering kali bersifat regional, seperti Dalam Ceylon, Dalam Jamaika, Dalam Jawa, dan Dalam Malaya.[6]
Varietas genjah dari kelapa Pasifik telah dibudidayakan oleh masyarakat Austronesia sejak zaman kuno. Varietas-varietas ini diseleksi untuk pertumbuhannya yang lebih lambat, air kelapa yang lebih manis, dan buah yang sering kali berwarna cerah.[61] Varietas genjah meliputi Genjah Hijau dan Genjah Jingga.[6]
Berbagai varietas telah diseleksi untuk beragam sifat: misalnya, Kelapa raja adalah varietas Sri Lanka dengan kandungan gula yang relatif rendah, sementara Makapuno memiliki daging buah lembut seperti jeli yang memenuhi seluruh rongga tengahnya; kelapa ini digunakan untuk membuat hidangan penutup yang manis.[74][75]
Kelapa Maypan adalah sebuah hibrida F1 yang dikembangkan di Jamaika pada tahun 1970-an agar tahan terhadap penyakit kuning mematikan.[76][77] Namun, ketahanan Maypan segera mulai menurun, kemungkinan sejak awal 1980-an, dan secara pasti pada tahun 2000-an.[78][79] Beberapa varietas kelapa lainnya memiliki ketahanan alami terhadap penyakit kuning mematikan yang berkaitan dengan alel pada mikrosatelit, dengan Dalam Vanuatu dan Genjah Hijau Sri Lanka sebagai kultivar yang paling tahan, sedangkan Dalam Afrika Barat sangat rentan.[80][81][82]
Pemuliaan
[sunting | sunting sumber]Pemuliaan tanaman konvensional memiliki kegunaan yang terbatas pada kelapa karena tidak ada spesies kelapa liar yang dapat memberikan keanekaragaman genetik tambahan; waktu generasinya yang panjang; terdapat banyak heterozigositas; penyerbukan buatan untuk melakukan persilangan hanya menghasilkan sedikit biji; dan reproduksi vegetatif (kloning) tidak dapat diandalkan. Tujuan pemuliaan kelapa dapat mencakup kandungan kopra, produksi bunga betina, kandungan minyak, aroma daging dan air kelapa, kelembutan dan rasa manis endosperma, toleransi terhadap kekeringan, ketahanan terhadap penyakit layu akar, dan ketahanan terhadap tungau eriofid.[83]
Hibrida memberikan kecepatan berbuah (preskositas) dan produktivitas jumlah buah yang lebih tinggi dibandingkan galur lainnya, tetapi mereka menghasilkan buah dengan penerimaan pasar yang rendah karena kualitas air buahnya. Persilangan intravarietas pada kelapa Genjah (sesama kelapa genjah yang disilangkan) telah diuji dan terbukti memberikan kualitas air yang lebih baik untuk pasar air kelapa dibandingkan dengan kelapa hibrida.[84]
Pemanenan
[sunting | sunting sumber]Dua metode pemanenan yang paling umum adalah dengan memanjat[85] dan menggunakan galah.[86]
Metode memanjat lebih umum digunakan, tetapi lebih berbahaya dan membutuhkan pekerja yang terampil.[85] Memanjat pohon secara manual merupakan tradisi di sebagian besar negara dan membutuhkan postur tubuh yang memberikan tekanan pada batang pohon dengan kaki. Pemanjat yang dipekerjakan di perkebunan kelapa sering kali mengalami gangguan muskuloskeletal dan berisiko cedera atau meninggal akibat terjatuh.[87][88][89] Demi keamanan, pemanjat kelapa di Filipina dan Guam menggunakan pisau bolo yang diikatkan dengan tali di pinggang untuk membuat takikan (lekukan) dengan jarak yang teratur pada batang kelapa. Hal ini membuat batang pohon menjadi lebih mirip tangga, meskipun cara ini mengurangi nilai kayu yang dihasilkan dari pohon tersebut dan dapat memicu infeksi penyakit.[85][90][91] Metode lain untuk mempermudah pemanjatan meliputi penggunaan sistem katrol dan tali; menggunakan potongan tanaman merambat, tali, atau kain yang diikatkan pada kedua tangan atau kaki; menggunakan paku yang dipasang pada kaki atau tungkai; atau mengikatkan sabut kelapa ke batang pohon dengan tali.[92]

Metode galah menggunakan galah (tongkat) panjang dengan alat pemotong di bagian ujungnya. Di Filipina, alat tradisionalnya disebut halabas dan terbuat dari galah bambu panjang dengan bilah mirip sabit di ujungnya. Meskipun lebih aman dan lebih cepat daripada memanjat, metode ini tidak memungkinkan pekerja untuk memeriksa dan membersihkan mahkota kelapa dari hama dan penyakit.[86]
Metode modern menggunakan elevator hidrolik yang dipasang pada traktor atau tangga berjalan.[93] Perangkat pemanjat kelapa mekanis dan robot telah dikembangkan di India, Sri Lanka, dan Malaysia.[92][94][95][96] Proyek Deteksi Kematangan Kelapa (Coconut Maturity Detection Project) menggunakan pencitraan dan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi tandan kelapa yang sudah matang dan siap panen.[97]

Sistem jembatan dan tangga bambu yang menghubungkan tajuk-tajuk pohon secara langsung digunakan di Filipina pada perkebunan kelapa yang memanen nira kelapa (bukan buahnya) untuk produksi cuka kelapa dan tuak.[93][98] Di daerah lain, seperti di Papua Nugini, buah kelapa sekadar dikumpulkan setelah jatuh ke tanah.[85]
Beberapa petani kelapa di Thailand dan Malaysia menggunakan beruk untuk memanen kelapa.[99] Thailand telah memelihara dan melatih hewan ini untuk memetik kelapa selama sekitar 400 tahun.[100][101][102] Sekolah pelatihan untuk beruk masih ada di wilayah selatan Thailand dan di negara bagian Kelantan, Malaysia.[103] People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) menentang praktik di Thailand tersebut pada tahun 2019.[93]
| 18.0 | |
| 14.9 | |
| 14.2 | |
| 2.9 | |
| 2.1 | |
| Dunia | 64.7 |
|---|---|
| Sumber: FAOSTAT dari Perserikatan Bangsa-Bangsa[104] | |
Produksi
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2023, produksi kelapa dunia (beserta tempurung) mencapai 65 juta ton, dipimpin oleh Indonesia, India, dan Filipina, yang jika digabungkan menyumbang 73% dari total produksi (tabel).
