close
Lompat ke isi

Polusi udara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Polusi udara atau pencemaran udara adalah kehadiran zat-zat di udara yang berbahaya bagi manusia, makhluk hidup lain, atau lingkungan. Polutan dapat berupa gas, seperti ozon atau oksida nitrogen, atau partikel kecil seperti jelaga dan debu. Baik udara luar maupun dalam ruangan dapat tercemar.

Polusi udara luar ruangan berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk listrik dan transportasi, kebakaran liar, beberapa proses industri, pengelolaan limbah, pembongkaran, dan pertanian. Polusi udara dalam ruangan sering kali berasal dari pembakaran kayu bakar atau limbah pertanian untuk memasak dan pemanasan. Sumber polusi udara lainnya termasuk badai debu dan letusan gunung berapi. Banyak sumber polusi udara lokal, terutama pembakaran bahan bakar fosil, juga melepaskan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Namun, polusi udara juga dapat membatasi pemanasan secara lokal.

Polusi udara membunuh 7 atau 8 juta orang setiap tahunnya. Ini merupakan faktor risiko yang signifikan untuk sejumlah penyakit, termasuk strok, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, koronavirus, dan kanker paru-paru. Materi partikulat adalah yang paling mematikan, baik untuk polusi udara dalam maupun luar ruangan. Ozon berdampak pada tanaman, dan hutan mengalami kerusakan akibat polusi yang menyebabkan hujan asam. Secara keseluruhan, Bank Dunia memperkirakan bahwa kerugian kesejahteraan (kematian dini) dan kerugian produktivitas (hilangnya tenaga kerja) yang disebabkan oleh polusi udara membebani ekonomi dunia lebih dari $8 triliun per tahun.

Berbagai teknologi dan strategi mengurangi polusi udara. Pendekatan utama meliputi kompor bersih, perlindungan kebakaran, peningkatan pengelolaan sampah, pengendalian debu, penyaring gas buang industri, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Undang-undang kualitas udara nasional sering kali terbukti efektif, terutama Clean Air Act tahun 1956 di Inggris dan Clean Air Act AS tahun 1963. Upaya internasional memberikan hasil yang beragam: Protokol Montreal hampir berhasil menghilangkan bahan kimia berbahaya yang merusak lapisan ozon, sementara tindakan internasional terhadap perubahan iklim kurang berhasil.

Sumber dari manusia

[sunting | sunting sumber]

Industri dan konstruksi

[sunting | sunting sumber]
Debu dan puing-puing membubung saat menara pendingin beton besar runtuh selama pembongkaran terkendali
Pembongkaran menara pendingin sebuah pembangkit listrik, Athlone, Cape Town, Afrika Selatan, 2010.
Sebuah pabrik dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap.
Sebelum desulfurisasi gas buang dipasang, emisi dari pembangkit listrik di New Mexico ini mengandung belerang dioksida dalam jumlah berlebih.

Pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan listrik menyebabkan polusi udara; lignit dan batu bara menghasilkan polusi udara paling banyak, diikuti oleh minyak bumi, dan kemudian oleh gas fosil serta biomassa.[1][2] Kebocoran metana umum terjadi dalam produksi minyak dan gas,[3][4] dan kilang minyak mengemisikan berbagai macam polutan.[5] Beberapa polutan udara berbahaya dihasilkan dalam produksi plastik dan karet, sedangkan kloroform dapat dihasilkan selama klorinasi air, dan arsenik ditemukan di industri pertambangan.[6] Banyak industri penyumbang polusi telah didorong keluar dari negara-negara kaya, dan Tiongkok juga telah mulai mendorong industri-industrinya yang paling menimbulkan polusi ke luar dari negaranya.[7]

Konstruksi dan pembongkaran menghasilkan debu, tetapi juga polutan lainnya. Partikel langsung dari konstruksi dan pembongkaran relatif kasar.[8][9] Konstruksi juga memiliki dampak tidak langsung terhadap kualitas udara, karena produksi semen adalah salah satu sumber utama pencemaran partikel.[5] Meskipun dilarang di banyak negara, asbes masih terdapat di gedung-gedung tua, yang mana bahan tersebut menimbulkan risiko penyakit paru-paru ketika keberadaannya terganggu.[10] Bahan bangunan termasuk karpet dan kayu lapis mengemisikan formaldehida, gas yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan mual.[11]

Transportasi

[sunting | sunting sumber]

Kendaraan jalan raya menghasilkan jumlah polusi udara yang signifikan secara keseluruhan. Sebagai contoh, kendaraan-kendaraan tersebut dapat menjadi penyebab dari sepertiga hingga setengah dari seluruh emisi nitrogen dioksida,[12][13] dan merupakan penyebab utama dari perubahan iklim.[14] Kendaraan dengan mesin bensin dan diesel menghasilkan sekitar setengah dari emisinya melalui gas buang, dan setengah lainnya dari emisi non-gas buang (keausan ban dan rem serta erosi atau gangguan pada permukaan jalan); kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi knalpot, tetapi tetap menghasilkan jenis emisi lainnya.[15] Kereta api diesel, kapal, dan pesawat terbang juga menyebabkan polusi udara.[16]

Pertanian dan limbah

[sunting | sunting sumber]
Asap membubung dari api, dan ditiup oleh angin
Pembakaran terkendali di sebuah ladang di luar Statesboro, Georgia, AS, sebagai persiapan untuk penanaman musim semi.
Beberapa orang sedang bekerja di tumpukan sampah, dengan asap yang membubung dari sana.
Pemrosesan limbah elektronik di Agbogbloshie, Ghana, menggunakan pembakaran terbuka alat elektronik untuk mendapatkan logam berharga seperti tembaga.

Emisi pertanian, baik dari tanaman pangan maupun dari peternakan hewan, berkontribusi besar terhadap polusi udara.[17][18] Sebagai contoh, metana diemisikan melalui proses pencernaan makanan oleh sapi, yang menyebabkan pembentukan ozon permukaan tanah.[19] Pertanian juga merupakan sumber utama amonia, yang dapat membentuk materi partikulat halus.[20] Praktik seperti tebang bakar di hutan-hutan seperti Amazon menyebabkan polusi udara yang besar seiring dengan deforestasi.[21]

Tempat pembuangan sampah terbuka merupakan sumber polusi udara yang umum di negara-negara berpenghasilan rendah. Tempat-tempat tersebut dapat menjadi sumber racun dan dapat memicu pertumbuhan mikrob yang mencemari air dan udara. Melalui pembakaran sampah terbuka—baik terbakar dengan sendirinya maupun dibakar secara sengaja—jelaga, metana, dan polutan lainnya dilepaskan.[22] Limbah organik di tempat pembuangan akhir itu sendiri juga menghasilkan metana saat terurai.[23] Secara global, seperempat dari sampah padat tidak dikumpulkan dan seperempat lainnya tidak dibuang dengan benar.[24]

Sumber rumah tangga

[sunting | sunting sumber]
sebuah tempat api terbuka dari logam bundar berisi ikan-ikan kecil
Pengasapan ikan di atas api terbuka di Ghana, 2018.

Pada tahun 2023, lebih dari 2,3 miliar orang di negara berkembang mengandalkan pembakaran bahan bakar penghasil polusi seperti kayu bakar, limbah pertanian, kotoran kering, batu bara, atau arang untuk memasak, yang menyebabkan polusi udara rumah tangga yang berbahaya.[25] Minyak tanah, bahan bakar berpolusi lainnya, digunakan di banyak negara untuk penerangan dan terkadang untuk pemanas ruangan atau memasak. Secara global, 12% dari pencemaran partikel halus di luar ruangan berasal dari aktivitas memasak di rumah tangga. Dampak kesehatannya terkonsentrasi pada perempuan, yang kemungkinan besar bertanggung jawab untuk memasak, dan anak-anak usia dini.[26]

Kompor gas untuk memasak berkontribusi terhadap polusi udara dalam ruangan dengan mengemisikan Templat:NOx, benzena, dan karbon monoksida.[27] Pemanggang roti dapat menghasilkan pencemaran partikulat.[28] Demikian pula, sistem pemanas seperti tungku pembakaran dan berbagai jenis perangkat pemanas berbahan bakar lainnya melepaskan polutan ke udara.[29] Di beberapa negara maju, termasuk Inggris dan Sydney, Australia, tungku kayu merupakan sumber utama pencemaran partikulat di daerah perkotaan.[30][31] Tungku kayu juga dapat mengemisikan karbon monoksida dan Templat:NOx.[11]

Sumber polusi udara dalam ruangan lainnya adalah bahan bangunan, material biologis, dan asap tembakau. Material biologis, seperti ketombe hewan, tungau debu rumah, kapang, dan serbuk sari, dapat berasal dari manusia, hewan, atau tumbuhan. Beberapa material ini dapat memicu alergi, seperti rinitis alergi.[11] Asap dari pestisida, cat, produk pembersih, dan produk perawatan pribadi bisa sangat besar jumlahnya, dan membentuk porsi yang terus meningkat dari polusi udara dalam serta luar ruangan seiring dengan semakin bersihnya sektor transportasi.[32]

Sumber alami

[sunting | sunting sumber]
Sebuah badai debu mendekati sekumpulan rumah, membuat rumah-rumah tersebut tampak kerdil.
Badai debu mendekati Stratford, Texas, pada tahun 1935.

Debu dari gurun dapat menyebabkan kualitas udara yang buruk jauh dari sumbernya. Sebagai contoh, debu dari Gurun Gobi di Tiongkok dan Mongolia dapat mencapai Hawaii, dan debu dari Sahara mencapai hutan hujan Amazon di Amerika Selatan.[33]

Radon adalah gas radioaktif yang dapat menumpuk di dalam bangunan dari tanah. Gas ini dapat menyebabkan kanker paru-paru, terutama pada perokok. Kadarnya umumnya rendah, tetapi dapat meningkat pada bangunan dengan fondasi yang "bocor" atau daerah dengan tanah yang kaya akan uranium.[34] Letusan gunung berapi dapat menjadi sumber utama belerang dioksida dan juga menghasilkan pencemaran partikel.[35]

Vegetasi dapat mengemisikan gas yang berkontribusi pada pembentukan ozon dan pencemaran partikel. Hal ini khususnya terjadi di iklim yang lebih hangat dan selama musim tanam.[36] Gas-gas ini bereaksi dengan sumber pencemaran manusia untuk menghasilkan kabut asap musiman.[37] Tupelo hitam (black gum), poplar, ek, dan dedalu mengemisikan gas yang dapat meningkatkan kadar ozon hingga delapan kali lipat lebih banyak dibandingkan spesies pohon yang berdampak rendah.[38] Kebakaran hutan, yang telah menjadi lebih parah dan lebih sering terjadi akibat perubahan iklim, melepaskan partikel halus. Peristiwa ini merupakan sumber utama polusi udara.[39]

Polutan utama

[sunting | sunting sumber]
Skema yang menunjukkan (1) CO2 dan CH4 dari pemanasan, berkendara, dan hewan ternak yang menyebabkan pemanasan global (2) pencemaran PM dari berkendara (3) CFC dari bangunan yang menipiskan ozon, menyebabkan sinar UV masuk (4) SO2 dari pembakaran yang menyebabkan hujan asam dan (5) ozon permukaan tanah dari oksida nitrogen dan (6) oksida nitrogen dari knalpot mobil.
Polutan utama, sumber, dan dampaknya: (1) gas rumah kaca, (2) pencemaran partikulat, (3) gas penipis ozon, (4) hujan asam, (5) ozon permukaan tanah, (6) oksida nitrogen

Polutan udara dapat berupa partikel padat atau cair berukuran sangat kecil yang tersebar di udara (disebut aerosol), ataupun berupa gas.[40] Polutan diklasifikasikan sebagai polutan primer atau sekunder. Polutan primer dihasilkan secara langsung oleh suatu sumber dan tetap berada dalam bentuk kimia yang sama setelah diemisikan ke atmosfer. Contohnya termasuk gas karbon monoksida dari knalpot mobil dan belerang dioksida dari pabrik. Polutan sekunder tidak diemisikan secara langsung. Sebaliknya, polutan ini terbentuk di udara ketika polutan primer bereaksi satu sama lain atau dengan bagian atmosfer lainnya. Ozon permukaan tanah adalah salah satu contoh polutan sekunder. Beberapa polutan dapat bersifat primer sekaligus sekunder—diemisikan secara langsung dan juga terbentuk dari polutan primer lainnya.[41]

Amonia (NH3) diemisikan terutama oleh penggunaan pupuk nitrogen sintetis yang berlebihan di lahan pertanian, serta dari pupuk kandang dan urine dari hewan ternak.[42] Pada konsentrasi yang wajar di udara, gas ini tidak berbahaya bagi kesehatan secara langsung. Namun, amonia dapat bereaksi dengan polutan lain di udara untuk membentuk garam amonium sulfat atau nitrat, yang berkontribusi pada pencemaran materi partikulat. Lebih lanjut, ketika amonia terdeposisi ke tanah, hal itu dapat merusak ekosistem melalui eutrofikasi.[43]

Karbon dioksida

[sunting | sunting sumber]

Karbon dioksida (CO2) diemisikan terutama oleh pembakaran bahan bakar fosil.[44] CO2 terkadang disebut sebagai polutan udara, karena gas ini merupakan gas rumah kaca utama yang bertanggung jawab atas perubahan iklim.[45][46] Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia mengakui CO2 sebagai polutan iklim, organisasi tersebut tidak memasukkan gas ini ke dalam Air Quality Guidelines (Pedoman Kualitas Udara) miliknya ataupun menetapkan target yang direkomendasikan untuk gas tersebut.[47] Pertanyaan mengenai terminologi ini memiliki konsekuensi praktis, misalnya, dalam menentukan apakah Clean Air Act (Undang-Undang Udara Bersih) AS (yang dirancang untuk meningkatkan kualitas udara) dianggap turut mengatur emisi CO2. Undang-Undang Pengurangan Inflasi tahun 2022 mengamendemen Clean Air Act untuk mendefinisikan CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil secara eksplisit sebagai polutan udara.[48]

Karbon monoksida

[sunting | sunting sumber]

Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna, tidak berbau, dan beracun.[49] Gas ini merupakan produk pembakaran bahan bakar seperti gas alam, batu bara, atau kayu. Di masa lalu, emisi dari kendaraan merupakan sumber utama CO, tetapi kendaraan modern tidak mengemisikannya dalam jumlah banyak. Kini, kebakaran liar dan api unggun merupakan sumber utama CO di luar ruangan.[50] Di dalam ruangan, CO merupakan masalah yang lebih besar dan terutama berasal dari aktivitas memasak dan pemanasan.[51] Di ruang dengan ventilasi yang buruk, CO dapat menumpuk hingga ke tingkat yang berbahaya, dan paparannya dapat menyebabkan orang kehilangan kesadaran dan meninggal. Ketika CO terurai di atmosfer, proses ini dapat meningkatkan kadar CO2 dan Templat:CH4.[52]

Ozon permukaan tanah

[sunting | sunting sumber]
daun-daun yang menunjukkan bercak putih di antara tulang daun
Daun yang rusak akibat paparan ozon.

Ozon permukaan tanah (O3) sebagian besar tercipta ketika NOx dan senyawa organik volatil bercampur dengan adanya sinar matahari. Gas ini juga dapat terbentuk dari karbon monoksida atau metana.[53] Karena pengaruh suhu dan sinar matahari pada reaksi ini, tingkat ozon yang tinggi paling sering terjadi pada sore hari di musim panas yang terik.[54] Ozon permukaan tanah merupakan gas utama dalam kabut asap fotokimia.[55]

O3 dapat membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga beberapa material, hutan, tanaman, dan hasil panen.[56] Kabut asap menjadi masalah tersendiri di kota-kota besar di mana ia tidak dapat dengan mudah terbawa pergi oleh angin (misalnya, kota-kota yang dibangun di lembah yang dikelilingi pegunungan).[57] Ketika ozon permukaan tanah diproduksi, gas tersebut dapat bertahan di udara selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dan karenanya dapat terbawa jauh dari tempat gas tersebut pertama kali terbentuk.[53]

Oksida nitrogen

[sunting | sunting sumber]
Sebuah video NASA tentang pengukuran satelit terhadap oksida nitrogen, yang menunjukkan penurunan kadar berkat regulasi. Namun, beberapa wilayah memang mengalami peningkatan tingkat polusi NO2, misalnya wilayah yang memiliki aktivitas perekahan hidraulis atau kerusuhan sipil.