Di India, empat negara bagian di wilayah selatan menyumbang sebagian besar total produksi India: Tamil Nadu, Karnataka, Kerala, dan Andhra Pradesh.[105] Meskipun Kerala memiliki jumlah pohon kelapa terbanyak, Tamil Nadu merupakan yang paling produktif per hektarnya.[106] Kelapa adalah pohon resmi negara bagian Kerala, yang namanya dalam bahasa daerah setempat (Malayalam) berarti "tanah kelapa".[107]
Daerah penghasil kelapa utama di Timur Tengah adalah wilayah Dhofar di Oman.[108] Kebun-kebun kelapa kuno di Dhofar disebutkan oleh penjelajah Maroko abad pertengahan, Ibn Battuta, dalam bukunya The Rihla.[109]
Sri Lanka mendirikan Otoritas Pengembangan Kelapa (Coconut Development Authority), Badan Budi Daya Kelapa (Coconut Cultivation Board), dan Institut Penelitian Kelapa (Coconut Research Institute) pada awal masa Ceylon Britania.[110]
Masalah kesehatan
[sunting | sunting sumber]Penyakit kardiovaskular
[sunting | sunting sumber]Sebagai sumber yang kaya akan asam laurat dan lemak jenuh lainnya, minyak kelapa merupakan faktor risiko diet untuk penyakit kardiovaskular karena dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah.[111][112] Banyak asosiasi klinis nasional menyarankan untuk membatasi konsumsi produk minyak kelapa, dan menggantinya dengan makanan yang mengandung lemak tak jenuh.[111][112][113]
Alergen
[sunting | sunting sumber]Protein dari kelapa dalam makanan dapat memicu reaksi alergi, termasuk anafilaksis, pada beberapa orang.[114] Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) telah menyatakan bahwa kelapa harus dicantumkan sebagai bahan pada label kemasan makanan sebagai "kacang pohon" (tree nut) yang berpotensi menjadi alergen.[115]
Kokamidopropil betain (CAPB) adalah surfaktan yang diproduksi dari minyak kelapa dan digunakan dalam produk kebersihan pribadi serta kosmetik, seperti sampo, sabun cair, pembersih, dan antiseptik. CAPB dapat menyebabkan iritasi kulit ringan,[116] tetapi reaksi alergi terhadap CAPB jarang terjadi;[117] reaksi tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kotoran yang timbul selama proses pembuatan (yang meliputi amidoamina dan dimetilaminopropilamina) alih-alih dari CAPB itu sendiri.[116]
Kegunaan
[sunting | sunting sumber]Pohon kelapa ditanam di seluruh wilayah tropis untuk dekorasi, serta untuk kegunaan kuliner dan nonkuliner; hampir setiap bagian dari pohon kelapa dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai cara dan memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Keanekagunaan kelapa tercermin dalam beberapa namanya: dalam Sanskerta, ia disebut kalpa vriksha ("pohon kebutuhan hidup"), sedangkan dalam Melayu, ia disebut pokok seribu guna ("pohon dengan seribu kegunaan"), dan di Filipina, ia disebut "pohon kehidupan".[118] Kelapa adalah salah satu pohon paling berguna di dunia.[18]
Nutrisi
[sunting | sunting sumber]| Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz) | |
|---|---|
| Energi | 1.480 kJ (350 kcal) |
15.23 g | |
| Gula | 6.23 g |
| Serat pangan | 9.0 g |
33.49 g | |
| Jenuh | 29.698 g |
| Tak jenuh tunggal | 1.425 g |
| Tak jenuh jamak | 0.366 g |
3.33 g | |
| Triptofan | 0.039 g |
| Treonina | 0.121 g |
| Isoleusina | 0.131 g |
| Leusina | 0.247 g |
| Lisina | 0.147 g |
| Metionina | 0.062 g |
| Sistina | 0.066 g |
| Fenilalanina | 0.169 g |
| Tirosina | 0.103 g |
| Valina | 0.202 g |
| Arginina | 0.546 g |
| Histidina | 0.077 g |
| Alanina | 0.170 g |
| Asam aspartat | 0.325 g |
| Asam glutamat | 0.761 g |
| Glisina | 0.158 g |
| Prolina | 0.138 g |
| Serina | 0.172 g |
| Vitamin | Kuantitas %AKG† |
| Tiamina (B1) | 6% 0.066 mg |
| Riboflavin (B2) | 2% 0.020 mg |
| Niasin (B3) | 4% 0.540 mg |
| Asam pantotenat (B5) | 6% 0.300 mg |
| Vitamin B6 | 4% 0.054 mg |
| Folat (B9) | 7% 26 μg |
| Vitamin C | 4% 3.3 mg |
| Vitamin E | 2% 0.24 mg |
| Vitamin K | 0% 0.2 μg |
| Mineral | Kuantitas %AKG† |
| Kalsium | 1% 14 mg |
| Tembaga | 22% 0.435 mg |
| Zat besi | 19% 2.43 mg |
| Magnesium | 9% 32 mg |
| Mangan | 71% 1.500 mg |
| Fosfor | 16% 113 mg |
| Potasium | 8% 356 mg |
| Selenium | 14% 10.1 μg |
| Sodium | 1% 20 mg |
| Seng | 12% 1.10 mg |
| Komponen lainnya | Kuantitas |
| Air | 47 g |
| |
| †Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa. | |
Daging kelapa mentah mengandung 47% air, 33% lemak, 15% karbohidrat, dan 3% protein (tabel). Dalam jumlah takaran 100 gram (3,5 oz), daging kelapa mentah menyuplai 350 kalori energi makanan, dan merupakan sumber yang kaya (20% atau lebih dari Nilai Harian, DV) akan mangan (65% DV) dan tembaga (48% DV), beserta berbagai mineral makanan lainnya dalam jumlah sedang (10–18% DV; tabel). Daging kelapa adalah sumber vitamin yang rendah. Daging kelapa mentah memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi (30% dari total lemak), dengan asam laurat sebagai lemak jenuh utamanya (15% dari total; sumber USDA pada tabel).
Kuliner
[sunting | sunting sumber]Banyaknya kegunaan kuliner dari kelapa sebagian besar bertumpu pada bagian biji yang berdaging putih dan dapat dimakan (endosperma), yang dikenal sebagai "daging kelapa".[119] Daging kelapa muda dapat dimakan langsung atau dimasak dalam kue-kue. Daging kelapa tua bertekstur keras dan diproses terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, dibuat menjadi produk-produk seperti santan,[119][120][121][122][123] "keripik kelapa"[122] atau diparut dan dikeringkan sebagai "kelapa parut kering" (desiccated coconut).[124][125][126]
Santan, yang digunakan untuk memasak banyak hidangan, diperas dari daging kelapa. Santan dapat diencerkan untuk membuat minuman santan seperti susu nabati.[94][127] Bubuk santan kelapa, bubuk yang kaya akan protein, dapat diproses dari santan.[128] Santan dan krim kelapa yang diekstrak dari kelapa parut dapat ditambahkan ke makanan penutup dan hidangan gurih, atau digunakan dalam kari dan semur.[129][130] Produk yang terbuat dari santan kental dengan gula dan telur, seperti selai serikaya dan kustar kelapa, tersebar luas di Asia Tenggara.[131][132][133] Minyak kelapa digunakan untuk menggoreng dan memasak.[129][134]
Air kelapa dapat diminum segar atau digunakan dalam memasak.[135][136] Air kelapa dapat difermentasi untuk menghasilkan makanan penutup seperti jeli yang dikenal sebagai nata de coco.[137] Cuka kelapa, yang terbuat dari air atau nira kelapa yang difermentasi, digunakan secara ekstensif dalam masakan Asia Tenggara dan masakan Goa.[120]
Nira kelapa, baik yang segar maupun difermentasi, diminum sebagai tuak atau tubâ di Filipina. Ketika dibiarkan berfermentasi dengan sendirinya, nira tersebut menjadi anggur palem (tuak kelapa). Anggur palem didistilasi untuk menghasilkan arak.[138] Nira dapat disusutkan dengan cara direbus untuk membuat sirup manis, atau disusutkan lebih lanjut untuk menghasilkan gula kelapa. Sebuah pohon yang masih muda dan terawat dengan baik dapat menghasilkan sekitar 300 liter (79 galon AS) tuak per tahun, sementara pohon yang berumur 40 tahun dapat menghasilkan sekitar 400 L (110 US gal).[139]
Minyak
[sunting | sunting sumber]| 1.358.900 | |
| 666.000 | |
| 360.000 | |
| 182.000 | |
| 132.300 | |
| 84.015 | |
| Dunia | 3.162.279 |
|---|---|
| Sumber: FAOSTAT[140] | |
Pada tahun 2022, produksi minyak kelapa olahan dunia mencapai 3,2 juta ton, dipimpin oleh Filipina dengan 43% dari total produksi, serta Indonesia dan India sebagai produsen sekunder (lihat tabel).