Oksida nitrogen (NOx), khususnya nitrogen monoksida (NO), sebagian besar tercipta oleh pembakaran bahan bakar fosil, dan dalam jumlah yang lebih kecil oleh petir. Nitrogen dioksida (NO2) terbentuk dari NO dalam reaksi dengan gas-gas atmosferik lainnya.[58][59] NO dan NO2 dapat membentuk hujan asam, dapat menjadi kabut asap, dan dapat menyebabkan pencemaran nutrien dalam air.[60] NO2 adalah gas beracun berwarna cokelat kemerahan dengan bau yang menyengat, sedangkan NO tidak berbau dan tidak berwarna.[61]

Materi partikulat

[sunting | sunting sumber]

Materi partikulat (PM), yang juga dikenal sebagai pencemaran partikel, mencakup semua zat di udara yang bukan berupa gas.[8][62] Materi ini merupakan campuran dari partikel padat mikroskopis atau tetesan cairan yang tersuspensi dalam gas.[63]

Materi partikulat dapat mengandung beragam jenis material dan senyawa kimia termasuk zat beracun, yang ukurannya bisa sangat bervariasi.[8] PM kasar (PM10) berdiameter 10 mikrometer (μm) atau lebih kecil, PM halus (PM2.5) lebih kecil dari 2,5 μm, dan partikel ultrahalus berukuran 0,1 μm atau lebih kecil.[64] Partikel yang lebih kecil menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kesehatan, karena dapat mencapai aliran darah.[62][64] Kaitan yang pasti antara pencemaran partikulat halus dan tingkat kematian yang lebih tinggi di daerah perkotaan dibuktikan oleh studi Enam Kota Harvard, yang diterbitkan pada tahun 1993.[65]

Cipratan air laut, kebakaran liar, gunung berapi, dan badai debu adalah sumber alami utama dari PM. Sementara itu, sumber dari aktivitas manusia meliputi pembakaran biomassa dan bahan bakar fosil, serta emisi jalan raya dan resuspensi debu. PM hasil aktivitas manusia biasanya lebih halus daripada PM alami.[66] Sebagian besar materi partikulat terbentuk di atmosfer dari gas prekursor. Sebagai contoh, sulfat berasal dari SO2, nitrat dari NO2, dan amonium terbentuk dari amonia. Di sisi lain, jelaga diemisikan secara langsung dari pembakaran, dan terdiri dari karbon hitam dan senyawa organik.[67] Materi partikulat dapat memberikan efek pendinginan secara lokal terhadap iklim, karena materi ini memantulkan sinar matahari menjauhi permukaan Bumi.[68][69][70][71][72]

Belerang dioksida

[sunting | sunting sumber]

Belerang dioksida (SO2), suatu gas yang bersifat asam dan korosif, sebagian besar dihasilkan dari pembakaran minyak mentah dan batu bara. Bahan bakar fosil ini sering kali mengandung senyawa belerang, dan pembakarannya menghasilkan belerang dioksida.[73] Di Eropa dan Amerika Utara, SO2 paling banyak ditemukan di daerah yang memiliki aktivitas pelayaran dan industri yang signifikan, karena bahan bakar lalu lintas jalan raya telah diatur.[74] Sejumlah kecil SO2 dilepaskan dari proses peleburan dan gunung berapi.[75]

Konsentrasi SO2 yang tinggi di udara umumnya juga berujung pada pembentukan oksida belerang (SOx) lainnya. SOx dapat bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer untuk membentuk partikel kecil dan berkontribusi pada pencemaran materi partikulat. Pada konsentrasi tinggi, gas SOx dapat membahayakan tumbuhan dengan merusak daun dan menurunkan tingkat pertumbuhan.[75] Oksidasi lebih lanjut dari SO2, yang sebagian besar terjadi di dalam tetesan awan, membentuk asam sulfat (H2SO4), yang merupakan salah satu komponen dari hujan asam.[76]

Image
Kabut asap mencemari udara.

Senyawa organik volatil

[sunting | sunting sumber]

Senyawa organik volatil (VOC) adalah golongan bahan kimia berbasis karbon yang berwujud gas pada suhu ruangan, ditemukan baik di dalam maupun di luar ruangan.[77] Senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan kabut asap fotokimia dan membentuk aerosol yang berdampak pada iklim. Kelompok ini mencakup metana, aseton, dan toluena. Beberapa di antaranya dapat menyebabkan kanker, seperti butadiena dan benzena,[78] dengan benzena dilepaskan dari aktivitas merokok. Metana adalah gas rumah kaca dan pendorong pemanasan global terbesar kedua. VOC lainnya berkontribusi terhadap pemanasan iklim karena senyawa tersebut membantu membentuk ozon permukaan tanah, sebuah gas rumah kaca.[79]

Polutan lainnya

[sunting | sunting sumber]

Beberapa logam berat bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Sebagai contoh, paparan timbal dapat menyebabkan kesulitan belajar pada anak-anak. Di atmosfer, logam berat dapat eksis dalam berbagai wujud, seperti partikel atau gas. Salah satu bentuk dari kromium dapat menyebabkan kanker. Raksa berbahaya baik sebagai unsur murni maupun di dalam senyawa organik. Di atmosfer, zat ini sebagian besar berasal dari produksi semen, pembakaran batu bara, dan insinerator.[80]

Polutan organik persisten (POP) adalah senyawa organik yang kebal terhadap degradasi lingkungan. Zat-zat tersebut bertahan lama di lingkungan, mampu bertransmisi jarak jauh, mengalami bioakumulasi pada manusia dan hewan, serta mengalami biomagnifikasi di dalam rantai makanan.[81] Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik Persisten mengidentifikasi berbagai pestisida dan POP lain yang menjadi perhatian. Hal ini mencakup dioksin dan furan yang tercipta melalui pembakaran limbah. POP biasanya bersifat semi-volatil (hanya berwujud gas pada suhu yang lebih tinggi) atau non-volatil (diemisikan sebagai partikel). Efek berbahaya dari pestisida DDT, yang merupakan sebuah POP, dipopulerkan oleh buku karya Rachel Carson pada tahun 1962, Silent Spring.[82] PFAS dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) merupakan contoh lain dari POP.[83]

Klorofluorokarbon (CFC) merupakan kelompok senyawa yang merusak lapisan ozon. Senyawa-senyawa ini dulunya banyak digunakan dalam semprotan aerosol, pendingin ruangan, dan pemadam kebakaran. Karena stabilitas kimianya, CFC bertahan di atmosfer dan akhirnya mencapai stratosfer (atmosfer bagian atas).[84] Di sana, senyawa-senyawa tersebut terurai di bawah pengaruh sinar UV, yang melepaskan klorin. Klorin ini pada gilirannya bereaksi dengan ozon, dan menghancurkannya. Karena lapisan ozon menghalangi radiasi UV berbahaya agar tidak mencapai permukaan Bumi, penipisannya memicu berbagai risiko kesehatan seperti penuaan kulit dan kanker kulit.[85]

Tingkat polusi udara untuk daerah perkotaan, perdesaan, serta kota besar dan kecil. India dan Pakistan memiliki konsentrasi sekitar 50 mikrogram PM2.5 per meter kubik. Tiongkok memiliki tingkat sekitar 35, Indonesia sekitar 15, dan AS sekitar 8. Daerah perdesaan umumnya memiliki udara yang sedikit lebih bersih dibandingkan daerah perkotaan.
Tingkat PM2.5 di 5 Negara Terpadat di Dunia pada Tahun 2019.

Paparan polusi udara sangat bervariasi di seluruh dunia dan di berbagai kelompok masyarakat.[86] Anak-anak, misalnya, lebih rentan terpapar karena mereka bernapas lebih cepat daripada orang dewasa dan posisinya lebih dekat ke tanah, di mana polusi dari knalpot kendaraan dan debu lebih terkonsentrasi.[87] Demikian pula, orang yang melakukan olahraga berat menghirup lebih banyak polutan dibandingkan mereka yang sedang beristirahat.[88] Orang-orang dapat mengurangi paparan ini dengan mengenakan masker wajah berkualitas tinggi atau dengan menggunakan pemurni udara.[89]

sebagian besar wilayah menunjukkan bahwa 100% populasinya terpapar polusi udara yang tidak sehat menggunakan pedoman WHO tahun 2017 yang kurang ketat.
Persentase populasi yang terpapar tingkat polusi udara di atas pedoman WHO, 2017.

Untuk beberapa polutan, tingkat paparan yang rendah masih dapat dianggap aman, sedangkan polutan lainnya memiliki dampak kesehatan yang negatif bahkan pada tingkat yang rendah sekalipun.[90] Seiring dengan bertambahnya bukti yang menunjukkan bahwa polutan udara pada tingkat yang sangat rendah sekalipun mampu membahayakan kesehatan manusia, WHO memangkas separuh batas aman yang direkomendasikan untuk materi partikulat dari 10 μg/m3 menjadi 5 μg/m3 pada tahun 2021. Berdasarkan pedoman baru tersebut, hampir seluruh populasi global—sekitar 97%—diklasifikasikan terpapar tingkat partikel halus (PM2.5) yang tidak aman.[91] Batas baru untuk nitrogen dioksida (NO2) ditetapkan 75% lebih rendah.[92] Untuk semua jenis polutan secara kolektif, Organisasi Kesehatan Dunia menyimpulkan bahwa 99% populasi dunia terpapar polusi udara yang berbahaya.[93]

Untuk beberapa polutan seperti karbon hitam, paparan yang terkait dengan lalu lintas mungkin mendominasi total paparan meskipun waktu paparannya tergolong singkat, karena konsentrasi yang tinggi sering kali bertepatan dengan seberapa dekat jaraknya dari jalan raya utama atau partisipasi dalam lalu lintas (kendaraan bermotor).[94] Sebagian besar dari total paparan harian terjadi dalam bentuk lonjakan singkat konsentrasi tinggi.[95]

Berdasarkan kelompok sosial-ekonomi

[sunting | sunting sumber]

Meskipun polusi udara berdampak pada berbagai kelompok populasi, beberapa kelompok terpapar pada tingkat yang lebih tinggi. Di banyak wilayah, terdapat kesenjangan dalam paparan polusi berdasarkan ras dan tingkat pendapatan. Hal ini sangat terlihat di negara-negara yang memiliki tingkat ketimpangan yang tinggi dalam hal pendapatan maupun fasilitas perawatan kesehatan, seperti di Amerika Serikat. Industri yang menimbulkan polusi dan jalan raya lebih cenderung dibangun di lingkungan masyarakat miskin, dan para penduduk di area tersebut lebih sering bekerja di luar ruangan, sehingga menyebabkan peningkatan risiko paparan.[96] Penghuni perumahan umum yang didanai pemerintah, yang mana umumnya berpenghasilan rendah dan tidak mudah untuk pindah ke kawasan yang lebih sehat, sangat terpengaruh oleh berbagai pabrik kimia dan kilang yang ada di sekitar mereka.[97] Selain itu, komunitas berpenghasilan lebih rendah cenderung lebih sering melakukan aktivitas yang menimbulkan polusi, seperti menggunakan bahan bakar hayati berwujud padat untuk memasak.[98][99] Di Amerika Serikat, kelompok Kulit Hitam dan Latino pada umumnya berhadapan dengan tingkat polusi yang lebih tinggi jika dibandingkan kelompok Kulit Putih dan Asia.[100]

Berdasarkan wilayah geografis

[sunting | sunting sumber]
5 kota paling tercemar teratas pada tahun 2024[101]
Kota Konsentrasi PM2.5
Byrnihat, India 128
Delhi, India 108
Karaganda, Kazakhstan 105
Mullanpur, India 102
Lahore, Pakistan 102

Paparan terhadap polusi udara luar ruangan berstatus paling buruk di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Temuan ini sejalan dengan teori kurva Kuznets lingkungan, yang mempostulatkan bahwa polusi paling buruk ada di dalam sistem perekonomian yang sangat mengandalkan manufaktur tetapi belum mampu memprioritaskan regulasi terkait lingkungan.[96] Sementara itu, polusi udara dalam ruangan merupakan yang terburuk di negara-negara miskin (berpendapatan rendah), khususnya di Asia Tenggara, Pasifik barat, dan benua Afrika.[102]

Polusi udara di luar ruangan lazimnya lebih banyak terkonsentrasi pada daerah metropolitan yang padat. Arus urbanisasi menyebabkan peningkatan yang sangat cepat pada tingkat kematian dini akibat polusi udara yang terjadi di berbagai kota beriklim tropis yang sedang bertumbuh pesat.[103] Sebaliknya, persoalan polusi udara dalam ruangan justru paling sering dijumpai pada kawasan perdesaan, yang bisa jadi karena minimnya fasilitas untuk mengakses bahan bakar bersih untuk kebutuhan memasak.[102]

Sebuah peta yang dirilis pada tahun 2025 oleh Climate TRACE memperlihatkan bahwa berbagai jenis racun, termasuk zat PM2.5 (partikel halus), terlepas ke wilayah yang berdekatan dengan tempat bermukim bagi kurang lebih 1,6 miliar orang. Sekitar 900 juta orang di antaranya hidup berada persis di sekitar wilayah operasional fasilitas-fasilitas "pembuang emisi tingkat super" (super-emitting), seperti pembangkit listrik tenaga fosil, fasilitas kilang minyak, area pelabuhan laut, hingga pertambangan darat.[104]

Dampak kesehatan

[sunting | sunting sumber]
Image
Persentase total kematian akibat polusi udara dalam ruangan, 2017.

Polusi udara merupakan faktor risiko penting untuk berbagai penyakit, seperti PPOK (penyakit paru-paru yang umum), strok, penyakit jantung, kanker paru-paru, dan pneumonia. Polusi udara dalam ruangan juga dikaitkan dengan katarak.[90] Menurut WHO, 99% populasi dunia tinggal di daerah dengan polusi udara yang melebihi batas anjuran WHO.[105] Bahkan pada tingkat yang sangat rendah (di bawah tingkat anjuran Organisasi Kesehatan Dunia), partikulat halus dapat terus menimbulkan bahaya.[106]

Polutan yang sangat terkait erat dengan masalah kesehatan meliputi materi partikulat,[107] karbon monoksida,[108] nitrogen dioksida (NO2), ozon (O3),[109] dan belerang dioksida (SO2). Partikulat halus sangat merusak, karena dapat memasuki aliran darah melalui paru-paru dan mencapai organ lain.[110][111] Polusi udara menyebabkan penyakit dengan memicu peradangan dan stres oksidatif, menekan sistem imun, serta dengan merusak DNA.[90]

Orang yang hidup dalam kemiskinan, bayi, dan lansia terdampak polusi udara secara tidak proporsional; kehamilan juga menjadi lebih berisiko ketika terpapar polusi udara.[112] Komunitas dengan status sosial ekonomi yang rendah dan kelompok minoritas lebih rentan terhadap polusi dibandingkan dengan komunitas yang lebih berprivilese.[113] Kelompok berpenghasilan rendah mungkin misalnya memiliki lebih sedikit akses ke fasilitas kesehatan.[96]

Mortalitas

[sunting | sunting sumber]
Image
Perkiraan kematian tahunan akibat polusi udara berkisar antara 6,7 juta hingga 8,8 juta. Sebagai perbandingan, perang menyebabkan 50.000 kematian tahunan dan terorisme 25.000.
peta yang menunjukkan tingkat kematian yang rendah di Eropa dan Amerika, serta tingkat kematian yang tinggi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta Afrika
Kematian pada tahun 2021 akibat polusi udara per 100.000 penduduk (IHME).