Minyak kelapa digunakan dalam memasak, terutama untuk menggoreng. Minyak ini dapat digunakan dalam bentuk cair seperti minyak nabati lainnya, atau dalam bentuk padat seperti mentega atau lemak babi.[141][142][143] Mentega kelapa adalah minyak kelapa yang dipadatkan, tetapi nama tersebut juga diterapkan pada krim kelapa pekat (creamed coconut), sebuah produk khusus yang terbuat dari padatan santan atau daging kelapa yang dipurekan (dihaluskan) beserta minyaknya.[119]
Kegunaan nonpangan
[sunting | sunting sumber]Di antara banyak kegunaan nonpangan dari pohon kelapa, sabut dan tempurungnya dapat digunakan untuk bahan bakar atau dijadikan arang.[144] Sabut kelapa dapat berfungsi sebagai alat pelampung atau sebagai bahan abrasif (pengampelas).[145] Tempurung kelapa, yang telah dipisahkan dari sabutnya dan dipanaskan di atas abu hangat, akan mengeluarkan zat berminyak yang digunakan untuk meredakan sakit gigi dalam pengobatan tradisional Kamboja.[146] Serat sabut digunakan untuk membuat tali, tikar, sikat, dan karung, sebagai bahan dempul perahu, dan sebagai isian untuk kasur.[147] Bahan ini juga digunakan dalam hortikultura sebagai kompos pot, khususnya dalam media tanam anggrek, dan untuk membuat sapu di Kamboja.[146] Cangkir kelapa dulunya sering diukir dengan pemandangan bergaya relief dan dipasangi hiasan dari logam mulia.[148] Daunnya menyediakan bahan untuk membuat keranjang dan atap; daun tersebut dapat dianyam menjadi tikar, tusuk lidi untuk memasak, dan anak panah pemantik api. Daunnya dianyam menjadi kantong-kantong kecil yang diisi beras dan dimasak untuk membuat pusô dan ketupat.[149]
Penduduk asli Hawaii melubangi batang kelapa untuk membuat gendang, wadah, atau kano kecil. "Cabang" (tangkai daun) kelapa cukup kuat dan lentur untuk dijadikan cambuk. Penggunaan tangkai daun kelapa dalam hukuman fisik dihidupkan kembali dalam komunitas masyarakat Gilbert di Pulau Choiseul, Kepulauan Solomon pada tahun 2005.[150] Akarnya digunakan untuk membuat pewarna, obat kumur, dan obat tradisional untuk mengobati diare dan disentri.[151] Potongan akar yang ujungnya diurai dapat digunakan sebagai sikat gigi. Di Kamboja, akar kelapa digunakan dalam pengobatan tradisional.[146] Serat sisa dari produksi minyak dan santan kelapa, yang disebut bungkil kelapa, digunakan sebagai pakan ternak. Kelopak yang sudah kering digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku kayu. Air kelapa secara tradisional digunakan sebagai suplemen pertumbuhan dalam kultur jaringan tumbuhan dan mikropropagasi.[152]
Dalam budaya
[sunting | sunting sumber]

Kelapa (Sanskerta: narikela) digunakan dalam ritual agama Hindu.[153] Buah ini sering kali dihiasi dengan lembaran foil logam berwarna cerah. Kelapa ini dipersembahkan saat pemujaan kepada dewa atau dewi Hindu. Narali Poornima dirayakan pada hari bulan purnama yang biasanya menandai berakhirnya musim muson di India. Kata Narali berasal dari bahasa Marathi naral, yang berarti "kelapa". Para nelayan memberikan persembahan kelapa ke laut untuk merayakan awal musim penangkapan ikan yang baru,[154] dengan harapan mendapatkan tangkapan yang melimpah. Umat Hindu sering kali mengawali kegiatan baru dengan memecahkan kelapa untuk memastikan turunnya berkah dari para dewa. Dewi kesejahteraan dan kekayaan Hindu, Laksmi, sering digambarkan memegang kelapa.[155] Kelapa digunakan dalam pernikahan Hindu sebagai simbol kemakmuran.[156] Bunganya terkadang digunakan dalam upacara pernikahan di Kamboja.[146] Kelapa memiliki signifikansi budaya dan agama bagi masyarakat Austronesia, yang muncul dalam mitologi, lagu, dan tradisi lisan mereka.[52][157]
Klub Zulu Social Aid and Pleasure Club di New Orleans memiliki tradisi melempar kelapa yang dihias dengan tangan, yang merupakan salah satu cendera mata Mardi Gras paling berharga, kepada para penonton pawai. Tradisi ini dimulai pada tahun 1910-an, dan terus berlanjut sejak saat itu. Pada tahun 1987, sebuah "hukum kelapa" ditandatangani oleh Gubernur Edwin Edwards yang membebaskan tanggung jawab asuransi untuk setiap kelapa hias yang "diberikan langsung" (tidak dilempar) dari kendaraan hias Zulu.[158]
Kelapa digunakan sebagai sasaran dan hadiah dalam permainan pasar malam tradisional Inggris, lempar kelapa (coconut shy). Pemain membeli beberapa bola kecil yang akan dilemparkan ke arah kelapa yang diseimbangkan di atas tongkat. Tujuannya adalah menjatuhkan kelapa dari dudukannya untuk memenangkannya.[159]
Kelapa merupakan makanan pokok bagi penganut Agama Kelapa Vietnam (Đạo Dừa), yang kini telah bubar.[160]
Mitos dan legenda
[sunting | sunting sumber]Beberapa budaya di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Samudra Pasifik memiliki mitos asal-usul di mana kelapa memainkan peran utama. Dalam mitos Hainuwele dari Maluku, seorang gadis muncul dari bunga pohon kelapa.[161] Dalam cerita rakyat Maladewa, salah satu mitos asal-usul utamanya mencerminkan ketergantungan masyarakat Maladewa pada pohon kelapa.[162] Dalam kisah Sina dan Belut, asal-usul kelapa diceritakan ketika seorang wanita cantik bernama Sina mengubur seekor belut, yang pada akhirnya tumbuh menjadi kelapa pertama.[163]
Menurut legenda urban, lebih banyak kematian yang disebabkan oleh kelapa jatuh daripada oleh hiu setiap tahunnya, meskipun kenyataannya adalah sebaliknya.[164]
Sejarah awal
[sunting | sunting sumber]Bukti literatur dari Ramayana dan kronik Sri Lanka menunjukkan bahwa kelapa telah ada di Anak benua India sebelum abad ke-1 SM.[165] Deskripsi langsung paling awal diberikan oleh Cosmas Indicopleustes dalam karyanya Topographia Christiana yang ditulis sekitar tahun 545, di mana kelapa disebut sebagai "kacang besar dari India".[166] Penyebutan awal lainnya terdapat dalam kisah "Seribu Satu Malam" tentang Sinbad si Pelaut, yang membeli dan menjual kelapa pada pelayaran kelimanya.[167]
Pada bulan Maret 1521, Antonio Pigafetta mendeskripsikan kelapa dalam jurnalnya berbahasa Italia dengan kata "cocho", bentuk jamak "cochi". Hal ini menyusul pelintasan Samudra Pasifik pertama oleh orang Eropa selama pelayaran keliling dunia oleh Magellan. Ia menjelaskan bagaimana di Guam "mereka memakan kelapa" ("mangiano cochi") dan bahwa penduduk asli di sana "mengolesi tubuh dan rambut dengan minyak kelapa dan minyak wijen" ("ongieno el corpo et li capili co oleo de cocho et de giongioli").[168]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 "Cocos nucifera L." World Checklist of Selected Plant Families. Royal Botanic Gardens, Kew. 2025. Diakses tanggal 22 November 2025.
- ↑ Pearsall, J., ed. (1999). "Coconut". Concise Oxford Dictionary (Edisi 10th). Oxford: Clarendon Press. ISBN 0-19-860287-1.
- ↑ Pradeepkumar, T.; Sumajyothibhaskar, B.; Satheesan, K. N. (2008). Management of Horticultural Crops. Horticulture Science Series. Vol. 11. New India Publishing. hlm. 539–587. ISBN 978-81-89422-49-3.
- ↑ Sarian, Zac B. (18 August 2010). "New coconut yields high". The Manila Bulletin. Diarsipkan dari asli tanggal 19 November 2011. Diakses tanggal 21 April 2011.
- ↑ Ravi, Rajesh (16 March 2009). "Rise in coconut yield, farming area put India on top". The Financial Express. Diarsipkan dari asli tanggal 15 May 2013. Diakses tanggal 21 April 2011.
- 1 2 3 4 Elzebroek, A. T. G. (2008). Guide to Cultivated Plants. CABI. hlm. 186–192. ISBN 978-1-84593-356-2.
- 1 2 Thampan, P.K. (1981). Handbook on Coconut Palm (PDF). New Delhi, Bombay, and Calcutta: Oxford & IBH Publishing, for Department of Agriculture & Cooperation, Government of India. hlm. 10–11. Diakses tanggal 29 November 2025.
- 1 2 "Cocos nucifera: Coconut palm". Royal Botanic Gardens, Kew. Diakses tanggal 29 November 2025.
- ↑ Willmer, Pat (25 July 2011). Pollination and Floral Ecology. Princeton University Press. hlm. 57. ISBN 978-0-691-12861-0.
- ↑ "Flowering and Fruiting Patterns of Coconut Trees". Agriculture Institute. 27 January 2024. Diakses tanggal 29 November 2025.
Under optimal growing conditions, healthy mature trees produce new inflorescences every month, creating a continuous cycle of flowering and fruiting that can yield 12 to 15 spadices per year.
- ↑ Gordon, André; Jackson, J. (2017). "Case study: application of appropriate technologies to improve the quality and safety of coconut water". Dalam Gordon, André (ed.). Food Safety and Quality Systems in Developing Countries. Vol. 2. hlm. 185–216. ISBN 978-0-12-801226-0.
- ↑ Ranasinghe, C.S.; Silva, L.R.S.; Premasiri, R.D.N. (24 September 2015). "Major determinants of fruit set and yield fluctuation in coconut (Cocos nucifera L.)". Journal of the National Science Foundation of Sri Lanka. 43 (3): 253. doi:10.4038/jnsfsr.v43i3.7955.
- 1 2 3 Lutz, Diana (24 June 2011). "Deep history of coconuts decoded". The Source. Diakses tanggal 10 January 2019.
- 1 2 Novarianto, H.; Mawardi, S.; Tulalo, M. A. (1 January 2022). "The Bido variety is an essential genetic material for coconut breeding". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 974 (1) 012056. Bibcode:2022E&ES..974a2056N. doi:10.1088/1755-1315/974/1/012056.
- ↑ "Coconut botany". Agritech Portal. Tamil Nadu Agricultural University. December 2014. Diakses tanggal 14 December 2017.
- 1 2 Lédo, Ana da Silva; Passos, Edson Eduardo Melo; Fontes, Humberto Rolemberg; Ferreira, Joana Maria Santos; Talamini, Viviane; et al. (2019). "Advances in Coconut palm propagation". Revista Brasileira de Fruticultura. 41 (2) e-159. doi:10.1590/0100-29452019159.
- ↑ Armstrong, W. P. "Edible Palm Fruits". Wayne's Word: An On-Line Textbook of Natural History. Palomar College. Diarsipkan dari asli tanggal 2 September 2018. Diakses tanggal 20 April 2021.
- 1 2 "Cocos nucifera L. (Source: James A. Duke. 1983. Handbook of Energy Crops; unpublished)". Purdue University, NewCROP – New Crop Resource. 1983. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 June 2015. Diakses tanggal 4 June 2015.
- ↑ Sugimuma, Yukio; Murakami, Taka (1990). "Structure and Function of the Haustorium in Germinating Coconut Palm Seed" (PDF). JARQ. 24: 1–14.
- 1 2 3 4 Lebrun, P.; Seguin, M.; Grivet, L.; Baudouin, L. (1998). "Genetic diversity in coconut (Cocos nucifera L.) revealed by restriction fragment length polymorphism (RFLP) markers". Euphytica. 101: 103–108. doi:10.1023/a:1018323721803. S2CID 19445166.
- 1 2 Shukla, A.; Mehrotra, R. C.; Guleria, J. S. (2012). "Cocos sahnii Kaul: A Cocos nucifera L.-like fruit from the Early Eocene rainforest of Rajasthan, western India". Journal of Biosciences. 37 (4): 769–776. doi:10.1007/s12038-012-9233-3. PMID 22922201. S2CID 14229182.
- 1 2 3 Paull, Robert E.; Ketsa, Saichol (March 2015). Coconut: Postharvest Quality-Maintenance Guidelines (PDF). College of Tropical Agriculture and Human Resources, [[University of Hawaiʻi at Mānoa]].
- 1 2 3 Coconut: Postharvest Care and Market Preparation (PDF). Technical Bulletin No. 27. Ministry of Fisheries, Crops and Livestock, New Guyana Marketing Corporation, National Agricultural Research Institute. May 2004.
- ↑ Gerbaud, Pierre; Audibert, Olivier; Bourdeix, Roland (October 2011). "Close-up: Coconut" (PDF). FRuiTROP. No. 193. CIRAD. Diakses tanggal 29 November 2025.
- 1 2 Elevitch, C. R., ed. (April 2006). "Cocos nucifera (coconut), version 2.1". Species Profiles for Pacific Island Agroforestry (PDF). Hōlualoa, Hawaii: Permanent Agriculture Resources. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 October 2013. Diakses tanggal 22 December 2016.
- ↑ Linnaeus, Carl (1753). Species Plantarum. hlm. 1188.
- ↑ Miller, Philip (1768). The Gardeners Dictionary. Vol. 2 (Edisi 8th).
- ↑ Kuntze, Otto (1891). Revisio Generum Plantarum. Vol. 2. hlm. 982.
- ↑ "Delapan Fakta Seputar Kelapa". Trubus.id. 18 Oktober 2023. Diakses tanggal 25 Februari 2026.
- ↑ Cœdès, George (1930). Les inscriptions malaises de Çrīvijaya. Vol. 30. hlm. 29–80.
- ↑ Dalgado, Sebastião (1919). Glossário luso-asiático. Vol. 1. Coimbra, Imprensa da Universidade. hlm. 291.
- ↑ "coco". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 3 May 2020.
- ↑ "coconut". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 3 May 2020.
- 1 2 Losada, Fernando Díez (2004). La tribuna del idioma (dalam bahasa Spanyol). Editorial Tecnologica de CR. hlm. 481. ISBN 978-9977-66-161-2.
- ↑ Figueiredo, Cândido (1940). Pequeno Dicionário da Lingua Portuguesa (dalam bahasa Portugis). Lisbon: Livraria Bertrand.
- ↑ Grimwood, hlm. 1.
- ↑ "National Flower – Nelumbo nucifera" (PDF). ENVIS Resource Partner on Biodiversity. Diakses tanggal 19 February 2021.
- 1 2 3 4 Nayar, N. Madhavan (2016). The Coconut: Phylogeny, Origins, and Spread. Academic Press. hlm. 51–66. ISBN 978-0-12-809779-3.
- ↑ Conran, John G.; Bannister, Jennifer M.; Lee, Daphne E.; Carpenter, Raymond J.; Kennedy, Elizabeth M.; et al. (2015). "An update of monocot macrofossil data from New Zealand and Australia". Botanical Journal of the Linnean Society. 178 (3). Linnean Society: 394–420. doi:10.1111/boj.12284.
- 1 2 Srivastava, Rashmi; Srivastava, Gaurav (2014). "Fossil fruit of Cocos L. (Arecaceae) from Maastrichtian-Danian sediments of central India and its phytogeographical significance". Acta Palaeobotanica. 54 (1): 67–75. doi:10.2478/acpa-2014-0003.
- ↑ Singh, Hukam; Shukla, Anumeha; Mehrotra, R. C. (2016). "A Fossil Coconut Fruit from the Early Eocene of Gujarat". Journal of the Geological Society of India. 87 (3): 268–270. Bibcode:2016JGSI...87..268S. doi:10.1007/s12594-016-0394-9. S2CID 131318482. Diakses tanggal 10 January 2019.