Perkiraan kematian akibat polusi udara bervariasi.[114] Global Burden of Disease Study tahun 2024 memperkirakan bahwa polusi udara berkontribusi terhadap 8,1 juta kematian pada tahun 2021, yang mana angka tersebut mewakili lebih dari 1 dari 8 kematian. Pencemaran partikulat luar ruangan (PM2.5) merupakan penyebab kematian terbesar (4,7 juta), diikuti oleh pencemaran partikulat dalam ruangan (3,1 juta) dan ozon (0,5 juta).[115]

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa 6,7 juta orang meninggal dunia akibat polusi udara setiap tahunnya, 4,2 juta di antaranya akibat polusi udara luar ruangan.[116] Sekitar 68% dari kematian dini terkait polusi udara luar ruangan disebabkan oleh penyakit jantung koroner dan strok, 14% akibat PPOK, dan 14% akibat infeksi paru-paru (infeksi saluran pernapasan bawah).[116]

Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2019 memperkirakan bahwa, untuk tahun 2015, jumlahnya berada di kisaran 8,8 juta, dengan 5,5 juta dari kematian dini tersebut diakibatkan oleh polusi udara dari sumber-sumber yang berasal dari aktivitas manusia.[117][118] Rata-rata global hilangnya harapan hidup akibat polusi udara pada tahun 2015 adalah 2,9 tahun, jauh lebih besar dibandingkan, misalnya, 0,3 tahun akibat semua bentuk kekerasan langsung.[119]

Berdasarkan wilayah

[sunting | sunting sumber]

Kematian regional akibat polusi udara tidak hanya bergantung pada paparan regional, tetapi juga pada seberapa besar dan seberapa tua populasi tersebut, serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan.[120]

Di beberapa negara, lebih dari 20% angka kematian disebabkan oleh polusi udara (misalnya Tiongkok, Nepal, Bangladesh, Laos, dan Korea Utara). Di Amerika Selatan, sekitar 4% kematian berasal dari polusi udara, sementara di negara-negara seperti Australia, Kanada, dan AS, jumlah ini berada di bawah 3%.[121]

Secara angka absolut, India dan Tiongkok memiliki jumlah kematian tertinggi akibat polusi udara. Di India, polusi ini berkontribusi terhadap 2,1 juta kematian pada tahun 2021, sedangkan Tiongkok mencatat 2,4 juta kematian.[122] Kematian dini tahunan di Eropa akibat polusi udara diperkirakan mencapai 416.000[123] hingga 800.000.[118] Inggris mencatat sekitar 17.000 kematian pada tahun 2021 akibat polusi udara dan AS mencatat 64.000. Nigeria, Indonesia, dan Pakistan masing-masing mencatat lebih dari 200.000 kematian akibat polusi udara.[124]

Berdasarkan sumber

[sunting | sunting sumber]
Image
Kematian yang disebabkan oleh kecelakaan dan polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil di pembangkit listrik melebihi jumlah kematian akibat produksi energi terbarukan.[2]

Pembakaran bahan bakar fosil adalah sumber terbesar kematian akibat polusi udara.[125] Diperkirakan terdapat 4,5 juta kematian dini tahunan di seluruh dunia akibat polutan yang dilepaskan oleh pembangkit listrik beremisi tinggi dan knalpot kendaraan.[126] PM2.5 yang terbentuk dari emisi pembangkit listrik tenaga batu bara dapat lebih berbahaya daripada jenis materi partikulat halus lainnya.[127]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa polusi terkait aktivitas memasak menyebabkan 3,8 juta kematian setiap tahunnya.[128] Studi Global Burden of Disease memperkirakan jumlah kematian pada tahun 2021 berada di angka 3,1 juta jiwa.[129]

Penyakit kardiovaskular

[sunting | sunting sumber]

Terdapat bukti kuat bahwa polusi udara meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk strok, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung koroner.[130] Menurut studi Global Burden of Disease, polusi udara bertanggung jawab atas 27% kematian akibat strok di seluruh dunia dan 28% akibat penyakit jantung koroner.[131] Risiko ini paling tinggi di wilayah dengan polusi udara yang lebih tinggi (misalnya Asia), pada lansia, dan orang yang kelebihan berat badan.[130]

Polusi udara merupakan faktor risiko utama untuk strok, terutama di negara-negara berkembang di mana tingkat polutan berada pada level tertinggi.[131] Sebuah analisis sistematis terhadap 17 faktor risiko yang berbeda di 188 negara menemukan bahwa polusi udara dikaitkan dengan hampir satu dari tiga kasus strok (29%) di seluruh dunia (34% kasus strok di negara berkembang dibandingkan dengan 10% di negara maju).[132][133] Mekanisme yang menghubungkan polusi udara dengan peningkatan mortalitas kardiovaskular belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan melibatkan peradangan sistemik dan stres oksidatif.[134]

Penyakit paru-paru

[sunting | sunting sumber]

Polusi udara dikaitkan dengan peningkatan perkembangan penyakit, rawat inap, mortalitas, dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik).[135] PPOK adalah penyakit umum yang menyebabkan terhambatnya aliran udara dan kesulitan bernapas, serta merupakan penyebab kematian terbesar keempat di dunia.[136] Hampir separuh kematian global akibat PPOK disebabkan oleh polusi udara.[131] Partikel halus (PM2.5) dan NO2 dikaitkan dengan peningkatan risiko mengidap PPOK.[137] Pada anak-anak, polusi udara dapat menghambat perkembangan paru-paru, yang mungkin meningkatkan kerentanan mereka terhadap PPOK di kemudian hari.[135]

Lebih lanjut, polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko asma dan perburukan gejalanya, dan efek ini tampak lebih kuat pada anak-anak.[138] Pada orang dewasa, partikel halus (PM2.5) atau NO2 tampaknya juga terkait dengan kemunculan asma.[139] Paparan ozon jangka pendek memperburuk asma pada anak-anak.[140] Terdapat bukti yang terbatas mengenai serangan asma yang (hampir) berakibat fatal pada anak-anak: ozon permukaan tanah dan PM2.5 tampaknya meningkatkan risikonya.[141]

Awan pabrik yang gelap menutupi Jembatan Clark Avenue di Cleveland, Ohio, pada bulan Juli 1973.
Awan gelap yang diemisikan oleh pabrik menutupi Jembatan Clark Avenue di Cleveland, Ohio pada bulan Juli 1973.

Sekitar 265.000 kematian akibat kanker paru-paru secara global pada tahun 2019 dikaitkan dengan paparan materi partikulat halus (PM2.5) yang tersuspensi di udara.[142] Paparan polusi udara dalam ruangan, termasuk radon, menyebabkan 170.000 kematian lainnya akibat kanker paru-paru.[142] Kanker paru-paru juga lebih umum terjadi pada orang-orang yang terpapar NO2 dan karbon hitam.[143]

Polusi udara luar ruangan mungkin meningkatkan risiko jenis kanker lainnya juga, tetapi buktinya tidak sejelas pada kasus kanker paru-paru.[144] Sebagai contoh, mungkin terdapat hubungan antara kanker ginjal dengan tingkat PM2.5 dan NO2.[145] Polusi udara rumah tangga–dari aktivitas memasak dengan bahan bakar padat, tetapi juga dari radon pada bahan bangunan–telah dikaitkan dengan kanker serviks, mulut, dan kanker esofagus.[144]

Kehamilan dan anak-anak

[sunting | sunting sumber]

Kelahiran mati, keguguran, dan cacat bawaan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk terjadi ketika sang ibu terpapar polusi udara selama masa kehamilan.[87] Paparan polusi udara juga meningkatkan kemungkinan seorang bayi memiliki berat badan lahir rendah. Dampak-dampak ini mungkin disebabkan oleh polutan yang secara langsung memengaruhi plasenta atau janin, ataupun secara tidak langsung melalui kondisi kesehatan sang ibu (karena polusi udara dapat memicu peradangan sistemik dan stres oksidatif).[87]

Lebih dari sepertiga angka kelahiran prematur dikaitkan dengan polusi udara secara global pada tahun 2021. Hal ini menyebabkan lebih dari setengah juta kematian bayi baru lahir, yakni seperempat dari keseluruhan angka kematian.[87] Sumber PM2.5 sangat bervariasi di setiap wilayah. Di Asia Selatan dan Asia Timur, ibu hamil sering kali terpapar polusi udara dalam ruangan akibat kayu dan bahan bakar biomassa lainnya yang digunakan untuk memasak, yang mana bertanggung jawab atas lebih dari 80% polusi regional. Di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Sub-Sahara bagian barat, PM halus berasal dari sumber alami, seperti badai debu.[146]

Berdasarkan data yang juga mencakup anak-anak yang lebih tua, udara yang tercemar mengakibatkan kematian lebih dari 700.000 anak pada tahun 2021 (709.000 anak berusia di bawah 5 tahun dan 16.600 anak berusia 5–14 tahun).[87] Anak-anak di negara berpendapatan rendah atau menengah terpapar materi partikulat halus pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berada di negara berpendapatan tinggi.[147] Dampak kesehatan lebih lanjut dari polusi udara pada anak-anak meliputi asma, pneumonia, dan infeksi saluran pernapasan bawah.[148] Kemungkinan terdapat kaitan antara paparan polusi udara selama masa kehamilan serta pascakelahiran dengan autisme pada anak-anak.[149][150]

Banyak dari hubungan ini sebelumnya hanya dapat dideskripsikan sebagai korelasi, karena desain penelitian yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat sulit atau tidak mungkin untuk dilakukan di dalam ilmu kedokteran lingkungan. Hal ini akan membutuhkan sebuah uji coba terkontrol secara acak. Para ilmuwan di BIPS di Bremen berhasil mendemonstrasikan hubungan kausal untuk setidaknya beberapa masalah kesehatan (misalnya diabetes dan tekanan darah tinggi) dengan menggunakan desain studi yang khusus.[151]

Kesehatan otak

[sunting | sunting sumber]

Polusi udara dikaitkan dengan berbagai penyakit pada otak.[152] Hal ini meningkatkan risiko demensia.[153][154]

Paparan polusi udara dalam ruangan selama masa kanak-kanak dapat berdampak negatif terhadap fungsi kognitif dan perkembangan saraf.[155][156] Paparan prenatal juga dapat memengaruhi perkembangan saraf.[157][158] Paparan polusi udara dapat berkontribusi pada berbagai penyakit neurodegeneratif seperti penyakit Parkinson.[156] 

Paparan polusi udara juga dapat memicu masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.[159] Secara khusus, polusi udara dari penggunaan bahan bakar padat dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi.[160] Risiko depresi dan bunuh diri lebih kuat dikaitkan dengan materi partikulat yang lebih halus (PM2.5), dibandingkan dengan partikel yang lebih kasar (PM10). Kaitan ini paling kuat terlihat pada orang-orang yang berusia di atas 65 tahun.[161]

Masalah pemikiran (masalah kognitif) juga dikaitkan dengan polusi udara. Pada orang berusia di atas 40 tahun, baik NOx maupun PM2.5 telah dikaitkan dengan masalah kognitif secara umum. PM2.5 juga dikaitkan dengan penurunan kelancaran verbal (misalnya, jumlah hewan yang dapat disebutkan oleh seseorang dalam satu menit) dan perburukan fungsi eksekutif (seperti perhatian dan memori kerja). Demikian pula, anak-anak cenderung mendapatkan hasil yang lebih buruk dalam berbagai tes yang melibatkan memori kerja ketika terdapat pencemaran NOx, PM2.5, atau PM10.[162]

Aktivitas fisik

[sunting | sunting sumber]

Manfaat kesehatan dari olahraga fisik dapat dipengaruhi oleh kualitas udara. Sebuah studi lintas negara pada tahun 2025 yang melibatkan 1,5 juta orang dewasa mendemonstrasikan bahwa tingkat materi partikulat halus ambien (PM2.5 μg/m³) yang tinggi dapat secara signifikan mengurangi efek perlindungan dari aktivitas fisik di waktu luang terhadap mortalitas semua sebab maupun penyebab spesifik.[163]

Studi tersebut mengidentifikasi ambang batas kritis paparan sebesar 25 μg/m³; di bawah konsentrasi rata-rata tahunan ini, olahraga teratur mengurangi mortalitas semua sebab sekitar 30%. Namun, manfaat ini berkurang setengahnya (menjadi 12–15%) ketika konsentrasinya melebihi paparan 25 μg/m³.[163]

Dampak sosial dan lingkungan

[sunting | sunting sumber]

Hujan asam

[sunting | sunting sumber]
Patung dengan hidung yang terkikis habis
Monumen yang rusak akibat hujan asam.
batang-batang pohon mati yang telah kehilangan seluruh daunnya
Dampak hujan asam di Pegunungan Jizera, Republik Ceko.

Secara alami, air di atmosfer bersifat sedikit asam. Beberapa polutan dapat membentuk asam kuat, sehingga membuat air hujan menjadi jauh lebih asam. Asam-asam utama yang menyebabkan hujan asam adalah asam nitrat (HNO3), asam sulfat (H2SO4), dan asam klorida (HCl). HCl berasal dari pembakaran batu bara. H2SO4 terbentuk dari SO2, yang berasal dari pembakaran batu bara dan minyak bumi serta dari beberapa proses industri seperti peleburan. HNO3 terbentuk dari NO2, yang dihasilkan selama pembakaran bersuhu tinggi. Istilah hujan asam tidak hanya merujuk pada hujan, tetapi juga pada polusi dari hujan es, kabut, dan salju.[164]

Hujan asam menyebabkan kerusakan yang substansial pada tahun 1970-an, termasuk pengasaman danau dan kematian hutan massal di Eropa Utara. Akibat perubahan keasaman pada badan air dan tanah, berbagai unsur hara esensial seperti magnesium dan kalsium menjadi mudah larut dan dapat hanyut terbawa air. Unsur-unsur lain, seperti aluminium, yang beracun bagi vegetasi, menjadi tersedia untuk diserap oleh akar. Hujan asam juga berdampak pada berbagai bangunan dan patung yang terbuat dari batu tertentu (misalnya marmer, kalsit, atau batu bebas), karena batu tersebut bereaksi secara kimiawi dengan asam di dalam air dan mengalami erosi.[164]

Pencemaran air dan tanah

[sunting | sunting sumber]

Polusi udara dapat mengendap (terdeposisi) ke atas tanah atau di dalam air, yang menyebabkan berbagai masalah. Sebagai contoh, amonia dan asam nitrat di udara dapat berkontribusi pada pencemaran nutrien di dalam air, sebuah proses yang disebut eutrofikasi. Pada awalnya, nutrisi ekstra ini membantu tumbuhan untuk tumbuh, tetapi pertumbuhan tanaman yang lebat menghalangi sinar matahari untuk mencapai bagian dasar air. Tumbuhan di lapisan bawah kemudian mati, dan dengan semakin sedikitnya tumbuhan yang memproduksi oksigen, kadar oksigen pun menurun. Kondisi ini membahayakan organisme yang membutuhkan oksigen untuk hidup,[165] dan dapat berujung pada hilangnya spesies yang sensitif.[166]

Dampak pada pertanian

[sunting | sunting sumber]

Berbagai studi telah memperkirakan dampak polusi udara terhadap pertanian, khususnya ozon. Ozon bertindak sebagai oksidator dan menurunkan laju fotosintesis. Sebuah studi memperkirakan bahwa untuk setiap peningkatan 1% pada konsentrasi ozon, akan terjadi kerugian ekonomi global sebesar $10 miliar setiap tahunnya. Untuk PM2.5, peningkatan 1% pada tingkat polusi akan menyebabkan kerugian sekitar $5 miliar, terutama di iklim yang lebih dingin.[167] Setelah polutan udara memasuki lingkungan pertanian, polutan tersebut tidak hanya berdampak langsung pada produksi dan kualitas pertanian, tetapi juga memasuki perairan dan tanah pertanian.[168] Polusi udara semakin menurunkan produktivitas tenaga kerja melalui dampak yang ditimbulkan pada kesehatan.[167]

Karantina wilayah COVID-19 menciptakan sebuah eksperimen alami untuk meneliti hubungan antara kualitas udara dan hasil pertanian. Di India, karantina wilayah meningkatkan kualitas udara, yang mana pada gilirannya meningkatkan tingkat kehijauan permukaan dan aktivitas fotosintesis. Baik hutan maupun tanaman pangan mengalami efek positif; peningkatan ini terlihat paling nyata pada tanaman pangan.[169]

Dampak ekonomi

[sunting | sunting sumber]

Polusi udara memiliki dampak yang kuat terhadap perekonomian melalui dampak kesehatannya–seperti menurunnya produktivitas kerja dan biaya layanan kesehatan–serta dampaknya terhadap hasil panen tanaman. Polusi ini juga memengaruhi pariwisata, keanekaragaman hayati, kehutanan, dan kualitas air. Pariwisata dapat terkena dampak negatif akibat menurunnya jarak pandang dan kerusakan pada warisan budaya.[170] Masyarakat mungkin menjadi lebih rentan terhadap kecelakaan akibat polusi udara. Peningkatan kadar NO2, misalnya, dikaitkan dengan angka kecelakaan di lokasi konstruksi.[171]