- ↑ Gunn, Bee Fong (2016). Phylogenomics of the coconut (Cocos nucifera L.). Australian National University (PhD thesis).
- ↑ Mahdi, Waruno (1999). "The Dispersal of Austronesian boat forms in the Indian Ocean". Dalam Blench, Roger; Spriggs, Matthew (ed.). Archaeology and Language III: Artefacts languages, and texts. One World Archaeology. Vol. 34. Routledge. hlm. 144–179. ISBN 978-0-415-10054-0.
- ↑ Doran, Edwin B. (1981). Wangka: Austronesian Canoe Origins. Texas A&M University Press. ISBN 978-0-89096-107-0.
- ↑ Johns, D. A.; Irwin, G. J.; Sung, Y. K. (29 September 2014). "An early sophisticated East Polynesian voyaging canoe discovered on New Zealand's coast". PNAS. 111 (41): 14728–14733. Bibcode:2014PNAS..11114728J. doi:10.1073/pnas.1408491111. PMC 4205625. PMID 25267657.
- 1 2 Vollmann, Johann; Rajcan, Istvan (18 September 2009). Oil Crops. Springer Science & Business Media. hlm. 370–372. ISBN 978-0-387-77594-4.
- 1 2 3 4 5 Baudouin, Luc; Lebrun, Patricia (26 July 2008). "Coconut (Cocos nucifera L.) DNA studies support the hypothesis of an ancient Austronesian migration from Southeast Asia to America". Genetic Resources and Crop Evolution. 56 (2): 257–262. doi:10.1007/s10722-008-9362-6. S2CID 19529408.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Gunn, Bee F.; Baudouin, Luc; Olsen, Kenneth M.; Ingvarsson, Pär K. (22 June 2011). "Independent Origins of Cultivated Coconut (Cocos nucifera L.) in the Old World Tropics". PLOS One. 6 (6) e21143. Bibcode:2011PLoSO...621143G. doi:10.1371/journal.pone.0021143. PMC 3120816. PMID 21731660.
- 1 2 Crowther, Alison; Lucas, Leilani; Helm, Richard; Horton, Mark; Shipton, Ceri; et al. (14 June 2016). "Ancient crops provide first archaeological signature of the westward Austronesian expansion". PNAS. 113 (24): 6635–6640. Bibcode:2016PNAS..113.6635C. doi:10.1073/pnas.1522714113. PMC 4914162. PMID 27247383.
- 1 2 3 Brouwers, Lucas (1 August 2011). "Coconuts: not indigenous, but quite at home nevertheless". Scientific American. Diakses tanggal 10 January 2019.
- 1 2 3 4 5 Lew, Christopher. "Tracing the origin of the coconut (Cocos nucifera L.)" (PDF). Prized Writing 2018–2019. University of California, Davis: 143–157. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 June 2021. Diakses tanggal 22 April 2021.
- 1 2 "Deep history of coconuts decoded: Origins of cultivation, ancient trade routes, and colonization of the Americas". ScienceDaily. Washington University in St. Louis. 24 June 2011. Diakses tanggal 22 April 2021.
- 1 2 Ward, R. G.; Brookfield, M. (1992). "Special Paper: the dispersal of the coconut: did it float or was it carried to Panama?". Journal of Biogeography. 19 (5): 467–480. Bibcode:1992JBiog..19..467W. doi:10.2307/2845766. JSTOR 2845766.
- ↑ Gunn, Bee; Baudouin, Luc; Olsen, Kenneth M. (2011). "Independent Origins of Cultivated Coconut (Cocos nucifera L.) in the Old World Tropics". PLOS One. 6 (6) e21143. Bibcode:2011PLoSO...621143G. doi:10.1371/journal.pone.0021143. PMC 3120816. PMID 21731660.
- 1 2 Harries, H. C. (1978). "The evolution, dissemination and classification of Cocos nucifera L.". The Botanical Review. 44 (3): 265–319. Bibcode:1978BotRv..44..265H. doi:10.1007/bf02957852. S2CID 26636137.
- ↑ "Chapter 1: Botany of the Coconut Palm". bioversityinternational.org. Diarsipkan dari asli tanggal 12 December 2013.
- ↑ Huang, Y.-Y.; Matzke, A. J. M.; Matzke, M. (2013). "Complete sequence and comparative analysis of the chloroplast genome of coconut palm (Cocos nucifera)". PLOS One. 8 (8) e74736. Bibcode:2013PLoSO...874736H. doi:10.1371/journal.pone.0074736. PMC 3758300. PMID 24023703.
- 1 2 3 Rivera, R.; Edwards, K. J.; Barker, J. H.; Arnold, G. M.; Ayad, G.; Hodgkin, T.; Karp, A. (1999). "Isolation and characterization of polymorphic microsatellites in Cocos nucifera L". Genome. 42 (4): 668–675. doi:10.1139/g98-170. PMID 10464790.
- 1 2 3 Bourdeix, R.; Prades, A. (2017). A Global Strategy for the conservation and use of Coconut Genetic Resources 2018–2028. Bioversity International. ISBN 978-92-9043-984-4.
- 1 2 3 Lebrun, P.; Grivet, L.; Baudouin, L. (2013). "Use of RFLP markers to study the diversity of the coconut palm". Dalam Oropeza, C.; Verdeil, J.K.; Ashburner, G. R.; Cardeña, R.; Santamaria, J. M. (ed.). Current Advances in Coconut Biotechnology. Springer Science & Business Media. hlm. 83–85. ISBN 978-94-015-9283-3.
- ↑ Wang, Shouchuang; Xiao, Yong; Zhou, Zhi-Wei; Yuan, Jiaqing; Guo, Hao; et al. (4 November 2021). "High-quality reference genome sequences of two coconut cultivars provide insights into evolution of monocot chromosomes and differentiation of fiber content and plant height". Genome Biology. 22 (1): 304. doi:10.1186/s13059-021-02522-9. PMC 8567702. PMID 34736486.
- 1 2 Chan, Edward; Elevitch, Craig R. (April 2006). "Cocos nucifera (coconut): Environmental Preferences and Tolerances". Dalam C. R. Elevitch (ed.). Species Profiles for Pacific Island Agroforestry (PDF). Hōlualoa, Hawaii: Permanent Agriculture Resources. hlm. 9–10. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 October 2013.
- ↑ Harries, H. C. (2012). "Germination rate is the significant characteristic determining coconut palm diversity". Annals of Botany. 2012 pls045. doi:10.1093/aobpla/pls045. PMC 3532018. PMID 23275832.
- ↑ McGinley, Mark; Hogan, C. Michael (19 April 2011). "Petenes mangroves: types and severity of threats". The Encyclopedia of Earth. World Wide Fund for Nature. Diarsipkan dari asli tanggal 11 October 2012. Diakses tanggal 17 December 2016.
- ↑ Carr, M. K. V. (5 April 2012). Advances in irrigation agronomy: plantation crops. Cambridge University Press. hlm. 101.
- ↑ Bourdeix, Ronald (9 December 2016). "Clarion call for King Coconut". Asia Times. Diakses tanggal 14 December 2016.
- ↑ Yarro, J. G.; Otindo, B. L.; Gatehouse, A. G.; Lubega, M. C. (December 1981). "Dwarf variety of coconut, Cocos nucifera (Palmae), a hostplant for the African armyworm, Spodoptera exempta (Wlk.) (Lepidoptera, Noctuidae)". International Journal of Tropical Insect Science. 1 (4): 361–362. Bibcode:1981IJTIS...1..361Y. doi:10.1017/S1742758400000667. S2CID 88007323.
- ↑ "Report: 26 provinces quarantined for coconut pest". GMA News Online. 28 September 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 December 2016. Diakses tanggal 17 December 2016.