Dalam hal biaya kesejahteraan pada kesehatan manusia (biaya nonpasar), sebuah studi Bank Dunia menemukan bahwa pencemaran PM2.5 pada tahun 2019 membebani ekonomi dunia lebih dari $8 triliun, yang merupakan lebih dari 6% dari PDB global. Di India dan Tiongkok, kehilangan PDB mencapai lebih dari 10%. Sekitar 85% dari kerugian ini secara global berasal dari hilangnya nyawa, sementara sisanya karena peningkatan masalah kesehatan.[172]:23–24 Biaya atas nyawa yang hilang dihitung menggunakan Nilai Statistik Kehidupan (Value of Statistical Life), sebuah angka yang mencoba memperkirakan seberapa besar orang akan bersedia membayar untuk mengurangi risiko kematian mereka.[172]:xiii Angka ini berbeda di setiap negara dan sulit untuk diperkirakan pada negara berpendapatan rendah dan menengah.[173]

Dampak pasar langsung terhadap hilangnya produktivitas, penggunaan layanan kesehatan, dan kerugian panen diperkirakan akan meningkat menjadi 1% dari PDB pada tahun 2060, menurut OECD. Kawasan Kaspia dan Tiongkok akan mengalami dampak terbesar.[174] Polusi udara juga berdampak pada produksi energi, karena polusi ini mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai panel surya. Polusi ini juga menyebabkan panel menjadi kotor, yang mana semakin menurunkan keluaran energinya.[175]

Sejarah polusi udara

[sunting | sunting sumber]

Sisa-sisa mumi manusia di Peru, Mesir, dan Inggris menunjukkan bahwa orang-orang kuno di wilayah-wilayah ini menderita penghitaman paru-paru yang disebabkan oleh api terbuka di rumah-rumah dengan ventilasi yang buruk. Catatan mengenai keluhan tentang polusi udara dapat ditelusuri kembali hingga periode Yunani dan Romawi. Polusi udara luar ruangan menjadi masalah seiring dengan bermunculannya kota-kota, yang disebabkan oleh asap rumah tangga dan oleh aktivitas industri awal (seperti peleburan dan pertambangan). Secara khusus, tingkat timbal, yang ditemukan dalam inti es Arktik, sekitar sepuluh kali lebih tinggi pada periode Romawi dibandingkan periode sebelumnya.[176]

Revolusi Industri

[sunting | sunting sumber]

Selama Revolusi Industri, polusi udara luar ruangan mulai meningkat drastis, sebagian besar akibat pembakaran batu bara dalam skala besar. Hal ini terjadi pertama kali di Inggris, kemudian di wilayah Eropa Utara lainnya dan Amerika Serikat. Menjelang abad ke-19, bangunan-bangunan di sekitar pabrik industri mulai menghitam, sementara tanaman dan pohon di taman-taman umum mulai layu. Kabut yang dipicu oleh asap mengurangi jumlah sinar matahari yang didapatkan oleh penduduk kota, yang berkontribusi pada kasus-kasus rakitis, penyakit masa kanak-kanak yang disebabkan oleh kurangnya sinar matahari dan pola makan yang buruk.[177]

Meskipun demikian, para pemimpin bisnis dan politik di kota-kota industri merupakan pendukung antusias industri tersebut: asap hitam pekat melambangkan kemakmuran, keuntungan yang tinggi, dan upah yang besar.[178]  

Lihat takarir
Poster di Uni Soviet yang memuji "Asap cerobong adalah napas Rusia Soviet."

Teori miasma

[sunting | sunting sumber]

Teori miasma adalah gagasan terkemuka pada abad ke-18 dan ke-19 yang memberikan penjelasan keliru tentang bagaimana epidemi mematikan seperti kolera, demam kuning, dan malaria ("udara buruk") bermula dan menyebar. Teori tersebut menyatakan bahwa penyakit disebabkan oleh penghirupan "miasma" yang misterius, sebuah uap berbahaya yang muncul dari materi organik yang membusuk. Epidemi sering kali datang pada musim panas karena pada saat itulah orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Teori tersebut memotivasi penekanan yang sangat besar pada sanitasi publik di kota-kota besar untuk menyingkirkan polusi yang berbau busuk, terutama kotoran manusia dan hewan, dari jalanan dan gang-gang belakang. Teori ini runtuh ketika para dokter menerima teori kuman penyakit (germ theory) yang baru pada akhir abad ke-19. Kuman yang dibatukkan oleh orang yang terinfeksi atau disebarkan oleh jenis nyamuk atau cacing tambang tertentu merupakan alasan sebenarnya mengapa orang tertular penyakit infeksi.[179]

Tindakan anti-asap dan perlindungan modern

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1830-an, kelompok-kelompok anti-asap bermunculan di Inggris, yang diikuti oleh kelompok-kelompok serupa di Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Namun, undang-undang yang menentang polusi masih lemah, karena dianggap bertentangan dengan kepentingan industri. Selama periode antarperang pada tahun 1920-an dan 1930-an, peralihan dari batu bara ke gas dan minyak bumi berarti berkurangnya polusi udara, tetapi tren ini berbalik saat Perang Dunia II pecah.[177] Britania Raya mengalami polusi udara terburuknya selama peristiwa Kabut Asap Besar di London pada tahun 1952, dengan sekitar 12.000 kematian, yang berujung pada disahkannya Clean Air Act 1956.[180] Peristiwa Kabut asap Donora 1948 di AS, yang menewaskan 20 orang, mendorong AS untuk mulai mengatur polusi udara.[177][181] Jepang menyusul pada tahun 1960, tetapi wilayah lain yang sangat tercemar, seperti Uni Soviet dan Tiongkok, belum menerapkan regulasi yang efektif.[177]

Bencana teknologi telah menyebabkan masalah parah terkait polusi udara. Bencana polusi terburuk di dunia adalah Bencana Bhopal tahun 1984 di India. Kebocoran uap industri dari pabrik Union Carbide (kemudian dibeli oleh Dow Chemical Company), menewaskan setidaknya 20.000 orang dan memengaruhi sekitar 600.000 orang.[182]

Pada tahun 1950-an, kabut asap di negara-negara maju mulai diatur, tetapi polutan lainnya tidak. Hujan asam, yang disebabkan oleh belerang dioksida, menjadi isu utama karena menyebar melintasi perbatasan negara. Pada tahun 1990-an, misalnya, Jepang mengalami hujan asam yang bersumber dari industri di Tiongkok dan Korea. Kerja sama internasional diperlukan untuk mengekang hujan asam, dan berbagai koalisi mulai dibentuk. Pada tahun 1975, ditemukan bahwa bahan kimia tertentu menyebabkan lubang pada lapisan ozon; berkat negosiasi internasional yang sukses, bahan kimia ini dilarang di seluruh dunia. Keberhasilan dalam memerangi perubahan iklim masih jauh lebih sedikit, dan emisi gas rumah kaca, sebagian besar dari bahan bakar fosil, terus meningkat.[183]

Pengukuran dan pemantauan

[sunting | sunting sumber]

Pemantauan

[sunting | sunting sumber]
Layar yang menunjukkan kualitas udara yang buruk untuk PM2.5 dan PM10
Pemantauan kualitas udara, New Delhi, India.

Polusi udara dapat dipantau menggunakan teknik yang berbeda-beda. Sebagai contoh, satelit dan penginderaan jauh digunakan untuk melacak PM, NO2, dan ozon.[184] Banyak wilayah memiliki jaringan stasiun pemantauan, dengan cakupan yang baik di India, Tiongkok, Eropa, dan AS. Namun, cakupan yang buruk dijumpai pada sejumlah negara yang sangat tercemar, seperti Chad dan Iran. Kerapatan pengukuran terus meningkat karena ketersediaan teknik berbiaya rendah untuk mengukur polusi udara yang semakin banyak.[185] Alat pemantauan berbiaya rendah juga dapat digunakan untuk memantau kualitas udara dalam ruangan.[186] Terakhir, sensor kualitas udara dapat diintegrasikan ke dalam pesawat nirawak (drone) untuk mengukur polusi udara di tempat yang lebih tinggi di udara.[187] Beberapa situs web berupaya memetakan tingkat polusi udara menggunakan data yang tersedia.[188][189]

Indeks kualitas udara (AQI) menawarkan cara sederhana untuk mengomunikasikan perubahan kualitas udara serta risiko kesehatan terkait kepada khalayak luas. AQI pada dasarnya adalah alat perlindungan kesehatan yang dapat digunakan masyarakat untuk membantu mengurangi paparan polusi udara jangka pendek mereka dengan menyesuaikan tingkat aktivitas selama polusi udara meningkat. Indeks ini dapat menunjukkan kapan kualitas udara berada dalam kondisi baik, kapan kualitas tersebut berbahaya bagi kelompok sensitif (misalnya, anak-anak pengidap asma), dan kapan udara menjadi bahaya secara umum.[190]

Pemodelan dan inventarisasi

[sunting | sunting sumber]
Peta beresolusi tinggi yang menunjukkan asap kebakaran liar dan debu gurun di atas Afrika dan Atlantik, partikel garam laut dalam siklon di samudra dunia, dan pencemaran partikel sulfat dari kawasan industri di atas Eropa, Amerika Utara, dan Tiongkok
Peta simulasi pencemaran partikel. Asap kebakaran liar berwarna hijau, debu gurun berwarna jingga, biru muda adalah garam laut, dan warna putih menunjukkan pencemaran partikel sulfat.

Ketika data langsung tidak tersedia atau saat memproyeksikan tingkat polutan udara di masa depan, perkiraan dapat diperoleh dengan menggunakan model atau faktor emisi.[191] Faktor emisi polutan udara adalah nilai-nilai lazim yang menghubungkan jumlah polutan yang dilepaskan ke udara dengan aktivitas yang terkait. Hal ini misalnya dapat berupa jumlah materi partikulat yang biasa dilepaskan dari pembangkit listrik tenaga batu bara.[192] Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat telah menerbitkan kompilasi faktor emisi polutan udara untuk berbagai macam sumber industri,[193] begitu pula dengan Badan Lingkungan Hidup Eropa.[194]

Model kualitas udara menggunakan data meteorologi dan emisi untuk mensimulasikan bagaimana polutan menyebar dan bereaksi di atmosfer. Badan pengatur menggunakan model-model tersebut untuk menilai apakah suatu sumber polusi udara yang baru akan melampaui tingkat polusi yang dapat diterima, untuk tujuan perizinan. Model-model tersebut juga dapat digunakan untuk memprediksi tingkat polusi di masa mendatang di bawah berbagai skenario kebijakan.[195] Terdapat model untuk polusi lokal, dan juga untuk polusi lintas batas.[196]

Pengurangan polusi berdasarkan sektor

[sunting | sunting sumber]

Pencegahan polusi bertujuan untuk mencegah pencemaran seperti polusi udara dan dapat mencakup penyesuaian pada aktivitas industri dan bisnis seperti merancang proses manufaktur yang berkelanjutan (serta rancangan produk)[197] dan juga berbagai upaya menuju transisi energi terbarukan.[198][199]

Industri dan limbah

[sunting | sunting sumber]
sebuah cerobong asap menempel pada kotak logam
Pengoksidasi termal adalah opsi pengurangan polusi udara untuk polutan udara berbahaya (HAP), senyawa organik volatil (VOC), dan emisi berbau.

Berbagai strategi dan teknologi pengendalian polusi tersedia untuk mengurangi polusi udara. Sebagai contoh, pabrik-pabrik industri dapat memasang penyaring gas buang (scrubber), seperti desulfurisasi gas buang atau katalis untuk menghilangkan NOx. Di sektor tenaga listrik, cara yang sangat efektif untuk mengurangi polusi udara adalah dengan transisi ke energi terbarukan (misalnya energi surya dan angin) atau tenaga nuklir.[200] Beralih dari pembangkit listrik tenaga batu bara ke gas fosil mengurangi polusi udara, tetapi tidak menghilangkannya sama sekali.[201]

Semakin banyak negara mengatur pengelolaan limbah, melalui sistem pengelolaan sampah berskala nasional maupun kota, membuka tempat pembuangan akhir yang dikelola dengan baik, penangkapan gas tempat pembuangan akhir (untuk produksi listrik), dan pemilahan sampah.[22] Di sektor pertanian, polusi udara dapat diminimalkan dengan tidak menggunakan pupuk secara berlebihan dan dengan tidak memberikan protein berlebih kepada ternak.[200]

Transportasi

[sunting | sunting sumber]
deretan becak listrik dengan beberapa orang di dalamnya
Becak listrik di Nepal.
lihat takarir
Trem di Alicante, Spanyol.

Kerangka kerja hindari-beralih-tingkatkan (avoid-shift-improve) mengelompokkan upaya untuk mengurangi polusi dari kendaraan menjadi pengurangan perjalanan, peralihan ke transportasi berkelanjutan, dan peningkatan teknologi kendaraan.[202] Mengurangi perjalanan kendaraan bermotor dapat mengekang polusi. Salah satu strateginya adalah membangun kota kompak, sehingga fasilitas umum berada di dekat masyarakat dan mobil tidak lagi diperlukan.[203] Lalu lintas kendaraan bermotor dapat dikurangi dengan menciptakan lebih banyak kota yang ramah pejalan kaki dan dengan berinvestasi pada infrastruktur bersepeda.[204] Bekerja dari rumah adalah cara lain untuk menghindari lalu lintas bermotor.[202]

Lalu lintas dapat dialihkan ke moda transportasi yang lebih bersih dengan meningkatkan penggunaan transportasi publik,[205] misalnya melalui biaya parkir yang lebih tinggi atau dengan menawarkan transportasi publik gratis. Mengatasi kemacetan, yang meningkatkan penggunaan bahan bakar, dengan tarif kemacetan, juga mengalihkan orang-orang untuk menggunakan moda transportasi yang lebih bersih. Terakhir, kendaraan jalan raya dapat ditingkatkan dari peningkatan efisiensi bahan bakar, perbaikan kualitas bahan bakar, standar emisi, dan konversi ke kendaraan listrik.[206] Sebagai contoh, bus-bus di New Delhi, India, beralih ke gas alam terkompresi setelah tahun 2000, guna mengurangi kabut asap pekat di kota tersebut.[148][207]

Pada tahun 2006, Lawrence D. Frank dan rekan-rekan penulisnya menerbitkan sebuah penelitian dengan lebih dari 1.930 kutipan: Many Pathways from Land Use to Health.[208] Para penulis menunjukkan bahwa peningkatan 5% dalam kemudahan berjalan kaki dikaitkan dengan banyak manfaat, termasuk pengurangan 6,5% dalam jarak tempuh berkendara kendaraan, pengurangan 5,6% dalam gram emisi oksida nitrogen, dan penurunan 5,5% emisi senyawa organik volatil (VOC).[209]

Memasak, penerangan, dan pemanasan

[sunting | sunting sumber]
sebuah cermin parabola memusatkan panas ke tempat peletakan ketel dan panci.
Sebuah ketel yang dipanaskan dengan kompor tenaga surya di Biara Phugtal di Ladakh, India.

Berbagai teknologi tersedia untuk memasak dengan bersih, guna menggantikan kompor biomassa tradisional atau tungku tiga batu. Sebagai contoh, peralihan ke aktivitas memasak menggunakan biogas, bioetanol, listrik, gas alam, atau LPG (gas minyak bumi cair) secara signifikan mengurangi polusi udara. Kompor yang disempurnakan, yang menggunakan biomassa secara lebih efisien, tidak begitu besar kontribusinya dalam meningkatkan kualitas udara, tetapi dapat menjadi solusi perantara jika kompor bersih atau bahan bakarnya tidak tersedia. Perangkat memasak bersih ini, termasuk yang beroperasi dengan bahan bakar fosil, biasanya memiliki dampak iklim yang lebih kecil dibandingkan kompor biomassa tradisional.[210]

Minyak tanah untuk penerangan dapat digantikan dengan lampu LED yang efisien, misalnya lampu LED bertenaga surya.[211] Pembakaran bahan bakar fosil untuk pemanas ruangan dapat digantikan oleh penggunaan listrik pada pompa kalor.[212] Ventilasi mampu meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, tetapi berujung pada polusi udara luar ruangan, yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat kualitas udara dalam ruangan secara lokal.[213]

Kebijakan dan regulasi

[sunting | sunting sumber]

Hukum dan regulasi

[sunting | sunting sumber]
Pemandangan kota dalam kabut asap pekat
Polusi udara di Shanghai, Tiongkok, pada tahun 2013. Tiongkok meluncurkan "perang melawan polusi" pada tahun 2014, yang secara drastis menurunkan tingkat pencemaran partikel di seluruh penjuru negeri.[214]

Meskipun mayoritas negara memiliki undang-undang polusi udara, 43% negara tidak memiliki definisi hukum mengenai polusi udara, 34% tidak memiliki standar kualitas udara di luar ruangan, dan hanya 31% yang memiliki undang-undang untuk menanggulangi polusi yang berasal dari luar batas negaranya. Hanya sedikit negara yang memiliki batasan seketat rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia.[215]

Sejumlah undang-undang polusi udara memuat standar kualitas udara yang spesifik, seperti Standar Kualitas Udara Ambien Nasional AS dan Petunjuk Kualitas Udara UE,[216] yang menetapkan konsentrasi atmosferik maksimum untuk polutan tertentu. Contoh lain dari undang-undang kualitas udara di seluruh dunia meliputi Clean Air Act di Britania Raya, Clean Air Act AS, dan TA Luft di Jerman.[217] Undang-undang polusi udara juga mungkin dapat menetapkan batasan pada emisi polutan udara, misalnya dari kendaraan bermotor.[218]

Pedoman Kualitas Udara Global Organisasi Kesehatan Dunia mendorong perbaikan dengan cara yang serupa seperti standar nasional, tetapi lebih diposisikan sebagai "rekomendasi" dan "praktik yang baik" alih-alih sebagai target wajib yang harus dicapai oleh tiap negara.[219]

Beberapa tindakan terkait polusi udara telah berhasil dilakukan di tingkat internasional, seperti Protokol Montreal,[220] yang secara bertahap menghapuskan bahan kimia berbahaya perusak ozon. Perjanjian tersebut diratifikasi di seluruh dunia. Di sisi lain, tindakan internasional mengenai perubahan iklim, belum begitu membuahkan kesuksesan.[221] Protokol Kyoto tahun 1997 memperkenalkan target pengurangan yang tidak terlalu besar untuk beberapa negara namun tidak memiliki landasan penegakan yang kuat,[222] sementara Persetujuan Paris tahun 2015 tidak menetapkan batasan yang mengikat, dan alih-alih mendorong semua negara untuk meningkatkan target ambisius mereka seiring berjalannya waktu.[183]

Udara bersih sebagai hak asasi manusia

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2022, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah resolusi yang mengakui hak atas lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan sebagai sebuah hak asasi manusia. Resolusi ini tidak bersifat mengikat secara hukum. Resolusi ini menyusul deklarasi dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang diterbitkan pada awal tahun yang sama.[223]