- ↑ "Aceria guerreronis (coconut mite)". Invasive Species Compendium. CABI Compendium. CABI: 2596. 2020. doi:10.1079/cabicompendium.2596. Diakses tanggal 22 November 2025.
- ↑ McDonald, Sharon Angella (9 July 1997). Infestation patterns of the coconut mite, Eriophyes guerreronis (Keifer) (Acari: Eriophyidae), on coconuts and resulting yield loss in eastern Jamaica (Master of Science thesis). Virginia Polytechnic Institute and State University. hdl:10919/36916. Diakses tanggal 22 November 2025.
- ↑ Lindquist, E.E.; Bruin, J.; Sabelis, M.W. (1996). Eriophyoid Mites: Their Biology, Natural Enemies and Control. Elsevier. hlm. 561–569. ISBN 978-0-08-053123-6.
- ↑ Parthasarathy, V. I.; Geethalakshmi, P.U.; Niral, V. I. (15 April 2004). "Analysis of coconut cultivars and hybrids using isozyme polymorphism". Acta Botanica Croatica. 63 (1): 69–74.
- ↑ Sukendah; Volkaert, Hugo; Sudarsono (2009). "Isolation and Analysis of DNA Fragment of Genes Related to Kopyor Trait in Coconut Plant". Indonesian Journal of Biotechnology. 14 (2): 1169–1178.
- ↑ "Coconut Varieties". floridagardener.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 October 2015. Diakses tanggal 19 May 2016.
- ↑ Centre for Information on Coconut Lethal Yellowing (CICLY) Diarsipkan 5 June 2009 di Wayback Machine.
- ↑ Harries, H.C.; Romney, D.H. (1974). "Maypan: an F1 hybrid coconut variety for commercial production in Jamaica". World Crops. 26: 110–111.
- ↑ Broschat, T. K.; Harrison, N. A.; Donselman, H. (2002). "Losses to Lethal Yellowing Cast Doubt on Coconut Cultivar Resistance" (PDF). Palms. 46 (4): 185–189.
- ↑ Lebrun, P.; Baudouin, L.; Myrie, W.; Berger, A.; Dollet, M. (14 November 2007). "Recent lethal yellowing outbreak: why is the Malayan Yellow Dwarf Coconut no longer resistant in Jamaica?". Tree Genetics & Genomes. 4 (1): 125–131. doi:10.1007/s11295-007-0093-1. ISSN 1614-2942. Diakses tanggal 23 November 2025.
- ↑ Ahuja, M.; Jain, S. (2017). Biodiversity and Conservation of Woody Plants. Sustainable Development and Biodiversity. Vol. 17. Springer. hlm. 23. doi:10.1007/978-3-319-66426-2. ISBN 978-3-319-66425-5. S2CID 518220.
- ↑ Adkins, Steve; Foale, Mike; Bourdeix, Roland; Nguyen, Quang; Biddle, Julianne (2020). Adkins, Steve; Foale, Mike; Bourdeix, Roland; Nguyen, Quang; Biddle, Julianne (ed.). Coconut Biotechnology: Towards the Sustainability of the 'Tree of Life'. Springer. hlm. 128, 132. doi:10.1007/978-3-030-44988-9. ISBN 978-3-030-44987-2. S2CID 220051653.
- ↑ Konan, K.; Koffi, K.; Konan, J.; Lebrun, P.; Dery, S.; Sangare, A. (2010). "Microsatellite gene diversity in coconut (Cocos nucifera L.) accessions resistants to lethal yellowing disease". African Journal of Biotechnology. 6 (4).
- ↑ Nair, Raman V.; Jerard, B. A.; Thomas, Regi J. (2016). "Coconut breeding in India". Advances in plant breeding strategies: agronomic, abiotic and biotic stress traits. Springer International. hlm. 257–279.
- ↑ Santos, Pedro Henrique Araújo Diniz; Venâncio, Thiago Motta; dos Santos, Pedro Henrique Dias; Ramos, Helaine Christine Cancela; Arêdes, Fernanda Abreu Santana; et al. (2020). "Genotyping-by-sequencing technology reveals directions for coconut (Cocos nucifera L.) breeding strategies for water production". Euphytica. 216 (3) 45: 1–9. Bibcode:2020Euphy.216...45S. doi:10.1007/s10681-020-02582-1. Diakses tanggal 22 November 2025.
- 1 2 3 4 "Harvesting and Post-harvest Management". Coconut Handbook. Tetra Pak. 28 December 2016. Diakses tanggal 18 April 2021.
- 1 2 "Coconut Production Guide". Business Diary PH. 30 March 2020. Diakses tanggal 18 April 2021.
- ↑ Piggott, C.J. (1964). Coconut Growing. Oxford University Press. hlm. 61.
- ↑ "Tropical Tree and Palm Crops". Encyclopedia of Occupational Health & Safety. International Labour Organization. Diakses tanggal 24 April 2021.
- ↑ George, Bincy M.; Rao, Muddanna S.; Kumar, Arunachalam; Suvarna, Niveditha; D'Souza, Jessica Sushima (2012). "Health of coconut tree climbers of rural southern India – medical emergencies, body mass index and occupational marks: A quantitative and survey study" (PDF). Journal of Clinical and Diagnostic Research. 6 (1): 57–60.
- ↑ Coconut wood: Processing and Use (PDF). Food and Agriculture Organization of the United Nations. 1985. hlm. 27. ISBN 92-5-102253-4.
- ↑ Safford, William Edwin (8 April 1905). "The Useful Plants of the Island of Guam". Bulletin of the United States National Museum. 9: 243.
- 1 2 "Climbing the coconut palm". COGENT. Diarsipkan dari asli tanggal 16 December 2021. Diakses tanggal 24 April 2021.
- 1 2 3 Loyola, James A. (23 July 2020). "Philippine coconut industry: No monkey business here". Manila Bulletin. Diakses tanggal 18 April 2021.
- 1 2 Tetra Pak (2016). "The Chemistry of Coconut Milk and Cream". Coconut Handbook. Tetra Pak International S.A. ISBN 978-91-7773-948-7.
- ↑ Kumar, V. Sajeev (20 March 2011). "New mechanical coconut climbing device developed". Business Line. Diakses tanggal 18 April 2021.
- ↑ Subramanian, Parvathi; Sankar, Tamil Selvi (7 April 2021). "Development of a novel coconut-tree-climbing machine for harvesting". Mechanics Based Design of Structures and Machines. 51 (5): 2757–2775. doi:10.1080/15397734.2021.1907756. S2CID 233530078.
- ↑ Geethalaxmi; Anjali; Ashritha; Sharma, Rajan; Bhat, Shilpa Ganapati (15 June 2024). "Real Time Sustainable Cultivation of Coconut Tree Crops using ML". Grenze International Journal of Engineering & Technology (GIJET). 10 (2, Part 4): 4666–4670. Diakses tanggal 22 November 2025.
- ↑ Bello, Rolando T.; Pantoja, Blanquita R.; Tan, Maria Francesca O.; Banalo, Roxanne A.; Alvarez, Jaonne V.; Rañeses, Florita P. (2020). "A study on skills for trade and economic diversification (STED) in the non-traditional coconut export sectors of the Philippines" (PDF). Employment Working Paper. Geneva: International Labor Organization: 18.
- ↑ Bertrand, M (27 January 1967). "Training without reward: traditional training of pig-tailed macaques as coconut harvesters". Science. 155 (3761): 484–6. Bibcode:1967Sci...155..484B. doi:10.1126/science.155.3761.484. PMID 4959310.
- ↑ Barclay, Eliza (19 October 2015). "What's Funny About The Business Of Monkeys Picking Coconuts?". NPR.
- ↑ "The truth behind the "widespread" practice of monkeys harvesting coconuts in Thailand impacting on consumers & retailers". Vegworld Magazine. 31 July 2020. Diakses tanggal 18 April 2021.