Walaupun banyak negara memiliki undang-undang mengenai polusi udara, mereka saling berbeda dalam hal bagaimana undang-undang tersebut ditegakkan melalui litigasi. Di Uni Eropa, masing-masing negara, termasuk Prancis, telah dijatuhi denda oleh UE karena dianggap gagal mematuhi peraturan kualitas udara. Petunjuk Kualitas Udara Ambien (Ambient Air Quality Directive) yang telah direvisi juga memungkinkan setiap individu di wilayah UE untuk menuntut kompensasi ganti rugi.[224] Meskipun Tiongkok mengizinkan adanya proses litigasi yang didasarkan pada alasan lingkungan, hal itu sangat jarang terjadi lantaran dipandang sebagai sebuah hal yang berisiko.[225] Di Chili, hak atas lingkungan hidup yang sehat merupakan bagian mutlak dari konstitusi, dan oleh karena alasan inilah Mahkamah Agung menetapkan bahwa pemerintah harus bertindak guna menyediakan udara yang bersih.[226]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Markandya, Anil; Wilkinson, Paul (2007). "Electricity generation and health". The Lancet (dalam bahasa English). 370 (9591): 979–990. doi:10.1016/S0140-6736(07)61253-7. ISSN 0140-6736. PMID 17876910. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2025. Diakses tanggal 20 March 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. 1 2 Ritchie, Hannah; Roser, Max (2021). "What are the safest and cleanest sources of energy?". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2024. Sumber data: Markandya & Wilkinson (2007); UNSCEAR (2008; 2018); Sovacool et al. (2016); IPCC AR5 (2014); Pehl et al. (2017); Ember Energy (2021).
  3. Rannard, Georgina (4 February 2022). "Climate change: Satellites map huge methane plumes from oil and gas". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 January 2025. Diakses tanggal 16 March 2022.
  4. Lauvaux, T.; Giron, C.; Mazzolini, M.; d'Aspremont, A.; Duren, R.; Cusworth, D.; Shindell, D.; Ciais, P. (2022). "Global assessment of oil and gas methane ultra-emitters". Science. 375 (6580): 557–561. arXiv:2105.06387. Bibcode:2022Sci...375..557L. doi:10.1126/science.abj4351. ISSN 0036-8075. PMID 35113691. S2CID 246530897. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 November 2022. Diakses tanggal 4 August 2022.
  5. 1 2 Singh & Singh 2019, hlm. 166.
  6. Hill 2020, hlm. 103.
  7. Aunan, Kristin; Hansen, Mette Halskov; Wang, Shuxiao (2018). "Introduction: Air Pollution in China". The China Quarterly (dalam bahasa Inggris). 234: 279–298. doi:10.1017/S0305741017001369. hdl:10852/60033. ISSN 0305-7410. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 March 2025. Diakses tanggal 20 March 2025.
  8. 1 2 3 "Emissions of air pollutants in the UK – Particulate matter (PM10 and PM2.5)". DEFRA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 January 2023. Diakses tanggal 22 January 2023.
  9. Azarmi, Farhad; Kumar, Prashant (July 2016). "Ambient exposure to coarse and fine particle emissions from building demolition". Atmospheric Environment. 137: 62–79. Bibcode:2016AtmEn.137...62A. doi:10.1016/j.atmosenv.2016.04.029.
  10. Caceres, Jose Diego; Venkata, Anand N. (2023-03-01). "Asbestos-associated pulmonary disease". Current Opinion in Pulmonary Medicine. 29 (2): 76–82. doi:10.1097/MCP.0000000000000939. ISSN 1531-6971. PMID 36630203.
  11. 1 2 3 "Taking an Exposure History: What Are Possible Sources of Indoor Air Pollution" (dalam bahasa American English). ATSDR, CDC. 5 June 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 9 October 2024. Diakses tanggal 2024-07-08.Image Artikel ini mengandung teks dari suatu publikasi yang sekarang berada di domain publik:
  12. Wang J, Wu Q, Liu J, Yang H, Yin M, Chen S, et al. (2019). "Vehicle emission and atmospheric pollution in China: problems, progress, and prospects". PeerJ. 7 e6932. Bibcode:2019PeerJ...7e6932W. doi:10.7717/peerj.6932. PMC 6526014. PMID 31143547.
  13. Aggarwal P, Jain S (2015). "Impact of air pollutants from surface transport sources on human health: A modeling and epidemiological approach". Environ Int. 83: 146–57. Bibcode:2015EnInt..83..146A. doi:10.1016/j.envint.2015.06.010. PMID 26142107.
  14. Ritchie, Hannah (6 October 2020). "Cars, planes, trains: where do CO₂ emissions from transport come from?". Our World in Data (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 March 2025.
  15. Amato 2018, hlm. 4.
  16. "Overview of Air Pollution from Transportation". US Environmental Protection Agency. 15 December 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 July 2025. Diakses tanggal 16 June 2022.
  17. Sun, Feifei; Dai, Yun; Yu, Xiaohua (2017). "Air pollution, food production and food security: A review from the perspective of food system". Journal of Integrative Agriculture. 16 (12): 2945–2962. Bibcode:2017JIAgr..16.2945S. doi:10.1016/S2095-3119(17)61814-8.
  18. Lelieveld, J.; Evans, J. S.; Fnais, M.; Giannadaki, D.; Pozzer, A. (2015). "The contribution of outdoor air pollution sources to premature mortality on a global scale". Nature (dalam bahasa Inggris). 525 (7569): 367–371. Bibcode:2015Natur.525..367L. doi:10.1038/nature15371. hdl:20.500.14279/9356. ISSN 1476-4687. PMID 26381985. S2CID 4460927. Whereas in much of the USA and in a few other countries emissions from traffic and power generation are important, in eastern USA, Europe, Russia and East Asia agricultural emissions make the largest relative contribution to PM2.5, with the estimate of overall health impact depending on assumptions regarding particle toxicity.
  19. "Methane, climate change and air quality in Europe: exploring the connections". European Environment Agency. 5 February 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2025. Diakses tanggal 7 March 2025.
  20. Giannadaki, Despina; Giannakis, Elias; Pozzer, Andrea; Lelieveld, Jos (2018). "Estimating health and economic benefits of reductions in air pollution from agriculture". Science of the Total Environment. 622–623: 1304–1316. Bibcode:2018ScTEn.622.1304G. doi:10.1016/j.scitotenv.2017.12.064. ISSN 0048-9697. PMID 29890597. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2020. Diakses tanggal 27 May 2025.
  21. "NASA's AIRS Maps Carbon Monoxide from Brazil Fires". NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2025. Diakses tanggal 4 August 2022.
  22. 1 2 United Nations Environmental Programme 2021, hlm. 37–39.
  23. "Basic Information about Landfill Gas". US Environmental Protection Agency. 15 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2025. Diakses tanggal 9 August 2022. Landfill gas (LFG) is a natural byproduct of the decomposition of organic material in landfills. LFG is composed of roughly 50 percent methane...
  24. Cook & Velis 2020, hlm. 7.
  25. "Executive summary – A Vision for Clean Cooking Access for All – Analysis". IEA (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2025. Diakses tanggal 9 January 2025.
  26. World Health Organization 2016, hlm. vii–xi.
  27. Niranjan, Ajit (28 October 2024). "Pollutants from gas stoves kill 40,000 Europeans each year, report finds". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 July 2025. Diakses tanggal 21 March 2025.
  28. Twilley, Nicola (1 April 2019). "The Hidden Air Pollution in Our Homes". The New Yorker. Diarsipkan dari asli tanggal 27 July 2024 via www.newyorker.com.
  29. "Combustion Pollutants in Your Home - Guidelines". California Air Resources Board. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2025. Diakses tanggal 16 June 2022. "... most furnaces, wood stoves, fireplaces, gas water heaters, and gas clothes dryers, usually vent (exhaust) the combustion pollutants directly to the outdoors. However, if the vent system is not properly designed, installed, and maintained, indoor pollutants can build up quickly inside the home.
  30. "Emissions of air pollutants in the UK – Particulate matter (PM10 and PM2.5)". GOV.UK (dalam bahasa Inggris). 13 March 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2025. Diakses tanggal 27 January 2025.
  31. "Wood burning heaters and your health". New South Wales Health. NSW Government. 7 May 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 June 2025. Diakses tanggal 11 February 2025.
  32. McDonald, Brian C.; de Gouw, Joost A.; Gilman, Jessica B.; Jathar, Shantanu H.; Akherati, Ali; Cappa, Christopher D.; Jimenez, Jose L.; Lee-Taylor, Julia; Hayes, Patrick L.; McKeen, Stuart A.; Cui, Yu Yan; Kim, Si-Wan; Gentner, Drew R.; Isaacman-VanWertz, Gabriel; Goldstein, Allen H. (2018). "Volatile chemical products emerging as largest petrochemical source of urban organic emissions". Science (dalam bahasa Inggris). 359 (6377): 760–764. Bibcode:2018Sci...359..760M. doi:10.1126/science.aaq0524. ISSN 0036-8075. PMID 29449485.
  33. "What is desert dust and how does it change atmosphere and the air we breathe?". Copernicus Atmosphere (dalam bahasa Inggris). 10 May 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2025. Diakses tanggal 21 March 2025.
  34. Harrison & Hester 2019, hlm. 57-58.
  35. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Emissions of Air Pollutants and Emission Control Technologies", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 8–9, doi:10.1017/9781108674614.002, ISBN 978-1-108-48163-2, diakses tanggal 2025-06-04
  36. Wang, Lun; Xiaoxiu; Wang, Qiang; Wu, Ju (2024). "Biogenic volatile organic compounds emissions, atmospheric chemistry, and environmental implications: a review". Environmental Chemistry Letters (dalam bahasa Inggris). 22 (6): 3033–3058. Bibcode:2024EnvCL..22.3033W. doi:10.1007/s10311-024-01785-5. ISSN 1610-3653.
  37. Goldstein, Allen H.; Koven, Charles D.; Heald, Colette L.; Fung, Inez Y. (5 May 2009). "Biogenic carbon and anthropogenic pollutants combine to form a cooling haze over the southeastern United States". Proceedings of the National Academy of Sciences. 106 (22): 8835–40. Bibcode:2009PNAS..106.8835G. doi:10.1073/pnas.0904128106. PMC 2690056. PMID 19451635.
  38. Fischetti, Mark (2014). "Trees That Pollute". Scientific American. 310 (6): 14. Bibcode:2014SciAm.310f..14F. doi:10.1038/scientificamerican0614-14. PMID 25004561.
  39. Knorr, Wolfgang; Dentener, Frank; Lamarque, Jean-François; Jiang, Leiwen; Arneth, Almut (2017-07-31). "Wildfire air pollution hazard during the 21st century". Atmospheric Chemistry and Physics (dalam bahasa English). 17 (14): 9223–9236. Bibcode:2017ACP....17.9223K. doi:10.5194/acp-17-9223-2017. ISSN 1680-7316. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2025. Diakses tanggal 5 June 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  40. Pearson & Derwent 2022, hlm. 1,6.
  41. Harrison, Roy M. (2005). "1: Sources of Air Pollution". Air Quality Guidelines: Global Update 2005: Particulate Matter, Ozone, Nitrogen Dioxide, and Sulfur Dioxide (PDF). Copenhagen: World Health Organization. hlm. 9–10, 13. ISBN 92-890-2192-6. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 6 July 2025.
  42. Carrington, Damian (4 November 2021). "Ammonia from farms behind 60% of UK particulate air pollution – study". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 July 2025. Diakses tanggal 7 November 2021.
  43. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Gaseous Pollutants", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 149, doi:10.1017/9781108674614.008, ISBN 978-1-108-48163-2
  44. Hausfather, Zeke; Pierre, Friedlichstein (11 November 2022). "Analysis: Global CO2 emissions from fossil fuels hit record high in 2022". Carbon Brief (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 July 2025. Diakses tanggal 25 July 2025.
  45. Vaidyanathan, Gayathri (4 November 2014). "The Worst Climate Pollution Is Carbon Dioxide". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025. Diakses tanggal 1 August 2025.
  46. Vallero, Daniel A. (2014). Fundamentals of Air Pollution (Edisi 5th). Academic Press. hlm. 421. ISBN 978-0-12-401733-7.
  47. Air Quality Guidelines Global Update 2005: Particulate matter, ozone, nitrogen dioxide and sulfur dioxide. Copenhagen: World Health Organization. 2006. hlm. 12. ISBN 92-890-2192-6. Some pollutants, and especially those associated with greenhouse warming effects (carbon dioxide, nitrous oxide and methane)...
  48. Friedman, Lisa (22 August 2022). "Democrats Designed the Climate Law to Be a Game Changer. Here's How". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 July 2025. Diakses tanggal 19 April 2023.
  49. "Carbon Monoxide Poisoning". National Health Service. 17 October 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 July 2025. Diakses tanggal 1 August 2025.
  50. Pearson & Derwent 2022, hlm. 2.
  51. Pearson & Derwent 2022, hlm. 19-20.
  52. Hill 2020, hlm. 99.
  53. 1 2 "Ground-level ozone" (dalam bahasa Inggris). European Climate and Health Observatory. 17 March 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 June 2025. Diakses tanggal 21 April 2025.
  54. "Cars and Air Pollution". Arkansas Energy Department of Energy and Environment. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025. Diakses tanggal 24 August 2024.
  55. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Gaseous Pollutants", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 147, doi:10.1017/9781108674614.008, ISBN 978-1-108-48163-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025
  56. "Ozone (O3)". GOV.UK (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 December 2024. Diakses tanggal 21 April 2025.
  57. "smog | National Geographic Society". National Geographic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 May 2025. Diakses tanggal 7 June 2022.
  58. Pérez-Invernón, Francisco J.; Huntrieser, Heidi; Erbertseder, Thilo; Loyola, Diego; Valks, Pieter; Liu, Song; Allen, Dale J.; Pickering, Kenneth E.; Bucsela, Eric J.; Jöckel, Patrick; van Geffen, Jos; Eskes, Henk; Soler, Sergio; Gordillo-Vázquez, Francisco J.; Lapierre, Jeff (2022-06-08). "Quantification of lightning-produced NOx over the Pyrenees and the Ebro Valley by using different TROPOMI-NO2 and cloud research products". Atmospheric Measurement Techniques (dalam bahasa English). 15 (11): 3329–3351. doi:10.5194/amt-15-3329-2022. hdl:10261/282028. ISSN 1867-1381. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2025. Diakses tanggal 15 March 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  59. "Emissions of air pollutants in the UK – Nitrogen oxides (NOx)". GOV.UK (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2025. Diakses tanggal 15 March 2025.
  60. "Basic Information about NO2". Environmental Protection Agency (dalam bahasa Inggris). 16 July 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 July 2025. Diakses tanggal 15 March 2025.
  61. "Nitrogen oxides, NOx". European Environment Agency (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 May 2025. Diakses tanggal 15 March 2025.
  62. 1 2 "Particulate Matter (PM) Basics". Environmental Protection Agency (dalam bahasa Inggris). 19 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 July 2025. Diakses tanggal 19 April 2025.
  63. "What is Particulate Matter? | Urban Environmental Program in New England". Environmental Protection Agency (dalam bahasa Inggris). March 29, 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 7 June 2022. Diakses tanggal 7 June 2022.
  64. 1 2 Garcia-Marlès, Meritxell; Lara, Rosa; Reche, Cristina; Pérez, Noemí; Tobías, Aurelio; Savadkoohi, Marjan; Beddows, David; Salma, Imre; Vörösmarty, Máté; Weidinger, Tamás; Hueglin, Christoph; Mihalopoulos, Nikos; Grivas, Georgios; Kalkavouras, Panayiotis; Ondráček, Jakub (1 March 2024). "Inter-annual trends of ultrafine particles in urban Europe". Environment International. 185 108510. Bibcode:2024EnInt.18508510G. doi:10.1016/j.envint.2024.108510. hdl:10261/350656. ISSN 0160-4120. PMID 38460241. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 May 2025. Diakses tanggal 19 April 2025.
  65. Laden, F (October 2019). "A Tale of Six Cities: The Landmark Harvard Six Cities Study". Environmental Epidemiology. 3: 221. Bibcode:2019EnEpi...3Q.221L. doi:10.1097/01.EE9.0000608272.94008.7b. S2CID 210638367.
  66. Mukherjee, Arideep; Agrawal, Madhoolika (2017-06-01). "World air particulate matter: sources, distribution and health effects". Environmental Chemistry Letters (dalam bahasa Inggris). 15 (2): 283–309. Bibcode:2017EnvCL..15..283M. doi:10.1007/s10311-017-0611-9. ISSN 1610-3661.
  67. Seigneur, Christian (2019). Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications (Edisi 1). Cambridge University Press. hlm. 190–191, 204. doi:10.1017/9781108674614.009. ISBN 978-1-108-67461-4.
  68. "If India chokes less, it will fry more". The Economist. ISSN 0013-0613. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2025. Diakses tanggal 26 June 2025. Sulphate particles, soot and other aerosols intercept sunlight before it reaches the surface, either reflecting it back out to space or absorbing it. Aerosols can also change cloud cover further shielding the ground from the sun.
  69. Ritchie, Hannah; Rosado, Pablo (2025-03-31). "Air pollution kills millions every year — where does it come from?". Our World in Data (dalam bahasa Inggris).
  70. "Air pollution: The invisible health threat". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-10.
  71. "Air Pollution and Your Health". National Institute of Environmental Health Sciences (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-10.
  72. "National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS)". National Institutes of Health (NIH) (dalam bahasa Inggris). 2015-07-09. Diakses tanggal 2025-12-10.
  73. "Emissions of air pollutants in the UK – Sulphur dioxide (SO2)". GOV.UK (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2025. Diakses tanggal 2025-04-21.
  74. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Gaseous Pollutants", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 146, doi:10.1017/9781108674614.008, ISBN 978-1-108-48163-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025
  75. 1 2 "Sulfur Dioxide Basics". US EPA. 2 Jun 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2025-01-01. Diakses tanggal 12 Jan 2025. Image Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  76. Seigneur, Christian (2019). Air pollution: concepts, theory, and applications. Cambridge, United Kingdom ; New York, NY: Cambridge University Press. hlm. 249–250, 254. ISBN 978-1-108-48163-2.
  77. "Technical Overview of Volatile Organic Compounds". US Environmental Protection Agency. 24 February 2025. Diakses tanggal 1 April 2025.
  78. Lewis, Alastair C. (2018-02-16). "The changing face of urban air pollution". Science (dalam bahasa Inggris). 359 (6377): 744–745. Bibcode:2018Sci...359..744L. doi:10.1126/science.aar4925. ISSN 0036-8075. PMID 29449479. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 September 2024. Diakses tanggal 1 April 2025.
  79. Pearson & Derwent 2022, hlm. 4-5.
  80. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Environmental Impacts", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 311–316, doi:10.1017/9781108674614.013, ISBN 978-1-108-48163-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025
  81. Singh, Ritu; Kumar, Sanjeev; Karmakar, Susmita; Siddiqui, Arif J.; Mathur, Ankita; Adnan, Mohd.; Rajput, Vishnu D.; Rani, Anita; Kumar, Narendra (2021). "2: Causes, Consequences, and Control of Persistent Organic Pollutants". Dalam Kumar, Narendra; Shukla, Vertika (ed.). Persistent Organic Pollutants in the Environment: Origin and Role. CRC Press. hlm. 31–54. ISBN 978-1-003-05317-0. Diakses tanggal 11 June 2022.
  82. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Environmental Impacts", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 309–311, doi:10.1017/9781108674614.013, ISBN 978-1-108-48163-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025
  83. Negrete-Bolagay, Daniela; Zamora-Ledezma, Camilo; Chuya-Sumba, Cristina; De Sousa, Frederico B.; Whitehead, Daniel; Alexis, Frank; Guerrero, Victor H. (2021-12-15). "Persistent organic pollutants: The trade-off between potential risks and sustainable remediation methods". Journal of Environmental Management. 300 113737. Bibcode:2021JEnvM.30013737N. doi:10.1016/j.jenvman.2021.113737. ISSN 0301-4797. PMID 34536739. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2025. Diakses tanggal 12 May 2025.
  84. US EPA (2025-03-05). "Basic Ozone Layer Science". www.epa.gov. US Environmental Protection Agency. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2022. Diakses tanggal 2025-06-11.
  85. Seigneur, Christian, ed. (2019), "The Stratospheric Ozone Layer", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 139–140, doi:10.1017/9781108674614.007, ISBN 978-1-108-48163-2, diakses tanggal 2025-06-11
  86. Hajat, Anjum; Hsia, Charlene; O'Neill, Marie S. (2015). "Socioeconomic Disparities and Air Pollution Exposure: a Global Review". Current Environmental Health Reports (dalam bahasa Inggris). 2 (4): 440–450. Bibcode:2015CEHR....2..440H. doi:10.1007/s40572-015-0069-5. ISSN 2196-5412. PMC 4626327. PMID 26381684.
  87. 1 2 3 4 5 Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 21–23. ISSN 2578-6873. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 July 2025. Diakses tanggal 23 July 2025.
  88. Vallero, Daniel A. (1 October 2007). Fundamentals of Air Pollution (Edisi 4th). Academic Press. ISBN 978-0-12-405481-3. Diarsipkan dari asli tanggal 5 April 2024. Diakses tanggal 16 August 2024.
  89. Allen, Ryan W.; Barn, Prabjit (2020). "Individual- and Household-Level Interventions to Reduce Air Pollution Exposures and Health Risks: a Review of the Recent Literature". Current Environmental Health Reports (dalam bahasa Inggris). 7 (4): 424–440. Bibcode:2020CEHR....7..424A. doi:10.1007/s40572-020-00296-z. ISSN 2196-5412. PMC 7749091. PMID 33241434.
  90. 1 2 3 "Air quality, energy and health". World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2025. Diakses tanggal 16 January 2025.
  91. "Most of the World Breathes Unsafe Air, Taking More Than 2 Years Off Global Life Expectancy". AQLI. 2022-06-14. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 October 2022. Diakses tanggal 2022-07-12.
  92. Carrington, Damian (2021-09-22). "WHO slashes guideline limits on air pollution from fossil fuels". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2022. Diakses tanggal 2021-09-22.
  93. "Billions of people still breathe unhealthy air: new WHO data" (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2025. Diakses tanggal 2025-01-14.
  94. Dons, E. (2011). "Impact of time-activity patterns on personal exposure to black carbon". Atmospheric Environment. 45 (21): 3594–3602. Bibcode:2011AtmEn..45.3594D. doi:10.1016/j.atmosenv.2011.03.064.
  95. Dons, E. (2019). "Transport most likely to cause air pollution peak exposures in everyday life: Evidence from over 2000 days of personal monitoring". Atmospheric Environment. 213: 424–432. Bibcode:2019AtmEn.213..424D. doi:10.1016/j.atmosenv.2019.06.035. hdl:10044/1/80194. S2CID 197131423.
  96. 1 2 3 Rentschler, Jun; Leonova, Nadezda (2023). "Global air pollution exposure and poverty". Nature Communications. 14 (1): 4432. Bibcode:2023NatCo..14.4432R. doi:10.1038/s41467-023-39797-4. PMC 10363163. PMID 37481598.
  97. Lerner, Steve (2010). "Sacrifice Zones: The Front Lines of Toxic Chemical Exposure in the United States". Port Arthur, Texas: Public Housing Residents Breathe Contaminated Air from Nearby Refineries and Chemical Plants. MIT Press.
  98. Reddington, C. L.; Turnock, S. T.; Conibear, L.; Forster, P. M.; Lowe, J. A.; Ford, L. Berrang; Weaver, C.; van Bavel, B.; Dong, H.; Alizadeh, M. R.; Arnold, S. R. (2023). "Inequalities in Air Pollution Exposure and Attributable Mortality in a Low Carbon Future". Earth's Future (dalam bahasa Inggris). 11 (12) e2023EF003697. Bibcode:2023EaFut..1103697R. doi:10.1029/2023EF003697. ISSN 2328-4277.
  99. Rao, Narasimha D.; Kiesewetter, Gregor; Min, Jihoon; Pachauri, Shonali; Wagner, Fabian (2021-07-26). "Household contributions to and impacts from air pollution in India". Nature Sustainability (dalam bahasa Inggris). 4 (10): 859–867. Bibcode:2021NatSu...4..859R. doi:10.1038/s41893-021-00744-0. ISSN 2398-9629. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 March 2025. Diakses tanggal 18 May 2025.
  100. Drury, Richard; Belliveau, Michael; Kuhn, J. Scott; Shipra, Bansal (Spring 1999). "Pollution Trading and Environmental Justice: Los Angeles' Failed Experiment in Air Pollution Policy". Duke Environmental Law & Policy Forum. 9 (231).
  101. "World's Most Polluted Cities - PM2.5 Ranking | AirVisual". IQAir. 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 December 2022. Diakses tanggal 2025-04-24.
  102. 1 2 World Health Organization 2016, hlm. 17-18.
  103. Vohra, Karn; Marais, Eloise A.; Bloss, William J.; Schwartz, Joel; Mickley, Loretta J.; Van Damme, Martin; Clarisse, Lieven; Coheur, Pierre-F. (2022-04-08). "Rapid rise in premature mortality due to anthropogenic air pollution in fast-growing tropical cities from 2005 to 2018". Science Advances (dalam bahasa Inggris). 8 (14) eabm4435. Bibcode:2022SciA....8M4435V. doi:10.1126/sciadv.abm4435. ISSN 2375-2548. PMC 8993110. PMID 35394832.
  104. Harvey, Fiona (24 September 2025). "Fossil fuel burning poses threat to health of 1.6bn people, data shows". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 September 2025.
  105. "Air pollution". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2022. Diakses tanggal 2025-05-02.
  106. Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 7–8. ISSN 2578-6873. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 July 2025. Diakses tanggal 23 July 2025.
  107. Thompson, Jonathan E. (May 2018). "Airborne Particulate Matter: Human Exposure and Health Effects". Journal of Occupational and Environmental Medicine (dalam bahasa American English). 60 (5): 392–423. Bibcode:2018JOEM...60..392T. doi:10.1097/JOM.0000000000001277. ISSN 1076-2752. PMID 29334526. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 April 2025. Diakses tanggal 2 May 2025.
  108. Chen, Tze-Ming; Kuschner, Ware G.; Gokhale, Janaki; Shofer, Scott (2007-04-01). "Outdoor Air Pollution: Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide, and Carbon Monoxide Health Effects". The American Journal of the Medical Sciences. 333 (4): 249–256. doi:10.1097/MAJ.0b013e31803b900f. ISSN 0002-9629. PMID 17435420. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2024. Diakses tanggal 2 May 2025.
  109. American Lung Association. "Ozone". www.lung.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 May 2023. Diakses tanggal 2025-05-02.
  110. US EPA, OAR (2016-04-26). "Health and Environmental Effects of Particulate Matter (PM)". www.epa.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 December 2019. Diakses tanggal 2025-05-02.
  111. Schraufnagel, Dean E. (2020). "The health effects of ultrafine particles". Experimental & Molecular Medicine. 52 (3): 311–317. doi:10.1038/s12276-020-0403-3. ISSN 2092-6413. PMC 7156741. PMID 32203102.
  112. Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 4. ISSN 2578-6873. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 July 2025. Diakses tanggal 23 July 2025.
  113. Morello-Frosch, Rachel; Zuk, Miriam; Jerrett, Michael; Shamasunder, Bhavna; Kyle, Amy D. (2011). "Understanding the Cumulative Impacts of Inequalities in Environmental Health: Implications for Policy". Health Affairs. 30 (5): 879–87. doi:10.1377/hlthaff.2011.0153. PMID 21555471.
  114. Roser, Max (2024-03-18). "Data review: how many people die from air pollution?". Our World in Data.
  115. Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 3–4, 15. ISSN 2578-6873. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 July 2025. Diakses tanggal 23 July 2025.
  116. 1 2 "Ambient (outdoor) air pollution". World Health Organization. 24 October 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2021. Diakses tanggal 15 January 2025.
  117. Lelieveld, J.; Klingmüller, K.; Pozzer, A.; Burnett, R. T.; Haines, A.; Ramanathan, V. (2019). "Effects of fossil fuel and total anthropogenic emission removal on public health and climate". Proceedings of the National Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 116 (15): 7192–7197. Bibcode:2019PNAS..116.7192L. doi:10.1073/pnas.1819989116. ISSN 0027-8424. PMC 6462052. PMID 30910976.
  118. 1 2 Carrington, Damian (12 March 2019). "Air pollution deaths are double previous estimates, finds research". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 February 2020. Diakses tanggal 12 March 2019.
  119. Lelieveld, Jos; Pozzer, Andrea; Pöschl, Ulrich; Fnais, Mohammed; Haines, Andy; Münzel, Thomas (2020). "Loss of life expectancy from air pollution compared to other risk factors: a worldwide perspective". Cardiovascular Research. 116 (11): 1910–1917. doi:10.1093/cvr/cvaa025. ISSN 0008-6363. PMC 7449554. PMID 32123898.
  120. Yang, Hui; Huang, Xinyuan; Westervelt, Daniel M.; Horowitz, Larry; Peng, Wei (2022-10-24). "Socio-demographic factors shaping the future global health burden from air pollution". Nature Sustainability (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 58–68. Bibcode:2022NatSu...6...58Y. doi:10.1038/s41893-022-00976-8. ISSN 2398-9629. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 January 2025. Diakses tanggal 12 July 2025.
  121. Ritchie, Hannah; Roser, Max (February 2024). "Air Pollution". Our World in Data (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 January 2024. Diakses tanggal 19 January 2024.
  122. "Deaths from air pollution". Our World in Data (dalam bahasa Inggris). 20 May 2024. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 January 2025. Diakses tanggal 2025-01-19.
  123. "Harm to human health from air pollution in Europe: burden of disease status, 2024". www.eea.europa.eu (dalam bahasa Inggris). 2024-12-10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 March 2025. Diakses tanggal 2025-02-15.
  124. "Explore the Data | State of Global Air". www.stateofglobalair.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2025. Diakses tanggal 2025-02-15.
  125. Vohra, Karn; Vodonos, Alina; Schwartz, Joel; Marais, Eloise A.; Sulprizio, Melissa P.; Mickley, Loretta J. (2021). "Global mortality from outdoor fine particle pollution generated by fossil fuel combustion: Results from GEOS-Chem". Environmental Research (dalam bahasa Inggris). 195 110754. Bibcode:2021ER....19510754V. doi:10.1016/j.envres.2021.110754. ISSN 0013-9351. PMID 33577774. S2CID 231909881. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 March 2021. Diakses tanggal 5 March 2021.
  126. Farrow, Aidan; Miller, Kathryn A; Myllyvirta, Lauri (February 2020). Toxic air: The price of fossil fuels (PDF). Seoul: Greenpeace Southeast Asia. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 September 2024. Diakses tanggal 16 August 2024.
  127. Henneman, Lucas; Choirat, Christine; Dedoussi, Irene; Dominici, Francesca; Roberts, Jessica; Zigler, Corwin (2023). "Mortality risk from United States coal electricity generation". Science. 382 (6673): 941–946. Bibcode:2023Sci...382..941H. doi:10.1126/science.adf4915. PMC 10870829. PMID 37995235.
  128. "Household air pollution and health: fact sheet" (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. 8 May 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2021. Diakses tanggal 2020-11-21.
  129. Ritchie, Hannah; Roser, Max (2024). "Access to Energy". Our World in Data. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2021. Diakses tanggal 1 April 2021.
  130. 1 2 de Bont, Jeroen; Jaganathan, Suganthi; Dahlquist, Marcus; Persson, Åsa; Stafoggia, Massimo; Ljungman, Petter (8 March 2022). "Ambient air pollution and cardiovascular diseases: An umbrella review of systematic reviews and meta-analyses". Journal of Internal Medicine. 291 (6): 779–800. doi:10.1111/joim.13467. eISSN 1365-2796. ISSN 0954-6820. PMC 9310863. PMID 35138681.
  131. 1 2 3 Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 27. ISSN 2578-6873.
  132. Mayor, Susan (12 June 2016). "Air pollution is a leading risk factor for stroke, global study shows". BMJ. 353 i3272. doi:10.1136/bmj.i3272. eISSN 1756-1833. PMID 27298274.
  133. Feigin, Valery L; Roth, Gregory A; Naghavi, Mohsen; Parmar, Priya; Krishnamurthi, Rita; Chugh, Sumeet; Mensah, George A; Norrving, Bo; Shiue, Ivy; Ng, Marie; Estep, Kara; Cercy, Kelly; Murray, Christopher J L; Forouzanfar, Mohammad H (August 2016). "Global burden of stroke and risk factors in 188 countries, during 1990–2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013". The Lancet Neurology. 15 (9): 913–924. doi:10.1016/S1474-4422(16)30073-4. hdl:10292/14061. ISSN 1474-4422. PMID 27291521.
  134. Montone, Rocco A.; Rinaldi, Riccardo; Bonanni, Alice; Severino, Anna; Pedicino, Daniela; Crea, Filippo; Liuzzo, Giovanna (2023). "Impact of air pollution on ischemic heart disease: Evidence, mechanisms, clinical perspectives". Atherosclerosis (dalam bahasa Inggris). 366: 22–31. doi:10.1016/j.atherosclerosis.2023.01.013. PMID 36696748.
  135. 1 2 Sin, Don D.; Doiron, Dany; Agusti, Alvar; Anzueto, Antonio; Barnes, Peter J.; Celli, Bartolome R.; Criner, Gerard J.; Halpin, David; Han, MeiLan K.; Martinez, Fernando J.; Montes de Oca, Maria; Papi, Alberto; Pavord, Ian; Roche, Nicolas; Singh, Dave (2023). "Air pollution and COPD: GOLD 2023 committee report". European Respiratory Journal (dalam bahasa Inggris). 61 (5): 2202469. doi:10.1183/13993003.02469-2022. ISSN 0903-1936. PMID 36958741.
  136. "Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)". World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2020. Diakses tanggal 2025-02-13.
  137. Holtjer, Judith C.S.; Bloemsma, Lizan D.; Beijers, Rosanne J.H.C.G.; Cornelissen, Merel E.B.; Hilvering, Bart; Houweling, Laura; Vermeulen, Roel C.H.; Downward, George S.; Maitland-Van der Zee, Anke-Hilse (2023). "Identifying risk factors for COPD and adult-onset asthma: an umbrella review". European Respiratory Review (dalam bahasa Inggris). 32 (168): 230009. doi:10.1183/16000617.0009-2023. ISSN 0905-9180. PMC 10155046. PMID 37137510.
  138. Zhou, Xiaoying; Sampath, Vanitha; Nadeau, Kari C. (2024). "Effect of air pollution on asthma". Annals of Allergy, Asthma & Immunology (dalam bahasa English). 132 (4): 426–432. doi:10.1016/j.anai.2024.01.017. ISSN 1081-1206. PMC 10990824. PMID 38253122. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2024. Diakses tanggal 13 February 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  139. Lee, Spencer; Tian, Derek; He, Rose; Cragg, Jacquelyn J; Carlsten, Chris; Giang, Amanda; Gill, Prubjot K; Johnson, Kate M; Brigham, Emily (2024). "Ambient air pollution exposure and adult asthma incidence: a systematic review and meta-analysis". The Lancet Planetary Health (dalam bahasa Inggris). 8 (12): e1065 – e1078. doi:10.1016/S2542-5196(24)00279-1. PMID 39674196.
  140. Health Effects Institute; Institute for Health Metrics and Evaluation; UNICEF (2024). State of Global Air Report 2024: A Special Report on Global Exposure to Air Pollution and its Health Impacts with a Focus on Children's Health (PDF). Health Effects Institute. hlm. 18. ISSN 2578-6873.
  141. Varghese, Deepa; Ferris, Kathryn; Lee, Bohee; Grigg, Jonathan; Pinnock, Hilary; Cunningham, Steve (2024). "Outdoor air pollution and near-fatal/fatal asthma attacks in children: A systematic review". Pediatric Pulmonology (dalam bahasa Inggris). 59 (5): 1196–1206. doi:10.1002/ppul.26932. hdl:20.500.11820/61941359-4c08-4f9b-b470-c5523ba06646. ISSN 8755-6863. PMID 38477643. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 March 2024. Diakses tanggal 13 February 2025.
  142. 1 2 Berg, Christine D.; Schiller, Joan H.; Boffetta, Paolo; Cai, Jing; Connolly, Casey; Kerpel-Fronius, Anna; Kitts, Andrea Borondy; Lam, David C. L.; Mohan, Anant; Myers, Renelle; Suri, Tejas; Tammemagi, Martin C.; Yang, Dawei; Lam, Stephen (2023). "Air Pollution and Lung Cancer: A Review by International Association for the Study of Lung Cancer Early Detection and Screening Committee". Journal of Thoracic Oncology (dalam bahasa English). 18 (10): 1277–1289. doi:10.1016/j.jtho.2023.05.024. ISSN 1556-0864. PMID 37277094. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  143. Karimi, Behrooz; Samadi, Sadegh (2024). "Long-term exposure to air pollution on cardio-respiratory, and lung cancer mortality: a systematic review and meta-analysis". Journal of Environmental Health Science & Engineering. 22 (1): 75–95. Bibcode:2024JEHSE..22...75K. doi:10.1007/s40201-024-00900-6. ISSN 2052-336X. PMC 11180069. PMID 38887768.
  144. 1 2 Turner, Michelle C.; Andersen, Zorana J.; Baccarelli, Andrea; Diver, W. Ryan; Gapstur, Susan M.; Pope, C. Arden; Prada, Diddier; Samet, Jonathan; Thurston, George; Cohen, Aaron (2020). "Outdoor air pollution and cancer: An overview of the current evidence and public health recommendations". CA: A Cancer Journal for Clinicians. 70 (6): 460–479. doi:10.3322/caac.21632. ISSN 1542-4863. PMC 7904962. PMID 32964460.
  145. Dahman, Lina; Gauthier, Victoria; Camier, Aurore; Bigna, Jean Joel; Glowacki, François; Amouyel, Philippe; Dauchet, Luc; Hamroun, Aghiles (2024). "Air pollution and kidney cancer risk: a systematic review and meta-analysis". Journal of Nephrology. 37 (7): 1779–1790. doi:10.1007/s40620-024-01984-x. ISSN 1724-6059. PMC 11519201. PMID 38913266.
  146. Malley, Christopher S.; Kuylenstierna, Johan C. I.; Vallack, Harry W.; Henze, Daven K.; Blencowe, Hannah; Ashmore, Mike R. (2017). "Preterm birth associated with maternal fine particulate matter exposure: A global, regional and national assessment" (PDF). Environment International. 101: 173–82. Bibcode:2017EnInt.101..173M. doi:10.1016/j.envint.2017.01.023. ISSN 1873-6750. PMID 28196630. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 April 2022. Diakses tanggal 27 August 2019.
  147. Air pollution and child health: prescribing clean air. Summary. Geneva: World Health Organization. 2018. hlm. 2–6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2024. Diakses tanggal 26 August 2024.
  148. 1 2 Gordon, Bruce; Mackay, Richard; Rehfuess, Eva (2004). "Polluted Cities: The Air Children Breathe". Inheriting the World: The Atlas of Children's Health and the Environment. World Health Organization.
  149. Dutheil, Frédéric; Comptour, Aurélie; Morlon, Roxane; Mermillod, Martial; Pereira, Bruno; Baker, Julien S.; Charkhabi, Morteza; Clinchamps, Maëlys; Bourdel, Nicolas (2021). "Autism spectrum disorder and air pollution: A systematic review and meta-analysis". Environmental Pollution (dalam bahasa Inggris). 278 116856. Bibcode:2021EPoll.27816856D. doi:10.1016/j.envpol.2021.116856. PMID 33714060. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 January 2025. Diakses tanggal 18 January 2025.
  150. Kang, Ni; Sargsyan, Suzan; Chough, Ino; Petrick, Lauren; Liao, Jiawen; Chen, Wu; Pavlovic, Nathan; Lurmann, Frederick W.; Martinez, Mayra P.; McConnell, Rob; Xiang, Anny H.; Chen, Zhanghua (2024). "Dysregulated metabolic pathways associated with air pollution exposure and the risk of autism: Evidence from epidemiological studies". Environmental Pollution. 361 124729. doi:10.1016/j.envpol.2024.124729. ISSN 0269-7491. PMC 11902886. PMID 39147228.
  151. "Clean air protects children from high blood pressure and elevated diabetes markers". www.bips-institut.de (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2025-10-09. Diakses tanggal 2025-11-05.
  152. Huang, Xinmei; Steinmetz, Jaimie; Marsh, Elizabeth K.; Aravkin, Aleksandr Y.; Ashbaugh, Charlie; Murray, Christopher J. L.; Yang, Fanghan; Ji, John S.; Zheng, Peng; Sorensen, Reed J. D.; Wozniak, Sarah; Hay, Simon I.; McLaughlin, Susan A.; Garcia, Vanessa; Brauer, Michael (May 2025). "A systematic review with a Burden of Proof meta-analysis of health effects of long-term ambient fine particulate matter (PM2.5) exposure on dementia". Nature Aging (dalam bahasa Inggris). 5 (5): 897–908. doi:10.1038/s43587-025-00844-y. ISSN 2662-8465. PMC 12092285. PMID 40119171.
  153. Livingston, Gill; Huntley, Jonathan; Liu, Kathy Y.; Costafreda, Sergi G.; Selbæk, Geir; Alladi, Suvarna; Ames, David; Banerjee, Sube; Burns, Alistair; Brayne, Carol; Fox, Nick C.; Ferri, Cleusa P.; Gitlin, Laura N.; Howard, Robert; Kales, Helen C. (2024-08-10). "Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission". The Lancet (dalam bahasa English). 404 (10452): 572–628. Bibcode:2024Lanc..404..572L. doi:10.1016/S0140-6736(24)01296-0. ISSN 0140-6736. PMID 39096926. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 August 2024. Diakses tanggal 22 July 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  154. Best Rogowski, Clare B; Bredell, Christiaan; Shi, Yan; Tien-Smith, Alexandra; Szybka, Magdalena; Fung, Kwan Wai; Hong, Lucy; Phillips, Veronica; Jovanovic Andersen, Zorana; Sharp, Stephen J; Woodcock, James; Brayne, Carol; Navaratnam, Annalan; Khreis, Haneen (July 2025). "Long-term air pollution exposure and incident dementia: a systematic review and meta-analysis". The Lancet Planetary Health (dalam bahasa Inggris). 9 (7): 101266. doi:10.1016/S2542-5196(25)00118-4. PMID 40716448.