- ↑ Pratruangkrai, Petchanet (16 July 2020). "Focus: Thai coconut farmers reject monkey abuse charges, suffer lost income". Kyodo News. Diakses tanggal 18 April 2021.
- ↑ Bertrand, Mireille (27 January 1967). "Training without Reward: Traditional Training of Pig-tailed Macaques as Coconut Harvesters". Science. 155 (3761): 484–486. Bibcode:1967Sci...155..484B. doi:10.1126/science.155.3761.484. PMID 4959310.
- ↑ "Coconut production in 2023, Crops/Regions/World list/Production Quantity/Year (pick lists)". UN Food and Agriculture Organization, Corporate Statistical Database. 2025. Diakses tanggal 23 November 2025.
- ↑ Coconut Development Board, Government of India (n.d.). "Coconut Cultivation". Diarsipkan dari asli tanggal 10 December 2015. Diakses tanggal 8 December 2015.
- ↑ Coconut Development Board, Government of India (n.d.). "Coconut Cultivation". Diarsipkan dari asli tanggal 8 December 2015. Diakses tanggal 8 December 2015.
- ↑ "Kerala at a glance". Kerala Forest Department. Diakses tanggal 21 November 2025.
- ↑ Perera, Lalith; Baudouin, Luc; Bourdeix, Roland; Fadhil, Anwar Bait; Hountondji, Fabien C. C.; Al-Shanfri, Abdulaziz (2011). "Coconut Palms on the Edge of the Desert: Genetic Diversity of Cocos nucifera L. in Oman" (PDF). Cord. 27 (1): 9–19.
- ↑ Halsall, Paul, ed. (21 February 2001). "Medieval Sourcebook: Ibn Battuta: Travels in Asia and Africa 1325–1354". Fordham University Center for Medieval Studies. Diarsipkan dari asli tanggal 13 May 2011. Diakses tanggal 14 April 2011.
- ↑ "Coconut Industry in Sri Lanka". Sri Lanka Business. Sri Lanka Export Development Board. Diakses tanggal 3 January 2021.
- 1 2 Neelakantan, N.; Seah, J.Y.; van Dam, R.M. (March 2020). "The Effect of Coconut Oil Consumption on Cardiovascular Risk Factors: A Systematic Review and Meta-Analysis of Clinical Trials". Circulation. 141 (10): 803–814. doi:10.1161/CIRCULATIONAHA.119.043052. PMID 31928080.
Coconut oil should not be viewed as healthy oil for cardiovascular disease risk reduction, and limiting coconut oil consumption because of its high saturated fat content is warranted.
Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) - 1 2 Spiazzi, B.F.; Duarte, A.C.; Zingano, C.P.; et al. (June 2023). "Coconut oil: an overview of cardiometabolic effects and the public health burden of misinformation". Archives of Endocrinology and Metabolism. 67 (6) e000641. doi:10.20945/2359-3997000000641. PMC 10660992. PMID 37364144.
The use of coconut oil as a "healthy" component of the western diet is based on the major spread of misconceptions regarding it. The combination of the established knowledge on the negative effects of saturated fats on cardiovascular health and the lack of evidence from clinical trials showing a benefit from coconut oil intake in cardiovascular and metabolic disease advise against the consumption of this oil as a preferential source of dietary fat.
- ↑ "Sorting fact from fiction – seed oils and coconut oil". National Heart Foundation of Australia. 23 May 2025. Diakses tanggal 23 November 2025.
- ↑ Michavila Gomez, A.; Amat Bou, M.; Gonzalez Cortés, M.V.; Segura Navas, L.; Moreno Palanques, M.A.; Bartolomé, B. (2015). "Coconut anaphylaxis: Case report and review". Allergologia et Immunopathologia. 43 (2): 219–220. doi:10.1016/j.aller.2013.09.004. PMID 24231149.
- ↑ "Guidance for Industry: A Food Labeling Guide (6. Ingredient Lists); Major Food Allergens (food source names and examples)". Food Labeling and Nutrition. Food and Drug Administration. January 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 29 May 2016. Diakses tanggal 29 May 2016.
- 1 2 Jacob, S. E.; Amini, S. (2008). "Cocamidopropyl betaine". Dermatitis (Review). 19 (3): 157–160. doi:10.2310/6620.2008.06043. PMID 18627690.
- ↑ Schnuch, A.; Lessmann, H.; Geier, J.; Uter, W. (2011). "Is cocamidopropyl betaine a contact allergen? Analysis of network data and short review of the literature". Contact Dermatitis (Review). 64 (4): 203–211. doi:10.1111/j.1600-0536.2010.01863.x. PMID 21392028. S2CID 205814762.
- ↑ Margolis, Jason (13 December 2006). "Coconut fuel". PRI's The World. Diarsipkan dari asli tanggal 31 August 2011. Diakses tanggal 10 April 2011.
- 1 2 3 Roehl, E. (1996). Whole Food Facts: The Complete Reference Guide. Inner Traditions/Bear. hlm. 115. ISBN 978-0-89281-635-4.
- 1 2 Edgie Polistico (2017). Philippine Food, Cooking, & Dining Dictionary. Anvil Publishing, Incorporated. ISBN 978-971-27-3170-9.
- ↑ Coconut: Pacific food leaflet No. 4 (PDF). Secretariat of the Pacific Community. 2006. ISBN 978-982-00-0164-0.
- 1 2 El Bassam, N. (2010). Handbook of Bioenergy Crops: A Complete Reference to Species, Development, and Applications. Earthscan. hlm. 159. ISBN 978-1-84977-478-9.
- ↑ Chu, Wai Hon; Lovatt, Connie (2009). The Dumpling: A Seasonal Guide. Harper Collins. hlm. 8. ISBN 978-0-06-195940-0.
- ↑ "ICC Quality Standard: Desiccated Coconut". International Coconut Community. United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN-ESCAP). Diarsipkan dari asli tanggal 16 December 2021. Diakses tanggal 7 June 2021.
- ↑ Ghosh, D.K. (2015). "Postharvest, Product Diversification and Value Addition in Coconut". Dalam Sharangi, Amit Baran; Datta, Suchand (ed.). Value Addition of Horticultural Crops: Recent Trends and Future Directions. Springer. ISBN 978-81-322-2262-0.
- ↑ "Exporting desiccated coconuts to Europe". CBI. Centrum tot Bevordering van de Import uit ontwikkelingslanden (CBI), Netherlands Ministry of Foreign Affairs. Diakses tanggal 7 June 2021.
- ↑ NIIR Board of Consultants and Engineers (2006). The Complete Book on Coconut & Coconut Products (Cultivation and Processing). Asia Pacific Business Press. hlm. 274. ISBN 978-81-7833-007-5.
- ↑ Naik, A.; Raghavendra, S. N.; Raghavarao, K. S. (2012). "Production of coconut protein powder from coconut wet processing waste and its characterization". Applied Biochemistry and Biotechnology. 167 (5): 1290–302. doi:10.1007/s12010-012-9632-9. PMID 22434355. S2CID 11890199.
- 1 2 Grimwood, hlm. 183–187.
- ↑ Philippine Coconut Authority (2014). Coconut Processing Technologies: Coconut Milk (PDF). FPDD Guide No. 2 – Series of 2014. Department of Agriculture, Republic of the Philippines. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 November 2020. Diakses tanggal 24 May 2019.
- ↑ Duruz, Jean; Khoo, Gaik Cheng (2014). Eating Together: Food, Space, and Identity in Malaysia and Singapore. Rowman & Littlefield. hlm. 45. ISBN 978-1-4422-2741-5.
- ↑ Alford, Jeffrey; Duguid, Naomi (2000). Hot Sour Salty Sweet: A Culinary Journey Through Southeast Asia. Artisan Books. hlm. 302. ISBN 978-1-57965-564-8.
- ↑ Thampan, Palakasseril Kumaran (1981). Handbook on Coconut Palm. Oxford & IBH. hlm. 199.