  155. Julvez, Jordi; López-Vicente, Mónica; Warembourg, Charline; Maitre, Lea; Philippat, Claire; Gützkow, Kristine B.; Guxens, Monica; Evandt, Jorunn; Andrusaityte, Sandra; Burgaleta, Miguel; Casas, Maribel; Chatzi, Leda; de Castro, Montserrat; Donaire-González, David; Gražulevičienė, Regina; Hernandez-Ferrer, Carles; Heude, Barbara; Mceachan, Rosie; Mon-Williams, Mark; Nieuwenhuijsen, Mark; Robinson, Oliver; Sakhi, Amrit K.; Sebastian-Galles, Nuria; Slama, Remy; Sunyer, Jordi; Tamayo-Uria, Ibon; Thomsen, Cathrine; Urquiza, Jose; Vafeiadi, Marina; Wright, John; Basagaña, Xavier; Vrijheid, Martine (1 September 2021). "Early life multiple exposures and child cognitive function: A multi-centric birth cohort study in six European countries". Environmental Pollution (dalam bahasa Inggris). 284 117404. Bibcode:2021EPoll.28417404J. doi:10.1016/j.envpol.2021.117404. ISSN 0269-7491. PMC 8287594. PMID 34077897.
  156. 1 2 Costa, Lucio G.; Cole, Toby B.; Dao, Khoi; Chang, Yu-Chi; Coburn, Jacki; Garrick, Jacqueline M. (2020). "Effects of air pollution on the nervous system and its possible role in neurodevelopmental and neurodegenerative disorders". Pharmacology & Therapeutics. 210 107523. doi:10.1016/j.pharmthera.2020.107523. ISSN 1879-016X. PMC 7245732. PMID 32165138.
  157. Volk, Heather E.; Perera, Frederica; Braun, Joseph M.; Kingsley, Samantha L.; Gray, Kimberly; Buckley, Jessie; Clougherty, Jane E.; Croen, Lisa A.; Eskenazi, Brenda; Herting, Megan; Just, Allan C.; Kloog, Itai; Margolis, Amy; McClure, Leslie A.; Miller, Rachel; Levine, Sarah; Wright, Rosalind (2021). "Prenatal air pollution exposure and neurodevelopment: A review and blueprint for a harmonized approach within ECHO". Environmental Research (dalam bahasa Inggris). 196 110320. Bibcode:2021ER....19610320V. doi:10.1016/j.envres.2020.110320. ISSN 0013-9351. PMC 8060371. PMID 33098817.
  158. Shang, Li; Yang, Liren; Yang, Wenfang; Huang, Liyan; Qi, Cuifang; Yang, Zixuan; Fu, Zhuxuan; Chung, Mei Chun (2020). "Effects of prenatal exposure to NO2 on children's neurodevelopment: a systematic review and meta-analysis". Environmental Science and Pollution Research (dalam bahasa Inggris). 27 (20): 24786–24798. Bibcode:2020ESPR...2724786S. doi:10.1007/s11356-020-08832-y. ISSN 1614-7499. PMC 7329770. PMID 32356052. S2CID 216650267.
  159. Cao, Tingting; Tian, Meichen; Hu, Han; Yu, Qingqing; You, Jing; Yang, Yishu; An, Zhen; Song, Jie; Zhang, Guofu; Zhang, Guicheng; Wu, Weidong; Wu, Hui (2024-03-01). "The relationship between air pollution and depression and anxiety disorders – A systematic evaluation and meta-analysis of a cohort-based study". International Journal of Social Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 70 (2): 241–270. doi:10.1177/00207640231197941. ISSN 0020-7640. PMID 37753871.
  160. Zhang, Xiaona; Ding, Linlin; Yang, Fen; Qiao, Guiyuan; Gao, Xiaolian; Xiong, Zhenfang; Zhu, Xinhong (2024). "Association between indoor air pollution and depression: a systematic review and meta-analysis of cohort studies". BMJ Open. 14 (5) e075105. doi:10.1136/bmjopen-2023-075105 . ISSN 2044-6055. PMC 11086541. PMID 38719299.
  161. Liu, Qisijing; Wang, Wanzhou; Gu, Xuelin; Deng, Furong; Wang, Xueqin; Lin, Hualiang; Guo, Xinbiao; Wu, Shaowei (2021). "Association between particulate matter air pollution and risk of depression and suicide: a systematic review and meta-analysis". Environmental Science and Pollution Research International. 28 (8): 9029–9049. Bibcode:2021ESPR...28.9029L. doi:10.1007/s11356-021-12357-3. ISSN 1614-7499. PMID 33481201.
  162. Thompson, Rhiannon; Smith, Rachel B.; Karim, Yasmin Bou; Shen, Chen; Drummond, Kayleigh; Teng, Chloe; Toledano, Mireille B. (2023). "Air pollution and human cognition: A systematic review and meta-analysis". Science of the Total Environment. 859 (Pt 2) 160234. Bibcode:2023ScTEn.85960234T. doi:10.1016/j.scitotenv.2022.160234. hdl:10044/1/101759. ISSN 0048-9697. PMID 36427724. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 February 2025. Diakses tanggal 30 January 2025.
  163. 1 2 Ku PW, Steptoe A, Hamer M, et al. (November 2025). "Does ambient PM2.5 reduce the protective association of leisure-time physical activity with mortality? A systematic review, meta-analysis, and individual-level pooled analysis of cohort studies involving 1.5 million adults". BMC Medicine. 23 (1): 647. doi:10.1186/s12916-025-04496-y. PMC 12661664. PMID 41310726.
  164. 1 2 Seigneur, Christian, ed. (2019), "Environmental Impacts", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 306–308, doi:10.1017/9781108674614.013, ISBN 978-1-108-48163-2, diakses tanggal 2025-06-04
  165. Seigneur, Christian, ed. (2019), "Environmental Impacts", Air Pollution: Concepts, Theory, and Applications, Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 308–309, doi:10.1017/9781108674614.013, ISBN 978-1-108-48163-2, diakses tanggal 2025-06-04
  166. "Eutrophication of terrestrial ecosystems due to air pollution". European Environment Agency (dalam bahasa Inggris). 29 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 June 2025. Diakses tanggal 2025-07-12.
  167. 1 2 Dong, Daxin; Wang, Jiaxin (2023). "Air pollution as a substantial threat to the improvement of agricultural total factor productivity: Global evidence". Environment International. 173 107842. Bibcode:2023EnInt.17307842D. doi:10.1016/j.envint.2023.107842. PMID 36863165.
  168. Li, Houjian; Tang, Mengqian; Cao, Andi; Guo, Lili (2022). "Assessing the relationship between air pollution, agricultural insurance, and agricultural green total factor productivity: evidence from China". Environmental Science and Pollution Research (dalam bahasa Inggris). 29 (52): 78381–78395. Bibcode:2022ESPR...2978381L. doi:10.1007/s11356-022-21287-7. ISSN 0944-1344. PMID 35689771. S2CID 249551277. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2022. Diakses tanggal 20 November 2022.
  169. Kashyap, Rahul; Kuttippurath, J.; Patel, V. K. (2023). "Improved air quality leads to enhanced vegetation growth during the COVID–19 lockdown in India". Applied Geography (dalam bahasa Inggris). 151 102869. Bibcode:2023AppGe.15102869K. doi:10.1016/j.apgeog.2022.102869. ISSN 0143-6228. PMC 9805897. PMID 36619606. S2CID 255439854.
  170. OECD (2016). The Economic Consequences of Outdoor Air Pollution (PDF). Paris: OECD Publishing. hlm. 22. doi:10.1787/9789264257474-en. ISBN 978-92-64-25746-7.
  171. Lavy, Victor; Rachkovski, Genia; Yoresh, Omry (2022). Heads Up: Does Air Pollution Cause Workplace Accidents? (Report). Cambridge, MA: National Bureau of Economic Research. doi:10.3386/w30715. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 October 2023. Diakses tanggal 15 September 2023.
  172. 1 2 World Bank (2022-04-12). The Global Health Cost of PM2.5 Air Pollution: A Case for Action Beyond 2021 (PDF) (dalam bahasa Inggris). The World Bank. doi:10.1596/978-1-4648-1816-5. hdl:10986/36501. ISBN 978-1-4648-1816-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 January 2025. Diakses tanggal 11 April 2025.
  173. Wang, Siyuan; Song, Rong; Xu, Zhiwei; Chen, Mingsheng; Di Tanna, Gian Luca; Downey, Laura; Jan, Stephen; Si, Lei (2024). "The costs, health and economic impact of air pollution control strategies: a systematic review". Global Health Research and Policy (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 30. doi:10.1186/s41256-024-00373-y. ISSN 2397-0642. PMC 11337783. PMID 39164785.
  174. OECD (2016). The Economic Consequences of Outdoor Air Pollution (PDF). Paris: OECD Publishing. hlm. 14–15. doi:10.1787/9789264257474-en. ISBN 978-92-64-25746-7. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 May 2025. Diakses tanggal 11 April 2025.
  175. Song, Zhe; Liu, Jia; Yang, Hongxing (2021). "Air pollution and soiling implications for solar photovoltaic power generation: A comprehensive review". Applied Energy. 298 117247. Bibcode:2021ApEn..29817247S. doi:10.1016/j.apenergy.2021.117247. hdl:10397/102795. ISSN 0306-2619. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2024. Diakses tanggal 21 April 2025.
  176. Mosley, Stephen (2014), Agnoletti, Mauro; Neri Serneri, Simone (ed.), "Environmental History of Air Pollution and Protection", The Basic Environmental History (dalam bahasa Inggris), vol. 4, Cham: Springer International Publishing, hlm. 144–148, doi:10.1007/978-3-319-09180-8_5, ISBN 978-3-319-09179-2, diakses tanggal 2025-03-29
  177. 1 2 3 4 Mosley, Stephen (2014), Agnoletti, Mauro; Neri Serneri, Simone (ed.), "Environmental History of Air Pollution and Protection", The Basic Environmental History (dalam bahasa Inggris), vol. 4, Cham: Springer International Publishing, hlm. 148–156, doi:10.1007/978-3-319-09180-8_5, ISBN 978-3-319-09179-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2025, diakses tanggal 2025-03-29
  178. Stephen Mosley,  "Selling the smokeless city: advertising images and smoke abatement in urban-industrial Britain, circa 1840–1960." History and Technology 32.2 (2016): 201-211 online Diarsipkan 1 July 2025 di Wayback Machine..
  179. John Duffy, The Sanitarians: A History of American Public Health (1990) pp.67-77, 129.
  180. Bell, Michelle L.; Davis, Devra L.; Fletcher, Tony (2004). "A Retrospective Assessment of Mortality from the London Smog Episode of 1952: The Role of Influenza and Pollution". Environ Health Perspect. 112 (1): 6–8. Bibcode:2004EnvHP.112....6B. doi:10.1289/ehp.6539. PMC 1241789. PMID 14698923. S2CID 13045119.
  181. Davis, Devra (2002). When Smoke Ran Like Water: Tales of Environmental Deception and the Battle Against Pollution. Basic Books. ISBN 978-0-465-01521-4.
  182. Silei, Gianni (2014), Agnoletti, Mauro; Neri Serneri, Simone (ed.), "Environmental History of Air Pollution and Protection", The Basic Environmental History (dalam bahasa Inggris), vol. 4, Cham: Springer International Publishing, hlm. 248–249, doi:10.1007/978-3-319-09180-8_8, ISBN 978-3-319-09179-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2018, diakses tanggal 2025-03-29
  183. 1 2 Raiser, Kilian; Kornek, Ulrike; Flachsland, Christian; Lamb, William F (2020). "Is the Paris Agreement effective? A systematic map of the evidence". Environmental Research Letters. 15 (8): 083006. Bibcode:2020ERL....15h3006R. doi:10.1088/1748-9326/ab865c. ISSN 1748-9326.
  184. "Air Quality from Space". airquality.gsfc.nasa.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 February 2025. Diakses tanggal 2025-02-23.
  185. IQAir (2024). 2023 World Air Quality Report (PDF) (Report). hlm. 11.
  186. US EPA (2019-09-16). "Low–Cost Air Pollution Monitors and Indoor Air Quality". www.epa.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 February 2025. Diakses tanggal 2025-02-23.
  187. "Monitoring ambient air: choosing a monitoring technique and method". GOV.UK (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2024. Diakses tanggal 2025-02-23.
  188. "World Air Map: Live air quality everywhere in the world". Plume Labs Air Report. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 December 2021. Diakses tanggal 20 December 2021.
  189. "Live Animated Air Quality Map (AQI, PM2.5...) | AirVisual". IQAir. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 27 January 2022.
  190. Vallero, Daniel A. (2014). Fundamentals of Air Pollution (Edisi 5th). Academic Press. hlm. 777–779. ISBN 978-0-12-401733-7.
  191. Vallero, Daniel A. (2014). Fundamentals of Air Pollution (Edisi 5th). Academic Press. hlm. 704, 822. ISBN 978-0-12-401733-7.
  192. Environment and Climate Change Canada (14 June 2010). "Air pollutant emissions". Canada.ca. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2022. Diakses tanggal 2022-06-07.
  193. "AP 42, Volume I". US Environmental Protection Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 24 September 2010. Diakses tanggal 29 August 2010.
  194. "EMEP/EEA air pollutant emission inventory guidebook—2009". Eea.europa.eu. European Environment Agency. 19 June 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 January 2013. Diakses tanggal 11 December 2012.
  195. US EPA (2016-07-14). "Air Quality Models". www.epa.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 April 2025. Diakses tanggal 2025-04-19.
  196. "Air Pollution Modelling". Air Pollution Information System. 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2025. Diakses tanggal 2025-04-19.
  197. Camahan, James V.; Thurston, Deborah L. (1998). "Trade-off Modeling for Product and Manufacturing Process Design for the Environment". Journal of Industrial Ecology (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 79–92. Bibcode:1998JInEc...2...79C. doi:10.1162/jiec.1998.2.1.79. ISSN 1530-9290. S2CID 154730593.
  198. Jacobson, Mark Z.; von Krauland, Anna-Katharina; Coughlin, Stephen J.; Palmer, Frances C.; Smith, Miles M. (2022). "Zero air pollution and zero carbon from all energy at low cost and without blackouts in variable weather throughout the U.S. with 100% wind-water-solar and storage". Renewable Energy (dalam bahasa Inggris). 184: 430–442. Bibcode:2022REne..184..430J. doi:10.1016/j.renene.2021.11.067. ISSN 0960-1481. S2CID 244820608. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 January 2022. Diakses tanggal 27 January 2022.
  199. Gielen, Dolf; Boshell, Francisco; Saygin, Deger; Bazilian, Morgan D.; Wagner, Nicholas; Gorini, Ricardo (2019). "The role of renewable energy in the global energy transformation". Energy Strategy Reviews (dalam bahasa Inggris). 24: 38–50. Bibcode:2019EneSR..24...38G. doi:10.1016/j.esr.2019.01.006. ISSN 2211-467X. S2CID 135283552.
  200. 1 2 Amann, Markus; Kiesewetter, Gregor; Schöpp, Wolfgang; Klimont, Zbigniew; Winiwarter, Wilfried; Cofala, Janusz; Rafaj, Peter; Höglund-Isaksson, Lena; Gomez-Sabriana, Adriana; Heyes, Chris; Purohit, Pallav; Borken-Kleefeld, Jens; Wagner, Fabian; Sander, Robert; Fagerli, Hilde (2020). "Reducing global air pollution: the scope for further policy interventions". Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 378 (2183) 20190331. Bibcode:2020RSPTA.37890331A. doi:10.1098/rsta.2019.0331. PMC 7536039. PMID 32981437.
  201. Burney, Jennifer A. (2020-01-06). "The downstream air pollution impacts of the transition from coal to natural gas in the United States". Nature Sustainability (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 152–160. Bibcode:2020NatSu...3..152B. doi:10.1038/s41893-019-0453-5. ISSN 2398-9629.
  202. 1 2 Leroutier, Marion; Quirion, Philippe (2023). "Tackling Car Emissions in Urban Areas: Shift, Avoid, Improve". Ecological Economics. 213 107951. Bibcode:2023EcoEc.21307951L. doi:10.1016/j.ecolecon.2023.107951. ISSN 0921-8009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2025. Diakses tanggal 28 February 2025.
  203. Ringenson & Kramers 2021, hlm. 218.
  204. "Blue skies and healthy lives: How active travel is transforming our cities". C40 Cities (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 January 2025. Diakses tanggal 2025-01-10.
  205. Landrigan, Philip J. (1 January 2017). "Air pollution and health". The Lancet Public Health (dalam bahasa English). 2 (1): e4 – e5. doi:10.1016/S2468-2667(16)30023-8. ISSN 2468-2667. PMID 29249479. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  206. Jonidi Jafari, Ahmad; Charkhloo, Esmail; Pasalari, Hasan (2021). "Urban air pollution control policies and strategies: a systematic review". Journal of Environmental Health Science and Engineering (dalam bahasa Inggris). 19 (2): 1911–1940. Bibcode:2021JEHSE..19.1911J. doi:10.1007/s40201-021-00744-4. ISSN 2052-336X. PMC 8617239. PMID 34900316.
  207. Krelling, Christian; Badami, Madhav G. (2022). "Cost-effectiveness analysis of compressed natural gas implementation in the public bus transit fleet in Delhi, India". Transport Policy. 115: 49–61. doi:10.1016/j.tranpol.2021.10.019. ISSN 0967-070X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 December 2024. Diakses tanggal 26 August 2024.
  208. "Lawrence Frank". scholar.google.com. Diakses tanggal 2026-02-08.
  209. Frank, Lawrence D.; Sallis, James F.; Conway, Terry L.; Chapman, James E.; Saelens, Brian E.; Bachman, William (2006-03-31). "Many Pathways from Land Use to Health: Associations between Neighborhood Walkability and Active Transportation, Body Mass Index, and Air Quality". Journal of the American Planning Association (dalam bahasa Inggris). 72 (1): 75–87. doi:10.1080/01944360608976725. ISSN 0194-4363.
  210. International Energy Agency, African Development Bank Group (2023). A Vision for Clean Cooking Access for All (PDF). hlm. 19, 21. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 June 2025. Diakses tanggal 23 April 2025.
  211. World Health Organization 2016, hlm. 52.
  212. "Air pollution from heating and cooling: stepping up clean energy use urgently needed - European Commission". joint-research-centre.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). 2024-11-13. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 January 2025. Diakses tanggal 2025-01-10.
  213. World Health Organization 2016, hlm. 18.
  214. "AQLI Policy Impacts—China: National Air Quality Action Plan (2014)". AQLI (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2025. Diakses tanggal 2025-05-24.
  215. Regulating Air Quality: The First Global Assessment of Air Pollution Legislation. Nairobi, Kenya: United Nations Environment Programme. 2021. hlm. 7, 41, 46, 56. ISBN 978-92-807-3872-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 May 2024. Diakses tanggal 10 April 2024.
  216. European Commission (11 May 2011). "European Commission - Environment - Air - Air quality". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-05-11.
  217. "German TA-Luft is guaranteed by us". centrotherm clean solutions (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 29 June 2022. Diakses tanggal 2022-02-27.
  218. Regulating Air Quality: The First Global Assessment of Air Pollution Legislation. Nairobi, Kenya: United Nations Environment Programme. 2021. hlm. 42. ISBN 978-92-807-3872-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 May 2024. Diakses tanggal 10 April 2024.
  219. "WHO Global Air Quality Guidelines". World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 December 2024. Diakses tanggal 17 January 2025.
  220. UNEP (2018-10-29). "About Montreal Protocol". Ozonaction. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 December 2022. Diakses tanggal 2022-06-07.
  221. "Global Climate Agreements: Successes and Failures". Council on Foreign Relations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2021. Diakses tanggal 2022-06-07.
  222. Mosley, Stephen (2014), Agnoletti, Mauro; Neri Serneri, Simone (ed.), "Technological Hazards, Disasters and Accidents", The Basic Environmental History (dalam bahasa Inggris), vol. 4, Cham: Springer International Publishing, hlm. 156–165, doi:10.1007/978-3-319-09180-8_5, ISBN 978-3-319-09179-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2025, diakses tanggal 2025-03-29
  223. "In historic move, UN declares healthy environment a human right". www.unep.org (dalam bahasa Inggris). 2022-07-28. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2025. Diakses tanggal 2025-02-12.
  224. "Air quality: Commission decides to refer France to the Court over failure to meet its obligation to protect citizens against poor air quality". European Commission. 2020-10-30. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 June 2024. Diakses tanggal 2025-02-12.
  225. Kurushina, Daria (2024-07-09). "Climate litigation can power China's low-carbon transition". Dialogue Earth (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2025. Diakses tanggal 2025-05-24.
  226. Tigre, Maria Antonia; Urzola, Natalia; Goodman, Alexandra (2023). "Climate litigation in Latin America: is the region quietly leading a revolution?". Journal of Human Rights and the Environment (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 67–93. Bibcode:2023JHRE...14...67T. doi:10.4337/jhre.2023.01.04. ISSN 1759-7188. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2024. Diakses tanggal 24 May 2025.

Sumber dikutip

[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]