- ↑ Kurian, Alice; Peter, K.V. (2007). Commercial Crops Technology. New India Publishing. hlm. 202–203. ISBN 978-81-89422-52-3.
- ↑ Janick, J.; Paull, R. E. (2008). Cocos in The Encyclopedia of Fruit and Nuts. hlm. 109–113. ISBN 978-0-85199-638-7. Diakses tanggal 11 May 2015.
- ↑ "Ginataang Manok (Chicken Stewed in Coconut Milk) Filipino Recipe!". Savvy Nana's. Diarsipkan dari versi asli pada 16 December 2021. Diakses tanggal 20 April 2019.
- ↑ Tietze, Harald; Echano, Arthur (2006). Coconut: Rediscovered as Medicinal Food. Harald Tietze Publishing. hlm. 37. ISBN 978-1-876173-57-9.
- ↑ Porter, Jolene V. (2005). "Lambanog: A Philippine Drink". Washington, D.C.: American University. Diarsipkan dari asli tanggal 22 February 2011. Diakses tanggal 10 April 2011.
- ↑ Grimwood, hlm. 20.
- ↑ "Coconut oil production in 2022, Crops/Regions/World list/Production Quantity/Year (pick lists)". UN Food and Agriculture Organization, Corporate Statistical Database. 2025. Diakses tanggal 23 November 2025.
- ↑ Sacks, Frank M.; Lichtenstein, Alice H.; Wu, Jason H.Y.; Appel, Lawrence J.; Creager, Mark A.; et al. (2017). "Dietary Fats and Cardiovascular Disease: A Presidential Advisory from the American Heart Association". Circulation. 136 (3): e1 – e23. doi:10.1161/CIR.0000000000000510. PMID 28620111. S2CID 367602.
- ↑ Neelakantan, Nithya; Seah, Jowy Yi Hoong; van Dam, Rob M. (2020). "The effect of coconut oil consumption on cardiovascular risk factors (Systematic review)". Circulation. 141 (10): 803–814. doi:10.1161/circulationaha.119.043052. PMID 31928080. S2CID 210195904.
- ↑ Eyres, L; Eyres, MF; Chisholm, A; Brown, RC (April 2016). "Coconut oil consumption and cardiovascular risk factors in humans". Nutrition Reviews. 74 (4): 267–280. doi:10.1093/nutrit/nuw002. PMC 4892314. PMID 26946252.
- ↑ "Coconut Shell Lump Charcoal". Supreme Carbon Indonesia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 December 2012.
- ↑ The Complete Guide to Edible Wild Plants. New York: Skyhorse Publishing; United States Department of the Army. 2009. hlm. 44. ISBN 978-1-60239-692-0. OCLC 277203364.
- 1 2 3 4 Pauline Dy Phon (2000). Plants Utilised In Cambodia. Phnon Penh: Imprimerie Olympic. hlm. 165–166.
- ↑ Grimwood, hlm. 22.
- ↑ "Hans van Amsterdam: Coconut Cup with Cover (17.190.622ab) – Heilbrunn Timeline of Art History – The Metropolitan Museum of Art". metmuseum.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 October 2013.
- ↑ Grimwood, hlm. 19.
- ↑ Herming, George. (6 March 2006). Wagina whips offenders Diarsipkan 27 October 2006 di Wayback Machine.. Solomon Star.
- ↑ Grimwood, hlm. 18.
- ↑ Yong, J. W.; Ge, L.; Ng, Y. F.; Tan, S. N. (2009). "The chemical composition and biological properties of coconut (Cocos nucifera L.) water". Molecules. 14 (12): 5144–5164. doi:10.3390/molecules14125144. PMC 6255029. PMID 20032881.
- ↑ Patil, Vimla (September 2011). "Coconut – Fruit Of Lustre In Indian Culture". eSamskriti. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 May 2016. Diakses tanggal 18 May 2016.
- ↑ "Narali Purnima". Maharashtra Tourism. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2016. Diakses tanggal 3 August 2016.
- ↑ Dallapiccola, Anna. Dictionary of Hindu Lore and Legend. ISBN 0-500-51088-1.
- ↑ Bramen, Lisa (9 November 2009). "Food Rituals in Hindu Weddings". Smithsonian Magazine. Diakses tanggal 25 May 2020.
- ↑ Nayar, N. Madhavan (2017). The Coconut: Phylogeny, Origins, and Spread. Academic Press. hlm. 10–21. ISBN 978-0-12-809778-6.
- ↑ Scott, Mike (22 February 2017). "How the Zulu coconut was saved from extinction". The Times-Picayune. Diakses tanggal 25 May 2020.
- ↑ Harries, Hugh C. (2004). "Fun Made The Fair Coconut Shy" (PDF). Palms. 48 (2). International Palm Society: 77–82. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 July 2012. Diakses tanggal 8 May 2012.
- ↑ "Coconut religion". Vinhthong. Diarsipkan dari asli tanggal 22 October 2013. Diakses tanggal 25 May 2013.
- ↑ Leeming, David (17 November 2005). Hainuwele – Oxford Reference. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515669-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2013.
- ↑ Romero-Frias, Xavier (2012) Folk tales of the Maldives, NIAS Press Diarsipkan 28 May 2013 di Wayback Machine., ISBN 978-87-7694-104-8
- ↑ "Living Heritage – Marcellin College – Sina and the Eel". livingheritage.org.nz. Diarsipkan dari asli tanggal 29 October 2012.
- ↑ "International Shark Attack File". Shark Research Institute. Diarsipkan dari asli tanggal 29 July 2013. Diakses tanggal 9 January 2014.
- ↑ Blench, Roger; Matthew Spriggs (1998). Archaeology and Language: Correlating archaeological and linguistic hypotheses. Routledge. hlm. 396. ISBN 978-0-415-11761-6.
- ↑ Rosengarten, Frederic Jr. (2004). The Book of Edible Nuts. Dover Publications. pp. 65–93. ISBN 978-0-486-43499-5.
- ↑ "The Fifth Voyage of Sindbad the Seaman – The Arabian Nights – The Thousand and One Nights – Sir Richard Burton translator". Classiclit.about.com. 2 November 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 December 2011. Diakses tanggal 14 February 2012.
- ↑ Pigafetta, Antonio (1906). Magellan's Voyage Around the World, Volume 1 (translated by James Alexander Robertson). Arthur H. Clark Company. hlm. 64–100.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Grimwood, B. E.; Ashman, F. (1975). Coconut Palm Products: Their Processing in Developing Countries. Food and Agriculture Organization. ISBN 978-92-5-100853-9.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
|
Coconut di Wikibuku Cookbooks
- Articles containing Arab-language text
- Articles containing Latin-language text
- Articles containing Sanskerta-language text
- Articles containing Marathi-language text
- Lang and lang-xx code promoted to ISO 639-1
- Kelapa
- Palem yang dapat dimakan
- Flora Maladewa
- Flora Kepulauan Tubuai
- Buah yang berasal dari Asia
- Tanaman taman Asia
- Tanaman taman Amerika Tengah
- Halofit
- Flora alam Afrotropis
- Flora alam Australasia
- Flora alam Indomalaya
- Flora alam Oseania
- Tumbuhan obat
- Hasil hutan nonkayu
- Pohon hias
- Tumbuhan yang dideskripsikan tahun 1753
- Flora Florida
- Simbol Florida
- Pohon Belize
- Pohon di Haiti
- Pohon Republik Dominika
- Flora India (wilayah)
- Pohon Indochina
- Pohon Malesia
- Pohon Pakistan
- Pohon Karibia
- Pohon Pasifik
- Pertanian tropis
- Buah tropis
- Tanaman budi daya
- Kemunculan pertama Eosen yang masih ada
- Teori kontak lintas samudra Pra-Columbus
- Biji penghasil minyak
- Buah batu
- Pohon buah
- Pewarna tumbuhan
- Flora tanpa status konservasi TNC yang diharapkan
- Pertanian Austronesia
